TAMAN BERMAIN

3117 Kata
Mentari pagi bersinar terang. aliza menatap bocah kesayangannya seraya tersenyum. Ini adalah hari ke empat setelah peristiwa itu berlalu. Suatu hal yang aliza syukuri. arka tak menampakkan diri dihadapan putranya dan aliza sangat mensyukuri hal itu. Itu berarti arka memang tak berniat merebut marchel dari dirinya. Selama tiga hari ini juga aliza menghabiskan waktunya untuk bekerja dan lebih sering menyempatkan diri untuk menjemput putra tampannya. Meski ia akui jika ini tak mudah dilaluinya. Namun semua ini dilakukannya agar marchel tak memikirkan sosok ayahnya. Hingga dihari ini aliza memilih untuk meminta izin untuk menemani putra kecilnya bermain ditaman. Begitupun dengan sikecil. Khusus hari ini ia tak kesekolah. "Mom... Ayoo main bola!" marchel berlari menghampiri Ibunya yang tengah menikmati cerahnya pagi. Si kecil yang biasanya bermain dengan gadget milik ibunya itu, kini merasa b*******h ketika melihat bola kaki hitam bercampur putih ditangannya. Dalam benaknya mungkin saja si gembul ingin memainkannya selayaknya Leonel Messi atau Christiano Ronaldo . Sang legenda bola yang membuat sikecil terpana. Entah, padahal aliza sendiri tidak pernah menyebut nama itu dihadapan putranya. Kkanggggg Dengan tubuhnya yang gempal, rambut abu-abu yang berayun terkena angin dan efek berlari, si kecil menghampiri sang Ibu. Dan di wajahnya sudah ada tetesan semangat untuk memainkan bola ditangannya itu. Tapi, apa mungkin ia yang masih bau kencur untuk sekedar tahu siapa dua legenda tadi? Messi dan Ronaldo. Padahal sekalipun sikecil belum pernah bertemu keduanya. Baik di layar kaca. Apalagi di lapangan bola yang sunggu fenomenal itu. Keduanya bermain selayaknya anak panah yang melesat dari busurnya. Dan banyak kemungkinan bola itu melesat dan menghujam kuat ke dalam gawang lawannya. "Jika marchel menjadi pemain bola seperti mereka, itu akan sangat membanggakan.." ucap aliza yang kini tersenyum "mommy..??" sikecil memiringkan wajahnya kekiri bertanda bingung. Membuat aliza memekik gemas lalu menggandeng tangan putranya dengan antusias. "Ayo main bola." aliza berlari kecil dengan senyum dan tawa bangga. Seakan-akan menyimpan mutiara kecil yang masih bertumbuh bersama waktu. "mommy tangkap bolanya ya " ucap marchel lalu bersiap menendang. "Siap kapten.." marchel tersenyum lalu menendang bola dikakinya. Namun aliza dengan segera menangkap bola tersebut dengan berpura-pura memasang wajah kelelahan. "Tendangan marchel sangat kuat.. Anak mommy memang hebat" puji aliza yang membuat sikecil senang. "Benalkah ?" soraknya senang "Ya.. mommy sampai kesulitan menangkapnya loh" ucap aliza menyeka keringat dipelipisnya yang putih. Meski semua itu hanya akting belaka. "Umm.. kalau begitu bial aku caja yang menangkap bolanya.." Seru si kecil "Eh kenapa ?" "aku tidak mau mommy capek . Kalau mommy capek nanti aku main cama ciapa ?" ucapnya dengan bibir mengerucut lucu. Pengakuan tersebut sungguh membuat hati aliza seakan mendapatkan sengatan kecil. Disaat seperti ini, sudah sewajarnyalah jika sosok ayah yang menggantikan posisinya saat ini. Seharusnya ia sibuk mempersiapkan makanan dipinggir taman sedang suaminya asyik bermain bersama marchel . Bukankah ini liburan yang menyenangkan ? "mommy !" teriak sikecil mengingatkan mommynya yang sedang melamun. "mommy ! mommy ! " panggilnya lagi yang membuat aliza tersentak dari lamunannya. "A-ah ... maaf " aliza menatap putranya yang menatapnya sedikit kesal. "mommy jangan melamun.. Ayo tendang bolanya mom.. " ucapnya sambil berkacak pinggang "Hai' hai' kapten.." . . . Entah sudah berapa lama aliza dan juga marchel asyik bermain bola. Keduanya terlalu asyik untuk menyadari waktu yang mereka lewatkan. Tawa marchel yang terdengar ceria sungguh membuat aliza bahagia. Kini giliran aliza yang menendang. sejauh sepuluh meter, kadang lima belas meter dan kadang hanya lima meter. Semua ini dilakukannya agar putranya merasa senang dan lupa sejenak akan sosok ayahnya. Ayah yang beberapa hari lalu pernah ditemuinya untuk pertama kalinya. Biasanya marchel akan memanggil daddynya dan berkata bahwa sikecil itu ingin bertemu karena rindu. Tapi perlahan-lahan sosok sang ayah cukup di simpan di dalam relung hatinya yang terdalam. aliza memandang putranya yang kini sibuk menggiring bola menuju gawang Seolah-olah bola itu adalah sekelebat bayangan sang ayah yang bisa mengobati rasa rindu di hatinya. Si kecil kembali berlari, berlari lagi sekencang kencangnya seperti sang harimau. Ia menendang bola dan goooool. Bola masuk ke gawang. Berkali-kali raut wajahnya sumringah dinampakkannya bangga. Ia ingin mengulangnya lagi berkali-kali, sampai sang peluh menyelimuti tubuhnya yang mungil itu. Di sisi lain, anak-anak dan beberapa orang tua memandangi aliza dan marchel yang riuh. Hanya sekedar memandang dan sesekali tersenyum. Anak-anak itu hanya menatap dari kejauhan dam tak berani mendekat. "Hati-hati marchel .. nanti pasir masuk kedalam matamu" Ujar aliza mengingatkan. Taman yang dikunjunginya ini memang beda dengan taman yang lain. Taman berpasir. Seakan mereka sedang berlibur dipantai. ada banyak tenda yang berdiri. Taman ini memang kadang digunakan para keluarga untuk berlibur. Entah, padahal hari ini adalah hari kerja. Sedikit bingung, dihari kerja begini taman ini masih saja dikunjungi banyak orang. "Huwaaaaaaa! uncle awas !" teriak marchel pada seorang pria yang sejak tadi duduk disudut taman. Brugh marchel dengan cepat berlari menuju sosok yang tanpa sengaja dikenainya. marchel memungut bolanya lalu meminta maaf. "maaf.. aku tidak cengaja" ucap marchel dengan wajah penuh pelu. "Hm.. tak apa. marchel sedang main bola ? Nah ayo tendang!" ucap Pria itu lalu memasang pose menangkap bola. "Ayah.. anak itu ciapa ?" Tanya anak perempuan yang digandeng oleh sang pria. Mendengar suara imut putrinya, sontak pria itu menundukkan wajahnya. "Dia sepupumu keyla.. " Ucap pria itu lalu mengelus surai abu-abu putrinya dengan sayang. "bagas" Desis aliza tak suka. Ia berjalan mendekat kearah dimana putra dan kakak dari ayah marchel itu berada. "Cepupu ? " beo putrinya lalu setelahnya siputri kecil itu mengangguk. "Hei.. Namaku keyla.. salam kenal ya " Salam keyla memeperkenalkan diri. "marchel .." marchel hanya menyebut namanya lalu menatap wajah bagas dalam diam. "Milip daddy .." bisiknya yang membuat bagas tersenyum lirih. marchel kembali mengingat kejadian disaat ia baru saja tiba di bandara. Ia pernah bertemu paman ini. "Ingin bermain dengan uncle ?" tawar bagas yang menuai gelengan sang bocah tampan dihadapannya. marchel menatap wajah bagas sekali lagi. Sorot matanya berubah sendu. Setelah itu sikecil kembali bermain bola. marchel menendang bola dikakinya dengan kencang, sayangnya bola itu salah arah dan terpantul ke tenda. Sikecil kembali berlari untuk menggiring bola dengan semangatnya. "Tendang lagi dan macukkan ke gawang!" Seru keyla sambil meloncat-loncat dari tanah ia berpijak. Ia memang sedari tadi melihat pergerakan anak yang ayahnya bilang adalah sepupunya itu. marchel tak ambil peduli, ia kembali menendang bola, menggiringnya dan kembali memasukkan ke gawang. Duk! Suara tendangannya melesatkan bola ke arah gawang. "Holeeeeeee !" Ia kembali tertawa dan riang gembira. "Apa yang anda lakukan disini ? anda tidak kemari untuk mengawasi putraku bukan ?" selidik aliza yang kini tak peduli jika lelaki dihadapannya adalah atasannya. "ha.. ha.. santai saja. Aku bertemu dengan kalian benar-benar tanpa kesengajaan.. Putriku ingin bermain pasir. Tapi aku tak ada waktu untuk membawanya kepantai. Kau tahu bukan jika pantai dari sini sangatlah jauh ? Sedang siang ini aku ada rapat dikantor" Jelas bagas panjang lebar. aliza hanya mengangkat bahu acuh. Ia hanya sibuk menatap putranya yang kini tubuhnya penuh dengan peluh. Nampaknya putranya itu mulai lelah. Tapi bocah kesayangannya itu rasa-rasanya belum mau mengakhiri semuanya. "Apa kau tidak ingin menanyakan kabar arka ?" Tanya bagas yang kini melirik wanita yang dicintai adiknya itu. "Apa hubungannya denganku ?" Jawab aliza acuh. Ia tak menatap wajah Itachi seincipun seakan ia benar-benar tak tertarik dengan topik yang mereka bahas. "Adikku merindukan marchel kalau kau ingin tahu.." ucap bagas kembali bersuara "Apa itu penting ?" aliza berujar dingin. "Ekhem.. Tapi menurutku, ia jauh lebih merindukan ibu dari anak tampannya itu.. Dia benar-benar tidak bisa melupakanmu" Ucap bagas lalu menatap aliza dengan serius . Ia ingin tahu perubahan emosi yang ditampilkan wanita beranak satu disampingnya ini. "Dia meninggalkanku begitu saja hingga anaknya berumur empat tahun tanpa memberiku kabar sekalipun. Apa kau pikir aku akan percaya dengan omong kosongmu itu ?" ucap aliza tanpa ekspresi. bagas menyeringai dalam hati. u*****n aliza meski tanpa ekspresi itu tidakkah terdengar seperti istri yang sedang merajuk? "Jika kau berfikir aku sedang marah karena ia meninggalkanku diwaktu itu, Maka sebaiknya kau mengenyahkan pikiranmu itu pak bagas. Karena aku sama sekali tak tertarik dengan adikmu" Ujar aliza "Dingin sekali.." ejek bagas yang kini tak lagi memandang wajah dingin aliza . Ia lebih memilih melihat putrinya yang asyik menyoraki marchel . Entah mengapa bagas jadi teringat dengan sosok adiknya. Sudah tiga hari ini arka tak kembali kerumah. Adiknya itu hanya bekerja dan terus bekerja. Seakan ia nafasnya itu digunakan untuk bekerja . Ini akan menjadi malam ke empat jika arka tak juga kembali kerumah. Semenjak kejadian itu, Itachi tak lagi melihat wajah senang arka . Ia kambali harus melihat sosok adik yang baru pertama kali dilihatnya saat pulang dari perancis. Mimik wajah datar dan sikap dingin. Sikap itulah yang ditampilkannya saat arka baru saja kembali dari belanda . "Apa kau benar-benar tak memiliki perasaan untuk adikku meski hanya sedikit saja ?" Tanya bagas aliza terdiam. Ia menolehkan wajahnya, menatap bagas penuh tanya. "Menurutmu ? Jika marchel adalah seorang gadis, dan aku melakukan hal biadab padanya dan membuatnya hamil. Apa yang akan kau pikirkan ?" tanya aliza yang membuat bagas terdiam. Sudah sangat jelas ia akan marah dan berusaha menjauhkan adiknya dengan aliza . bagas akan memberi aliza pelajaran yang setimpal. Itulah jawaban yang akan bagas berikan. Namun ia tak menyuarakan isi hatinya. Karena pada kenyataannya, arka adalah pihak yang salah saat ini. "Kau akan marah. Menghukumku dan menjauhkan adikmu dariku. Bukankah begitu ?" Tanya aliza lalu tersenyum kecut. Lagi-lagi bagas terdiam. "Kau yang hanya seorang kakak bagi korban, begitu marahnya sampai kau ingin membalasnya berkali-kaki lipat.. lalu -" aliza memotong ucapannya. Lalu menatap bagas tepat pada kedua bola matanya. "Bagaimana dengan adikmu.. Tanyakan pada adikmu, apakah dia memiliki perasaan padaku ? orang yang menghancurkan masa depannya ? apakah dia menyukaiku ? memiliki rasa padaku meski hanya sedikit saja ?" tanya aliza yang kini menggit bibir bawahnya. Tidak ! Orang seperti itu tak pantas dicintai. Itulah yang ingin ia katakan. Itulah yang diucapkan oleh bagas. Namun kembali pada kenyataan saat ini. Adiknyalah yang menjadi lelaki biadap disini. Apakah ia akan tega mengatakan itu disaat ia melihat wajah menderita adiknya ? Ia memang egois dan pilikasi. Ya, arka mengakuinya. "Itulah yang aku rasakan pak bagas.. jadi kumohon. Jangan mengungkit tentang dia lagi. Aku tak ingin mengingatnya" Ucap aliza lalu mendesah . Melepaskan rasa nilu didanya. Ia kuat. Ia tak akan menangis lagi. "mas bagas ! " panggil seorang wanita berambut kuning . Sontak aliza dan bagas berbalik guna memandang sang pemilik suara. aliza terdiam. Ia menatap istri arka dengan bibir terkatup. Dia baru ingat akan peristiwa dimana istri arka yang selingkuh dengan kakak arka sendiri . "Dimana putri kita ?" tanya wanita itu lalu mengecup pipi bagas yang kini tersenyum lembut kearah wanita berambut kuning . Ia memeluk pinggang wanita itu erat. 'anak kita ?' "Terkadang aku ingin berterima kasih pada calon putriku jika kau bersikap seperti ini desy.." ucap bagas lalu mengecup kening sang wanita dipelukannya. Jangan lupa tangan kokohnya yang mengelus perut agak membuncit dari wanita dipelukannya. 'putriku ? hamil ? ada apa sepenarnya hubungan diantara mereka ?' "Kau tidak menjawab pertanyaanku mas.. " ucap Wanita yang dipanggil bagas desy itu. "Disana.. putri kita disana.." Ucap bagas seraya menunjuk keyla yang sedang asyik bersorak. "Oh.. kupikir dia merengek minta untuk pulang.. Haahhh.. disini panas sekali" Ucap desy lalu menarik rambutnya hingga terlepas. aliza menatap rambut hitam itu dengan mulut menganga. "W-wig ?" ucap aliza tanpa sengaja. "Oh.. halo.. " Ucap desy yang baru menyadari keberadaan aliza . "Perkenalkan, dia istriku. desy.. " Ucap bagas yang membuat aliza mematung. "Nah desy, ini aliza .. Kau sudah tahu bukan ?" Ucap bagas yang tak berniat untuk bercerita panjang lebar. "aliza ? aliza .. Ohh ! Wanita yang membuat arka Jones ya ?!" teriak desy riang "Jones ? " beo bagas bingung. Sedang aliza sendiri sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri. Ia terlaku syok saat mengetahui jika desy ternyata istri bagas. "Apa itu semacam selai ?" Tanya bagas tak mengerti. "Cari di google" ucap desy lalu menyentil dahi suaminya. "Oh ya aliza , apa selama tiga hari ini arka menginap dirumahmu ? Kau tahu, Aku khawatir kamarnya jadi berdebu karena ditinggal begitu saja. Salahnya yang tak mengizinkan pelayan masuk kekamarnya untuk bersih-bersih" Ujar desy sambil memainkan rambut hitamnya. "Jujur saja aku khawatir padanya.. Aku belum pernah melihatnya tertawa semenjak kepulangannya dari belanda. Kupikir jika kau didekatnya dia sedikit lebih bisa berekspresi. Bukankah dia cinta mati padamu.. Kau tak perlu peduli dengan fakta yang akan kau dapatkan nantinya.. Tenang saja, aku dipihakmu " Ucap desy lalu menepuk bahu aliza sok bijak. aliza tidak mengerti. Namun apapun itu ia tak peduli. "Ayoo, mom! Main bola lagi!" teriak marchel yang membuat aliza menoleh. Heran, dari mana energi anaknya itu berasal.Ah sudahlah setidaknya ia bisa bebas dari topik yang dibencinya ini. "Sayang, apa marchel tidak lelah ? Belum ingin istirahat ?" Tanya aliza yang entah sejak kapan berada didepan marchel . Menyeka keringat diwajah putranya dengan tissu yang diambilnya dari tas miliknya. marchel tersenyum lalu mengangkap jempol kanannya. Lagi putranya itu menggiring bola , melanjutkan permainan itu hingga seluruh peluhnya kembali mengucur . Meskipun cahaya mentari mulai terang, dan saat ini sudah mulai membakar kulitnya, ia masih saja memburu bola itu. Ia masih saja ingin merobek gawang itu berkali-kali. Dan ya, Sekali lagi " gooool!" teriak keyla dan marchel berbarengan. aliza mengangkat kedua jempolnya kedepan menyemangati putranya. Peluh semakin deras saja mengalir di tubuh bocah kesayagannya. Kaos putranya yang berwarnah merah itupun nampak mulai basah kuyup dan celadanya yang pendek sudah mulai kusut dan basah. " Capek ! aku mau minum Jus wortel ." katanya. "Ya sudah ayo kita supermarket.. sekalian mommy ingin membeli kebutuhan dapur" ucap aliza yang kini menggandeng tangan putranya. Ia pergi tanpa pamit pada bagas dan desy . Ia tak peduli. sungguh tak peduli. desy menatap suaminya penuh tanda tanya. "Apa yang kau sembunyikan dariku ? " Tanya desy yang kini menatap suaminya dengan tatapan tajam. Setelah itu ia menatap punggung marchel hingga sosok aliza dan marchel menghilang. . . . "mom..," tangannya menggapai-gapai udara, berusaha mengejar seseorang di depan. Kaki-kaki kecilnya semakin memburu. Hampir saja terjatuh. "Iya, sayang.. pelan-pelan jalannya. mommy gandeng tanganmu, ya," ucap seseorang dengan suara yang lembut. marchel sangat senang kesuper market. Baginya berkunjung kemari berarti ia akan mendapatkan seplastik coklat yang tidak terlalu manis dan sekeranjang buah wortel . Tangan mungilnya mengayun-ngayun mengikuti langkah kaki sang mommy. "mom.... aku mau wortel ya, itu yang di cana!" pinta marchel sambil tersenyum cerah. Vokalnya yang masih cadel membuat aliza tersenyum kecil memandang wajah putra sulungnya itu. aliza jadi teringat janjinya pada marchel tentang wortel kalau marchel mau membantu mencuci piring tadi pagi. "Iya, sayang. mom belikan. Ayo kita ke sana, pelan-pelan ya jalannya," jawab aliza yang menyambut baik keinginan putra tampannya itu. Sesampainya dirak buah, marchel dengan asyiknya memilih buah segar kesukaannya. Namun tanpa sengaja mata birunya melihat kearah kanan. Dimana tempat cokelat berada. Tanpa mengundur banyak waktu ia langsung menghambur ke dalam mencari-cari letak cokelat yang diinginkannya. Serius sekali, seperti seseorang yang sedang menjalankan misi penting. Rak demi rak ia lalui, matanya melirik kesana kemari awas melihat kalau-kalau ada makanan favoritnya di sana yang bergambar singa berwarna kuning. Saat berbelok menuju rak lainnya, matanya menangkap benda itu, Cokelat favoritnya. marchel tersenyum lebar. Senang sekali, tangannya yang kecil dengan mudah menggapai permen itu yang berada di rak paling bawah. "mom.. ketemu! Cokelat marchel ketemu, mom," seru marchel girang. Ia menengok ke kiri dan ke kanan mencari sosok mommynya , "mom..?" aliza berputar-putar. aliza tidak ada di sana, "mom di mana?" senyumannya berubah menjadi panik, marchel terisak-isak sambil berjongkok memanggil-manggil mamanya. Tiba-tiba seseorang mengelus lembut kepalanya, "Hei.. ini mommy sayang," Ia mendongakkan kepalanya, tangisnya makin menjadi, "mommyy!, hiks.. hiks.. hiks..." marchel segera memeluk tubuh aliza yang kini berjingkok menghadapnya. Ia tak ingin jauh dari mommynya . Tangan lembut itu sekali lagi mengelus kepalanya penuh kasih, "Iya, iya, mommy di sini. Lain kali jangan jauh-jauh dari mommy, ya. Jalannya pelan-pelan," ucap aliza yang kini pandangannya sejajar dengan marchel kecil. marchel kecil tersenyum lebar mengangguk dengan sesengukan. Begitupun aliza sambil menyeka ingus dan airmata di wajah anak kesayangannya. "Puyang.." ujarnya lebih cadel dari biasanya. Ok ok. Jika sedang manja anaknya memang kadang seperti ini. "Kita bayar dulu belanjaannya lalu pulang.. mengerti ?" "Ummm.." marchel mengangguk lalu meringkuk dalam pelukan mommynya yang kini menggendongnya sambil mendorong troli. . . . aliza , menatap handphone ditangannya sambil sesekali tersenyum. marchel sendiri sedang asyik mengunyah wortel yang telah direbus tadi yang dimasukkannya kedalam keranjang ibunya tadi siang. Ya benar tadi siang. Karena sekarang sudah malam. Bahkan sebentar lagi sudah sampai jam sepuluh malam. Salahkanlah putranya yang seharian ini kelewat aktif. Ia ingin bermain dipasar malam. Menaiki beberapa wahana tanpa sadar jika neneknya dirumah paati sudah tidur. Keinginannya untuk pulang teredam setelah melihat Mall bertingkat dan beberapa hal lainnya. Dasar bocah. "Ah.. Anak mom tampan sekali" pekik aliza senang. Saat ini keduanya sedang asyik duduk dihalte sambil menyeruput minuman yang aliza pesan dikafe sebrang. "mom liat apa cih ?" tanyanya kepo "Fotomu pagi tadi.. lihat" aliza memperlihatkan foto marchel yang sedang asyik bermain pasir. Ya sebelum main bola marchel memang bermain pasir . Anaknya itu terlalu takjub melihat taman saat datang pertama kali. "mom.. fotonya jelek" ucapnya dengan bibir mengerucut. Dengan lincahnya jari jemari mungilnya menekan layar lalu berhasil. Ya sikecil berhasil menghapus foto miliknya dari galeri sang ibu. "Oh tuhan.. marchel .. apa yang kau lakukan !" jerit aliza syok marchel hanya tersenyum lalu menggeser layar guna melihat fotonya yang lain. "hehehe. tidak begitu buluk" katanya lalu kembali menggeser layar hanphone milik ibunya. Ia menepuk-nepuk lengan aliza meminta perhatian. "mom .." panggilnya "Hum..?? ada apa ?" "Tadi mama janji ingin beliin inikan ?" tanyanya memastikan. Tadi ia dan sang ibu memang sempat menuju mall. Ibunya membeli beberapa pasang baju untuknya dan untuk neneknya dirumah. "Iya.. mom janji.. Tapi marchel jarus janji jadi anak yang baik" Ucap aliza "Umm.. janji !" sorak sikecil riang. marchel kembali menatap layar hp ibunya. Namun sepertinya ada telepon yang masuk. Dilayar itu terpampang foto tasya . Teman manis ibunya yang suka tertawa. "aunty tasya..." ucapnya lalu menyerahkannya pada sang ibu. aliza menatap hanphone miliknya dengan kernyitan. "Halo.. ada apa tasya ?" Tanya aliza setelah menggeser layar hpnya untuk menerima telephone. 'Bisakah kau segera kemari ?' Ucap tasya disebrang sana . "Ada apa ? kenapa suaramu terdengar begitu lemah ?! apa yang terjadi tasya ?!" aliza bertanya panik. 'Aku ada dikantor. jika kau tidak sibuk, ku mohon kemarilah dan bantu aku' "Hei bisa kau jelaskan ? ada apa ?! kenapa-" tut tut tut "tasyaaaaaaa!" bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN