Ruang kerja itu masih sunyi setelah suara langkah Arkana menghilang di balik pintu. Hening. Hanya detik jam dinding yang terdengar memecah kesunyian, berdetak lambat seolah menertawakan keheningan yang menyakitkan. Arista tetap terduduk di lantai. Tubuhnya gemetar halus, antara marah dan tidak percaya. Bibirnya masih terasa perih, bukan hanya karena tekanan ciuman kasar itu, tapi juga karena penghinaan yang terselip di dalamnya. Ia mengangkat tangannya perlahan, menyentuh bibirnya yang sedikit basah, lalu menatap ujung jarinya dengan pandangan kosong. Air matanya kembali jatuh. Satu, dua, kemudian mengalir deras tanpa bisa ia kendalikan. Perempuan itu menunduk, menekan dadanya yang terasa sesak. “Kenapa harus seperti ini?” Suaranya bergetar, nyaris tidak terdengar. Ia ingin marah, i

