Mata Arista membulat sempurna saat tubuh Arkana mendadak bergerak cepat, mengukung tubuhnya. Detik selanjutnya, laki-laki itu kembali menyerang bibirnya. Napas Arista tercekat ketika jarak di antara mereka nyaris menguap, menyisakan hanya helaan napas yang saling bertaut. Arista berusaha keras mengelak, dan mendorong tubuh Arkana dari atasnya. “Ja—jangan, Pak Arkana!” serunya. Namun, Arkana seolah tak mendengar. Dengan kekuatannya, ia tak memberi ruang hingga akhirnya Arkana kembali menunduk, meraup bibir Arista lagi, dan mengambil ciuman perempuan itu lagi. Segalanya berhenti sejenak. Waktu, napas, bahkan pikirannya. Arista membeku di tempat, matanya terbuka lebar menatap wajah Arkana yang begitu dekat, begitu asing, namun juga menyesakkan d**a. Rasa terkejut bercampur takut menyu

