Pagi datang dengan cahaya matahari yang menusuk lembut di sela tirai kamar. Arista terbangun pelan, matanya terasa berat seolah semalaman tak benar-benar tidur. Ia menatap langit-langit kamarnya, membiarkan pikirannya berputar antara pesan-pesan dari Arkana semalam dan rasa bersalah pada Davin yang masih menggantung di dadanya. Kepalanya terasa berat. Ia menghela napas panjang, lalu menatap ponselnya di atas meja. Tidak ada pesan baru dari siapa pun. “Baguslah,” gumamnya lirih, meski sebenarnya hatinya terasa lebih sesak karena hening itu. Dengan malas ia bangkit, menyeret langkah menuju kamar mandi. Air dingin yang menyentuh kulitnya membuatnya sedikit sadar, tapi juga membawa rasa getir, karena sebentar lagi ia harus berhadapan lagi dengan laki-laki yang membuat hidupnya begitu rumit.

