MARCHEL SENANG

2872 Kata
"Marchel.." lirih arka lalu berlari kecil kearah sang putra yang saat ini sedang mengucek kedua matanya dan jangan lupakan rambutnya yang nampak kusut. Hatinya kembali bergetar melihat sosok kecil yang teramat dirindukannya. Bohong jika ia tak merindukan malaikat kecilnya ini. Malamnya terasa sulit ia lewati tanpa jumpa. "Daddy..??" Beo marchel dengan raut wajah bingung. Ia tak salah lihatkan ? Pikirnya. Ia berfikir jika yang dilihatnya saat ini hanyalah ilusinya. "Dimana mommy ? " tanya arka yang saat ini berjongkok dihadapan putranya lalu memegang kedua pundak putranya meminta penjelasan. Rasa rindu dikesampingkannya. Khawatir terjadi sesuatu pada dua kesayangannya ini. "Mommy ? umm Hiks.. mommy" tersadar marchel tiba-tiba terisak saat teringat sosok mommynya yang meninggalkannya. "Ada apa sayang..??! Ada apa dengan mom ? " tanya arka khawatir. Pikirannya sudah kemana-mana. Apakah aliza baik-baik saja ? Ia tak akan memaafkan dirinya jika aliza mengalami kejadian buruk. Tidak, tidak saat wanita berada dalam jangkaunnya sekarang. "Aku tidak tau , caat bangun aku cudah tidak ada hiks.. mom ninggalin aku ? Daddy.. aku mau mom hiks.." rengeknya lalu memeluk leher sang daddy yang kini nampak mengerutkan keningnya bingung. Sangat tak mungkin aliza meninggalkan putranya. Ia berfikir jika aliza pasti memiliki keperluan yang mendesak hingga meninggalkan putra kesayangannya. Ya, saat ini ia tidak ingin berfikir buruk. Lagi aliza adalah ibu yang bertanggung jawab. "Mom sebentar lagi akan kembali.. mom tidak meninggalkan marchel, bukankah marchel anak kesayangan mom ?" Tanyanya lalu seraya menepuk sayang punggung putranya yang kini mengangguk sambil menggosok hidung mancungnya yang sedang mengeluarkan cairan kental karena terlalu lama menangis. "Daddy.." panggilnya dengan suara serak lucu "Ada apa hum..??" Arka menghentikan usapannya untuk sementara mendengar cicit putranya. "Gendong" rengeknya manja yang membuat arka tak mampu menahan senyumnya. Sikecil semakin mengeratkan rengkuhannya dileher sang daddy. Melampiaskan kerinduan yang dibendungnya selama ini. "Apapun untukmu jagoan" ucap arka yang dengan sigap menggendong putranya mantap. Ia mengdekap erat putranya, menghirup aroma putranya yang meninggalkan harum minyak telon baby dan bedak bercampur keringat. Ia bahkan nyaris memukul kepalanya sendiri saat berfikir jika wangi wanitanya juga selintas dihirupnya pada tubuh anaknya . 'Aku terlalu merindukannya' batinnya yang kini tersenyum "Daddy !" Panggil si kecil yang menyita atensinya. "Apa ?" Arka menatap putranya yang kini balik menatapnya dengan bibir mengerucut lucu. Semanis inikah ia sewaktu kecil dulu ? batinnya bertanya-tanya Bukannya narsis, ia meringis apa seperti ini yang dirasakan bagas saat ia kecil dulu ? Tanyanya dalam hati. Teringat betapa seringnya sang kakak mengusilinya baik itu dengan menarik atau mencium pipinya. Tak salah, pikirnya. Lihatlah, ia sendiri tak sanggup menahan diri untuk mengecup pipi gempul putranya yang tak lain adalah copyannya saat kecil. "Daddy lindu aku cidak ?" Tanya sikecil yang kini menatapnya dengan mata bulat menggemaskannya. Arka menghentikan langkahnya lalu menatap dalam putra dalam gendongannya itu. "Aku hampir mati karena merindukan kalian, apa perlu daddy jujur ?" Tanya arka yang kini tersenyum kecil. Pengakuannya itu membuat sikecil terlonjak lalu membingkai wajah arka dengan kedua tangan kecilnya. Cup Sikecil memgecup pipi kanan papanya yang kini balas mengecup wajah putranya bertubi-tubi. Entah itu mata, kening pipi dan juga bibirnya. "Geli daddy!" Jerit marchel sambil terkikik ia menutup wajahnya dengan kedua tangan mungilnya. Arka mendengus senang lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangannya. "Benal lindu ?" Tanya si kecil lagi yang membuat arka tak tahan untuk mengigit gemas pipi putranya. "Daddy dlakula ya ? Ihh papa combi !" Teriaknya syok. "Daddy bukan drakula marchel .. " ujar arka yang ditatap tak percaya oleh sang putra gembul digendongannya. "Teluc kenapa gigit pipi aku?" Tanyanya dengan mata menyipit lucu. "Karena daddy gemas" arka lalu membuka pintu ruangannya. "Daddy!" Teriaknya yang nyaris membuat arka terjungkal karena saking kagetnya. Bayangkan, sikecil tiba-tiba berteriak ditelinganya yang membuat telingnya berdengung hebat. "Ada ap-!" Arka menghentikannya saat merasakan air hangat yang membasahi d**a dan perutnya. Mata birunya menatap marchel yang kini membekap mulutnya dengan kedua tangannya. "Ups.." ucap marchel. lihatlah, putranya ini benar-benar. Aish arka tak bisa melanjutkan ucapannya. "Kenapa tak bilang jika ingin buang air kecil hum ?" Tanya arka dengan nada lembut. Ia bisa merasakan dengan begitu jelas bagaimana basahnya bajunya saat ini. Basah ? Ya basah. Lalu dari mana air itu berasal ? Air itu adalah air seni putranya . Apa putranya berfikir jika daddynya adalah kloset, tempat pembuangan air seni atau semacamnya ? Jika bukan putranya, sudah ia pastikan jika ia sudah melempar siapapun yang melakukan ini ke kutub utara. Untung sayang. "Cudah cidak tahan papa" akunya dengan wajah menahan tangis yang membuat arka gelagapan. Sungguh demi apapun ia tak berniat marah. Bahkan jika putranya itu buang air besar digendongnnya tak masalah. "Tak apa, daddy tidak akan marah.. Bagaimana jika kita mencari mom lalu berganti baju hum ?" Tawar arka yang kini meletakkan kantongan belanjaannya dia meja kerja miliknya lalu memperbaiki posisi marchel dalam gendongannya agar lebih nyaman. "Hum.." arka mengangguk dengan wajah bersalah. . . . Arka baru saja keluar dari ruangannya dan melihat aliza berada tak jauh darinya. Wanitanya nampak begitu kacau, rambut panjangnya acak-acakan, peluh terlihat dikeningnya, wajah pucat dan nafas yang teratur. Arka mengenyahkan pikirannya saat berfikir jika saat ini wanita tercintanya itu terlihat sangat Sexy. 'Kau sudah gila arka' pikirnya sendiri "Marchel!!!" Pekik aliza yang kini berlari kearah arka berniat merentangkan kedua tangannya menanti pelukan sang tercinta jika tak mengingat kehadiran putra nakalnya ini sedang berada digendongannya. "A-arka ?" Lirih aliza saat melihat arka namun ia segera mengenyahkan apa yang hendak dikatakannya saat melihat wajah putranya yang kini menatapnya takut-takut. "Marchel ! Kemana saja ? Apa marchel tak tahu betapa paniknya mommy saat berfikir marchel hilang ?!" Ucap aliza dengan suara yang sedikit meninggi. Ia bersyukur jika arkalah yang menemukan putranya. Bagaimana jika sampai sekarang ia tak menemukan marchel mengingat betapa besarnya perusahaan milik keluarga arka. "Maap..hiks.. jangan malah mom" lirih si kecil ketakutan. Ia kembali memeluk leher arka, mencari tempat persembunyian yang aman dari amukan sang mommy. Setidaknya itulah yang dipikirkan otak si kecil. "Sudah.. jangan memarahinya aliza" ucap arka lalu mengelus punggung putranya yang kini tak berniat sama sekali melepas pelukannya pada lehernya. "Aku tidak marah! Aku hanya terlalu panik! Dan kau , kenapa tidak segera menghubungiku jika tahu marchel bersamamu?!" Tanya aliza dengan delikan kesal. Ia berniat mengambil marchel namun arka menghindar. Terlalu cepat , arka belum berniat pisah dari putranya. Dipikir-pikir ia belum ekhem melepas rindu dengan wanita didepannya ini. Lupa jika aliza tidak mungkin bersedia untuk ah arka tak ingin melanjutkannya. Terlalu pahit menurutnya. Sudah cukup lama ia tak bertatap muka dengan keduanya membuatnya tak merasa puas hanya karena sekedar bertatap sebentar. Arka melirik putranya yang tak berniat melepas lilitan tangannya. Ia akan memamfaatkan putranya. Tak apa, ia akan menggunakan kesempatan ini pikirnya licik "Kenapa denganmu ?!" Marah aliza pada arka yang menggeleng tak mengerti pada sikap aliza. "Bujuk yang benar dodol" ucap arka dengan gerakan mulut tanpa suara dan ajaibnya aliza dapat menangkapnya. "Jangan memanggilku dodol , batu kerikil!" Marah aliza lalu menendang betis arka tak sopan. "Mulutmu sayang.." peringat arka lalu menunjuk putranya lewat ekor matanya seakan mengatakan 'Jangan mengumpat disaat anak kita ada' . "K-kau !" Aliza membuka tutup mulutnya mendengar godaan arka. "Ada apa..?? Ingin ikut kugendong ? Aku masih kuat jika kau ingin ikut bergabung dengan anak kita " goda arka yang kini menyeringai kearah aliza yang menatapnya dengan tampang jijik yang terang-terangan diperlihatkannya dan arka sama sekali tak tersinggung dengan hal itu. Aliza mendengus, dari pada memikirkan kegilaan arka ia lebih memilih mencari perhatian putranya. "Marchel.." panggilnya namun dibalas oleh keheningan karena marchel tak menyahutinya sama sekali. "Mommy memanggilmu sayang.." ucap arka pada putranya yang kini menggeleng dilehernya. Arka menatap aliza dengan tatapan tak enak yang ditanggapi arka dengan desahan putus asa. "Bukan salahku" ucap arka yang kini ditatap tajam oleh kedua mata wanita yang dicintainya. Aliza kembali mendesah lalu mendekat kearah arka agar lebih dekat dengan putranya. "Marchel.." panggil aliza seraya mengelus punggung putranya lembut berharap putranya bisa luluh "Mommy minta maaf jika mommy salah ok ?" Bujuk aliza lalu berniat memeluk tubuh putranya namun marchel semakin mendempetkan tubuhnya pada arka dan jadilah aliza salah tingkah karena ia terlanjur mendempatkan tubuhnya pada marchel dan itu berarti jaraknya dengan arka juga semakin terkikis dan jangan lupakan fakta bahwa marchel menolak pelukannya. Hidung aliza kempas kempis saat melihat ekspresi menahan tawa arka yang seakan mengejeknya. Sedangkan arka menatap geli kelakuan lucu calon istrinya ini. Calon istrinya ? Ya inginnya sih begitu . Jika tak mengingat bahwa wanita didekatnya ini membencinya mungkin. "Jangan tertawa!" Desis aliza seraya menatap wajah arka kesal. Ia berniat menjauh dari tubuh arka namun arka dengan cepat menarik pinggangnya kedalam pelukannya. O "A-apa yang kau laku-" ucapan aliza tertelan saat melihat kepala putranya berbalik melihatnya yang kini sangat dekat dengannya. Sikecil tersenyum melihat jika ia , mommy dan daddynya sedang berpelukan. "Hehehehe..." sikecil tertawa malu-malu lalu menyentuh pipi mommynya yang menatapnya tanpa berkedip. "Aku cenang" ucapnya yang membuat aliza dan arka ikut tersenyum. "Senang hum ..??" Tanya aliza lalu mengecup-ngecup jari-jari mungil putranya. "Umm, aku cenang kalena bica liat mom dan daddy belcama..aku cangaaaaaaaaaaaaaaaat cenang" ucapnya yang kini merentangkan tangannya saat mengatakan kata senang dengan bahasa cadelnya. Tubuh aliza tersentak sejenak saat memyadari maksud perkataan putranya. Ia pun melirik arka yang kini juga balik menatapnya dalam diam. Bohong jika aliza tak berfikir jika arka tak tampan. Pria yang merusak hidupnya itu sangatlah tampan. Aliza sendiri sangat sulit untuk memalingkan wajahnya dari pahatan indah dihadapannya. Arka ? Tak lebih sama dengan keadaan aliza, terhipnotis dengan mata coklat dihadapannya. Lama tak bertemu tak berhenti membuatnya semakin jatuh dan jatuh dalam lautan cinta wanita dihadapannya ini. "Mom ! Dad !" Panggil marchel yang memutus tatapan diantara keduanya. Alizalah yang pertama kali memalingkan wajahnya lalu menatap putranya yang kini meliriknya dengan takut-takut. "Ada apa sayang..?? Apa marchel belum memaafkan mom ?" Tanya aliza "Umm.. bukan, aku umm itu" marchel jadi gelagapan , ia menatap sang daddy , seakan mengirim sinyal. Seakan mengerti ketakutan sang putra arka mengangguk lalu bersiap membuka suara. "Apa sih ?!" Gerutu aliza cemburu melihat reaksi ayah anak dihadapannya. "Mar-" "Daddy jangan keras-keras!" Ucap marchel merajuk. Ia mengerucutkan bibirnya kesal dan jangan lupakan pipi merahnya. Arka mendesah mendengar selaan putranya. Ia pun sedikit merendahkan tubuhnya didekat telinga aliza yang menatapnya penasaran. Keduanya memang masih berpelukan seperti posisi mereka sebelumnya. "Marchel pipis celana" bisik arka tepat ditelinga aliza. Setelah berbisik arka kembali menegakkan tubuhnya. Aliza mengedipkan matanya lalu menatap putranya yang sedang menggit bibirnya takut. Apa mommynya akan marah ? "Maaf mommy.." lirih marchel dengan mata berkaca-kaca yang membuat arka dan aliza gelagapan. "Sudah tak apa sayang.. marchel hanya perlu bersih-bersih dan berganti pakaian, bukankah begitu mommy ? "Tanya arka yang kini menatap aliza. "Y-ya.." jawab aliza gugup . Ia masih tidak terbiasa jika arka ikut memanggilnya mommy. "Benalkah?" Tanya marchel ragu "Iya, tapi sebelum itu bisa jelaskan mengapa marchel melakukan itu ?" Tanya aliza dengan nada lembut berharap anaknya tak ketakutan lagi. " Itu, caat aku telbangun kalena kebelet pipic, aunty tasya cedang teltidul. Jadi aku pelgi mencali toilet dan beltemu daddy . Tapi kalena tellalu cenang aku lupa tujuan aku dan-" "Dan ?" Tanya aliza penasaran karena putranya tak melanjutkan ucapannya. "Dan aku buang ail kecil digendongan daddy" ucapnya lalu menatap arka dengan ekspresi yang sama. Takut dan merasa bersalah. Aliza membuka tutup mulutnya memandang marchel dan baju arka bergantian. "Oh tuhan marchel ! Bagaimana bisa ? Aduh, sudah minta maaf pada daddy ?" Pusing aliza "Sudahlah aliza.." ucap arka yang tak tahan melihat wajah putranya yang terlihat menahan tangis. "Tapi bajumu ja-" "Kubilang tidak apa-apa.." ucap arka lalu mengecup pipi kiri putranya . "Maaf daddy.." lirih si kecil. "Hm.. tak masalah.. sebagai gantinya kita belanja baju bersama bagaimana ?" Tawar arka. Marchel mengangguk lalu menatap mommynya penuh harap. Aliza yang merasa ditatap oleh dua mahluk beda usia dihadapannya hanya mampu mengangguk pasrah. "Yeyyyyyy !" Pekik Sikecil bahagia. . . . Aliza menatap putranya dalam diam. Saat marchel bertemu dengan arka, anaknya itu tak lagi mendekatinya. Aliza sedikit cemburu ok ia memgakuinya. Ia tak bisa menahan dengusannya saat melihat marchel meminta turun dari sang Ayah lalu dengan begitu lincahnya putranya itu berlari masuk kedalam mall seakan lupa jika bajunya itu sedang mengeluarkan bau yang tak sedap. Ah memikirkan hal itu membuatnya mendekati arka yang sibuk melihat pergerakan putranya yang kelewat aktif. Aliza tersenyum tanpa disadarinya. "Maaf karena marchel bajumu jadi kotor seperti itu" ucap aliza yang kini berdiri tepat disisi arka. "Hm tidak masalah" jawab arka santai yang masih setiap menatap marchel yang begitu liar. "Dia begitu aktif bukan ?" Canda aliza dengan tawa kecilnya. Ia tak tahu mengapa ketakutannya pada arka sudah sedikit berkurang. Ia memang takut dan kecewa, tapi dari pada semua itu aliza lebih memilih untuk menerima semuanya karena betapapun ia menolak hal itu tetaplah menjadi takdirnya. "Hm sama sepertimu" jawab arka yang kini melirik kearah aliza yang juga menatapnya salah tingkah. "Jangan asal menuduh batu kerikil" ucap aliza kesal. "Ah" arka dengan segera menarik tangan aliza saat melihat anaknya nyaris menabrak lift. "Anak itu" ucap arka menggelengkan wajahnya tak habis fikir. "Daddy dan mommy lama" ucap Sikecil yang kini dituntun untuk memasuki lift. "Ya ya maaf anak tampan" ucap aliza yang tak habis pikir. "Capek" lirih marchel yang kini melepaskan tangan kedua orang tuanya. Sikecil bersih keras tak ingin dipegang saat berada dilift "Marchel sepertinya benar-benar lelah" ucap arka "Mommy aku mau baju balu yang banyak" ucap marchel dengan tidak bersemangat. Ok dan arka kasihan juga melihatnya. Tanpa aba-aba ia menggendong putra tersayangnya itu. "Daddy yang telbaik" ucap sikecil yang kini menaikkan jempolnya. . . . Aliza menatap arka yang terlihat sibuk memilih kemeja dan jas. Bukan karena itu, jika melihat wajah tak puas dari sang uchiha bungsu , membuat aliza yakin jika menunggu sampai lebaran monyet pun arka tak akan pernah puas. Mengingat jika arka pasti tak pernah membeli baju ditempat seperti ini. Marchel saja sudah bebersih dan berganti baju. Tinggal sang Ayah yang begitu pemilih. Aliza mendengus lalu mendekat kearah arka "Ada apa? " tanya arka heran melihat aliza yang ikut memilih baju bersama. "Aku akan memilihkannya untukmu.. bagaimana ? Apa kau keberatan ?" Tanya aliza "Tidak, tapi bagaimana dengan marchel ?" Tanya arka . "Dia akan tenang, tadi aku sudah berjanji untuk membawanya kebagian mainan anak-anak" jawab aliza yang membuat arka menoleh kearah Sang putra yang mendongak kearahnya dengan senyum manisnya. "Daddy!" Panggilnya "Ok, jangan kemana-mana" ucap arka yang dihadiahi anggukan oleh putranya. "Ah bagaimana dengan yang ini arka ?" Tanya aliza lalu menempelkannya ditubuh arka . Aliza tak tahu jika saat ini jantung arka berdetak dengan begitu keras. Berfikir jika mereka terlihat seperti keluarga yang bahagia. Dimana aliza sedang memilihkan baju untuk suaminya. ????? "Daddy ! Aku mau pelihala kucing putih lucu" pintanya pada sang daddy karena sang mommy menolaknya dengan keras. "Mommy sudah bilang tidak boleh marchel " aliza menyahut memberi peringatan. Ya saat ini mereka berada dibagian mainan khusus anak-anak. Arka sudah berganti baju tentu saja, itulah mengapa mereka berada ditempat ini. "Tapi aku mau mom! Lagian aku mintanya cama daddy " sewot sikecil. "Mommy bilang tidak ya ti-" "Sudahlah aliza.. biarkan saja" bela arka yang membuat aliza berteriak kesal. "Yeyyyyyy telima kasih daddy!" "Aish bukan kau yang akan merawat arka! Siapa yang akan memberinya makan ?! Bagaimana jika kucing itu mati?!" Teriak aliza kesal namun arka mengacuhkannya dan hal itu tentu saja membuat aliza semakin kesal. Aish ingin sekali ia menarik rambut arka . Aliza melirik kesal kearah arka yang kini berjongkok dihadapan putranya. "Marchel " ucap arka yang kini memegang kedua bahu marchel yang menatapnya serius. "Marchel dengar ? Daddy memang akan mengabulkan permintaan marchel . Tapi sebelum itu daddy harus menjelaskan pada marchel beberapa hal. Pertama, merawat kucing hidup itu butuh perhatian besar. Kedua, Kita harus merawatnya, memberinya makan tepat waktu, memberinya minum, memandikannya, menjamin ia tak kedinginan, membersihkan kotorannya dan banyak hal lagi. Ketiga, Jika terjadi sesuatu padanya apakah marchel akan merasa baik ? Bagaimana jika terjadi hal yang tak diinginkan ? Seperti sakit ? Atau lebih parahnya mati . Semuanya mungkin terjadi nak. Dan itu tentu saja akan semakin membuat mommy kerepotan. Marchel mengerti maksud daddy bukan ? Jadi, untuk lebih baiknya bagaimana jika marchel memilih boneka kucing yang marchel sukai ? Boneka itu tak akan pernah meninggalkan marchel dan juga tidak menyusahkan mommy. Tak akan pernah Sakit apalagi mati. Bagaimana ?" Arka berujar panjang lebar. "Ummm boleh" marchel mengiyakan lalu menarik tangan daddynya menuju tumpukan boneka kucing . " daddy ini bagus!" Pekik Sikecil "Itu terlalu besar.. marchel bisa membawanya ?" Tanya arka Aliza memperhatikan keduanya dalam diam. Arka lebih dewasa darinya batin aliza . "Hahahahahaha " aliza terperenjat saat mendengar tawa keduanya. Hatinya berubah hangat. Ia menatap putranya lalu arka yang mengangkat sebuah boneka kucing putih dan terlihat ingin menciumnya. " toy mencium pipi daddy! Toy nakal daddy!" Jerit marchel yang bahkan sudah memberi nama pada boneka yang berada dalam gendongan arka. Diam-diam aliza mengambil gambar arka dengan camera handphonenya. "Dia begitu tampan.." lirih aliza lalu menampar pipinya setelah menyadari kelakuannya. "Apa yang kau lakukan aliza ?!" Ucapnya lalu berniat menghapus foto arka dari galerinya namun tanpa sengaja ia menggeser foto itu dan yang muncul adalah foto tasya . "Tasya ? Ah tasya ya.. Ohhhh tasya. Ada apa memangnya dengan tasya ?" Bisik aliza bingung dengan hatinya yang seakan terasa ganjal. Loading Loading Dan "Oh Tuhan tasya !!!!!!!" teriaknya karena teringat ketidak beradaan kawannya. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN