arka menatap pantulan wajahnya dalam diam. Ada begitu banyak emosi yang tergambar diwajahnya. Cemburu, kesal, rindu dan kecewa. Cemburu, cemburu karena aliza kini memiliki lelaki yang mendampinginya, setidaknya itu menurut porspektifnya. Sialnya ia harus mendengar nama itu bahkan sampai dipagi hari sekalipun. Tak tahu jika hal itu sangat memengaruhi moodnya.
Kesal, bagaimana ia tak kesal jika setiap bertemu dengan aliza , yang didengarnya lagi-lagi tentang dia. Sebuah nama yang tak ingin disebutnya sekalipun.Demi apapun, ingin sekali ia merusak rumah tangga aliza dan merebut alizanya kembali. arka mengangguk-ngangguk dalam hati. Sedikit perih menggores hati dengan apa yang dipikirkannya tadi. Merebut aliza kembali ?
"Seakan aku pernah memilikinya saja.." Ucapnya merasa lucu dengan perkataannya sendiri. Jangankan untuk memiliki, membuat aliza tersenyum saja tidak. Tapi akankah ia menyerah ? Ia yang dulunya berjuang bahkan sampai tak bisa menghilangkan perasaannya hingga kini, haruskah ia berputus asa begitu saja ? lalu dengan usaha yang dilakukannya dulu akankah ia menyerah ? tak akan ! arka menggertakkan giginya dengan tangan terkepal. Ia bertekad tak akan kalah dengan pria yang telah berani mengikat janji suci dengan alizanya. Tak akan.
Rindu, s**l. Setelah bertahun-tahun mencari sosok aliza bahkan sampai membuatnya frustasi, kini aliza muncul kembali . Tidak hanya itu, aliza muncul dihadapannya, tak jauh dari jangkauannya. Hangat, kehangatan itu kembali menyelimuti perasaannya. Tuhan memang adil pikirnya.
Ingin rasanya ia merengkuh aliza . Memeluknya, membenamkannya dalam pelukan, menghirup aroma yang sangat disukainya. Mencium setiap jengkal wajahnya. Namun dengan sialnya ia kembali harus tertampar dengan kenyataan yang begitu menyakitkan. Wanita yang ia cintai kini telah berstatus sebagai istri dari orang lain dan itu bukan dirinya.
Cukup berat, bahkan sangat berat untuk mengakuinya. Ia tak bisa menerima itu. Bahkan ia sampai membanting barang apa saja yang berada disekitarnya saat mengingat kenyataan yang ada. Seperti saat ini mungkin ? ya contoh kecil.
Kecewa, kecewa pada dirinya yang yang tak mampu berbuat apa-apa. Kecewa pada dirinya sendiri yang tak mampu tersenyum saat mengetahui kenyataan bahwa orang yang ia cintai kini telah tak mungkin dijangkaunya. arka menggeram lalu mendesah frustasi. s**l. Itulah yang dipikirkannya.
Haruskah ia menyesal setelah apa yang telah terjadi ? Ia gagal mendapatkan aliza hanya karena kecerobohannya dan keegoisan orangtuanya.
Tidak ! ini bukan salah mereka. Ini salahnya sendiri yang telah menjanjikan sesuatu yang pada akhirnya hanya merugikan dirinya sendiri. Mungkin tidak sepenuhnya, karena permintaannya itulah yang justru membuatnya bertemu dengan aliza .
Haruskah ia menyesali permohonannya saat itu dimana ia meminta pada kedua orangtuanya untuk bersekolah di belanda ? Karena saat itu ia berjanji jika orang tuanya mengabulkan permintaannya, ia akan memenuhi permintaan ayahnya. Apapun itu. Karena alasan itu pula ia terpaksa mengikuti perintah ayahnya yang saat itu memintanya pulang karena sebuah insiden yang bahkan sangat ingin disesalinya saat kini.
Namun , pilihannya untuk bersekolah di belanda lah yang membuat ia ditakdirkan bertemu dengan belahan jiwanya. Jadi pantaskah ia menyesalinya ?
arka mendengus lalu merapikan tatanan rambutnya yang menurutnya sedikit berantakan. Setelah yakin tampilannya sudah benar, iapun berjalan menuju pintu.
" A-ah pak arka" Ucap karyawan pria lalu membungkukkan tubuhnya sopan. arka tak perlu bertanya mengapa karyawannya berada dihadapannya. Ini salahnya yang entah mengapa terdampar ditempat ini padahal ia memiliki ruang khusus tersendiri. Mungkin karena larut dalam memikirkan aliza ia jadi tidak terkontrol seperti sekarang ini. Memasuki toilet untuk para karyawan. Menyedihkan.
"hm" Hanya trademark miliknya yang menjadi sahutan. Seperti biasa, ia tak pernah melepas topeng dinginnya.
Sampai kapan ia akan terus menjadi lelaki yang menyedihkan ? Sepertinya dalam waktu dekat ini ia harus mencari jalan untuk membuat aliza jatuh dalam genggamannya. Tapi bagaimana ? aliza sendiri malah meminta agar ia melupakan semua yang telah terjadi diantara mereka. arka bahkan sudah melakukannya pagi tadi. Mendiamkan aliza dan menganggapnya sama seperti karyawannya yang lain. Meski sungguh, ia sangat tersiksa karenanya. Alasan apalagi yang bisa digunakannya untuk mendekati aliza ? baru saja ia berfikir keras, sepertinya ia tak perlu berpikir terlalu jauh . Lihatlah sosok yang dipikirkannya kini berada dihadapannya. arka menatap punggung kecil aliza yang sedang berdiri dihadapan ruangannya.
Sedangkan aliza sendiri terlihat sibuk dengan dunianya sendiri. Terlalu larut dalam pikirannya sehingga ia tak menyadari sosok dibelakangnya.
"A-apa yg mereka lakukan! " bisik aliza dengan tangan bergetar.
Demi Tuhan, aliza bisa melihat jika wanita berambut kuning yang menolongnya tadi kini berciuman dengan bagas. Oh Tuhan! ini gila ! bukankah wanita itu istri arka ? Jahatnya bagas ,pikirnya.
Bagaimana mungkin bagas malah menghianati adiknya sendiri ?
Apa yang akan dikatakan arka jika lelaki itu tahu perbuatan bekat istri dan kakaknya itu ?
"Apa yang kau lakukan ?" tanya seseorang dibelakangnya. Yang tentu saja adalah arka .
aliza berbalik dengan wajah horornya. Astaga demi Tuhan, kenapa sosok ini malah ada dihadapannya ? bagaimana jika arka melihat istrinya sedang berciuman dengan kakaknya sendiri ? Apa yang harus dilakukannya ?
"aliza ?!" arka kembali menyadarkan arka dengan panggilan khasnya.
"A-arka ? ahahaha" aliza tertawa canggung bercampur bingung yang tentu saja menuai kerutan membingungkan bagi lelaki dihadapannya.
arka tak perlu bertanya untuk apa aliza keruangannya sebab ia dengan jelas dapat melihat kopi yang dibawa aliza .
"Untuk siapa ?" tanya arka seraya melirik kopi ditangan aliza . aliza sendiri kini sedang dilanda kebingungan akan tindakan yang harus dilakukannya. Ia takkan tega melihat arka sakit hati. Meski arka jahat padanya, aliza tak sampai hati untuk melihat kesedihan arka jika lelaki itu harus melihat istrinya bermain serong dibelakangnya. aliza tersenyum kecut lalu membulatkan tekad untuk menyeret arka pergi.
"A-ah untukmu.. Y-ya untukmu.. umm A-ayo ehh i-itu maksudku A-ano-" aliza berujar gugup . Bohong sekali jika itu untuk arka. Ah sepertinya ia sebentar lagi akan menerima amukan dari ella .
"Bicara yang benar" Ucap arka dengan wajah datarnya. Meski jauh dilubuk hatinya, ia berusaha menahan diri untuk tidak memeluk aliza karena tingkah gugupnya yang entah mengapa terlihat menggemaskan dimata arka .
" A-ano..K-kalau kau tak keberatan.. Umm ekhemmm" aliza berdehem untuk menghilangkan groginya. Dalam hati aliza terus mengumpat karena harus melakukan semua ini.
aliza lalu menatap wajah arka dengan mimik wajah serius. Meski rona merah samar masih terlihat diwajah putihnya.
" Maukah kau minum umm Ekhem.. Maksudku ngobrol ringan denganku ?" tanya aliza dalam satu tarikan nafas.
'ayolah arka jangan menolak! ini demi kebaikanmu' aliza terus merapalkan kalimat itu dalam hati.
Sedang arka ? jangan tanya, Pria itu nyaris lompat. Meski ia tahu jika aliza menyembunyikan sesuatu darinya. Bukankah aliza memintanya untuk diperlakukan sama dengan karyawannya yang lain ? dan sekarang aliza memintanya untuk ahh~ arka tak ingin membahasnya. Yang jelas, ia sangat berterima kasih karena hal itu.
"Bagaimana ? " Tanya aliza takut. Apalagi arka belum menjawab ajakannya. Malu jugakan kalau sampai ditolak ?
"Hanya sebentar.. aku janji!" ucap aliza dengan cepat saat melihat arka berniat membuka suara.
'seumur hidupkupun aku rela aliza' batin arka gila
"hm.."
"Apa maksud hm mu itu.. Bicaralah yang jel-Ukhh" aliza berkata dengan ringisan yang tiba-tiba keluar dari bibirnya yang kontan membuat arka khawatir. Meski aliza sendiri tak menyadarinya.
"Ada apa ?" tanya arka dengan wajah teduhnya
"Umhh.. maaf, kurasa lebih baik kita cari tempat yang aman untuk mengobrol.. Umhh tanganku pegal ngomong-ngomong h-hehe" aliza berujar dengan wajah menahan perih
Mendengar kata tangan yang keluar dari bibir wanita yang dicintainya kontan membuat perhatian arka tertuju pada tangan aliza yang terlihat memerah menahan uap panas. arka mengumpat dalam hati melihat nampan besi yang berada ditangan aliza .
"Berikan padaku !" Tanpa babibu, arka meraih kopi ditangan aliza .
"B-biar aku saja hei ! " aliza berniat mengambilnya kembali namun arka menatapnya dingin.
"Apa yang kau pikirkan hah ?! mengapa kau memakai nampan ini bodoh ?!" maki arka lalu menyeret aliza pergi.
Kopi ? jangan tanyakan. arka membuang kopi tersebut kedalam tong sampah. Bukan cuman isinya, tapi gelas beserta nampannya sekaligus.
"Aku hanya melakukan tugasku! bu ella yang memyuruhku membawanya " aliza tentu saja membalas karena merasa tak terima.
"Kenapa kau menerima perintahnya begitu saja? kau bisa mengganti nampannya aliza " arka masih saja mengatainya. Menyeretnya kasar menuju Kafe perusahaannya.
"Duduklah!" perintah arka setelah sampai pada salah satu meja kosong.
"Hmmm" aliza hanya menggumam lalu mendudukkan bokongnya pada kursi yang arka tarik sebelumnya.
"Dasar tukang paksa.." Gumam aliza seraya menatap arka yang kini berjalan menuju salah satu pelayan dikafe tersebut. Entah apa yang mereka bicarakan, aliza tak ingin memikirkannya.
"Syukurlah.. Aku berhasil membawanya pergi.. tinggal menunggu waktu hingga istri arka pergi.." Ucap aliza lega.
Namun ekspresi lega aliza berubah putih setelah mengingat satu hal.
" T-tapi, Kapan Istri arka pergi ? Semuanya akan jadi sia-sia jika wanita itu tidak juga pergi saat arka kembali.. Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan ?!" pekik aliza dengan suara tertahan.
"Maafkan aku arka .." gumam aliza lalu merebahkan wajahnya dimeja.
"Maaf untuk apa ?" tanya arka yang tiba-tiba datang. Tak lupa dengan Semangkuk air dan juga sapu tangan ditangannya.
"E-eehhhhhh ! Sejak kapan kau ?!" aliza segera menegakkan tubuhnya dengan tampang horor
'Bagaimana jika arka mendengar ucapanku astaga!'
"Berikan tanganmu!" perintah arka yang membuat aliza menatapnya bingung
"Berikan tanganmu aliza !" perintah arka lagi.
"Untuk apa ?" ucap aliza sedikir sewot.
"Ck, terlalu lama" arka menarik kursinya guna untuk berada disamping tubuh aliza yang kini menatapnya.
arka meraih tangan kanan aliza lalu membasuhnya dengan lembut. Dingin, itulah yang dirasakan aliza . tangannya yang tadi berasa ingin melepuh kini menyambut baik rasa dingin yang menusuk kulitnya.
Setelah membasuh yang kanan, arka kemudian membasuh tangan aliza yang satunya.
"Kenapa kau melakukannya ?" Tanya aliza tak mengerti
"Bukankah semuanya sudah jelas ?" tanya arka balik.
"Tak ada yang jelas. Setahuku kau hanya lelaki b******k yang terus mempermainkanku.. itu saja tak lebih.. Atau kau punya maksud lain ? " arka berujar lemah lalu memalingkan wajahnya.
"Bukankah wajar jika aku khawatir dan peduli pada orang yang aku cintai ?" tanya arka dengan tatapan dinginnya.
"Hah ?" aliza hanya menanggapinya dengan mulut terbuka.
"Kau gila ya ?!" Ucap aliza lagi dengan suara meninggi.
" Hm"
"Ingat arka . Kau sudah memiliki istri.. berhentilah bercanda. Aku tak ingin orang lain mendengarnya dan mereka menganggap jika perkataanmu barusan itu serius." Ucap aliza lalu menarik paksa tangannya untuk terlepas dari genggamam arka .
Lihatlah, arka bahkan tak menanggapi ucapannya. Seakan membenarkan apa yang diucapkannya.
arka terdiam. Tak ada suara diantara mereka. Menitpun berlalu, arkapun membuka suara.
"Kau meragukanku ?" Katanya dengan nada putus asa
Sedang aliza hanya menanggapinya dengan memutar bolamatanya bosan.
Hingga suara telepon aliza yang begitu nyaring memotong aura tegang diantara keduanya.
"halo.." sapa aliza pada orang yang meneleponnya dosebrang sana.
" Hah ?! Astaga !! maaf kinan .. Aku tak melihat pesanmu. Aku sedang meladeni pria merepotkan saat ini?" Ujar aliza yang lupa akan keberadaan lelaki yang dimaksudnya.
"Pesanlah makanan terlebih dahulu. Aku akan berangkat sekarang" aliza kembali menyahut setelah mendengar balasan dari seberang sana.
"T-tidak perlu. Aku akan menyusul segera" aliza kembali membalas.
"Kau bersama marchel ?! " Pekik aliza horor. Namun dengan cepat aliza membekap mulutnya melihat eksistensi ayah dari anaknya itu berada dihadapannya dan jika aliza tidak salah lihat, ada tatapan tidak suka yang ditujukan lelaki itu padanya.
"H-hei ! tu-tunggu! " aliza berseru panik. Namun dengan santainya kinan memutuskan telfonnya.
"Kenapa dia begitu keras kepala ?!" dengus aliza kesal lalu memasukkan handphonenya kedalam saku roknya.
"Sudah selesai ?" tanya arka yang kini sedang menatapnya sambil bersedekap. Ok mood arka kembali buruk hanya dengar mendengar nama marchel yang meluncur manis dibibir aliza .
aliza mendongak lalu menatap tak enak kearah arka yg kini menatapnya dengan wajah datar andalannya.
"itu aku harus pergi arka " ucap aliza lalu berdiri dari duduknya.
"Kau memintaku untuk mengobrol ringan denganmu. Lalu kau sendiri ingin pergi ? Apa perlu ku ingatkan jika kita belum membahas apapun ? " Dengus arka kesal. Apalagi ia berfikir jika sebentar lagi aliza akan bertemu dengan orang lain. Jika hanya kinan, arka sungguh tak masalah. Namun masalahnya, orang lain yang ingin ditemui aliza itu adalah s**t arka sungguh tak ingin menyebutkan namanya.
"Aku benar-benar minta maaf.. mungkin kita bisa mengobrol lagi dilain waktu arka " Ucap aliza dengan senyum dipaksakan.
"Dimana sopan santunmu ?" Ejek arka yang masih kukuh ingin melemahkan mental aliza dan membuatnya untuk tetap tinggal bersamanya. Kenyataan jika aliza lebih memilih lelaki cecenguk itu ketimbang dirinya sungguh membuatnya kesal setengah hidup.
"Maaf arka.." Ucap aliza tak enak hati lalu membungkukkan badannya hendak pamit. Namun dengan gerakan cepat arka mencekal pergelangan tangannya.
"Apa perlu kuingatkan jika sekarang ini masih termasuk jam kerja ?" Ucap arka masih mencari akal bagaimana agar aliza tetap berada digedung ini.
"Kau bisa memotong gajiku.. Maaf, aku sudah terlanjur berjanji dan aku tak berniat mengingkarinya" Sesal aliza lalu meninggalkan arka begitu saja.
.
.
.
aliza berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Ia tak ingin kinan menunggu lebih lama. Apalagi jika mengetahui bahwa putra tercintanya turut serta menunggu kedatangannya.
arka menggertakkan giginya kesal. Kedua tangan miliknya mengepal. Ia benar-benar sakit hati. Mengapa ? mengapa aliza lebih memilih orang itu ketimbang dirinya. Ia tak suka ini. Dengan wajah menggelap ia berlari menyusul aliza yang kini berada dipintu masuk pusat perusahaannya.
Dilihatnya aliza yang terlihat tergesa-gesa dan sialnya itu membuat dirinya semakin mengutuk lelaki itu.
" mommyyyyyyyyyyyyyyyyuuuu !!" teriakan tersebut membuat atensi arka benar-benar teralihkan. Ia menatap terkejut kearah bocah yang berlari kencang lalu menubruk tubuh wanita yang dicintainya. Bohong jika ia tak mengenali pahatan wajah anak tersebut. Tubuh arka seakan bergetar. Keringat dingin entah mengapa membasahi pelipis putihnya.
"A-apa maksudnya ini ...?"gumam arka dengan wajah yang sulit digambarkan.
bersambung.....