bc

Rahasia Indah Sang Presdir

book_age18+
125
IKUTI
1K
BACA
HE
pregnant
decisive
stepfather
bxg
lighthearted
addiction
like
intro-logo
Uraian

Perselingkuhan yang dilakukan sang tunangan, membuat Sakha frustrasi hingga membawanya pada dunia malam. Sementara itu, Shabina yang malang dipaksa menjual tubuh demi melunasi hutang Ayah tirinya. Kesalah pahaman pun terjadi hingga Sakha berhasil meniduri Shabina yang tidak sadarkan diri.

Satu bulan kemudian Shabina dinyatakan hamil. Dikarenakan tidak tahu siapa Ayah dari bayi yang dikandungnya, Ia pun terpaksa menerima lamaran dari Pria bernama Sakha. Katanya pria tersebut ingin membalas kebaikan Ibu Shabina yang telah mendonorkan jantung pada Omanya.

Pernikahan Sakha dan Shabina pun dilakukan atas dasar balas budi, setidaknya itulah anggapan semua orang. Tetapi tidak bagi Sakha, Ia menikahi Shabina atas dasar tanggung jawab terkait insiden satu malamnya bersama Shabina.

Beranikah Sakha mengungkapkan kebenaran dan mengatakan bahwa Ia merupakan Ayah dari bayi yang dikandung oleh Shabina? Dan bagaimanakah Ia menyikapi mantan tunangan yang tiba-tiba datang untuk mengusik kehidupan rumah tangganya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Gadis Penebus hutang VS Pria depresi
“Gadis bodoh. Kenapa kau tak terima uang sumbangan dari keluarga kaya itu hah?” Tanpa peringatan Jaya mencengkram bahu Shabina dengan kuat. Malam ini, Ayah tiri Shabina itu pulang dengan penampilan tidak karuan. Bajunya basah kuyup—terkena air hujan. Sementara wajahnya dihiasi oleh lebam di sana sini. Bahkan setitik darah segar masih keluar dari bibirnya. Ternyata derasnya air hujan tidak dapat menyamarkan luka-lukanya. Shabina tahu pasti, semua yang Jaya dapati dakarenakan kalah dalam berjudi. Lagi. “Sa—sakit Ayah….” Mata Shabina terpejam tetapi bukan untuk menyamarkan kesakitan yang terasa di sekujur badan. Melainkan kesakitan oleh keadaan. Ibunya baru saja dikebumikan sore tadi. Tetapi lihat kelakuan Ayah tirinya ini, malah menyibukkan diri dengan para kawanan berjudi. “Ayah tahu, ada seorang Pria yang datang kesini untuk memberimu sejumlah uang ‘kan?” Jaya mempermasalahkan hal yang sama untuk kedua kalinya. “Sekarang jawab. Kenapa Kau tak terima uang itu hah?” Dalam sekali dorongan Jaya berhasil menghempaskan Shabina ke lantai. ‘Bagaimana Ayah bisa tahu?’ karena yang Shabina ingat, ketika Ia menolak uang itu, Jaya sedang tidak ada di sekitarnya. “Andai kamu menerimanya, mungkin saat ini Ayah gak perlu kebingungan nyari uang untuk melunasi semua hutang-hutang Ayah. Sebagai gantinya kamu harus menjual tubuh untuk membantu Ayah. Ayo….” Kali ini Jaya menyeret Shabina keluar rumah. “Jual tubuh? Maksud Ayah? Oh, astaga ... Gak—aku gak mau. Lepasin Ayah, aku gak mau.” Shabina meronta, sekuat tenaga berusaha melepaskan diri. Ternyata hujan deras masih mengguyur bumi, karenanya piyama tipis yang Shabina gunakan pun basah kuyup dalam hitungan detik. Tubuh Shabina menggigil, sedang dibawah sana kaki telanjangnya seakan mati rasa. Setelah jalan beberapa menit, tibalah keduanya dipinggir jalan raya. Dengan segera Jaya menghentikan taxi dan memasukkan Shabina ke dalamnya secara paksa. Taxi itu membawa mereka ke sebuah club. Sesampainya di sana, Shabina langsung diminta berganti busana oleh seorang wanita seksi. Hasrat untuk melawan itu hilang begitu saja, dan dirinya hanya pasrah mengikuti semua keinginan Jaya. Toh, jika melawan pun hanya akan buang-buang tenaga saja ‘kan? “Kerja bagus,” kalimat yang Jaya ucapkan begitu melihat Shabina keluar dari ruang ganti. Penampilannya berubah hampir 180derajat. Tidak ada rambut lepek lagi, yang terlihat justru rambut terurai dengan ujungnya dibuat sedikit bergelombang. Untuk piyama tipis pun kini sudah berganti dengan dress merah yang mempertontonkan keindahan punggungnya. Sedan kaki yang tadinya telanjang kini sudah dipercantik oleh heels yang tingginya tujuh centi. “Terlihat sangat menggoda. Apalagi gincu merahnya, pelanggan pasti akan langsung terpikat dengan itu,” Jaya memuji. Shabina meringis merasakan ketidak nyamanannya dalam berpakaian. Kedua tangannya terus saja digunakan menurunkan Dress yang panjangnya bahkan tidak mampu menutupi lutut. “Sudah. Ayo, ikut Ayah.” Jaya kembali menarik Shabina. “Oh iya, makasih Sin. Hasil tanganmu tidak ada yang mengecewakan.” “Sama-sama Pak. Semoga semua berjalan sesuai rencana,” jawab seorang wanita yang dipercaya untuk mendandani Shabina, dengan diakhiri tersenyum miris. *** “Rileks saja, pelanggan disini pada ramah kok. Percaya sama Ayah, mereka tidak akan tega menyakitimu. Selama kamu melayaninya dengan baik, diapun akan memberikan timbal balik yang sama,” Jaya menjelaskan ditengah menunggu Pria yang akan menjadi pelanggan pertama untuk Shabina. Transaksi yang dilakukan mereka cukup simple. Setelah pelanggan mendapat kepuasan, maka Jaya akan menerima semua pembayaran tanpa terpotong sepeserpun. Karena yang membeli tubuh anaknya ini, rekannya bermain judi. Jaya dapat menjamin, jika Shabina dapat diajak bekerja sama dengannya dalam beberapa malam kedepan, maka segala kebutuhan berjudinya akan dimudahkan. “Minumlah sedikit, biar wajahmu gak tegang begitu.” Jaya mendorong segelas air ke hadapan Shabina. “Ayo minum, gak usah takut. Kasihan itu tenggorokanmu kekeringan, karena udah teriak-teriak dari tadi,” lanjutnya. “Aku gak haus.” Shabina memalingkan wajah ke arah lain. Jangankan tenggorokan, bahkan sekujur tubuhnya pun Shabina pikir tidak merasakan keluhan apapun. “Masa minum saja harus Ayah yang paksa.” “Aku bilang gak haus—“ Terlambat, Jaya sudah memasukkan air di dalam gelas tersebut ke dalam mulut Shabina secara paksa. “Ayah jahat! Ayah tega! Ingat, aku ini seorang anak yang tumbuh besar dalam asuhan Ayah. Tolong Ayah pikirkan baik-baik sebelum menjualku. Ya?” ujar Shabina sedikit meminta belas kasihan. Jaya tahu pasti reaksi dari minuman yang sudah dicampur obat itu sebentar lagi akan bekerja. Daripada capek-capek meladeni permohonan Shabina, lebih baik dirinya diam saja. “Ayah ... Kenapa tubuhku tiba-tiba terasa panas begini ya? Kepalaku juga, rasanya menjadi begitu pusing." Berulang kali Shabina menggelengkan kepala—berharap penglihatannya yang mulai memburam kembali membaik, namun tidak bisa. Lamat-laun tubuhnya pun terasa ringan, seakan melayang. Anehnya Shabina menikmati itu, bahkan tangannya tidak ada keinginan untuk berpegangan pada apapun. Sampai kemudian sepasang tangan menopang tubuhnya yang oleng, menggendongnya dan membawa Shabina entah kemana. Samar-samar Shabina masih dapat mengintip bagaimana sosok yang membawanya kini. Disana terdapat wajah keriput dengan sebagian rambut yang sudah memutih—tersisir rapi. Lelaki itu sudah cukup tua, itu kesimpulan utamanya. Suara langkah kaki terdengar dari arah belakang, disusul dengan teriakan seseorang yang berujar, “Sakha berhenti! Itu bukan Karina…!” Tidak lama kemudian sebuah pukulan terdengar, mengguncang tubuh Shabina hingga dirinya terjatuh ke lantai. “Aw! Shhh….” Shabina masih sempat meringis sebelum kegelapan benar-benar mengambil alih kesadarannya. *** “Sakha berhenti. Itu bukan Karina!” Sakha tidak memedulikan teriakan Danzel, sahabatnya. Yang dilakukan justru semakin melebarkan langkah untuk segera tiba dihadapan Pria tua dan melayangkan beberapa pukulan sebagai bentuk pelajaran. Salah sendiri, siapa suruh bermain mesra dengan tunangannya. Karina. "Dasar assisten sialan. Mati saja sana sekalian," gumam Sakha dengan napas terengah begitu menghentikan pukulannya. Sementara Pria tua itu sudah tidak sadarkan diri. "Astaga Sakha! Demi apapun, kamu tengah mabuk berat. Lelaki itu bukan Pak Radit." Begitu sampai, Danzel langsung memeriksa napas Pria yang sudah terkapar di lantai. "Syukurlah. Napasnya masih ada." Kesempatan ini tidak Sakha sia-siakan. Digendongnya Perempuan yang diyakini sebagai Karina tadi, untuk dibawanya menyusuri lorong gelap. "Sakha tunggu. Kamu mau bawa dia kemana, hah?" “Minggir, Danzel! Aku harus memberi pelajaran pada tunangan yang tidak tahu malu ini." Kali ini Sakha menjuhkan Danzel menggunakan kakinya yang bebas. "Tapi itu bukan Karina, astaga!" Ternyata Danzel belum menyerah. Dengan setia, sahabat sekaligus manager keuangan itu membuntuti Sakha. "Sakha tolong, sadarlah. Aku ini dipihakmu, jangan sampai kamu melampiaskan hasrat pada Perempuan yang tidak tahu apa-apa. Lepasin dia, kamu mau bawa dia kemana, Kha? Sakha? Sadar itu bukan Karin.” Ocehan-ocehan Danzel tersebut seakan tidak masuk dalam pendengaran Sakha, alhasil Ia tetap bersikeras dengan pendiriannya untuk memberikan pelajaran pada Karina. Dan... BRAK! Sebuah pintu berhasil terbuka akibat tendangan Sakha. Laki-laki itu bertindak seakan sudah mengetahui seluk beluk tempat ini. Buktinya Ia tahu bahwa dibalik pintu, terdapat sebuah ruangan yang menyediakan ranjang dengan perempuan yang dianggap sebagai Karina sudah berhasil dibaringkan di atasnya. “Sakha sadar, itu bukan Karin.” Entah keberapa kalinya, Danzel mengingatkan dengan kalimat yang sama. “Lepasin Danzel, keluar sana.” Sakha jelas murka, pasalnya Danzel terus mengekor disaat hasratnya sudah di ubun-ubun. Begitu Danzel telah berhasil ditendang sampai keluar ruangan, barulah Sakha mengunci pintu dari dalam. “Sial!” Sementara diluar sana, Danzel menyalurkan kekesalannya dengan menendang pintu. Kalau sudah begini, apa yang akan terjadi nanti? ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.0K
bc

TERNODA

read
201.4K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
2.0K
bc

Kali kedua

read
221.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.4K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook