Langit sore menggantung redup, berwarna jingga keabu-abuan, seolah ikut menanggung beban yang dirasakan Arista. Setiap langkahnya terasa berat, seakan sepatu hak yang menapak di lantai koridor kantor membawa seluruh kelelahan dunia. Tangannya menggenggam erat tali tas, sementara matanya tampak kosong. Tidak ada lagi sorot percaya diri yang biasanya menghiasi wajah seorang manajer pemasaran sukses itu. Hanya ada lelah —lelah yang menusuk hingga ke dasar hati. Hari itu terasa begitu panjang. Rapat beruntun, tumpukan laporan, dan revisi proposal yang terus berubah mengikuti kehendak Arkana, semuanya seperti jebakan tanpa akhir. Dan di antara kesibukan itu, ada sesuatu yang jauh lebih berat menekan dadanya —ancaman yang membungkam. Sore itu, ketika semua karyawan mulai meninggalkan gedung,

