AKU PUNYA DADDY

2766 Kata
"mommyyyyyyyyyyyyyyyyy !!" Teriak seorang anak kecil dengan wajah cerianya. Anak itu marchel . Si kecil dengan penuh semangat menerjang sang ibu dengan pelukan hangat. Untuk seperkian detik wajah aliza berubah pias. Jantungnya berdetak dengan sangat keras. Tidak ! ia tidak ingin ini terjadi. Bagaimana bisa marchel berada diwilayah terlarang ini ? Ia tak ingin keluarga marhesa sampai melihat mini arka. aliza tahu betul jika keluarga marhesa tahu, anaknya akan direbut paksa darinya. Sungguh aliza tak ingin sampai itu terjadi. 'Jangan sampai ada yang melihatmu nak' batinnya lalu berjongkok memeluk tubuh mungil putranya yang sangat menggemaskan. aliza memandang putranya dengan senyum hangatnya. Melihat wajah putranya membuat aliza mengingat sosok lelaki yang baru saja ditemuinya. Astaga! dia baru ingat jika ia baru saja meninggalkan arka . Ah semoga saja arka tak mengejarnya. Tidak untuk hal yang terakhir itu pintanya dalam hati. "A-apa maksudnya ini.." Ucap seseorang tepat dibelakang aliza . Oh tuhan, suara itu, suara bariton itu . Demi Tuhan. Mengapa kali ini saja Tuhan tak mengabulkan doanya. Diantara banyak orang yang tak ingin ditemuinya kenapa harus arka ? kenapa harus ayah dari anak yang dilahirkannya ? Tak tahu jika reaksinya kurang lebih sama dengan sosok yang dipikirkannya. Lihatlah, lelaki itu bahkan tak mampu dibuat berkata-kata. Rasa lelah karena mengejar aliza hingga kemari tak lagi dirasakannya. Semua itu terganti dengan rasa keterkejutan. "mommy.." ucap marchel lirih saat merasakan dekapan ibunya yang begitu erat. Suara anak itu membuat arka tanpa sadar meneteskan air matanya. Entah bagaimana mengambarkan perasaannya saat ini. Yang ada dipikirannya adalah sosok anak kecil yang merupakan duplikatnya. Benar-benar duplikatnya. Anaknya. Oh Tuhan anaknya. "A-Aliza.. A-anak itu.. A-aku.. " arka tak mampu melanjutkan ucapannya. Tubuhnya berkeringat dingin. Mulutnya setengah terbuka dengan keadaan bibir yang bergetar. Ia tak mungkin salah. Ia tak mungkin salah melihatkan ? anak itu mirip dengannya. aliza hamil ? aliza selama ini menyembunyikan fakta akan itu ? Ia tidak hanya merusak orang yang dicintainya. Tapi juga meninggalkan benih untuknya. Tidak hanya itu, ia bahkan meninggalkan aliza tanpa tahu apa-apa. Oh Tuhan betapa mengerikannya dia. "M-mommy.." marchel kembali memanggil sosok sang ibu yang masih memeluknya erat. Tubuh mommy terasa ingin remuk. Ia kepanasan dan nerasa sesak. "aliza ... " panggil arka dengan suara lirih. Meminta penjelasan dari aliza . "mommy.. S-sakit.." cicit arka yang membuat arka sungguh merasa hangat dihatinya. Suara anaknya. Suara putra tampannya. "maaf sayang .." ucap aliza lalu melepas rengkuhannya. dengan tangan gemetar ia mengelus kening putranya yang mengeluarkan beberapa bulir keringat. Tak ada gunanya merahasiakan ini. arka sudah melihat semuanya. Ukh apa setelah ini ia akan kehilangan anaknya ? bagaimana jika arka merebut putranya dari pelukannya ? "Boleh aku mem-" "Kau tidak punya hak untuknya.. dia.. dia anakku!" ucap aliza dengan suara gemetar. Entah mengapa mata coklatnya jadi memanas. Ia tak ingin mendengar suara arka . "aliza !! Ah maaf aku tak tahu jika marchel sudah turun terlebih dahulu untuk menem-" kinan yang baru saja datang tak mampu meneruskan ucapannya tak kala melihat Sosok arka dibelakang aliza yang mana Saat ini aliza sedang berjongkok dihadapan marchel . Wanita itu menyentuh pundak putranya yang menatap sedih kearah ibunya yang saat ini menangis. Demi apapun, ia telah membuat masalah dengan datang ditempat ini. Niat awal ia hanya ingin menjemput aliza . Namun tanpa diduganya, marchel keluar dari mobilnya tanpa disadarinya. "M-mommy..?" lirih marchel lalu menghapus jejak air mata sang ibu yang sangat disayanginya. "K-kenapa menangic..?? ukhh a-pa kalena aku nakal ? " tanyanya polos. Pipi gembulnya memerah . Air mata sicilik sudah menggenang dipelupuk matanya. "aku janji.. nggak nakal lagi.." ucapnya lalu memeluk leher ibunya yang saat ini berjongkok dihadapannya. Dalam dekapannya sikecil mendongak. Iris birunya bertemu dengan iris yang diwariskan dari sang pemilik. "daddy..?" beonya dengan kepala miring kekiri. Dada arka bergemuruh. Dengan langkah besar ia segera mendekati dua matahari dihidupnya. GREBB Tubuh aliza menegang merasakan kehangatan dari seseorang yang kini mendekapnya dari belakang. Kehangatan yang tak diinginkannya. "A-apa yang kau laku-" "Sebentar saja.. Kumohon" bisik arka lalu mempererat pelukannya untuk merengkuh dua orang kesayangannya. arka tak peduli lagi dengan pandangan bawahannya yang saat ini melihatnya memeluk seorang wanita dan seorang bocah menggemaskan yang merupakan duplikatnya. "d-daddy.. ?" ucap marchel lirih seakan menunggu kepastian. "Ya nak-" jawab arka dengan bibir bergetar. "Ini daddy.." lanjutnya yang membuat Naruto menangis tersedu-sedu. "Hiks.. " aliza menyeka air matanya . lalu menundukkan wajahnya dengan bahu yang bergetar. "Benalkah ? cungguh ?" Tanya sikecil dengan wajah berbinar. "Umm.. mommy..?? " tanyanya meminta kepastian sang ibu yang saat ini menangis. "Iya..-" Jawab aliza lalu mengusap pipi basahnya lalu mendongak " Dia daddy.. daddy marchel " lanjutnya dengan senyum dipaksakan. Ia akhirnya mengatakannya. Ia tahu betul jika selama ini anaknya membutuhkan sosok ayah. Sosok yang tak bisa diberikannya. "daddy.. daddy" ucap sikecil dengan senyum yang teramat cerah. "aku punya daddy!" teriaknya lalu melepas pelukan ibunya sekaligus pelukan ayahnya. aliza dengan cepat menyingkirkan tangan arka lalu berdiri. Tak lupa menyingkirkan sedikit tubuhnya lalu menatap sang putra yang kini sepertinya melupakannya karena terlalu senang setelah mengetahui sosok ayahnya. Entah sejak kapan arka saat ini sudah berdiri. Lelaki itu tersenyum , menatap balik sang bocah cilik yang kini menatapnya dengan mata berbinar. aliza sekali lagi dibuat menangis saat melihat arka merentangkan kedua tangannya , siap menerima tubrukan dari anaknya. Dan Huppp Ia dengan begitu jelas dapat melihat raut bahagia putranya yang saat ini berada dalam gendongan arka. "daddy!!" Teriak marchel yang kini tertawa , memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Hm.." "daddy!!" "hm" arka kembali menjawabnya dengan trademark andalannya. Tapi jangan salah, wajah yang biasanya hanya memperlihatkan mimik dingin itu kini tersenyum dengan sangat tulus. Bahkan para pegawai yang melihat hal itu dibuat takjub karenanya. Ini pertama kali bagi mereka melihat senyum sang atasan. "daddy!!" panggil sibocah seakan tak bosan. " hm.. Ada apa jagoan ? " arka bertanya lalu mencium pipi gembul putranya. Suatu kesyukuran. aliza merawat putranya dengan sangat baik. Lihatlah, ia tak perlu ragu jika kebutuhan nutrisi putranya tak terpenuhi. "aku punya daddy hehe" ucapnya sambil menyentuh kedua pipinya. Ia melirik ayahnya yang kini balik menatapnya. "daddy .." panggilnya lirih "Ya sayang.. Ada apa..?" Tanya arka khawatir melihat wajah sendu putranya. Ia takut jika putranya kesakitan karena sesuatu. "daddy jangan pelgi.. jangan tinggalin aku lagi.." ucapnya lalu bersembunyi diceruk leher sang ayah yang kini membeku. kinan mendesah lirih lalu menatap aliza yang kini masih saja menangis. Ia yakin jika sebentar lagi kantung mata aliza akan membengkak. "Kenapa diam ? daddy mau pelgi ? gk mau cama aku ? " tanya sikecil yang kini memeluk leher arka semakin erat. "marchel ingin sama daddy ?" tanya arka lembut. "Ummm" jawab sikecil disertai anggukan. Jawaban yang membuat arka lagi-lagi tersenyum. Putranya benar-benar menginginkannya. "Tidak !!" teriak aliza menyela. arka menatap aliza dengan pandangan sedikit menajam. marchel menekuk bibirnya lalu memilih memeluk kembali leher sang ayah. Ia tak mau pisah dari ayahnya. "marchel tidak boleh sama daddy !" Ucap aliza dengan suara meninggi. Ketakutan membuat aliza tanpa sadar mengeraskan suaranya untuk pertama kalinya. "aku mau daddy hiks.." ucap marchel dengan tubuh bergetar yang kontan membuat arka refleks menepuk punggung putranya. "daddy akan membujuk mommy..jangan menangis" ucap arka lalu menatap aliza yang kini mengepalkan kedua tangannya. "Kemarikan Anakku!!" teriak aliza yang kini melangkah mendekat kearah arka . Ia meraih tubuh marchel paksa. Namun marchel masih kukuh memeluk erat leher sang ayah yang baru saja dijumpainya. "Hiks.. daddy.. " isak Menma "marchel !! lepas!! ayo ikut mommy!" teriak aliza memaksa marchel yang bersikeras tak ingin pisah dengan arka . "aliza !" tegur arka lalu menyingkirkan tangan aliza . Bukan karena apa. Putranya pasti kesakitan. Meski ia tahu jika marchel melakukan itu tanpa sadar. Wanita dicintainya itu terlalu larut dalam emosinya. "Kenapa menghentikanku! Dia anakku ! lepaskan !" aliza kembali memaksa marchel "Dia juga anakku !" Ucap arka yang saat ini meninggikan suaranya. "Hah ? Hahahah.. Ya kau benar" Ucap aliza dengan tawa hambarnya. Ditatapnya arka dengan pandangan tak suka. " Kau ayahnya.. tapi kau tak memiliki hak atasnya.. Kuperingatkan kau aliza . Ini adalah kali pertama dan terakhir untukmu menyentuhnya. Setelah ini, jangan berharap kau bisa menemuinya kembali !" lanjut aliza dengan penuh penekanan. "Kau tak punya hak untuk itu !" teriak arka murka "Dia juga anakku aliza ! aku ayahnya dan kau tak memiliki hak untuk menjauhkannya dariku !!" arka memeluk marchel erat. Ia benar-benar tak ingin berpisah dari putranya. Sudah cukup ia tak ikut andil melihat pertumbuhan putranya saat lahir hingga kini. Apa aliza sudah gila ? Memisahkan anak dan ayahnya. Yang benar saja ? pikirnya tak terima. "Kau ! Sadarlah arka ! Siapa kau hah ? Siapa kau sampai berani meneriakiku ? Menyudutkanku dengan meninggi-ninggikan posisimu ! berteriak , mengatasnamakan hak yang tak kau sadari apa kau memang berhak untuk itu atau tidak. Kau memang ayahnya, aku tak bisa menepis fakta itu. Tapi kau- !!!" teriak aliza memotong ucapannya. Ia menatap arka tajam. Tatapan yang membuat arka terdiam menunggu lanjutan dari perkataan ibu dari anaknya itu. "Kemana saja kau selama ini ? Kau menodaiku ! Membuatku hamil ! Meninggalkanku ! menghilang tanpa jejak ! membuatku putus asa ! Kau membuatku harus memikul semua itu ! Menjadi ibu sekaligus ayah untuk keluargaku ! Menjaga marchel dalam kandungan ! Merawatnya setelah lahir ! lalu kau ? Kau datang , membicarakan hak mu atasnya . Setelah semua itu , kenapa ?! kenapa kau masih berani mengatakan itu padaku?! Hak apa arka ?! Hak apa yang kau punya ?! " teriak aliza yang saat ini dikuasai amarah. Para pegawai yang kebetulan berlalu lalang dilantai bawah menatap mereka sambil berbisik-bisik. Satu fakta yang baru mereka ketahui, Jika boss mereka memiliki sejarah yang buruk dimasalalu. kinan menyentuh tangan aliza lalu menggenggamnya dengan erat . Meminta agar aliza segera menguasai diri. Ia tak sanggup melihat wajah pias arka . "Maaf.." Ucap arka yang kini menundukkan wajahnya. Baik aliza dan arka kini larut dengan emosi masing-masing. marchel terus menangis sesegukan dipunggung leher ayahnya. Ia tak tahu apa yang orang tuanya bicarakan. Ia hanya tak suka jika daddy dan mommynya bertengkar. "Maafkan aku.." seru arka kembali. kinan jadi tak enak hati. arka , Sahabat suaminya yang dikenalnya tumbuh dengan arogansi yang begitu kental. Kini meminta maaf . Mata pria itu memancarkan kesedihan. Hal itu jelas terlihat. "Maaf ??" dengus aliza "Kau tau arka .. Stok maafku benar-benar sudah habis karenamu.. Ya aku memang sudah memaafkanmu. Tanpa kau mintapun aku sudah memaafkanmu.. Bukankah aku terlalu baik ? " ucap aliza lalu memalingkan wajahnya. Ia memang tidak melirik wajah arka sejak lelaki itu muncul. "Tapi-" aliza kembali menjeda ucapannya. "Aku tak bisa melupakan apa yang sudah kau perbuat.. aku benar-benar tak bisa melupakannya meski aku ingin.." Aku aliza jujur. Entah mengapa air mata aliza kembali sembab. "Apa yang kau lakukan.. Hiks.. beban yang kupikul.. Itu terlalu berat hiks.. " Ucap aliza lalu menggigit bibir bawahnya. "Tak peduli jika aku tersakiti.. Aku tak masalah jika hiks aku saja yang menderita.. Tapi hiks.. karena kehamilanku, mama juga ikut dicemoh.. " Aku aliza "Maaf.." lagi arka meminta maaf dengan wajah ah kinan tak mampu membahasakannya. "Tak peduli jika orang-orang mengataiku wanita panggilan, tak tahu malu, wanita kotor hiks.. Tapi jika mama juga ikut terseret ahh itu benar-benar membuatku merasa terpukul.. bahkan hiks.. marchelpun kadang menjadi sasaran orang-orang.. Tak ada anak seusianya yang ingin menemaninya bermain.. Semua itu karena wanita yang kotor ini.. semua karena ku hiks yang hina ini arka !" Teriak Naruto yang kini memukul dadanya yang sesak. "Maaf.." arka semakin menekuk wajahnya "Lalu.. Kau ingin merebut marchel ? matahariku ? satu-satunya yang berhasil membuatku bertahan untuk hidup didunia ini ?" tanya aliza "Kau kejam..hiks.." kinan terdiam lalu ikut menyeka air mata miliknya. Entah mengapa ia juga malah ikut menangis. Ini salahnya. Salahnya karena nekat menjemput aliza dan membuat sahabatnya berakhir seperti ini. Disatu sisi ia kesal pada arka dan mendukung aliza . Tapi disisi lain ia malah mengasihani sahabat suaminya itu. Ekpresi yang ditunjukkan arka benar-benar membuatnya ingin pergi dari tempat ini sekarang juga. Ia tak sanggup melihat kesedihan dan raut penyesalan arka . 'Tak bisakah aliza mengizinkan marchel bersama arka sehari saja ? aku yakin arka juga merindukan anaknya. Apa lagi mereka baru saja bertemu' batin kinan "aliza .." panggil kinan lalu menepuk bahu sahabatnya yang masih melanjutkan tangisnya. "Bisa bicara denganku sebentar..??" tanya kinan "marchel ...?? bagaimana dengan marchel ?" lirihnya "Kau tega memisahkan anak yang beberapa menit yang lalu baru saja menjumpai ayahnya selama hidupnya ?" ucap kinan lalu melirik arka yamg sepertinya masih memikirkan ucapan aliza yang membombardir perasaannya. "Aku janji, marchel akan kembali padamu.. Kau ibunya bukan ? Tak peduli betapa rindunya ia pada arka . Kau tetaplah orang pertama yang paling disayanginya" ucap kinan sambil tersenyum. Ditepuknya bahu aliza berulang kali. Semoga saja aliza mengerti maksudnya. "Tapi aku -" aliza menghentikan ucapannya setelah menatap wajah arka . "a-arka.." aliza berujar lirih. Apa ia terlalu berlebihan ? arka mendesah. Menutup matanya dengan tangan kirinya yang menganggur. Setelahnya ia mengelus punggung putra kesayangannya. Bodohnya ia karena meneriaki aliza . Berbicara tentang hak . setelah semua luka yang telah ia berikan, sungguh ia baru tersadar . Bahkan ia dengan tak tahu malunya menampakkan wajahnya dihadapan aliza . "Ayo jagoan.. mommy mu sudah ingin pulang " ucap arka pada marchel yang masih sesegukan dilehernya. Pulang ? meski sekarang masih jam kerja ?aliza terdiam. Lalu menatap arka sendu. "Mau sama daddy.." ucap sikecil keras kepala. "Anak daddy tak kasihan pada mommy.. ?? mommy belum makan loh.. nanti mommy sakit. Bukannya kalian ingin makan bersama ?" bujuk arka . aliza tahu jika arka berat melepas putra mereka. Ia tahu betul betapa arka tak rela lepas dari marchel . Namun mau tak mau arka harus melakukannya karena tertekan dengan ucapan yang dilontarkan dirinya. Apakah ia jahat ? "aku cayang mommy.. mommy enggak boleh cakit papa" ucapnya yang kini tidak lagi bersembunyi dileher sang daddy. Mendengar penuturan putranya, aliza tak mampu menyembunyikan senyum bahagianya. "Tapi daddy haluc ikut ne ?" ucapnya dengan senyum manisnya. Lupakan pipi merah dan mata berair putranya yang habis menangis. "Maaf.. daddy tidak bisa ikut" sesal arka yang membuat marchel menatapnya kecewa. "Kenapa ?" tanya sikecil dengan mimik sedihnya. 'Karena mommy mu tak menginginkan kehadiranku sayang' batinnya sedih "Pekerjaan daddy sangat banyak..daddy harus mengerjakannya" ucap arka yang tak sepenuhnya bohong. Setelah kemunculan aliza , ia memang banyak menelantarkan dokumen-dokumen di meja kerjanya. "aku mau daddy .." rengeknya. "Ayo kita pulang marchel .."ajak aliza "Tidak ! aku mau sama daddy !" teriaknya tak setuju. Airmatanya lagi-lagi menggenang. "marchel ..." tegur ark5 penuh perhatian. Ia mengecup kening, hidung, pipi kanan kiri putranya. "mommy sudah lelah menunggu.. marchel sayang mommy kan ?" bujuk arka lagi "Cayang daddy juga!" ucapnya tak sepenuhnya setuju dengan ucapan sang daddy. "Ya ya anak pintar.. kalau begitu marchel harus mendengar mommy dan daddy .. Ayo ikut mommy.. " Baru kali ini bagas dapat melihat sisi lain dari adiknya itu. bagas ? ya benar. Sejak tadi ia memang sudah berada tak jauh dari tempat arka . Saat asyik-asyiknya bermesraan dengan wanita kesayangannya, resepsionis tiba-tiba mengganggu kesenangannya . Untung saja berita yang disampaikannya itu tentang hal ini. Jika hanya soal pekerjaan, bagas pasti sudah memecatnya. "Biarkan ia bersama arka , aliza " bisik kinan tak tega "daddy .." lirih marchel "Kenapa hum ?" "daddy benal tidak akan pelgikan ? cama-cama aku teluc kan ?" tanyanya yang membuat tubuh arka membeku. Diam-diam ia melirik aliza yang kebetulan juga menatapnya. "Itu.." arka tak mampu melanjutkannya. Ia menatap aliza yang mengambil marchel dari gendongannya. "mommy.. daddy tidak akan pelgi lagikan ?" tanya marchel penuh harap. "marchel tidak boleh bertemu dengan daddy lagi.. " ucap aliza kukuh "Kenapa ! aku mau daddy !" "Apa mommy belum cukup ?" tanya aliza putus asa. Bodoh. kenapa ia bertanya begitu pada anak kecil ? Anak sekecil marchel mana mengerti. marchel menggigit bibir bawahnya lalu memeluk leher aliza . "Mau daddy .." lirih sikecil "c-cayang mom.." "Kita pulang ?" Tanya aliza "Ummm.." marchel mengangguk lalu kembali menyembunyikan wajahnya. aliza mendesah lega. Sulit dipercaya. marchel mengerti perasaannya. Atau mungkin tidak ? Hanya marchel yang tahu. aliza melangkah pergi tanpa pamit. kinan ikut bersamanya setelah pamit pada arka . marchel ? Anak itu mengangkat sedikit wajahnya. Ia menatap sang daddy dibelakang sana. Sosok daddy yang hanya mampu tersenyum paksa kearah sang putra. Sikecil hanya mampu menukikkan bibirnya kebawah. Berusaha menahan air yang siap tumpah kapan saja. bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN