Arkana menatap jalanan di depannya dengan rahang mengeras. Mobilnya melaju cepat di antara lalu lintas pagi yang padat, namun pikirannya justru tak karuan. Ucapan Arista masih bergema di kepalanya. Setiap katanya menusuk seperti duri yang tak bisa dicabut. “Saya tidak sudi jadi tunangan Bapak! Saya bukan tipe Bapak! Dan saya juga tidak mau lagi ikut permainan bodoh ini!” Suara itu bergema, mengguncang sesuatu yang selama ini jarang ia rasakan, harga dirinya. Arkana menekan pedal gas lebih dalam, seolah ingin menghapus gema itu dari pikirannya. Namun, semakin ia berusaha, semakin kuat bayangan wajah Arista muncul di benaknya —mata tajam, nada marah, bibir yang bergetar karena emosi. “Sial!” umpatnya pelan sambil meninju setir. Mobilnya berhenti di depan sebuah bangunan besar berarsitek

