“Dia Sakha, cucu kesayangan saya,” Laila menjelasankan seakan membaca isi pikiran Shabina.
Tapi tunggu …
Oma Laila bilang apa tadi? Sakha? Nama cucunya Sakha? Bukankah … nama itu juga yang sempat ku dengar di club malam? Tidak—tidak, tidak mungkin dia Lelaki yang sama, sedang wajah mereka saja sangat jauh berbeda.
“Kenapa Shabina? Apa kamu sempat bertemu dengan Sakha sebelumnya?”
“Eh?” Shabina gelagapan, kemudian menatap Sakha dengan intens. “Sepertinya tidak pernah,” jawabnya sedikit ragu.
Namun tatapan dari Laki-laki yang belum Shabina kenal, membuatnya sedikit meringis. Disana terdapat tatapan penuh rasa kasihan. Apa-apaan?
“Silakan Masuk, Mas.”
Meta yang mempersilakan hingga Pria bernama Sakha itu menurut. Masuk dengan langkah elegannya, dan duduk diantara Shabina dan Lelaki yang sampai saat ini masih diam saja. Menariknya lagi, aroma yang tercium seiring dengan kedatangannya, berhasil menenangkan indera penciuman Shabina.
‘Dimanakah aku sempat mencium aroma ini?’ batin Shabina bertanya-tanya.
Entah berapa lama Shabina melamun, tahu-tahu Meta menyenggolnya dengan menunjuk tangan Sakha yang sudah terulur dihadapnya. Sedetik kemudian Shabina langsung menyambut uluran tersebut dan turut memperkenalkan diri.
“Sakha.”
“Shabina,” ujar keduanya kompak.
Kunjungan pada malam itu berlangsung cukup lama. Meski pada awalnya penuh kecanggungan, namun lama-kelamaan obrolan mereka jadi lebih menyenangkan dan mengalir apa adanya. Ditambah dengan candaan yang dilontarkan Danzel, membuat suasana semakin hangat.
Ya. Ternyata nama Lelaki yang ditugaskan mendorong kursi roda itu Danzel, dan dia tidak sependiam yang Shabina pikirkan pertama kali. Diantara ketiganya—Sakha, Danzel dan Laila, jutru Danzel yang lebih banyak bersuara.
Kalau Sakha, tidak perlu ditanya lagi. Paling dia hanya akan menjawab, ja-tidak-bisa jadi-oke. Lalu sisanya menggeplak kepala Danzel, ketika Lelaki itu menggodanya.
Ketika malam sudah mulai larut, Laila pun pamit undur diri mewakili yang lain. Kemudian berpesan jika di hari-hari berikutnya akan berkunjung kembali ke rumah ini. Kalau perlu, Laila ingin berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir mendiang Ibu Shabina juga.
Maka dengan senang hati Shabina meng-iyakannya.
***
Sakha sedikit kecewa, karena ternyata sampai mereka pamit pulang pun Omanya tidak juga membahas tentang insiden satu malamnya bersama Shabina. Padahal sedari tadi, lebih tepatnya sedari Sakha berada di dekat Shabina, Ia sudah sangat tidak tahan untuk membeberkan semuanya.
Namun tatapan Omanya selalu saja penuh antisipasi, seakan berkata jika pembahasan tersebut cukup serius untuk dibicarakan pada awal pertemuan mereka.
“Udah, sabar aja. Yang penting sekarang kita tahu, bahwa Perempuan itu baik-baik saja.”
Sakha menoleh pada tangan Laila yang mengusap pundaknya.
‘Apakah isi pikirannya terlihat begitu jelas? Hingga Oma dapat membacanya dengan mudah?’ tanpa sadar Sakha menghela napas panjang.
“Nanti kita menjelaskannya bagaimana? Aku bingung, Oma. Bagaimana kalau kebenaran itu malah membuat Shabina membenci keluarga kita?” pada akhirnya Sakha menyuarakan kebingungannya.
Jika Ia tahu memulainya dari mana, mungkin sejak tadi sudah Sakha beberkan semuanya. Ia tidak akan peduli dengan larangan Sang Oma, karena tujuannya memberitahukan Shabina secepatnya agar Perempuan itu tidak tersiksa semakin lama.
“Kenapa harus benci?” Laila bertanya.
Sakha mengedikkan bahu. “Siapa tahu kan?”
“Gak bakalan lah, Boss. Kalau dia benci pun itu hal yang wajar, secara keluarga yang ditolong Ibunya malah menghancurkan masa depannya, gimana gak kecewa coba? Tapi percaya deh, kebencian itu gak akan berlangsung lama, apalagi kalau kamu berniat mempertanggung jawabkan kesalahan dengan menikahinya. Iya kan Oma?” tepat setelah berkata demikian, Danzel menghentikan mobil di depan kediaman Laila.
“Iya. Danzel benar tuh.”
“Itu gak bakal kecepetan apa?” Lagipula Sakha baru mengenal Shabina, masa iya harus langsung menikahinya.
“Yaudah, gak usah langsung nikah—gak usah. Tunggu aja sampai anakmu berojol tanpa Bapak. Bener-bener gak ngerti aku, sama jalan pikirmu.” Danzel mematikan mesin mobil, dan langsung keluar untuk mengambil kursi roda di bagasi.
Lagi-lagi Laila menenangkan Sakha, kali ini dengan mengusap punggung tangannya. “Menikahlah dengan Shabina, setidaknya sampai bayi yang dikandungnya lahir. Setelah itu bebas, kamu bisa melanjutkan hidup semaumu. Lagipula Oma gak bisa banyak menuntutmu, mengingat selama ini sudah banyak menyusahkanmu dengan memaksamu terikat dengan Karina dalam pertunangan.”
“Udah, Oma gak perlu lagi bahas-bahas tentang itu. Aku benar-benar gak apa-apa, seriusan deh. Kalau untuk masalah Shabina, bukan takut kedepannya seperti apa. Aku cuma bingung, memulainya nanti dengan cara yang bagaimana.”
“Beli cincin, terus lamar dia. Gampang kan?” Danzel yang baru membuka pintu penumpang langsung nimbrung. “Kha—Kha. Masalah kecil kayak gitu saja, kamu gak bisa nyari solusi. Kasian banget,” lanjut Danzel dengan menggeleng dramatis.
Pikiran Sakha langsung terbuka, seakan telah menemukan sebuah jalan keluar. “Besok kita ke rumahnya Tante Shabina lagi ‘kan, Oma?”
“Iya.”
“Sekalian mengunjungi makam Ibunya juga kan?” Sakha mengatakan tersebut dengan tangan yang sibuk mengeluarkan tubuh Sang Oma dan mendudukkannya pada kursi roda yang telah Danzel persiapkan.
“Iya, kalau gak ujan.”
“Jangan bilang kamu mau lamar Shabina di kuburan, Kha?” Danzel menyela.
“Emang,” dan Sakha menjawab dengan entengnya.
“Annjiir! Yang bener aja.” Danzel geleng-geleng kepala.
“Ngelamar di café-café sama di hotel udah gak zaman kali, Zel. Mending dikuburan, kan. Biar anti mainstream,” Sakha tidak dapat menahan senyum gelinya. Apalagi perkataannya benar-benar berhasil membuat Danzel bergidik ngeri. Cih, ternyata sahabatnya selemah itu.
“Bagus juga sih idemu. Oma setuju.” Laila mendongak pada Sakha yang sudah mendorong kursi rodanya menuju pintu utama.
“Tuh kan, Omaku aja setuju. Dia tahu, melamar di depan orangtua calon pasangan kita itu, akan lebih sakral.”
“Iyaaaa—iyaaaa. Sakralnya dapet, horornya juga dapet. Hiiii, aku sih gak mau ikut-ikut.”
“Dih, kepedean. Emang yang mau ngajakin kamu siapa?” Sakha mencibir.
“Oma-mu,” jawab Danzel dengan polosnya.
“Tapi kalau kamu gak mau, Oma gak akan maksa, Zel,” Perempuan tua itu bersuara.
“Enggak kok Oma, aku pasti ikut. Tadi cuma becanda aja, buat nakut-nakutin si Boss. Ngomong-ngomong, aku boleh ngasih saran tambahan?”
Tidak ada sahutan. Sakha hanya mengangkat sebelah alis, seakan berkata. ‘Apa? Ngomong aja?’
Danzel berdehem sebelum membuka suaranya. “Sebelum melamar Shabina, lebih baik kamu temui Karina dulu buat akhiri pertunangan kalian secara langsung dihadapannya.” Biar Shabina gak ngerasa di bohongi juga nantinya.”
“Memang, tadinya rencanaku juga gitu kok. Setelah Oma istirahat nanti, aku udah ada niatan untuk pergi ke tempat Karin. Baru deh, pulangnya nanti nyari cincin.”
“Baguslah … kalau gitu aku pamit pulang dulu, toh kalian juga udah sampai kan? Selemat Istirahat ya, Oma.”
Laila mengangguki. “Terima kasih ya, Danzel.”
“Sama-sama. Kalau gitu aku pergi du—“
“Eh, tunggu dulu….” Sakha menghentikan dengan menarik kerah kemeja Danzel.
“Apa lagi sih, Kha?”
“Kira-kira … cincin buat Shabina, ukurannya berapa ya?”
Tidak hanya Danzel, namun Laila pun turut menganga cengo mendengarnya.
“Kok nanya aku? Kan yang sempat megang tangannya, kamu. Orang yang calon suaminya juga kamu. Kok jadi aku yang harus tahu ukuran jarinya?”
Oke. Sepertinya Sakha telah melakukan kesalahan, dengan mempertanyakan perihal cincin pada Danzel. Harusnya Ia diam saja, dan langsung membiarkan sahabatnya itu untuk pergi—tanpa embel-embel tunggu dulu.
“Yaudah iya. Kalau gak tahu, jawab aja gak tahu. Gak perlu pake acara ceramah segala.”
“Maafkan hamba paduka raja.” Danzel membungkuk, seakan memohon ampun. “Kalau gitu hamba undur diri. Selamat malam.”
“Ya,” Sakha menjawab singkat.
“Selamat malam juga, Danzel. Terima kasih telah mengantar kami dan hati-hati dijalan, semoga sampai rumah dengan selamat.” Berbeda dengan Laila yang memberikan pesan-pesan seperti orangtua pada umumnya.
Setidaknya ungkapan terima kasih Sakha telah diwakili oleh Omanya ini.
***