Pukul sembilan lewat sepuluh menit. Ruang rapat besar di lantai dua puluh dua Dirgantara Skyline sudah dipenuhi beberapa kepala divisi dan manajer. Meja panjang dari kaca hitam itu berkilau di bawah cahaya lampu gantung, sementara di ujungnya berdiri layar besar yang menampilkan slide presentasi tentang strategi ekspansi proyek baru di Surabaya. Arista duduk di sisi kiri, berhadapan langsung dengan layar. Ia sudah datang lebih awal, menyiapkan data dan revisi laporan semalaman. Wajahnya tampak tenang, tapi matanya sedikit sembab, hasil dari kurang tidur. Ia berusaha terlihat profesional, menegakkan punggung dan menjaga ekspresi agar tak terbaca siapa pun. Pintu terbuka. Semua orang otomatis berdiri. “Selamat pagi, Pak Arkana,” ucap salah satu kepala divisi. Arkana melangkah masuk denga

