Ketakutan

1415 Kata
“Oma?!” Sakha yang pertama bersuara, menatap Omanya dengan panik. Berbeda dengan Danzel yang tidak langsung menoleh, karena menyembunyikan senyum keberhasilannya. “Jadi kamu sengaja melakukannya?” desis Sakha hampir menyerupai bisikan. “Eh?” Danzel gelagapan. Beruntung Ia dapat mengendalikan keterkejutan dengan langsung menghampiri Oma Laila dan membantunya hingga berhasil didudukan pada sofa. “Maaf Oma, aku benar-benar gak tahu kalau Oma ada di sini dan mendengar semuanya.” “Cih,” ‘cerdik sekali.’ Sakha setengah jengkel memerhatikan Danzel yang pura-pura merasa bersalah dihadapan Omanya. Lihatlah perlakuan sok perhatian yang dilakukan sahabatnya itu, ditambah sekarang Danzel tengah memberikan segelas air minum pada sang Oma. Setelah meneguk setengahnya, Laila menerahkan kembali gelas pada Danzel. Kemudian tatapannya beralih pada Sakha. “Apakah semua yang diucapkan Danzel tadi benar, Kha? Kalau hubunganmu dan Karin—“ “Enggak Oma, Danzel bohong. Aku sama Karin baik-baik aja.” Seketika Sakha berjongkok dan mengambil tangan Sang Oma dengan tatapan yang begitu meyakinkan. Ia benar-benar tidak ingin melihat Omanya bersedih, dan akan melakukan segala cara untuk membuatnya bahagia. Meski dengan mengorbankan perasaannya sendiri. “Enggak, Oma. Sakha yang bohong. Apa yang kukatakan tadi benar-benar kejujuran semua.” Untuk kesekian kali Sakha mendesis, mendengar penuturan Danzel. Tidakkah sahabatnya itu sadar, bahwa perbuatannya bisa saja membuat Omanya jadi merasa bersalah hingga berdampak pada kesehatan tubuhnya yang baru saja pulih. Memang, operasinya dapat dikatakan berjalan lancar. Tapi tetap saja bukan, bagaimanapun juga usia Omanya tidak dapat dibilang masih muda. “Sini kamu.” Tanpa peringatan, Sakha langsung menyeret Danzel dengan menarik kerah kemejanya dan membawa sahabatnya itu menuju pintu keluar. “Aku benar-benar jujur Oma. Tunangan Sakha bukan perempuan baik-baik, dia sering terang-terangan berselingkuh di hadapan Sakha!” Dan lihatlah … meski diperlakukan kasar oleh Sakha, Danzel masih sempat-sempatnya meneriakan hal yang sama. Begitu tiba di depan pintu, Sakha langsung melemparkan Danzel hingga berakhir tersungkur di teras rumah. “Maksudmu apa hah? Kamu mau bikin kesehatan Omaku drop lagi gitu?” “Kesehatannya akan baik-baik aja, Sakha. Aku yakin itu,” ucap Danzel penuh keyakinan. “Terus punya hak apa kamu memberitahukan keburukan Karin pada Oma?” “Aku emang gak punya hak.” Sahabat Sakha itu bangkit seraya mengusap pelan celananya—seakan menghilangkan kotoran dari sana. “Tapi kalau menunggumu yang bicara, hanya akan buang-buang waktu saja, Kha.” “Buang-buang waktu atau enggak, tetap saja itu bukanlah urusanmu. Danzel! Hubunganku dan Karin tidak ada sangkut pautnya denganmu, jadi buat apa kamu—“ “Shabina dinyatakan hamil,” potong Danzel yang membuat Sakha menganga seketika. “Apa?” gumamnya dengan suara pelan. “Yang lebih mengejutkan dari itu, dia berteman baik dengan Raditia. Lelaki yang menjadi selingkuhan tunanganmu.” Sakha semakin terkejut mendengarnya. Ia bahkan tidak dapat mengucapkan sepatah katapun untuk menanggapinya. Pikirannya nge-blank, perasaannya sendiri sudah tidak menentu. Kabar kehamilan Shabina ini benar-benar diluar perkiraannya. Demi apapun, mereka hanya melakukannya satu kali. Jadi siapa yang akan menduga akan langsung memberi hasil seperti ini. Tidak mungkin juga jika Shabina melakukannya dengan Lelaki lain, mengingat setelahnya perempuan itu langsung bersembunyi dan tidak terlibat dengan Ayah tirinya lagi. Meski Danzel mengatakan Shabina berteman baik dengan Raditia, tetap saja hal itu tidak akan menghilangkan Image perempuan baik-baik dari diri Shabina. Berhubungan dengan Sakha saja merupakan yang pertama kali, jadi bisa dipastikan bahwa Shabina termasuk salah satu perempuan yang pandai menjaga diri dan kesuciannya. “Semua keputusan ada ditanganmu, aku hanya melakukan apa yang sekiranya baik untuk kalian. Jika menurutmu apa yang kulakukan berlebihan, maka aku tidak akan memaksa. Silakan lanjutkan saja pertunangan palsu itu. Dan biarkan Raditia mengambil alih tugasmu sebagai Ayah dari bayi Shabina. Untuk kedepannya aku gak mau ikut campur lagi, dan kamu sendiri….” Danzel menunjuk tepat dihadapan Sakha. “Gak perlu pura-pura lagi ingin melindungi Shabina, toh pada nyatanya kamu sendiri gak bisa berbuat apa-apa kan? Ingat satu hal Kha. Sampai kapanpun kamu hanya akan jadi bonekanya Karina.” “Siapa Shabina?” Tiba-tiba saja Laila sudah berada diantara keduanya. Perempuan itu mendekat dengan menggunakan kursi roda sebagai alat geraknya. Baik Sakha maupun Danzel, tidak ada yang berani bersuara. “Kenapa malah pada diam. Oma tanya, siapa Shabina?” “Sakha yang akan menjawabnya, Oma. Saya tidak memiliki hak apapun untuk bersuara. Lagipula dia sudah meminta saya untuk segera pergi dari sini. Kalau begitu, saya pamit undur diri, selamat malam….” “Enggak Danzel, tunggu sebentar.” Laila yang bersuara tetapi Sakha yang menghentikan Danzel dengan menghalangi langkahnya. “Sorry, aku salah,” ujar Lelaki itu kemudian. Kedua sudut bibir Danzel seketika terangkat. “Gak masalah,” ujarnya dengan mengedikkan bahu. “Aku juga salah, karena terlalu bertele-tele menjelaskan semuanya hingga kamu salah paham.” Sakha tidak menggubris, dan memilih mengutarakan hal lain. “Sekarang bisa tolong anterin aku sama Oma ke rumah Tantenya Shabina itu? Sebelum Shabina diapa-apain lagi oleh Ayah tirinya. Tenang saja, selama diperjalanan nanti aku akan menjelaskan semuanya pada Oma.” “Oke, ayo. Dengan senang hati.” “By The Way, Thanks untuk semuanya Zel.” “No problem, toh aku yakin setelah ini pasti kamu akan melipat gandakan gaji ku ‘kan?” Danzel menggoda dengan menaik turunkan kedua alisnya. Sakha memutar bola mata mendengarnya. “Mata duitan, cih.” “Hahahaha….” *** “Buka pintunya Shabina! Ayah tahu kamu ada di dalam!” Untuk kesekian kalinya Jaya menggedor pintu rumah Meta. “Kamu harus ikut sama Ayah, sebelum Lelaki dari keluarga kaya itu datang untuk nganterin sejumlah uang yang ayah minta. Kalau kamu gak ada, Ayah gak akan bisa dapetin uang sepeserpun darinya.” Sayang, teriakan-teriakan itu tidak ada yang mendapat sahutan dari dalam. “Ayah janji, kali ini tidak akan menyeretmu ke club malam kembali.” Terdengar ada ketulusan dari ucapan Jaya yang terakhir. Tetapi tetap saja, Shabina belum siap untuk menghadapi Ayah tirinya. Beruntung Meta tetap setia disampingnya, menjaganya dengan mengunci semua pintu dan jendela yang ada d rumah ini, hingga Jaya tidak dapat dengan mudah untuk masuk ke dalamnya. “Buka pintunya, Meta! Atau saya akan mendobrak pintu ini dan memecahkan semua kaca jendela. Buka!” Shabina mulai takut mendengar ancaman Jaya yang terakhir. Bagaimanapun juga Ayah tirinya itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. “Buka saja Tan, daripada rumah Tante rusak nantinya.” “Enggak, sayang.” Meta menggeleng tegas. “Lebih baik rumah Tante rusak daripada harus memberikanmu begitu saja pada Jaya,” lanjutnya. Diakhiri dengan menangkup kedua pipi Shabina yang duduk bersandar pada kepala ranjang. Memang, setelah mengetahui kehamilannya ini, rasanya daya tahan tubuh Shabina melemah. Penciumannya semakin sensitif dan tidak ada satu makananpun yang dapat dikonsumsinya. s**u Ibu hamil yang diberikan Dokterpun, tidak dapat bertahan lama di dalam perutnya. Lima detik setelah meminumnya Shabina selalu memuntahkannya kembali. “Halo?” Itu suara Jaya. “Oh, oke—oke.” Sepertinya Lelaki itu tengah menerima panggilan telepon dari seseorang, hingga teriakan dan aksi gedorannya terhenti. Hingga akhirnya, benar-benar hening. “Biar Tante lihat dulu, sebentar….” Meta beranjak untuk mengintip dari balik tirai jendela kamar yang dijadikan tempat persembunyian ini. Sementara Shabina tidak berbicara banyak, takut-takut suaranya terdengar oleh Jaya. “Dia sudah pergi, dengan memasuki sebuah mobil.” gumam Meta yang masih mempertahankan posisinya berdiri menghadap jendela. “Sepertinya dijemput oleh temannya.” “Baguslah,” setidaknya Shabina dapat bernapas lega untuk sementara waktu. “Tapi dua orang dari mereka keluar dari mobil. Dan….” “Dan?” Kening Shabina berkerut samar. Namun Meta tak kunjung memberi jawaban. Karena penasaran, Ia pun turun dari ranjang dengan sangat hati-hati. Lalu berjalan perlahan untuk menirukan apa yang Meta lakukan. “Mereka berjalan menuju rumah ini, Sha.” Meta berbalik dengan kepanikan yang tidak dapat disembunyikan dari wajahnya. “Siapa?” “Kamu lihat sendiri, sini.” Meta membimbing Shabina untuk berdiri di sampingnya, dan menghadapkan wajah Shabina pada apa yang Ia perhatikan sebelumnya. Wajah Shabina tak kalah panik dari Meta, selain itu napasnya pun semakin memburu setelah melihat kedua orang yang Meta maksudkan. Memang benar, ada dua orang yang tengah berjalan menuju rumah ini, tetapi sosoknya benar-benar jauh dari apa yang Shabina duga. Disana ada seorang Laki-laki, mendorong sebuah kursi roda yang diduduki oleh seorang wanita tua. “Bukankah dia….” ‘Laki-laki yang berbicara padaku ketika insiden malam itu? Dia juga Laki-laki yang menawarkan tumpangan padaku. Jangan-jangan—‘ “Kamu mengenal mereka Sha?” Usapan Meta pada punggung, telah berhasil mengentak Shabina dari lamunannya. Perempuan itu menggeleng pelan. “Aku gak kenal, Tan. Tapi ... kemungkinan besar, mereka merupakan keluarga dari Pria yang tidur bersamaku malam itu.” “Apa?!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN