Kunjungan

1481 Kata
Beberapa saat sebelumnya…. Dalam perjalanan menuju rumah Tante Shabina itu, Sakha menjelaskan semua yang terjadi kepada sang Oma. Mulai dari hubungan pertunangannya dengan Karina yang selama tiga tahun tidak pernah berjalan baik, hingga kemudian Sakha depresi dan memutuskan menenangkan pikiran dengan menenggak alkohol di sebuah club. Penjelasan diakhiri dengan Sakha yang tidak sengaja meniduri Shabina yang ternyata merupakan anak dari Perempuan yang mendonorkan jantungnya pada Laila. “Jadi aku benar-benar gak sadar telah melakukan itu, Oma.” “Yasudah, mau bagaimana lagi kan? Toh sudah kejadian.” Terdengar helaan napas panjang dari Laila. “Masih untung kamu melakukannya pada Shabina, kalau menimpa perempuan lain gimana?” Sakha yakin, tidak hanya dirinya yang menganga cengo, tetapi Danzel pun turut terkejut mendengar penuturan Omanya. Terasa dari mobil yang di rem secara tiba-tiba. Bagaimana bisa kebejatan seperti itu masih dapat dikatakan untung? “Mengingat hubunganmu bersama Karin sudah tidak baik, jadi tahu dong apa yang harus kamu lakukan untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu pada Shabina.” “Apa?” Sebenarnya Sakha tahu kemana maksud ucapan sang Oma, namun dia perlu memastikannya supaya tidak salah paham. “Ya nikahin Shabina lah, Kha. Memangnya kamu pikir apa lagi?” Danzel baru berani nimbrung ke dalam obrolan. “Oma tidak keberatan gitu, kalau pertunanganku sama Karina berakhir?” Laila menggeleng pelan. “Kenapa harus keberatan, justru Oma akan sangat merasa bersalah kalau memaksamu terikat dengan perempuan yang seperti itu. Toh, meski pertunangan kalian dibatalkan, Karina masih dapat kita perlakukan sebagai keluarga kita sendiri, bukan?” “Iya sih.” Jujur, Sakha sendiri masih tidak percaya, jika mengakhiri pertunangannya akan semudah ini. Ternyata keyakinan Danzel lebih kuat, bahwa kondisi Omanya tetap akan baik-baik saja dengan segala kebenaran tentang keburukan Karina. “Terus mengenai kehamilan Shabina yang sempat Oma dengar, apa itu benar?” “Benar Oma,” Danzel yang langsung menjawab. Kemudian menjelaskan semua yang diketahuinya dari apa yang diselidikinya terakhir kali. “Tapi sayang, sepertinya Shabina salah mengenali Si Boss. Dia mengira Lelaki itu teman berjudi Ayah tirinya.” “Kok bisa?” “Entahlah Oma. Mungkin pada saat itu Shabina berada dalam pengaruh sebuah obat.” Sementara Sakha hanya pokus mendengarkan. Bagaimanapun juga untuk masalah Shabina ini Danzel lah yang lebih tahu. “Benar-benar parah sih. Masa keduanya sama-sama gak sadar kayak gitu.” Laila mendelik pada Shaka yang duduk disebelahnya. Hingga membuat cucu kesayangannya itu meringis, tidak enak hati. “Iya Oma, emang parah banget. Mana pada saat itu Sakha pura-pura budek lagi, padahal udah puluhan kali kuingetin kalau itu bukan Karina. Eh dia tetap maksa aja. Kan g****k ya.” Laila terkekeh sementara Sakha berdecak. Bagaimana bisa Omanya itu tertawa mendengar cucunya sendiri di bilang g****k didepannya langsung. “Nah, tuh. Kebetulan banget, Ayah tiri Shabina ada di sini juga. Pasti dia sedang mencoba membawa Shabina untuk keluar dari rumah itu tuh,” tepat setelah menyelesaikan ucapannya, Danzel menepikan mobil di bawah sebuah pohon. Sengaja mengambil posisi yang cukup jauh dari rumah yang dimaksud, supaya kemunculan ketiganya tidak terlalu menarik perhatian para tetangga. Cukup Jaya saja yang berbuat onar, mereka tidak perlu. “Tunggu dulu,” perintah Sakha yang melihat Danzel bersiap membuka pintu mobil. “Ada apa?” Danzel menoleh dengan menautkan kedua alis. “Kamu ke sana duluan sama Oma, aku akan menyelesaikan urusan dengan Ayah Shabina dulu.” “Oke,” Tanpa banyak bertanya, Danzel langsung mengangguki. Sakha langsung mengotak-atik ponsel untuk menghubungi Nomor jaya. Beruntung, Lelaki itu langsung mengangkatnya dalam deringan pertama. “Halo…,” terdengar suara dari seberang panggilan. “Berhenti mengganggu Shabina. Saat ini saya sedang memerhatikan anda. Sesuai permintaan, saya datang untuk memberikan uang yang anda minta,” jelas Sakha tanpa basa-basi. “Oh.” Jaya terlihat celingukan, kemudian mengangguk kecil ketika menemukan keberadaan mobil Sakha. “Tapi saya gak bisa memberikannya disini. Kita bisa bicara di rumah anda saja?” “Oke—oke.” Terlihatlah Jaya yang langsung berjalan dengan langkah lebar ke arahnya. Sakha mematikan panggilan seraya berbicara pada Danzel. “Bantu turunin kursi roda Omaku, Zel.” “Oke.” *** “Permisi….” Dapat dipastikan, itu suara dari Perempuan yang Shabina lihat tadi. Perempuan tua yang duduk di kursi roda. Perempuan tua yang diyakini seorang Istri dari Pria tua yang meniduri Shabina pada malam terkutuk itu. “Shabina? Kamu ada di dalam ‘kan Nak?” panggilannya kali ini diikuti ketukan pelan pada pintu. Tidak salah lagi, Jaya lah yang meminta keduanya untuk datang ke sini. Iya ‘kan? Kalau bukan dari Jaya, memang dari siapa lagi Perempuan itu mengetahui nama Shabina. “Kamu tunggu aja di sini, biar Tante yang menemui mereka.” Meta seakan menyadari ketakutan yang masih dirasakan oleh Shabina. Setelah kepergian Meta, pemikiran-pemikiran buruk langsung hinggap dikepala Shabina. Untuk apa mereka datang ke sini? Apakah untuk membawanya kembali ke dunia malam? Tetapi tidak mungkin. Masa iya Perempuan tua seperti itu masih terlibat dengah hal-hal yang berbau dunia malam? Atau … perempuan itu datang untuk menjambak rambutnya? Karena secara tidak langsung Shabina sudah menjadi orang ketiga dalam pernikahan mereka. Sementara Laki-laki yang mendorong kursi roda, pasti bodyguard kepercayaan dalam keluarga mereka. Itulah sebab, kenapa hanya dirinya yang didapati berada di pintu kamar pada malam itu. Lagipula jika diingat kembali, perlakuan Laki-laki yang mendorong kursi roda itu tidak begitu buruk. Terbilang baik, malah. Pada malam itu dia membuntuti Shabina, dan benar-benar mengawasi Shabina dari kejauhan. Hingga Shabina pun berhasil sampai rumah dengan selamat. Begitu memastikan Laki-laki itu sudah pergi dari sekitaran rumahnya, barulah Shabina bergegas menuju kediaman Tante Meta. “Perkenalkan, saya Laila. Perempuan yang kebetulan mendapat donor jantung dari mendiang Ibunya Shabina.” ‘Apa?!’ Seketika Shabina menutup mulut, untuk menyembunyikan keterkejutannya. Bisa-bisanya pikirannya sempat berpikiran buruk mengenai Perempuan tua itu. “Oh, iya—iya. Kalau begitu silakan masuk,” yang ini suara Meta. “biar saya panggilkan Shabinanya sebentar.” “Gak perlu Tante, aku udah disini.” Kemudian tatapan Shabina beralih pada wanita tua yang juga tengah memerhatikannya. “Maaf, tadi saya sempat mencuri dengar pembicaraan kalian dari dalam kamar. Benarkah … anda yang menerima donor jantung dari Ibu saya?” “Iya.” Seketika mata Shabina memanas, memikirkan dalam tubuh perempuan tua itu terdapat salah satu organ terpenting milik Ibunya. Ingin sekali Ia memeluknya, sekedar mengungkapkan kerinduannya. Apakah jantung Ibunya merasakan kesedihannya dan penderitaannya? Ataukah biasa saja, mengingat pemilik raganya sudah berbeda. “Silakan duduk, Mas.” Suara Meta berhasil membuat Shabina mengerjap. Setelah Laki-laki yang belum memperkenalkan diri itu duduk, barulah Meta undur diri untuk mengambil air minum. “Bolehkah Oma memelukmu?” suara wanita itu lemah sedang kedua tangannya yang sudah direntangkan. Tanpa pikir panjang Shabina langsung berhambur memeluknya dan benar-benar menumpahkan tangisnya disana. Entahlah, Shabina hanya merasa bahwa Ibunya lah yang ingin memeluknya. Cukup lama pemandangan mengharukan itu terjadi, bahkan tangan keriput itu masih sempat mengusap punggung Shabina seakan memberikan penenang. Hingga kemudian Shabina yang pertama melepas pelukan dengan berujar. “Maaf, sepertinya saya terbawa suasana.” “Gapapa, sayang.” Setelahnya Shabina mendorong kursi roda supaya posisi duduk perempuan tua itu menghadap pada meja. Kebetulan Meta sudah kembali dan kini tengah menata beberapa gelas air minum diikuti dua stoples berisi kue kering ke atas meja. “Silakan dicicipi, maaf ya cuma seadanya.” “Ah gak perlu repot-repot. Justru saya yang harusnya minta maaf karena sudah bertamu malam-malam dan mengganggu waktu istirahat kalian.” Perempuan itu mendongak, yang lagi-lagi memamerkan senyum tulusnya pada Shabina. “Ah, gak apa-apa kok—“ “Kamu bisa panggil saya, Oma Laila. Oma saja juga boleh.” “O—oh, I—ya Oma” Shabina mengangguk kikuk sebelum kemudian mendudukkan diri di sebelah Meta dan berseberangan dengan Laila. “Maksud kedatangan kami ke sini, ingin menyampaikan ucapan terima kasih sebanyak-banyaknya kepadamu, terutama pada mendiang Ibumu. Berkat bantuannya, kini hidup saya bisa bertahan sedikit lebih lama.” “Sama-sama. Saya juga bahagia mengetahui operasinya berjalan baik. Tapi kalian gak seharusnya datang di saat sudah malam seperti ini. Bukan apa-apa, takutnya angin malam tidak terlalu baik untuk kesehatan Oma. Lagipula saat itu Pak Aldilo sempat datang, mewakili Oma untuk mengucap terima kasih juga.” Tidak hanya itu, Aldilo bahkan memberikan sejumlah uang. Sayang, Shabina menolaknya secara halus dengan alasan hal itu terlalu berlebihan. Penolakan itulah yang membuat Jaya marah hingga memaksa Shabina melunasi hutang-hutang dengan menggunakan tubuhnya. Setiap mengingatnya, Shabina selalu diselimuti penyesalan. Andai Ia menerima sejumlah uang dari Pak Aldilo, mungkin saat ini dirinya masih dapat menjaga kesuciannya. Dan jabang bayi yang tidak berdosa, tidak akan pernah hadir dalam rahimnya. “Memang benar. Tetapi saya tidak akan bisa tenang, kalau belum bisa bertemu langsung denganmu,” suara Laila berhasil menyadarkan Shabina dari lamunan sesaatnya. “Oma?” Sebuah suara menghentikan Shabina yang akan menimpali perkataan Laila. Otomatis dirinya menoleh ke asal suara. Didapatinya seorang Laki-laki yang berdiri di ambang pintu yang memang dibiarkan terbuka. Penampilannya begitu formal, dengan setelan jas hitam yang melekat sangat pas di tubuh atletisnya. “Dia Sakha. Cucu kesayangan saya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN