semua gara-gara tasya

3004 Kata
arka Dalam bayangnya, semua orang tertawa. Bukan dililihat dari senyumnya. Bukan karena tawa yang yang dinampakkannya. Baginya tak ada yang lebih menyedihkan dari hidupnya. Tak ada yang lebih buruk dari takdirnya. Tak bermaksud menghinakan tuhan akan takdir yang menimpanya. Sungguh bukan karena itu. Demi tuhan bukan karena itu. Karena bagainapun siapa dirinya hingga ia sampai berani mendikte tuhan? Ia hanya lelah. Lelah dengan apa yang dijalaninya. Merasa bodoh dengan pilihan yang diambilnya. Bagaimana ia berniat untuk memberontak disaat tuhan telah memberinya dua pilihan ? Salahnya karena ia memilih pilihan itu sehingga ia berakhir dengan begitu buruk. Ini hanya karena kesalahannya. Kesalahan yang sangat disesalinya seumur hidup. Kesalahannya karena salah dalam menentukan pilihan hidupnya. Dan disinilah ia, menatap dua insan berharga yang membuatnya hancur. Bukan! Bukan karena keduanya. Tapi karena sosok lain yang berada diantara keduanya. Sosok lelaki berambut pirang . Ketiganya nampak seperti keluarga lengkap yang bahagia. Dan disini, ya disini ia menatap semua itu dalam sakit. Rumors spreadin about this other guy Rumor tentang lelaki lain ini menyebar Awalnya ia hanya berfikir jika ia cemburu pada marchel yang ternyata adalah putranya sendiri. Ia bahagia karena ternyata ia hanya salah paham. Namun melihat pemandangan dihadapannya, ia sungguh dibuat bungkam. Do you do what you did when you did with me? Apakah yang kau lakukan ? apa yang kaulakukan bersamaku? Bodoh. Selama ini ia hanya menyakiti wanita itu. Selama ini ia hanya memberikan luka dihati wanita itu. Sejauh ini ia hanya memberi sekelebat bayangan buruk yang menghantui hidup wanita itu. Tapi demi apapun, ia tak rela jika harus melepas wanita itu. Ia tak akan pernah ikhlas. Berfikir, ialah sosok yang paling mencintainya. Berfikir ialah sosok yang paling pantas untuknya. Does he love you the way I can? Apakah dia mencintaimu seperti cintaku padamu? Ya, Tak ada yang mampu menyaingi rasa cintanya untuk wanita itu. Tak satupun. Did you forget all the plans that you made with me? Apakah kau lupa semua rencana yang telah kau buat denganku? Salah. Lebih tepatnya ialah yang telah menyusun rencana untuk masa depan mereka. Sebuah rencana yang telah tertata apik. Masa depan penuh bahagia. Senyum, tawa, wajah ceria, kesukaannya, semua kebahagiaannya meski itu tidaklah ditujukan untuknya. Bukan untuknya. 'Cuz baby I didnt Karena aku tak lupa, kasih Kembali ia tatap wanita itu, wanita yang dicintainya yang kini nampak bahagia That should be me, holdin your hand Seharusnya aku, yang menggenggam tanganmu Wanita kesayangannya tersenyum, tertawa bebas menunjukkan kebahagiaannya. Yang jelas mimik itu sulit atau bahkan tidak mungkin ditunjukkan dihadapannya. That should be me, makin you laugh Seharusnya aku, yang membuatmu tertawa Seharusnya saat ini ia dan wanita itu tertawa. Dengan kehadiran bocah kecil yang dengan penuh semangat memangggilnya daddy. Menghabiskan waktu dihari libur dengan mendatangi tempat yang sedikit menghibur bersama keluarga kecilnya. Seharusnya saat ini ialah yang menggenggam tangan wanitanya. Merengkuh pinggang mungilnya, mengecup dahinya guna menyuarakan kasih sayangnya. That should be me, this is so sad Seharusnya aku, ini sungguh menyedihkan Terlampau menyedihkan karena dimata wanita itu ia hanya sekelebat masalalu buruk yang hendak dilupakan wanita itu. That should be me, that should be me Seharusnya aku, seharusnya aku That should be me feelin' your kiss Seharusnya aku, yang merasakan ciumanmu Sakit. Sakit yang dirasakannya. Ia pikir setelah pertemuan mereka, aliza akan sedikit membuka hatinya. Namun kenyataannya wanita itu benar-benar meninggalkannya jauh. Sangat jauh hingga arka ingin menghancurkan apa saja yang dilihatnya. Terlalu frustasi saat melihat wanita pujaannya bahagia. Dan itu bukan karenanya. Tapi karena orang lain. Wanita kesayangannya tersenyum , mengecup pipi b******k seorang lelaki berambut pirang yang baru saja memberinya sebuah kalung lalu memasangkannya tepat dileher wanita kesayangannya. Sepasang tangan yang begitu lancang menyentuh pipi wanitanya, Menggenggam kedua tangan wanitanya, dan menatap wanitanya penih kasih. Tidak! Dimatanya tatapan pria itu tak lebih dari tatapan liar yang membuat arka ingin segera menghunuskan pedang kedalam dua bola mata Pria s****n itu. That should be me, buyin you gifts Seharusnya aku, yang membelikanmu hadiah This is so wrong, I cant go on Semua ini salah, aku tak tahan arka mengepalkan kedua tangannya, memukul setir dengan penuh emosi. Ia tak ingin melihat itu lebih lama lagi. Tidak, karena itu hanya akan membuat hatinya sakit. Sakit yang begitu sesak. Bahkan sampai membuatnya berasa sulit untuk sekedar bernafas. Do you believe Percayakah kau Percayalah, ia benar-benar cemburu. Tak terima keadaan. Bahwa ia telah kalah telak. That that should be me Bahwa seharusnya aku That should be me Seharusnya aku Mobil yang dikendarainya mulai berbelok arah. Meninggalkan pemandangan yang tak ingin dilihatnya. Melarikan diri ? Pengecut? Apa yang harus dilakukannya ? Tekad yang selama ini dikumpulkannya menguap begitu saja. Tak masalah jika ia menghancurkan kehidupan lelaki berambut merah itu. Tapi apa yang harus dilakukannya saat melihat tatapan wanitanya? Tatapa mencinta yang negitu besar. Seakan pria itu adalah kehidupannya. Sumber hidupnya, mentarinya dan kehangatannya. Akankah ia sanggup membuat yang dikasihinya bersedih karena merusak kehidupannya hanya karena keegoisannya dan perasaannya yang sepihak? I think you needed a little time from my mistakes Ku pikir kau perlu sedikit waktu dari kesahalanku Berfikir dengan memberi waktu kelak rasa sakit yang ditorehkannya bisa lenyap dan aliza akan membuka hati untuknya. Menyambut perasaannya dengan tangan terbuka? Tapi apa yang dilihatnya? Its funny how you used that time to have me replaced Sungguh lucu kau gunakan waktu itu 'tuk menggantikanku Menatap penuh kekecewaan pada apa yang baru saja dilihatnya. Pemandangan yang membuatnya remuk dan ingin hancur disaat yang bersamaan. Did you think that I wouldnt see you with her? Apa kau kira aku takkan melihatmu jalan dengannya? arka tahu, siapa dia yang berhak menghakimi aliza karena pilihannya? Siapa ia hingga ia bisa menampakkan kecemburuannya dengan begitu jelas? Ia hanya lelaki yang bertepuk sebelah tangan. Tapi apa salahnya hingga ia mencintai aliza ? Kenapa harus aliza ? Kenapa harus wanita itu yang harus ia cintai? Kenapa? Tuhan yang memberinya rasa. Ini bukan salahnya. Tapi kenapa tuhan memberinya rasa pada aliza ? Kenapa harus aliza ? Kenapa harus pada wanita yang telah memiliki ikatan takdir dengan orang lain? Bukan salah tuhan, ia merutuk. Salahnya karena terjerat pada pesonanya. Salahnya karena terlalu bodoh. Bodohnya karena ia terlalu gampang luluh dan terenyuh akan pribadi aliza . What cha doin' to me? Apa yang kau lakukan padaku? Mengeratkan pegangannya pada setir. Membayangkan wajah aliza yang sempat bertemu pandang dengannya. Namun raut wajah wanitanya biasa-biasa saja. Tak merasa bersalah. Apa yamg diharapkannya? Now if you're trying to break my heart Jika kau berusaha menghancurkan hatiku It's workin Kau berhasil . . . arka menatap dalam diam laptop dihadapannya. Mendesah lelah lalu memilih menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja bermerek miliknya. Sialan. Kenapa ia harus teringat mimpi sialnya dua hari yang lalu? Ya mimpi. Sebuah mimpi yang membuatnya terus teringat. "Itu hanya mimpi. Tapi mengapa segalanya terasa begitu nyata ?" ucapnya lalu menatap telapak tangannya yang kini berkeringat. Tangan putihnya terkepal dengan kuat . Mendesah, ia lebih memilih menatap pemandangan luar dari ruang kerjanya. Berharap dengan itu beban dihatinya sedikit berkurang. Satu hal yang baru dipikirkannya. Jika sekalipun semua itu nyata, Apa yang harus dilakukannya? Bertahanpun sampai kapan? suatu saat akankah ia mati karena terlu larut dalam rasanya? arka mulai menggeser laptopnya menjauh. Menelungkupkan wajahnya yang menyangga pada lipatan tangannya diatas meja. Ada banyak pertanyaan yang memgganggu pikirannya. I need to know should I fight for love Aku perlu tahu haruskah aku perjuangkan cinta. Mata birunya meredup Or disarm its getting harder to shield Atau menyerah, kini semakin sulit dijaga This pain is my heart Luka ini di hatiku Perlahan kelopak mata miliknya tertutup dan tenggelam dalam mimpi. . . . aliza berlari sekencang mungkin setelah keluar dari dalam lift. Sedikit terengah-engat karena kelelahan. Bukan main, ia harus berlari dengan marchel yang berada dalam gendongannya. "mom.. !" marchel memeluk leher aliza erat. Ia sedikit bingung karena setelah mommynya mengakhiri teleponnya, mommynya itu dengan segera menghentikan taxi. Lihatlah, sikecil sedang memanyunkan bibirnya karena saking terburu-burunya sang mommy sampai lupa memasukkan belanjaannya kedalam taxi tadi. Itu berarti wortelnya juga ketinggalan "mom!" panggilnya lagi namun dihiraukan oleh aliza yang masih berlari dengan panik. Sikecil semakin dibuat manyun karenanya. Gara-gara tasya ni pikirnya. " tasya !" panggil aliza setelah berhasil masuk kedalam ruang istirahat para OG. Merasa dipanggil, tasyapun menolehkan tubuhnya dan melihat saat ini tasya sedang duduk dikursi dengan wajah meringis menahan sakit. Sedang dihadapannya nampak seorang lelaki tampan yang sedang fokus memasangkan perban pada lutut tasya . "kak raka ..? " lirih aliza yang membuat sang empunya menatapnya sejenak lalu kembali fokus pada kegiatannya untuk mengobati luka sahabatnya. "Ini tidak seperti yang kau pikirkan"?"aku tidak mungkin selingkuh sama dengan orang yang tak se-level dengan keluarga besar tanjung " ucap raka putra sulung keluarga tanjung lalu berdiri dari jongkoknya. Sedang tasya menundukkan wajahnya setelah mendengar ucapan raka. aliza sendiri hanya menaikkan satu alisnya tidak mengerti. "Aku melihatnya saat terjatuh dan kurasa kau cukup tahu apa yang terjadi setelahnya dengan melihat apa yang aku lakukan sekarang" ucap raka. "Apa kau baru saja rapat ?" tanya aliza yang dijawab gelengan oleh raka. aliza tak berfikir apapun. Normalnya ia tak curiga atau apapun. Lagi ia berfikir jika wajar jika satu sama lain saling menolong. "Lalu kenapa kau ada disini? Ku tahu ini sudah cukup malam. kinan pasti menunggumu dirumah" aliza berkata dengan tangan bersedekap. Ya tentu saja ia telah menurunkan marchel dari gendongannya. Si imut ini sedang duduk manis disebuah kursi panjang. "Aku ada sedikit urusan dengan atasanmu. Kau sendiri apa yang kau lakukan disini? bukankah kau kau mengambil izin ?" ucap raka yang kini sibuk berbenah merapikan penampilannya. "tasya memintaku kemari.. Kupikir dia sekarat" ucap aliza dengan wajah polosnya. "Kakinya terkilir" Ucap raka "Ya, apa kau ingin aku mengantarmu tasya ? " tanya aliza yang kini berniat menarik tangan putranya menuju tempat tasya namun sikecil menolak. Sikecil enggan meninggalkan singgasananya. Hingga dengan terpaksa aliza mengikuti keinginannya lalu menghampiri sahabatnya. "Aku baru saja berniat ingin pulang. Bagaimana jika kita pulang bersama tapi kalau tasya kau bisa pulang sendiri kan aku tidak mau mobilku menjadi kotor karena tubuh orang miskin " comoh raka yang membuat tasya merasa sakit hati dengan segera menggelengkan kepalanya. " hei- kak raka itu- perkataan aliza dipotong tasya dengan cepat "Terima kasih karena menghinaku tapi saya dan aliza memiliki sedikit urusan" tolak tasya dengan kasar "Kau yakin aliza ? " raka bertanya kepada aliza "Iya.. Tak apa. Setelah urusanku selesai aku akan segera pulang" ucap aliza mantap "Bagaimana dengan marchel ? Dia ikut denganku saja.. Lagi ini sudah terlalu larut" tawar raka yang kini menatap putra aliza yang sedang menguap menahan kantuk "marchel ingin ikut ayah ? " tanya aliza yang kini mensejajarkan tingginya dengan sikecil. "Mau sama mom.. " ucapnya enggan "Urusan mama sepertinya masih lama. marchel ikut ayah saja ya? " bujuk aliza . "Hmm" gumam sikecil seraya menggelengkan kepalanya tak setuju. "Lihatlah kak raka , dia tak mau. Kau duluan saja, aku tak mau kinan menunggumu lebih lama lagi" ucap aliza menyerah "Ya baiklah.. Kalau begitu aku pulang lebih dulu. Hubungi aku jika kalian mengalami kesulitan" ucap raka yang mengusap kening pucuk kepala marchel lalu segera pergi setelah mendapat anggukan oleh aliza " hah,aku harus mandi kembang 7 rupa untuk menghilangkan najis wanita miskin itu cih mana bisa aliza berteman tasya ah sudahlah " pikir raka yang jijik dengan tasya . . . "Jadi bisa kau ceritakan kenapa kau memintaku kemari ?" selidik aliza yang membuat tasya menatapnya tak enak hati. "Seperti yang kau dengar, aku terjatuh dan kau lihat apa yang terjadi dengan kakiku " ucap tasya yang saat ini menyampirkan anak rambutnya kebelakang telinga dengan anggun. "Dan kau memintaku memapahmu dan mengantarmu pulang karena kesulitan berjalan? " tebak aliza "Bukankah sudah kukatakan jika aku memanggilmu bukan karena itu?!"dengus tasya sedikit kesal lalu mengalihkan pandangannya menuju yang lain. Kemanapun asal tidak kewajah bloon sahabatnya. Hingga tanpa sadar ia menatap marchel yang kini sedang merebahkan tubuhnya dikursi panjang yang memang sedari tadi didudukinya. "Ah lihatlah marchel . Sikecilmu sudah tertidur" ucap tasya yang kini menatap putra aliza dengan ekor matanya. "Oh tuhan putraku !" jerit aliza pelan lalu memperbaiki posisi rebah marchel agar lebih nyaman. "Maaf" sesal tasya "Hah? untuk apa?" tanya aliza heran. "Maaf karenaku kau harus kemari sampai membawa marchel seperti ini. Bodohnya aku, padahal aku tahu jika mengambil libur untuk menghabiskan waktumu dengan anakmu" jelas tasya yang kini menundukkan wajahnya "Aku tahu kau memanggilku pasti karena alasan yang masuk akal. Jadi bisa kau katakan alasan mengapa kau memanggilku kemari? " Ucap aliza meminta penjelasan. "Sebelum jam pulang, para pekerja banyak yang meminta izin untuk pulang lebih awal untuk menghadiri pernikahan pak budi dan sebagian yang lain memilih untuk menghadiri kematian ke-40 hari dari senior yang kau gantikan.." jelas tasya yang kini mendesah . Bahkan aliza dapat melihat dengan jelas guratan lelah dan pucat sahabatnya itu. "Lalu presdir mengizinkan mereka begitu saja? " tanya aliza "Ya dengan pertimbangan lain. Ia meminta bu ella untuk menuliskan 15 nama OG yang tidak begitu dekat dengan pak budi dan senior yang telah meninggal itu untuk bekerja hingga malam" jelas tasya lalu mengepalkan kedua tangannya. "Lalu kau termasuk salah satu diantara mereka begitu? " tebak aliza yang dijawab anggukan oleh tasya . "Lalu apa masalahnya?" tanya aliza semakin heran. Mendengar pertanyaan aliza membuat Kiba mendesah dengan keras. "Masalahnya mereka pulang diwaktu sore . Meninggalkan tugas mereka begitu saja dan kini aku yang harus bertanggung jawab melakukan tugas mereka yang tak memiliki kesadaran!" ucap tasya menggebu-gebu. "Kau terlalu baik tasya . Hingga aku tak tahu aku harus menganggapmu baik atau terlalu bodoh" ucap aliza dengan begitu santainya "Apa?!" tasya melotot marah "Kau cukup membersihkan bagianmu saja dan besok laporkan hal ini pada bu ella. Bukankah dengan begitu semuanya akan beres? " aliza memberi saran "Apa kau pikir si nenek sihir itu akan mendengarku? Ah aku lupa bilang jika 14 orang yang bertugas hari ini itu adalah teman-teman bergosip si nenek sihir" ucap tasya dramatis "Aku tak punya pilihan.. Setidaknya tidak ada sampah yang berserakan dilantai sehingga petugas kebersihan yang bekerja dipagi hari tidak berkata yang aneh-aneh. Demi apapun aku tak ingin menerima amukan dari nenek sihir itu aliza " Ucap tasya lalu berdiri dari duduknya sambil menahan sakit. "Apa kau baik-baik saja ?" tanya aliza bodoh. Padahal dengan melihat wajah Kiba saja seharusnya dia sudah bisa menebak. "Aku sudah membersihkan area bawah , pak adam sempat membantuku untuk membersihkan beberapa lantai yang tersisa.. Hanya saja untuk ruang direktur dan ruang rapat aku belum sempat memeriksanya. Aku tidak tahu apa yang lain sudah membersihkannya atau belum" ucap tasya lirih "Kau memanggilku kemari untuk membantumu? " aliza bertanya dengan lembut. Kasihan juga melihat tasya yang sudah bekerja dengan begitu keras hingga ia mendapati luka. "Iya.. maaf jika boleh bisakah kau memeriksa ruangan yang tersisa?" pinta tasya yang membuat siempunya tersenyum tidak enak. Mau bagaimanapun ia sadar jika ia telah mengganggu liburan aliza . " Ya, tentu saja. Kalau begitu aku titip marchel padamu. Ah dan satu lagi!"ucap aliza yang kini menatap tasya dengan tatapan tajam "Kau harus beristirahat! jangan berenjak sedikitpun dari tempat kau duduk mengerti?!" . . . marchel menatap ruang rapat dalam diam. Bersyukur karena ruangan tersebut baru saja dirapikannya. Tidak begitu sulit. Ia hanya perlu menyusun berkas-berkas yang berserakan diatas meja lalu memasukkannya kedalam map yang berada disudut ruangan. "Aku harus segera menyelesaikannya dengan cepat. tasya harus segera ke klinik lalu beristirahat" ucap aliza lalu berjalan menuju pintu yang terhubung dengan ruang presdir. Setelah pintu itu terbuka, aliza dibuat kagum dengan tatanan segala benda yang ada diruangan itu. Padahal ia sudah memasuki ruangan ini sebelumnya. Mengapa ia baru tersadar dengan hal itu? aliza tertawa dalam hati. "Aku tak perlu repot-repot membersihkan ruangan ini. Syukurlah" gumamnya lalu berniat pergi. "Oh ya aliza , apa selama tiga hari ini arka menginap dirumahmu ? Kau tahu, Aku khawatir kamarnya jadi berdebu karena ditinggal begitu saja. Salahnya yang tak mengizinkan pelayan masuk kekamarnya untuk bersih-bersih" Ujar desy sambil memainkan rambut hitamnya . "Jujur saja aku khawatir padanya.. Aku belum pernah melihatnya tertawa semenjak kepulangannya dari belanda. Kupikir jika kau didekatnya dia sedikit lebih bisa berekspresi. Bukankah dia cinta mati padamu.. Kau tak perlu peduli dengan fakta yang akan kau dapatkan nantinya.. Tenang saja, aku dipihakmu " entah mengapa perkataan desy terngiang dikepalanya "arka kah?" gumamnya lirih saat ini ia telah menggenggam gagang pintu dalam diam. "Bukan urusanku !" ucapnya lalu membuka pintu hendak pergi namun entah mengapa kakinya terasa berat untuk melangkah. "Aku tidak khawatir. Aku hanya kasihan padanya. Hanya itu" ucapnya meyakinkan diri. Setelah itu ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju Meja arka dan mendapati meja itu kosong. "Kenapa aku merasa kecewa? " monolognya sendiri lalu mendudukkan tubuhnya dikursi yang biasa dipakai arka . "Rasanya hangat..Aku pasti sudah gila karena berpikir jika ia barus saja memakai kursi ini" Ucap aliza yang kini menggelengkan kepalanya tak habis fikir dengan dirinya sendiri. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi lalu menatap langit-langit ruangan dalam diam. "Apa aku terlalu keras padanya?" Ucap aliza lirih Trrrrtttttt trrrrrtttttt trrrtttttt Getaran disakunya membuat aliza dengan segera meraih Handphone miliknya. Hanya sebuah pesan dari tasya yang menanyakan apa ia sudah selesaidari tugasnya atau tidak. "Aku sampai melupakan mereka" ucapnya lalu pergi dari ruangan tersebut tanpa ragu. . . . arka berjalan seraya menenteng kantongan yang berisikan beberapa kaleng minuman dan beberapa buah segar. Melihat kondisi tubuhnya ia pun berinisiatif untuk membeli beberapa kaleng minuman penambah stamina. Dipikir-pikir ia juga tak pernah keluar dari kantornya dalam waktu tiga hari ini. Sebelumnya ia sudah meminta bawahannya untuk membelikan kebutuhannya . Dan entah mengapa perbekalannya habis. Salahkanlah bagas yang mengambil makanan maupun minuman miliknya tanpa izin. Sehingga dengan terpaksa ia harus keluar hanya karena ia dehidrasi. arka mendengus lalu menatap setiap jengkal perusahaannya yang sepi. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat siluet anak kecil yang berjalan sempoyongan kearahnya. "marchel .." Ucapnya lirih bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN