Arista menatap Arkana tak percaya. Napasnya tercekat, dadanya bergemuruh hebat. “Jangan bilang Anda berniat—” Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, Arkana sudah bergerak maju. Sekejap mata, jarak di antara mereka lenyap saat bibir Arkana menyatu dengan bibirnya. Bibir mereka hanya saling menempel satu sama lain. Namun, hal itu berhasil membuat Arista terpaku, seolah tubuhnya membeku di tempat. Ia hanya mampu menatap sosok di depannya yang kini sangat dekat, hingga napas keduanya seolah menyatu dalam satu ruang udara. Suasana ruangan mendadak sunyi. Waktu seakan berhenti. Arkana menatap manik Arista yang melebar dalam-dalam, sorot matanya tajam tapi sarat makna yang sulit diartikan. Dalam tatapan itu, ada sesuatu yang Arista sendiri tidak bisa artikan. Beberapa detik setelahnya, Ar

