“Udah—udah, stop disini. Itu rumahnya.” Danzel menunjuk sebuah rumah yang dihalamannya terdapat pohon mangga.
“Yakin?” Sakha memastikan.
“Iya. Tadi malam aku lihat dia masuk ke sana.”
“Kalau gitu aku ke sana dulu. Kamu tunggu aja di sini. Dia pasti gak nyaman kalau ada orang lain, mengingat pembicaraan yang akan dibahas menyangkut—“
“Iya—iya. Sono.” Danzel memotong. “Udah ngantuk banget aku, gak minat ikut campur. Hus-hus…,”
Sakha tidak terlalu menggubris pengusiran halus tersebut, karena isi kepalanya sibuk memikirkan permintaan maaf seperti apa, yang sekiranya tidak membuat Perempuan bernama Shabina itu tersinggung.
Tiba di sana, Sakha dikejutkan dengan keberadaan seorang Pria yang sudah terkapar di teras rumah. Entah tidur atau tidak sadarkan diri, yang jelas penampilannya tidak karuan dan wajahnya penuh oleh bekas pukulan bahkan beberapa bagian ada yang sudah membiru.
‘Dilihat dari kondisinya, sepertinya dia Ayah tiri wanita itu,’ batin Sakha penuh keyakinan. Lalu tatapannya beralih meneliti keadaan rumah. Tirai-tirai jendelanya masih tertutup rapat ditambah lampu luar yang masih menyala, hal itu cukup membuktikan jika di dalamnya tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.
Lalu, dimana wanita itu? Atau jangan-jangan … dia pingsan juga di dalam?
Sakha hampir melangkah untuk mendekati pintu, namun cekalan pada pergelangan kaki berhenti menghentikan aksi. “Ampun Bos—ampun, saya janji nanti malam akan membawa Shabina pada Boss lagi,” gumam Laki-laki itu penuh ketakutan.
“Bisa-bisanya Laki-laki ini masih berencana untuk menyerahkan Shabina lagi?’ Sakha membatin dengan rahang yang sudah mengeras.
“Lepas! Saya bukan Boss anda.” Dalam sekali hentakkan Sakha menarik kakinya. “Dan ini….” Kemudian diletakkan sebuah paper bag coklat tepat di samping kepala Pria itu. “Gunakanlah uang ini untuk melunasi semua hutang-hutang anda. Jika masih kurang, anda dapat menghubungi nomor yang tertera di dalam. Tapi ingat, jangan sekali-kali melibatkan Shabina dalam utang-piutang anda. Saya akan mengirim orang untuk mengawasi gerak-gerik anda. Sekali saja anda mengganggunya, saya tidak akan segan-segan untuk melaporkan anda.”
“Oh. Oke—oke.” Pria itu bergegas bangun dan membuka paper bag dengan tidak sabaran. Benar saja di dalamnya terdapat banyak sekali uang—entah berapa ikat. “Kupikir dia pergi ke mana, tapi baguslah kalau dia pergi ke orang yang tepat. Sebenarnya kalau anak itu nerima uang ini dari kemaren, saya juga gak perlu repot-repot nyeret-nyeret dia ke club, Pak. Hehe…” Raut wajah Pria itu berubah lebih sumringah dari sebelumnya—merasa senang dengan semua uang yang berada dalam genggaman.
‘Lalu pergi kemana dia?’ tanpa sadar Sakha berbalik dengan langkah gontai. Dari penjelasan Pria tadi, sepertinya Shabina sudah tidak ada di rumah ini.
‘Kemana lagi aku harus mencarinya?’ tidak mungkin Sakha menyangkal dengan mengatakan Shabina tidak ada bersamanya. Bagaimana kalau penjelasan itu membuat Shabina dalam masalah lagi? Tapi, bagaimana jika Shabina sudah berada di tangan Pria-pria yang ingin menikmati tubuhnya?
Ditengah kebingungannya, manik matanya tidak sengaja menangkap sesuatu yang cukup familiar. “Bukankah … Ini milik Om Dilo?” tanyanya setelah berhasil memungut sebuah kartu nama dari ujung teras. “Kenapa bisa ada di sini?”
Kemudian segala kebetulan-kebetulan itu berkelebat dalam benaknya, hingga Sakha berhasil membuat sebuah kesimpulan.
“Jangan-jangan….” Gumamannya menggantung seiring dengan ponsel yang berdering cukup lama.
Sakha merogohnya dari dalam saku celana, dan benar saja sebuah panggilan masuk dari nomor Aldilo. Tanpa berpikir panjang, Sakha langsung menjawabnya. “Om Dilo? Kebetulan banget, Ha—“
“Kamu di mana? Oma nanyain,” sela Aldilo cepat.
“Oma udah sadar?” Sakha tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.
“Iya. Cepat kesini, dari tadi nanyain kamu terus.”
“Oke-oke. Aku kesana sekarang.”
“Oh ya, ajak Karin sekalian.”
Sakha terdiam seketika.
“Semalam kamu nginep di tempatnya ‘kan? Om cari di rumah, gak ada soalnya.”
“Aku-itu-semalam—“
“Ya udah deh, Om tutup dulu. Oma kehausan kayaknya. Kamu langsung ke sini aja,” potong Aldilo yang langsung memutus panggilan secara sepihak.
***
Benar saja, kondisi Wanita tua yang telah membesarkan Sakha itu sudah lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Laila juga sudah dapat menyambut kedatangan Sakha dengan senyuman. Tidak seperti beberapa bulan terakhir yang hanya tergolek lemah, tidak berdaya di ranjang Pasien dengan bantuan alat medis yang menempel di tubuhnya.
Sakha akui, donor jantung itu sangat berpengaruh besar dalam kesembuhan Omanya. Dan beruntungnya, operasinya berjalan lancar—sesuai dengan apa yang diharapkan.
“Dimana Karina?” tanya Laila kemudian dengan sesekali mencuri pandang ke arah kemunculan Sakha.
“Dia belum bisa jengukin Oma, mungkin lain kali katanya,” dengan sangat berat hati Sakha mengatakan kebohongan tersebut. Padahal Ia tahu pasti, Karin sama sekali tidak berminat untuk mengunjungi Laila. Tunangan Sakha itu hanya mendoakan operasinya berjalan lancar agar pertunangan mereka tidak perlu berlanjut.
Pertunangannya dulu memang diadakan hanya demi memenuhi keinginan Laila.
“Mungkin karena banyak kerjaan yang gak bisa dia tinggalin ya, Kha?” Wanita tua itu bersikap baik-baik saja, tapi Sakha yakin dibalik wajah tua nan teduh itu menyiratkan kesedihan yang dalam.
Dalam situasi seperti ini, tidak mungkin Sakha harus mengungkapkan kebenaran tentang hubungan pertunangannya. Dan tidak mungkin pula Ia berani membeberkan tentang insiden semalam, terlebih Omanya baru siuman pasca operasi. Tapi Sakha janji, jika keadaannya sudah lebih baik dan lebih memungkinkan, Ia akan mengakui semuanya.
“Oh Iya, Al. Gimana sama keluarga pendonor itu, apa kamu udah menemui mereka?” kali ini Laila bertanya pada Aldilo.
Hanya Wanita itu yang bisa memanggil Aldilo dengan sebutan Al. Sedang untuk Sakha dan yang lainnya harus menggunakan Dilo.
“Udah, Oma.” Sebenarnya Aldilo sendiri merupakan anak dari Laila—Kakak dari Ibunya Sakha. Karena sejak kecil tumbuh bersama Sakha, maka mau tidak mau Aldilo harus memanggil Ibunya dengan panggilan Oma—sebagai contoh untuk Sakha.
“Baguslah kalo udah,” timpal Laila disertai senyum penuh kelegaan dan Sakha turut senang melihatnya. Setidaknya pembahasan mengenai keluarga pendonor ini, dapat mengalihkan kesedihan sang Oma untuk sementara waktu.
“Tapi Putrinya gak mau nerima imbalan itu,” jawab Aldilo diakhiri hembusan napas kasar.
“Gak apa-apa, kita bisa mencobanya lain kali. Kita sama-sama ke sana nanti, Oma juga ingin mengunjungi mereka untuk mengucapkan terimakasih secara langsung.” Laila sendiri sudah tidak sabar untuk menantikan moment tersebut.
“Tapi sepertinya dia hanya meninggalkan seorang putri. Tidak ada ‘mereka’ seperti yang Oma maksud.”
“Iyakah?” Kening Laila berkerut samar.
Aldilo mengangguki. “Rumahnya sepi. Kupikir saat itu semua penghuni rumah sedang pergi ke pemakaman, tapi yang kembali cuma satu orang.”
“Putrinya udah besar?” Laila bertanya penasaran sedang Aldilo tampak menerawang.
“Udah gadis malah. Cocok sih kalo jadi Istriku. Tar Oma bantu jodohin aku sama dia, Ya?” pinta Aldilo dengan manik-turunkan alisnya.
“Gak boleh!”
Satupun tidak ada yang menyangka, jika kata tersebut keluar dari bibir Sakha.
“Lah kenapa? Kan Om belum punya Istri.” Entah kenapa Aldilo jadi bersemangat membahasnya. Padahal Ia mengusulkan perjodohan tadi hanya sebuah candaan saja untuk menghibur Omanya. Siapa sangka, Sakha langsung tidak terima dengan usulnya.
“Ngaca dong, umur Om udah setua apa. Dia lebih cocok diangkat anak daripada dijadikan Istri.”
Laila terkikik geli mendengarnya. “Sakha—sakha, omongan Om mu aja masih aja dipercaya. Dia juga becanda aja tadi. Lagian kalaupun beneran, Oma juga gak akan setuju.”
“Baguslah.” Sakha bernapas lega. Tadinya Ia hanya terlalu takut. Kalaupun harus ada yang menikahi Shabina, itu bukanlah tanggung jawab Aldilo. Melainkan tanggung jawab Sakha sendiri.