Hamil

1606 Kata
Shabina tengah membuka album foto berisi moment kebersamaannya dengan sang Ibu. Ini hanya akan membuatnya semakin sedih. Tetapi mau bagaimana lagi? Hanya ini satu-satunya cara untuk mengungkapkan kerinduan sekaligus penguat dalam menjalani kepahitan hidup setelah kepergiannya. “Sha?” Meta memanggil diikuti ketukan pada pintu kamar. “Iya Tan?” Sebelum turun dari ranjang, Shabina menyempatkan mengusap pelan kelopak mata berharap dapat menghilangkan kesedihan dari sana. “Mas Jaya ingin menemuimu.” “Jaya?” Shabina tersenyum kecut. Sebelum ini pun Ia sudah menduganya, cepat atau lambat Jaya pasti akan mencarinya kembali. Laki-laki yang pada awalnya diharapkan dapat melengkapi kehidupan Ibu dan Shabina. Menyempurnakan status keluarga yang dimilikinya dan membungkam mulut mereka yang dulu sempat mengatai Shabina sebagai anak haram. Tetapi … Harapan Shabina terlalu tinggi. Mimpi sederhana tersebut ternyata sulit untuk di kabulkan oleh sang Ayah tiri. Alih-alih memberi kasih sayang, justru yang Jaya lakukan hanya menyakiti dan terus menyiksa Ibunya. Baik secara fisik maupun secara mental. “Shabina buka pintunya!!!” Dan itu dia suara Laki-laki yang dimaksud. Masing-masing tangan Shabina terkepal erat. Kebencian terlihat jelas dari sorot matanya. “Buka pintunya atau Ayah yang akan mendobraknya? Shabina!” Shabina bergegas membuka pintu dan langsung melayangkan tamparan pada Jaya. “Jangan pernah memperlihatkan wajah anda dihadapan saya lagi. Saya sudah tidak sudi melihatnya,” ujarnya kemudian. Jaya geram. Bisa-bisanya anak tirinya itu bersikap tidak sopan dan berbicara menggunakan saya-anda. Karena tidak mau dianggap lemah, Ia pun turut membalas dengan tamparan yang lebih keras. “Mas Jaya. Apa yang kamu lakukan!” Meta tergopoh mendekati keduanya. Tadi, dirinya hanya ke dapur sebentar, sekedar mengambil minum untuk menyambut kedatangan Jaya. “Kamu tidak apa-apa, sayang?” tanyanya pada Shabina. Bagaimana bisa baik-baik saja, sedangkan tubuh Shabina sampai terhuyung. Jika tidak ada kusen pintu yag dijadikan pegangan, mungkin dirinya sudah ambruk ke lantai. “Kenapa kamu menamparnya, Mas?” teriak Meta marah. “Dia yang kurang ajar duluan,” Jaya membela diri. “Karena Ayah jahat! Ayah hancurin masa depanku. Gara-gara Ayah, aku—“ “Ngocehnya di rumah aja. Ayo!” “Lep—lepas! Aku gak mau!” “Harus ikut! Kamu harus membantu Ayah mencari keluarga kaya itu lagi. Ayah sedang butuh uang yang banyak, dan hanya mereka yang bisa memberikannya.” “Aku gak mau! Tante, tolong…,” rengek Shabina kemudian. “Udah Mas, udah. Kasihan itu Shabina kesakitan.” Jaya seakan menulikan pendengaran, sedangkan Meta masih berusaha membujuk. “Tunggu perasaannya tenang dulu, setelah itu aku akan membujuk Shabina untuk pulang.” Shabina yang akan menolak bungkam seketika, begitu melihat kode sang Tante lewat kedipan mata. “Iya kan Sha?” “I—iya.” “Oke. Ayah tunggu sampai nanti malam. Awas saja kalau masih belum pulang.” Setelah mengatakan itu Jaya langsung berlalu dari hadapan keduanya. “Aku gak mau pulang, Tan. Aku takut,” bisik Shabina selepas kepergian Jaya. “Boleh Tante tahu apa yang sebenarnya terjadi setelah pemakaman hari itu, hingga kamu mutusin untuk tinggal di rumah Tante?” Meta memang belum mengetahui apa yang telah terjadi kepada Shabina sebenarnya. Ketika datang pertama kali pun keponakannya itu hanya meminta izin untuk tinggal di rumahnya dengan alasan takut hidup berdua dengan Jaya. Sebenarnya dari awalpun Meta sudah sedikit curiga dikarenakan pada malam itu Shabina datang dengan penampilan yang berbeda dari biasanya, ditambah datangnya pun pada tengah malam. Hanya saja pada saat itu Meta belum berani untuk banyak bertanya dan membiarkan Shabina tinggal di rumahnya dengan tenang. “Sebenarnya—“ ucapan Shabina terhenti karena dirinya langsung tidak sadarkan diri. “Sha. Shabina!!! Oh astaga … Shabina bangun!?” *** “Bagaimana keadaannya, Tan?” “Seperti yang kamu lihat, Dit. masih belum sadarkan diri.” Percakapan Meta dan Radit membuat Shabina yang terbaring di atas ranjang pasien mengerutkan kening. Bau obat yang memasuki indera penciuman juga, menjadi penyebab dirinya terbangun. “Apa kata Dokter? Shabina tidak memiliki penyakit yang cukup serius ‘kan?” Jantung Shabina berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Firasatnya sudah bisa menebak apa yang akan menjadi jawaban dari Tantenya. “Dokter bilang … Dia hamil.” ‘Ya Tuhan….’ Shabina terpejam meloloskan air mata yang sejak tadi ditahannya. Apa yang ditakutinya, kini benar-benar terjadi. Sebenarnya sebelum ini pun, tubuhnya sudah menunjukkan beberapa perubahan, seperti telat datang bulan dan merasa mual di pagi hari. Hanya saja Shabina enggan mengakuinya dengan terus meyakinkan diri bahwa itu hanya sebuah dampak dari stress dan kurang tidur. “Itu anakmu ‘kan, Dit?” pertanyaan Meta membuat Shabina menoleh ke tempat dimana keduanya mengobrol. Pada sofa yang berada di sudut ruangan. Ternyata Radit tengah menatap ke arahnya juga. Dia merupakan Laki-laki yang dekat dengan Shabina sejak kecil. Berperan jadi sosok yang selalu melindungi dan membela Shabina dari orang-orang yang menyakitinya. Hingga Shabina sulit membedakan, apakah kebaikan Radit itu bentuk kasih sayang Kakak pada adiknya, atau perhatian seorang laki-laki pada wanita yang dicintainya. “Jika itu bukan anakmu, Tante takut Jaya lah—“ “Tante bisa keluar sebentar, aku akan bicara dulu padanya.” Radit sengaja memotong supaya Meta tidak perlu mengutarakan ketakutannya. Beruntung wanita itu tidak protes, bahkan langsung keluar dari ruang pemeriksaan. *** “Apa Ayah tirimu yang harus bertanggung jawab atas kehamilanmu ini?” Radit menyuarakan ketakutan Meta. Lagipula memang benar, hanya dirinya dan Jaya lah laki-laki yang sering berkomunikasi dengan Shabina. Kemudian pikiran Shabina melayang kembali pada malam itu. Dadanya sesak setiap kali terbayang akan dirinya yang sudah menjadi Perempuan murahan. Mau bagaimana lagi? Shabina tidak dapat memutar waktu untuk merubah keadaan, bukan? Kalau bisa pun, mungkin Ia lebih memilih pergi menyusul Ibunya. Dengan begitu, mungkin Shabina tidak harus menghadapi kenyataan pahit ini. Sedang untuk menyerah sekarang, itu mustahil. Bagaimanapun juga dalam perutnya tengah ada sebuah nyawa yang terngah bergantung hidup padanya. Tanpa sadar Shabina mengelus perutnya yang masih rata itu. “Secara tidak langsung iya,” ujarnya untuk menimpali pertanyaan Radit. Dengan suara bergetar, Shabina melnjutkan. “Tapi bukan Jaya yang melakukannya. Bisa diibaratkan, dia cuma mendorongku untuk melakukan kesalahan itu.” “Lalu siapa?” “Aku nggak tahu,” seketika Shabina mengalihkan pandangan dari wajah Radit. “Sedikit aja Sha. Coba ingat-ingat. Masa nggak tahu.” Shabina sebenarnya masih ingat secara sepintas, hanya saja Ia enggan untuk menyebutkan ciri-cirinya. Dilihat dari wajahnya yang keriput, dapat dipastikan jika Laki-laki itu sudah berkeluarga atau mungkin sudah memiliki cucu. Bagaimana Shabina tega mengusik keluarga mereka. Lagipula akan sedikit sulit. Siapa yang akan percaya jika Shabina hanya melakukannya bersama Laki-laki itu. Bisa saja dia malah meminta Shabina untuk menuntut pertanggung jawaban dari Laki-laki yang lainnya juga. “Bagaimanapun juga kita harus mendapat pertanggung jawaban dari laki-laki itu, Sha. Kecuali…” Suara Radit berhasilmenyadarkan lamunan Shabina. “Kecuali apa?” Laki-laki itu menelan ludah sejenak, terlihat darijakunnya yang naik-turun. “Kamu mau menggugurkannya.” Shabina menganga tidak percaya. “Kamu mau aku menjadi pembunuh untuk anakku sendiri, Dit?” Ia benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Radit. “Gak ada pilihan Lain kan?” Radit mengedikkan bahunya. “Emang kamu mau membesarkan anak itu sendiri?” “Gak papa, kalau memang harusnya begitu. Aku akan mengurusnya sendiri.” “Tolonglah Sha, pikirkan baik-baik. Menjadi Ibu tunggal akibat perceraian saja susah, apalagi ini menjadi Ibu dari anak yang tidak tahu Ayahnya dimana. Dia hanya akan membebani masa depanmu nantinya.” “Sudahlah. Kamu gak akan mengerti, karena tidak mengalaminya sendiri.” Shabina memalingkan wajah kembali, untuk menyembunyikan air matanya. “Siapa bilang aku gak ngerti hah? Aku juga pernah diposisi ini, sering malah.” “Maksudmu?” Radit terlihat gelagapan. “Mak—maksudku, aku sering dihadapkan dengan keadaan mendesak seperti ini. Dilingkungan kerjaku sudah banyak perempuan-perempuan yang melakukan ab**si. Dan itu fakta Shabina, kamu hanya terlalu banyak mendekam di dalam rumah hingga tidak tahu kerasnya hidup diluaran sana.” Shabina sama sekali tidak peduli. Lagipula, untuk apa mengetahui kehidupan diluaran. Berusaha menjaga diri saja, berakhir dengan hamil diluar nikah seperti ini apalagi kalau ikut aturan keras kehidupan diluar sana. “Terus kalau udah gini mau gimana coba? Aku gak mau ya bertanggung jawab atas anak itu.” “Gak ada yang meminta pertanggung jawaban darimu," sanggah Shabina cepat. “Astaga….” Radit mengusap wajahnya kasar. “Jadi kamu tetap gak mau ngasih tahu siapa yang melakukannya? Padahal aku cuma ingin sedikit membantumu loh Sha. Kapan, dimana, dan kenapa kamu mau gitu aja melakukannya.” “Aku gak melakukannya gitu aja!” Nada bicara Shabina lebih tinggi dari sebelum-sebelumnya. Bagaimana tidak kesal, sementara Radit berbicara seolah menuduh Shabina yang bukan-bukan. “Kalau gak ngelakuinnya gitu aja, kamu gak mungkin sampai hamil tanpa suami seperti ini Shabina,” jelas Radit dengan suara tak kalah keras. Napas Shabina memburu, dengan d**a yang naik turun. “Karena Jaya menjual tubuhku untuk melunasi semua hutang-hutangnya. Puas!?” Perempuan itu sudah tidak peduli dengan Meta yang bisa saja mendengar pembicaraannya dari luar. “Dan itu hanya terjadi satu kali Dit. Bahkan … bahkan saat semua itu terjadi, aku tidak sadarkan diri. Siapa yang ngira bakal langsung jadi kayak gini. Aku juga gak mau Dit—aku gak mau.” Shabina menggeleng sedikit meminta pengertian dari Radit. Yang terjadi sebaliknya, Radit tidak menyadari keputus asaan Shabina. “Bodoh. Coba kamu gak ngikutin kemauan Jaya gitu aja. Bukankah sudah kubilang dari lama kalau dia bukan Ayah yang baik?” “Aku gak ngikutin kemauannya, Radiiit. Dia membawaku secara paksa.” Shabina mendongak dengan mata merah menahan amarah. “Harusnya sebelum melakukan ini-itu kamu pikirin dulu segala konsekuensinya.” “Ya, memang gitu harusnya. Harusnya pas kejadian, kamu juga ada disana, biar ngerti kalau aku gak punya waktu untuk ini-itu dulu. Semuanya terjadi gitu aja, Dit. Sekarang aku tanya, Disaat aku membutuhkanmu, kamu ada dimana?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN