Pengakuan

1231 Kata
“Sakha? Ada apa? Bukannya sudah kubilang kalau aku belum bisa melihat keadaan Oma.” Perempuan itu Sengaja berdiri di depan pintu, seakan menghalangi pandangan Sakha supaya tidak dapat melihat isi apartemennya. “Kita akhiri saja pertunangan ini,” Sakha langsung menjelaskan maksud kedatangannya. “Kenapa?” tanyanya tanpa menyembunyikan keterkejutan. “Bukankah kamu sudah berjanji pada mendiang Ayah akan menjagaku selamanya,” berbicara dengan nada sewot. “Gak perlu bereaksi seakan-akan kita ini pasangan yang baik-baik saja, Karina.” Sakha menghela napas lelah. “Aku tahu, sebenarnya kamu tidak menginginkan pertunangan itu juga kan, dan sering mencari kesenangan dari Pria lain.” Perempuan itu gelagapan. “Aku—aku … aku melakukannya karena kesalahanmu sendiri.” “Aku gak pernah melakukan kesalahan apa-apa dalam pertunangan kita,” Sakha benar-benar geram dengan pembelaan Karina. Perempuan itu tersenyum kecut. “Gak melakukan kesalahan apa-apa katamu?” “Memang iya.” Selama tiga tahun bertunangan, Sakha merasa tidak pernah melakukan sesuatu yang bersifat mengkhianati Karina. “Kamu gak bisa bersikap layaknya pasangan pada umumnya. Itu kesalahanmu. Di awal-awal pertunangan kita pun, aku sering bersikap manja padamu. Dengan harapan kamu luluh, dan mau berbaik hati dengan sedikit memperhatikanku. Tapi apa? Kamu tetap keras kepala dengan pendirianmu dan mengatakan aku harus bisa menerima karaktermu yang cuek seperti itu.” Sakha mengalihkan tatapan ke arah lain. Penjelasan Karina memang benar adanya, namun dirinya tidak menyangka jika sikap dingin yang dimiliki memengaruhi hubungannya. Sakha hanya berharap, pasangannya nanti bisa menerima sikap pendiamnya. Jangan menganggap Sakha tidak berusaha berubah. Sudah sering Ia mencobanya, namun tetap saja. Karakter cueknya seakan telah mendarah daging, dan Sakha merasa jadi manusia munafik jika berpura-pura menunjukan rasa peduli. “Secuek apapun aku, kalau pada dasarnya kamu bisa setia, kamu gak akan pernah berpikir untuk mengkhianati pertunangan kita,” ujar Sakha dingin. Dia tidak terima disalahkan begitu saja. Karena jelas, kesalahan ada pada diri masing-masing. “Yaudah—yaudah, oke. Kita akhiri sampai disini saja pertunangan itu. Lagipula, siapa juga yang betah berlama-lama bersanding dengan Lelaki sepertimu. Ingat Sakha, tidak semua perempuan bisa dibeli dengan uang. Mereka juga memerlukan perhatian dan kasih sayang.” Sejurus kemudian, Karina melemparkan cincin pertunangan mereka, dan menutup pintu dengan setengah membantingnya. Sakha membisu, berpikir untuk beberapa detik. Kemudian memungut cincin yang Karina lemparkan tadi dari lantai. “Siapapun yang menjadi pasanganmu nanti, semoga dia bisa menjadi seperti apa yang kamu harapkan, Rin,” ucap Sakha penuh ketulusan. Kemudian berbalik, untuk meninggalkan apartemen Karina. Stelahnya Lelaki itu pun melanjutkan tujuannya. Menyinggahi toko perhiasan dan membeli cincin untuk melamar Shabina nanti. Karena tidak tahu ukuran pastinya, mungkin Sakha harus membeli beberapa, supaya nanti Shabina bisa memilih mana yang paling pas pada jemarinya. Pilihan Sakha jatuh pada cincin-cincin sederhana yang tidak terlalu memiliki banyak ukiran. Masing-masing cincin memiliki berlian, dengan ukuran yang berbeda-beda. Ada yang kecil, sedang, sampai yang paling menonjol. Semuanya nampak elegan. Sakha tersenyum puas dengan pilihan-pilihannya. Mungkin baru dirinya yang memilih beberapa jenis cincin untuk lamaran. Dan sepertinya hanya dirinya juga, yang membeli cincin tanpa pasangan. Tidak apa, toh semua dilakukan demi menebus kesalahannya juga kan? Ya, semoga saja nanti Shabina memberi apresiasi yang seimbang atas perjuangannya. *** Pagi hari merupakan waktu paling berat bagi Shabina. Karena Ia harus bolak-balik mengeluarkan isi perutnya. Tidak jauh berbeda seperti saat ini, yang tengah berjongkok di dalam kamar mandi dengan napas lelahnya. Shabina sudah kehabisan tenaga, dan Ia sudah tidak kuat menahan rasa mual yang terus saja bergolak dalam perutnya. Entah apa lagi yang akan keluar dari sana, karena Shabina yakin cairannya sudah terkuras habis. Biasanya Meta akan langsung sigap membuatkan teh jahe hangat, karena hanya itu satu-satunya minuman yang dapat diterima baik oleh perut Shabina. Tetapi tadi katanya Tantenya itu kehabisan stok, dan saat ini tengah mencarinya entah kemana. Ketukan pada pintu depan terdengar. Dengan tertatih, Shabina mencoba bangkit. “Tinggal masuk saja, Tan. Pintunya gak ku kunci,” ujarnya lemah. Meski begitu, kakinya tetap melangkah menuju pintu depan. “Kalian…,” Betapa terkejutnya Shabina, begitu mengetahui bahwa yang datang bukanlah Meta. Melainkan Sakha dan Laila. Seperti biasanya, perempuan tua itu datang dengan menggunakan kursi roda. Dengan segera Shabina menggeser posisi berdiri untuk mempersilakan keduanya masuk. “Ini, kami bawakan sedikit makanan untuk sarapan kalian. Ambillah.” Laila mengulurkan bingkisan yang diambil dari pegangan Sakha. Sebelum sempat menerimanya, perut Shabina sudah bergejolak kembali. Perempuan itu menutup mulut dan menggumamkan kata maaf dengan tidak jelas. Sedetik kemudian, berbalik dan memaksakan diri berlari kecil supaya dapat tiba di kamar mandi lebih cepat. Benar saja, Shabina mengeluarkan isi perutnya kembali yang lagi-lagi hanya berupa cairan. Seseorang menyusulnya, berdiri di belakangnya dan mengusap kedua bahunya. Kemudian merapikan anak rambut yang menghalangi wajah Shabina. Tanpa menoleh pun Shabina sudah mengenalinya, karena kehadiran Laki-laki itu selalu membawa aroma yang khas. Aroma yang selalu berhasil menenangkan pikiran Shabina. “Apakah sakit?” tanyanya dengan suara dingin namun terdengar lembut. Shabina menggeleng pelan, kemudian membasuh mulut dan mengeringkannya menggunakan handuk kecil yang memang selalu tersedia di sana. Setelah penampilannya lebih baik, barulah berbalik menghadap Lelaki yang telah sedikit membantunya. “Te—terimakasih,” ujarnya gugup. Sakha tidak bersuara kembali, dan terus menatap intens tanpa berkedip sekalipun. Shabina semakin salah tingkah dibuatnya. Apakah Lelaki itu tidak ada niatan untuk keluar? Tidak sadarkah Ia, bahwa tubuhnya telah menutupi pintu kamar mandi. Pintu belakang yang terdapat di dapur, terdengar dibuka oleh seseorang. Itu pasti Meta. Sayang, Shabina tidak dapat mengatakan apapun, karena kehadiran Sakha benar-benar membatasi kesempatan bicaranya. “Gak ada Sha, para tetangga kita juga lagi gak punya jahe katanya. Terus warung di depan masih tutup, pemiliknya lagi belanja ke pasar.” Shabina meringis mendengar teriakan Tantenya. Sedetik kemudian Ia menunduk, mengucap permisi karena ingin keluar sebentar. Shabina harus menghentikan Meta, sebelum berbicara yang tidak seharusnya Sakha dengar. Sayangnya tidak berhasil, karena baru juga Shabina keluar kamar mandi, Meta sudah melanjutkan ucapan. “Minum s**u Ibu hamilnya saja ya, biar Tante bikinin. Seben—astaga.” Perempuan itu panik, menemukan Sakha yang muncul dari dalam kamar mandi juga. “Kalian? Eh maksud saya, Mas Sakha. Sejak kapan di sini?” Sakha sudah membuka mulut untuk menimpali, namun suara Omanya menghentikan. “Shabina hamil?” perempuan tua itu mendekat dengan menggerakan sendiri kursi rodanya. “Oma pikir dia belum menikah.” Tidak ada yang menjawab. Meta dan Shabina sudah sibuk saling melempar pandang, bingung. Sementara Sakha mengangkat sebelah alis, menatap tidak mengerti pada Omanya. Bukankah Ia sudah mengetahui kondisi Shabina yang sebenarnya, lalu kenapa harus pura-pura terkejut seperti itu? Laila yang menyadarinya, langsung memberi kode lewat kedipan mata. Seketika itu juga Sakha langsung mengerti, dan siap mengikuti apapun rencana Omanya. “Memang belum,” cicit Shabina dengan kepala menunduk. “Ini sudah resiko saya, yang gak bisa menjaga diri.” Bibirnya menyunggingkan senyum masam. “Enggak, sayang. Jangan bicara seperti itu.” Meta mendekat, menenangkan Shabina lewat usapan lembutnya. Kemudian menatap Sakha dan Laila secara bergantian. “Kehamilannya terjadi karena kesalahan Ayah tirinya yang menjual tubuhnya pada Pria tak dikenal. Disini Shabina tidak tahu apa-apa, dia hanya jadi korban tanpa tahu harus meminta pertanggung jawaban dari siapa. Terserah kalau Mas Sakha sama Oma gak memercayai kata-kata saya, tetapi memang begitulah kenyataannya.” “Kami percaya, kok. Iya kan Kha?” Laila menyenggol lengan Sakha pelan. Lelaki itu mengangguk. “Iya. Kami percaya. Bahkan…,” Sakha menjeda ucapan. Setelah meyakinkan diri sendiri, barulah Ia melanjutkan. “Bahkan kalau Shabina membutuhkan sosok Ayah untuk bayinya, saya siap membantu dengan menikahinya.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN