Rencana Danzel

1143 Kata
Sakha mengakhiri lamunan tentang perselingkuhan Karin dengan mengusap wajah kasar. Setiap memikirkan hal tersebut hatinya selalu sakit. Bukan sakit hati karena pengkhianatan yang telah dilakukan sang tunangan, melainkan sakit hati karena perhatian Omanya tertuju pada orang yang salah. Setiap hari, entah itu ketika Sakha akan berangkat kerja maupun pulang dari kantor. Omanya pasti selalu bertanya tentang Karina yang tidak kunjung datang berkunjung ke rumah mereka, dan selama itu juga Sakha harus memberi jawaban dengan kebohongan yang sama. “Karina masih sibuk dengan pekerjaannya, Oma. Jadi belum bisa ku ajak untuk kesini.” Sekarang katakan, harus berapa lama lagi Sakha mengatakan kebohongan tersebut? Karena jika menjelaskan hubungan pertunangan yang sebenarnya sangat mustahil, mengingat kesehatan Omanya yang baru pulih. Sakha lebih baik membohongi perasaannya sendiri, daripada harus melihat Omanya tidak berdaya kembali. Getaran ponsel yang tergeletak di atas ranjang, berhasil mengalihkan perhatian Sakha. Laki-laki itu segera mengambilnya dan terlihatlah sebuah pesan masuk yang dikirim oleh nomor baru. Disana tertulis. ‘Berikan saya uang lagi. Kalau tidak, maka saya terpaksa menyeret Shabina ke dalam dunia malam itu lagi. Saya tunggu secepatnya.’ “Lelaki sialan!” Tanpa sadar Sakha berteriak seraya meremas ponselnya kuat-kuat. Tanpa menanyakan siapa yang mengirimnya pesan tersebut pun, Sakha sudah tahu. Dapat dipastikan pesan tersebut dikirim oleh Ayah tiri Shabina. Kalau bukan dia, memangnya siapa lagi ‘kan? Lagipula selama sebulan terakhir ini Sakha belum berhasil menemukan keberadaan Shabina. Danzel dan orang-orang suruhannya belum ada yang melaporkan lebih lanjut mengenai perempuan itu. Mereka sudah diminta untuk mengawasi rumah Shabina dan tempat perjudian yang biasa Ayah tiri Shabina datangi, namun sampai saat ini tidak ada yang mencurigakan. Orang-orang suruhannya mengatakan, bahwa Shabina masih belum muncul dari tempat persembunyiannya. Lalu sekarang apa? Bagaimana bisa Ayah tirinya itu mengancamnya dengan membawa-bawa Shabina. Sakha harus segera menanyakannya pada Danzel, pasti sahabatnya itu mengetahuinya kan. Tetapi sebelum itu, dirinya harus membalas pesan yang dikirim Ayah tiri Shabina, sebelum Laki-laki itu benar-benar malakukan ancamannya. Tidak. Sampai kapanpun Sakha tidak akan pernah membiarkan Shabina terlibat dalam utang-piutang Ayah tirinya kembali. Jari Sakha bergerak cepat untuk segera mengirimkan balasan pada Nomor tadi. ‘Oke. Nanti malam akan saya antarkan uangnya ke rumah anda. Dengan syarat anda harus menyerahkan Shabina pada saya.’ Tepat setelah pesannya terkirim, barulah Sakha menghubungi kontak Danzel. Beruntung dalam deringan pertama, sahabatnya itu langsung mengangkat panggilan. “Kamu—“ “Aku di bawah. Cepat turun sini, ada yang ingin ku sampaikan tentang wanita satu malam mu itu,” Danzel memotong sebelum Sakha menyelesaikan ucapan. “Namanya Shabina,” koreksi Sakha yang tidak terima Shabina dijuluki wanita satu malam meski julukan tersebut berasal dari mulut Danzel. Namun Danzel seakan tidak menyadari kekesalan Sakha tersebut, dan lebih memilih mengutarakan hal lain. “Yasudah kalau kamu gak mau turun, aku langsung pulang aja nih.” “Sabar, elah.” Tanpa menunggu jawaban yang selanjutnya, Sakha langsung memutus panggilan seraya berjalan keluar dari kamar dengan langkah lebarnya. Benar saja, ketika menuruni tangga Sakha melihat Danzel yang tengah duduk di ruang tamu dengan memainkan ponselnya. “Gimana?” tanyanya setelah berhasil mendudukan diri di seberang Danzel. Alih-alih menimpali, Danzel lebih memilih bangkit dan berpindah tempat duduk tepat di samping Sakha. “Kamu harus lihat ini dulu,” ujarnya yang langsung memamerkan beberapa gambar dari dalam ponselnya. Merasa harus melihatnya dengan jelas, Sakha pun mengambil alih ponsel dari genggaman Danzel. Kemudian menggeser beberapa foto yang menunjukan gambar-gambar yang hampir sama, dimana Ayah tiri Shabina tengah memasuki sebuah rumah. “Itu rumah milik kerabatnya perempuan satu mal—“ penjelasan Danzel menggantung seiring tatapan sinis yang Sakha layangkan. Dengan segera, Danzel langsung mengoreksi kata-katanya. “Ma—maksudku, rumah itu milik Tantenya Shabina, dan ternyata selama ini perempuan itu tinggal disana.” Sakha hanya menggut-manggut mendengarnya. Sementara ibu jarinya masih menggulir foto-foto Ayah tiri Shabina dari yang sebelumnya memasuki rumah berganti menjadi keluar dari rumah. “Shabinanya mana?” tanyanya setengah penasaran. Masalahnya, Lelaki yang berperan sebagai Ayah tiri Shabina itu hanya keluar seorang diri. “Dari obrolan yang ku dengar, Tantenya berhasil menahan Shabina untuk tetap tinggal bersamanya. Tapi gak tahu untuk berapa lama, soalnya Jaya mengancam akan memberi pelajaran kalau Shabina tidak juga pulang sampai nanti malam. Kemungkinan besar Shabina akan dibawa kembali ke club itu, Kha.” Fokus Sakha tidak tertuju pada penjelasan terakhir Danzel, melainkan … “Jaya, siapa?” “Ya itu, Ayah tirinya Shabina.” Danzel menunjuk pada layar ponsel lewat gerakan kepala. “Oh.” Sakha mengannguk kecil. Tidak lama setelahnya, keningnya berkerut samar dengan menanyakan kembali perkataan Danzel. “Kamu bilang malam ini? Itu berarti….” ‘Ancaman Jaya yang dilakukan padanya lewat pesan singkat itu bukanlah main-main?’ Batin Sakha melanjutkan. “Ya. Itu berarti malam ini kita harus segera ke rumah Tantenya Shabina, Kha. Sebelum perempuan itu pulang ke tempat Jaya.” ujar Danzel dengan menggebu. “Oke ayo.” Sakha tak kalah bersemangat. Biarlah, biarlah mempertemukan Omanya dengan Karina menjadi urusan belakangan, karena yang paling penting sekarang adalah menyelamatkan kehidupan Shabina. “Tapi sebelum itu, kamu harus berjanji dulu Kha…,” dengan sengaja Danzel menggantung ucapannya. “Berjanji apa?” tanya Sakha merasa heran dengan tingkah Danzel. Sahabatnya itu tidak hanya menghentikan Sakha dengan ucapan, melainkan dengan aksi yang memegang tangan Sakha juga. “Berjanji untuk menikahi Shabina, setelah bertemu dengannya nanti.” “Kamu sudah gila, apa?” Suara Sakha naik satu oktaf. Selain itu dirinya juga menghentakkan pegangan Danzel hingga terlepas dari tangannya. “Aku serius, Kha. Please ya, nikahin dia. Kamu kan harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Iya—iya, aku tahu kamu sudah punya tunangan.” Danzel segera menyela begitu melihat Sakha yang akan protes. “Tapi mau sampai kapan kamu bertahan dalam hubungan yang kamu sendiri tersiksa di dalamnya? Mau sampai kapan kamu pura-pura bahagia menjalani pertunanganmu? Sebagai sahabat, aku cuma ingin kamu bahagia Kha.” “Danzel!” Desis Sakha coba menginterupsi. Ia benar-benar tidak menyangka, Danzel berani mengomentari kehidupan pribadinya seperti itu. Memang, dari awal juga hanya Danzel yang selalu menentang pertunangan Sakha. Namun hanya menentang saja, Sahabatnya itu tidak pernah berani jika harus mencampuri lebih dalam lagi. Sementara itu di hadapan, Danzel tidak mengindahkan, lebih memilih melanjutkan perkataannya. “Gini deh, sekarang kutanya. Kamu mencintai Karina gak? Enggak kan. Apa yang bisa kamu banggain darinya? Gak ada kan. Dia cuma perempuan beruntung yang dapat bertunangan denganmu, Kha. Dan kamu … kamu hanya akan jadi Lelaki lemah yang dengan bodohnya mau menerima perselingkuhan tunangannya dengan asistennya sendiri.” “Cukup Danzel!” “Gak! Itu belum cukup. Sesekali kamu harus egois Kha, bilang sama Oma Laila kalau kamu juga ingin hidup bebas tanpa terbebani dengan pertunangan itu. Bilang juga sama dia kalau Karina tidaklah sibuk dengan pekerjaannya, melainkan dia sibuk bermesraan dengan sekretarisnya sendiri hingga gak punya waktu untuk menemui Omamu sebentar saja. Di samping itu, pikirkan juga Shabina yang kini tengah meng—“ “Apakah—apakah … semua itu benar, Kha?” “Oma?!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN