Awal mula

1276 Kata
"Sekarang aku tanya, Disaat aku membutuhkanmu, kamu ada dimana?” pada akhirnya Shabina berteriak frustrasi. “…” “Saat pemakaman Ibu pun, kamu gak datang Dit. Apa pekerjaanmu sesibuk itu, hingga chat ku pun kamu abaikan.” “…” “Kamu tahu, apa yang aku katakan setiap kali mengutuk keadaan ini?” “Gak tahu dan gak mau tahu,” Radit menjawab dingin. Shabina tidak mengindahkan, karena tatapannya sudah kembali menerawang dengan wajah sendu. “Andai Radit ada, mungkin keadaannya tidak akan seburuk ini.” “Aku bilang gak mau tahu, Sha. Kenapa sih kamu ini? Toh semuanya sudah terjadi ‘kan.” Shabina mengerjap, masih tidak percaya Radit bisa mengatakan hal itu. Tadinya ia berpikir, Radit akan sedikit tersentuh dengan semua ungkapan isi hatinya. “Kalau gak mau tahu setidaknya kamu gak perlu menghakimiku seperti tadi.” “Yaudah—yaudah. Terserah! Aku udah gak mau ikut campur permasalahanmu lagi. Lebih baik aku segera pergi dari sini.” “Dia udah tua. Kemungkinan besar dia udah punya cucu,” penjelasan Shabina berhasil menghentikan Radit yang akan keluar dari ruang pemeriksaan. Terlihatlah Radit yang kembali melangkah mendekati ranjang dengan berujar, “gak ada sangkut pautnya sama punya cucu atau enggak, Shabina. Poin utamanya dia harus bertanggung jawab. Kamu mau anakmu lahir tanpa seorang Ayah? Kamu mau mengurus biaya persalinan yang semakin kesini semakin mahal? Apa yang akan kamu katakan ketika anakmu menanyakan tentang Ayahnya nanti? Bingung ‘kan?” Shabina meringis menyadari kebenaran dalam setiap ucapan Radit. “Jadi sekarang please. Ingat sebanyak yang kamu bisa, biar aku bisa membantumu.” Shabina menurut, memaksakan diri mengingat kembali insiden menjijikan itu dengan memejamkan mata. Seiring berjalannya waktu, sebuah suara menggema, memenuhi isi kepala. ‘Sakha tunggu! Itu bukan Karina!’ Mata Shabina terbuka, terlihatlah Radit yang tengah cemas menantinya. “Gimana?” “Mungkin namanya Sakha.” “Sakha?” tanya Radit dengan nada terkejut. “Kamu yakin?” “Gak seratus persen yakin sih.” “Ciri-cirinya? Maksudku, usia atau penampilannya gitu-gitu. Kamu bisa coba mengingatnya lagi? ” “Wajahnya keriput, rambutnya beruban, senyumnya menyeramkan dan—“ penjelasan Shabina terhenti oleh dering ponsel yang berasal dari saku celana Radit. “Aku angkat telpon dulu Sha, tunggu sebentar.” Sebelum Shabina menjawab, Radit sudah berlari kecil ke luar ruangan. “Dan dia memiliki tattoo di punggungnya.” Shabina mendesah pelan. “Tadi nyuruh aku ngingat-ngingat, giliran sudah ingat eh ditinggalin gitu aja.” *** “Sudah, jangan terlalu dipikirin. Mungkin ada pekerjaan yang belum sempat Radit selesaikan.” Meta mengusap punggung Shabina yang duduk pada kursi roda dengan menghadap jendela. Di sana menampilkan taman kecil yang terdapat di bagian belakang Rumah Sakit. Biarlah Meta berpikir Shabina tengah melamunkan Radit. Lagipula wajar, karena sejak pamit beberapa jam lalu, Lelaki itu belum juga menunjukkan batang hidungnya kembali. Mengangkat sebuah panggilan harusnya tidak akan menghabiskan waktu selama itu. Setidaknya Radit dapat mengatakan perihal kepergiannya terlebih dulu. “Sebaiknya kita pulang sekarang, sebelum kemalaman di jalan.” Shabina mengangguk, membiarkan Meta mendorong kursi roda keluar ruangan. “Tadi Tante sudah coba memanggilnya, tapi dia malah terus lari dengan wajah panik.” “Udah, gak usah dipikirin. Keenakan dia dong. Dia aja belum tentu mikirin kita ‘kan?” ujar Shabina dengan nada becanda. “Tante pikir hubungan kalian masih baik-baik aja. Makanya tadi berani menanyakan tentang—“ “Gak papa, Tan. Radit juga gak kesinggung kok.” Sebenarnya bukan Radit yang Meta pikirkan. Jauh di dalam hatinya, dirinya lebih mengkhawatirkan kehamilan Shabina ini. Bagaimana jika ketakutan itu benar-benar terjadi, bahwa Jaya lah yang harus mempertanggung jawabkan semua ini. *** “Pulang sendiri lagi?” tanya Lalila menyambut Sakha yang baru memasuki rumah. “Kemarin bilang besok mau bawa Karin, sekarang mana?” “Hari ini dia gak bisa Oma. Besok mungkin,” kilah Sakha yang menghampiri Sang Oma untuk memberi salam dengan mencium punggung tangannya. “Sejak kapan kamu pandai berbohong kayak ini?” “Ya maaf, mau gimana lagi? Dianya belum bisa ketemu sama Oma.” “Dari awal Oma sakit, sampai siuman pasca operasi pun Karin gak mau liat keadaan Oma. Pas Oma udah di rumah pun, dia masih belum bisa datang. Apa Oma punya salah ya?” dengan sengaja Laila bersuara lirih supaya Sakha semakin tidak enak hati. “Gak ada Oma. Disini bukan Oma yang salah, dianya aja yang sok sibuk.”Sakha menghela napas jengah. Ia sendiri sudah capek dengan pembahasan yang ini lagi-ini lagi. Sudah terlalu banyak harapan palsu yang diucapkan pada Omanya. Dan sudah terlalu sering juga dirinya membenarkan kelakuan Karina. Mau mengungkapkan keadaan yang sebenarnya, Sakha tidak tega. Takut kesehatan Omanya memburuk lagi. “Kalau dia gak bisa datang kesini, kita aja yang cari dia kesana. Gimana?” “Hah?” “Tapi kamu jangan bilang sama dia, biar jadi kejutan gitu.” *** Sakha menatap ponsel, menimbang-nimbang apakah perlu menghubungi Karin terlebih dahulu atau tidak. Karena jika tidak menghubunginya takutnya Karin kepergok sedang melakukan hal-hal yang akan membuat Oma-nya terkejut. Seperti apa yang dilihatnya satu bulan yang lalu. Pada saat itu…. Sakha mendapati Karina yang tengah digendong oleh assisten pribadinya ke dalam ruang kerja wanita itu. Gendong ala bridal style. Kedua manusia berbeda jenis itu saling melempar senyum. Tangan si wanita mengalung indah pada leher si pria, layaknya sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara. Sakha geram melihatnya. Wajar karena wanita itu adalah tunangannya. Bukan geram karena cemburu, melainkan pada perbuatan kedua pasangan itu sendiri. Jika memang Karina dan assistennya itu mempunyai hubungan lebih harusnya mereka bisa pilih-pilih tempat buat bermesraan. Bukan di kantornya. Sakha sudah tahu bagaimana kepribadian Karina selama ini. tidak beda jauh dari apa yang dilihatnya saat ini. Sering gonta-ganti pacar dan selalu berusaha menarik perhatian para pria. Tapi itu dulu. Jauh sebelum Karina bertunangan dengannya. 'Ternyata dia belum berubah.' Sakha membuang napas lelahnya. Untuk membatalkan pertunangannya, rasanya tidak mungkin. Mendiang Ayah Karina sudah sangat mempercayakan masadepan putrinya di tangan keluarga sinulingga ini, alias keluarga Sakha. Karena dikeluarganya sudah tidak ada lagi lelaki dewasa yang melajang, akhirnya Sakha-lah yang ditunjuk untuk mendampingi Karina. Belakangan Karina sudah menjadi pribadi yang lebih baik. Dari mulai penampilannya sampai tata bahasanya dalam berbicara, semuanya sudah seperti apa yang diharapkan keluarganya. Gambaran istri ideal bisa Sakha dapatkan dari wanita itu. Maka dari itu Sakha menerima dan mulai membuka hatinya. Beruntungnya selama membuka hati itu Shakira Karina berhasil masuk ke dalamnya. Entah karena hatinya yang tidak mudah di sentuh atau Sakha yang tidak percaya akan adanya cinta. Meski Sakha melihat dengan jelas perselingkuhan tersebut, Ia bertekad akan tetap melanjutkan maksud kedatangannya ke kantor tempat Karina bekerja ini. Dengan wajah setenang mungkin, Sakha mulai mengetuk pintunya. "Siapa?" Samar-samar sahutan dari dalam terdengar. "Sakha." Hening cukup lama sebelum kemudian pintu terbuka dan menampilkan sosok seksi Karina dengan senyuman ramahnya. "Lama ya? Maaf tadi aku lagi di toilet." 'Oh ya? ditoilet? ko sahutanmu kedengeran sampe luar?' ejek batinnya. Sakha tertawa hambar kemudian berujar. "Santai aja. Aku masih baik-baik aja kok ... Sekretarismu kemana? Bukannya ini masih jam kerja ya?" "Oh itu. Dia—dia lagi beli makan buat nanti siang." Karina mulai menggeser sedikit badannya, mempersilakan Sakha untuk memasuki ruangan. "Gak perlu. Cuman sebentar kok," jawab Sakha yang menyadari pergerakan Karina. "Oh ... Ada apa?" "Operasi Oma sudah berjalan lancar. Kita hanya tinggal menunggunya untuk sadar...." Senyum Sakha melebar. Penjelasan dari Dokter yang menghubunginya beberapa waktu lalu masih terputar dengan jelas dalam otaknya. Hal itulah yang membuatnya tersenyum. "Oh ya?" "Huum. Sekarang aku mau kesana. Kamu mau ikut?" "Ah--itu—" "Ya sudah kalau banyak kerjaan. Kamu bisa mampir lain kali." Sebelum menunggu jawaban Karina, Sakha langsung memutar langkahnya. Kekecewaan itulah yang pada akhirnya membawa Sakha pada sebuah Club hingga tanpa sadar telah meniduri Shabina. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN