Kebenaran

1260 Kata
“Aw shhh… Sa—sakit." Shabina tersadar ketika sesuatu yang keras tengah coba memasuki inti tubuhnya. Ini terlalu sakit, hingga tanpa sadar Shabina menancapkan kuku-kuku tangan pada punggung telanjang Pria yang menindihnya. "Tahanlah sebentar, harusnya tidak sesusah ini," gumam Sakha yang turut merasakan kepedihan pada punggungnya. Setelahnya langsung melumat bibir Shabina seiring dengan keperkasaan yang berhasil masuk sepenuhnya di bawah sana. “Ah. Sa—sakit. To—tolong berhenti,” pinta Shabina sekali lagi. Tubuhnya sendiri sudah menegang, dengan harapan si Pria sadar kalau dirinya tidaklah nyaman dengan pergerakannya. Namun Pria itu tidak memedulikan, lebih memilih pokus mengejar pelepasan. Benar saja, desahan yang cukup lama terdengar diakhiri dengan napas terengah. Lalu, dibaringkanlah kepalanya di atas d**a Shabina yang telanjang. Hal sebaliknya justru terjadi pada Shabina. Ia menahan napas, merasakan inti dirinya yang semakin basah oleh cairan hangat. Ini tidak benar. Bukankah Pria itu harusnya memakai pengaman? Bagaimana kalau… Tidak—tidak, semoga saja tidak berdampak apa-apa. Lagipula ini hanya sekali ‘kan? Dirinya hanya perlu melindungi diri, supaya kejadian seperti ini tidak sampai terulang kembali. Setelah diam cukup lama, barulah Shabina menggulingkan Pria itu ke sampingnya. Dari napasnya yang teratur, sepertinya Pria itu langsung tertidur. Beruntung pencahayaan di ruangan ini temaram, jadi Shabina tidak perlu repot-repot melihat wajah tua yang menjijikan itu untuk kedua kalinya. Shabina turun dengan mengedarkan pandangan keseluruh lantai—mencari-mencari dimana keberadaan semua pakaian. Cahaya yang masuk melalui celah jendela cukup membantunya dalam menemukan keberadaan pakaian itu. Bahkan setelahnya Ia dapat mengenakan semuanya kembali meski penampilannya tidak sama seperti awal tadi. Dengan mengendap, Shabina berjalan menuju pintu yang diyakini sebagai jalan keluar. Sedikit lama karena dirinya harus bergulat dengan kunci pintu yang susah dibuka. Lama-kelamaan akhirnya terbuka, namun lagi-lagi dirinya terkesiap begitu mendapati sosok Pria yang menyambutnya di depan pintu. ‘Jangan bilang dia Lelaki kedua yang harus kulayani?’ pikirnya kemudian. “Gak usah takut. Aku gak akan menyakitimu,” ujar Pria tersebut dengan keterkejutan yang sama. “Mau ku antar pulang?” tawarnya kemudian. Shabina memang ingin pulang, tetapi tidak jika harus diantar oleh Pria asing ini. “A—aku bisa pulang sendiri, permisi.” Namun lagi-lagi langkahnya terhenti oleh cekalan Pria itu. “Sebentar. Masalahnya ini sudah tengah malam. Kamu yakin bisa pulang sendiri?” tanya Pria itu kemudian. Merasa tindakannya membuat Shabina takut, dirinya langsung melepaskan cekalan yang diakhiri dengan kata ‘maaf’ berulang kali. “Biar kubantu carikan taxi, Ayo. Tidak perlu takut, aku janji tidak akan macam-macam. Kalau tidak percaya, kamu bisa jalan terlebih dulu. Aku akan memastikan keselamatanmu dari belakang,” seakan ada ketulusan dalam ucapan Pria itu, Shabina pun memercayainya. Lagipula jika Pria itu berbohong, dirinya bisa langsung teriak saja bukan? *** Sakha bangun dengan napas terengah. Badan telanjangnya pun sudah basah oleh keringat, seakan dalam tidurnya dikejar mimpi yang menakutkan. Tunggu … Telanjang? Lelaki itu memastikan keadaannya sekali lagi, menatap pada tubuhnya secara keseluruhan. Pada nyatanya memang benar-benar telanjang. Bagaimana bisa? Sedangkan yang dilakukannya terakhir kali adalah … adalah apa? Memikirkannya membuat kepalanya pusing. “Aishh … sial!” geramnya. Pandangannya beralih menyapu sekeliling, terdapat ruangan yang masih asing dalam pandangan. Sebenarnya Ia ada di mana? Setiap kali mencari jawaban, kepala Sakha malah semakin sakit dibuatnya. Lebih baik Ia segera pergi, mungkin suasana di luar dapat membantu memulihkan sebagian ingatan. Dengan menggunakan selimut, Sakha melilit badan. Kemudian turun dari ranjang untuk mengambil pakaian yang berserakan dilantai. Namun ketika tengah mengancingkan kemeja terakhir, pokusnya teralihkan oleh sebercak noda yang sangat kontras dengan warna seprai yang cerah. “Bukanah itu…,” kalimatnya menggantung seiring dengan kejadian-kejadian yang bermunculan dalam ingatan. Dimulai dari perselingkuhan Karin yang diketahuinya, kemudian berlanjut pada Omanya yang terus menanyakan Karin dan berakhir memasuki sebuah club untuk menenangkan pikiran. Kemudian sebelum pulang, dirinya menemukan sosok Karin dan membawa wanita itu untuk diberikan ‘pelajaran’. Tetapi … bercak itu seakan menyangkal kebenaran yang Sakha yakini, karena tidak mungkin jika ini yang pertama bagi Karina. “Danzel!?” ujarnya tanpa sadar. Ya. Sahabatnya itu pasti tahu apa yang telah terjadi semalam. *** “Jadi bener, dia bukan Karin?” Sakha masih enggan percaya dengan penjelasan yang baru saja Danzel utarakan. Sahabatnya itu mengatakan jika Sakha meniduri perempuan yang tidak tahu apa-apa. Beruntung Pria tua yang dipukulinya semalam tidak menyusul ke tempat Sakha melakukan ‘pergulatan’. Saat ini Sakha dan Danzel dalam perjalanan pulang, dengan Sakha yang mengemudikan mobil dikarenakan Danzel beralasan belum cukup tidur semalaman. Jika memaksakan menyetir, takutnya berakibat fatal. “Sepertinya aku gak bisa masuk kerja untuk hari ini. Gak kuat, ngantuk. Izin bolos ya, Kha?” Danzel mengakhiri pertanyaannya dengan menguap. Sakha tidak menggubris karena masih sibuk dengan pikirannya sendiri. “Terus kalau bukan Karin, siapa?” tanyanya kemudian. Ternyata masih tentang insiden semalam yang Sakha pikirkan. Jika wanita club biasa, Sakha tidak akan terlalu memikirkannya. Yang jadi masalahnya, perempuan yang ini masih perawan. Entahlah, Danzel mengetahui fakta yang satu ini atau tidak. Yang jelas Sakha benar-benar merasa bersalah. “Namanya Shabina. Menurut informasi yang kudapat dari beberapa petugas club, tadi malam dia dilelang oleh Ayah tirinya untuk melunasi semua hutang-hutangnya,” Danzel menjelaskan. Di sebelahnya Sakha hanya ngangguk-ngangguk. “Dengan harga 250juta untuk pelanggan pertama. Fantastic gak tuh?” Penjelasan Danzel yang ini berhasil membuat Sakha menginjak remnya kuat-kuat hingga keduanya terpental hampir mengenai dashboard. “Jangan berhenti disini, bego. Pinggirin dulu,” Danzel mengingatkan ketika suara klakson terdengar saling bersahutan dari arah belakang. Sakha menurut dan langsung menepikan mobilnya ke area pinggir dengan bergumam, “Ayahnya tega banget.” “Namanya juga Ayah tiri yang lagi kelilit utang, Sakha Dia hanya ,emanfaatkan apa yang ada saja.” “Tapi tidak harus dengan menjual anaknya juga kan?” entah kenapa Sakha jadi merasa kesal setelah mendengarnya. “Kok jadi kamu yang gak terima sih?" “Kesal saja kan. Kemana coba Ibunya? Bisa-bisanya dia membiarkan Anak perawannya di lelang,” jawab Sakha dengan nada gusar. “Jelas gak akan bisa lah. Karena, menurut informasi yang ku dengar Ibunya baru meninggal kemarin." “Apa!?” “Bisa gak sih kita ngobrol dengan nada biasa, saja. Lihat nih, mataku perih kalau dipakai melek. Heran, dari tadi pengen merem susah banget perasaan.” Alih-alih menjawab gerutuan Danzel, Sakha lebih memilih mengalihkan pandangan ke luar jendela. Kekehan kecil keluar dari bibirnya. “Kok bisa kebetulan gini. Pasti Ibunya orang baik, hingga hari meninggalnya sama dengan pendonor jantung Oma. Aku jadi penasaran, berapa banyak orang baik yang meninggal kemaren?” Danzel menganga, sedetik kemudian kepalanya menggeleng pelan. “Gak waras. Sudahlah, lebih baik aku tidur. Kalau kamu mau nangis buat menyesali semua kebejatan semalam, nangis aja Kha, gapapa. Aku siap mendengarkan disini.” Danzel mulai merubah posisi, dengan menyilangkan tangan di depan d**a dan merebahkan kepalanya dangan leluasa. Sakha pun menstater mobilnya kembali. “Ngomong-ngomong tentang gadis itu. Semalam kamu sempat anterin dia pulang gak?” “Enggak sih. Ngeliatku aja aja dia ketakutan. Mana berani aku maksa orang buat dianterin pulang. Emang kamu, yang suka maksa-maksa,” timpal Danzel diikuti seringai tipis. “Aku cuma bisa ngikutin dia dari belakang aja. Sekalian masitiin, dia sampai rumah dengan selamat atau enggak.” Penjelasan terakhir Danzel membuat Sakha menyunggingkan senyum tipisnya. “Kamu tahu alamatnya dong. Kalo gitu sekarang, anterin aku ke rumahnya.” “Kha. Plis lah, bisa gak sih kasih aku waktu buat merem bentar aja.” “Zel … Please, bentar doang kok ini. Meski percuma, tapi aku perlu minta maaf padanya. Seenggaknya aku bisa sedikit membantunya dengan ngelunasin semua hutang-hutang Ayah tirinya kan. Bukannya tadi kamu bilang harganya 250juta ‘kan? Yakali aku Cuma dapet enaknya doang. Sedangkan dia…,” “Oke ayo.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN