aliza menatap malas wajah membosankan dihadapannya. Sejujurnya bukan karena wajahnya. tasya itu tidak cantik tapi dia dan manis . Yang membuat aliza malas adalah karena telinganya telah lelah mendengar pertanyaan tasya yang begitu penasaran atas hubungannya dengan para keluarga marhesa . Dan demi Tuhan, apa tasya tidak mengerti jika aliza sangat tak ingin membahas itu ?
"Kau sudah berjanji akan menceritakannya padaku aliza " Ucap tasya yang entah sudah keberapa kalinya.
"Hm..." lagi aliza membalas tasya dengan gumaman tak berbobotnya yang kontan membuat kesabaran tasya berada pada batasnya. Untung sayang. Batin tasya mencoba menormalkan emosinya.
"Kau benar-benar menguji kesabaranku aliza " Ucap tasya lalu memilih mengepel lantai koridor dengan gerakan beringas.
"Sudahlah tasya, itu tidaklah penting.." Ucap aliza yang kini menyeka peluh didahinya yang putih mulus. aliza merasa keram didaerah bahunya. Ternyata menjadi OG bukan pekerjaan mudah.
"Baiklah-baiklah.. Tapi sebagai gantinya, perlihatkan padaku foto marchel ganteng bin tercintamu itu " Tegas tasya yang kini menyodorkan tangan kanannya , sedangkan tangan kirinya menggenggam gagang pel. Ia sudah siap tertawa terbahak-bahak dan mengejek aliza jika manusia yang bernama marchel itu tidak tampan. Demi apapun, tasya masih menyimpan dendam karena predikat bujangan lapuk yang diberikan aliza .
"Dasar tidak sabaran.." Ucap aliza lalu dengan berat hati merogoh saku roknya . Setelah mendapatkan benda yang dicarinya, iapun mengotak-ngatik handphone miliknya. Mencari-caro foto yang pas.
"Ini" sodor aliza yang tersenyum manis.
Mata tasya melotot dengan tampang berbinar. Lihatlah sahabatnya itu jadi gemas sendiri. Bagaimana tidak, ia telah disuguhi dengan pemandangan wajah yang begitu menggemaskan.
"Dia tampan sekali.. Oh Tuhan aliza dimana kau mendapatkan malaikat setampan ini ?" ucap tasya histeris. Ia bahkan sampai membuang pel ditangannya saking hebohnya.
"Ini benar marchel ?! Kyaaaaa tampanya ! boleh aku mencubitnya ?" Tanya tasya bodoh
"Cubit saja dan aku akan bertepuk tangan jika kau berhasil melakukannya " Cibir aliza "Bagaimana bisa kau mencubit marchelku yang hanya sebatas foto itu hah? " ejek aliza yang membuat tasya manyun.
"Kau tak tahu jika sosoknya sampai membuatku bodoh" balas tasya tak terima
"Kau memang sudah bodoh dari sananya" Monolog aliza tak berperasaan.
"s****n kau" Maki tasya lalu menggeser layar handphone aliza untuk melihat gambar yang lain.
"aliza , Aku ngefans pada marchel .. Boleh aku memilikinya ?" Mohon tasya sambil mengelus layar Handphone aliza dengan berlebihan.
"Kau pikir marchelku barang hah !?" Omel aliza kesal
"Oh si tampan.." Ucap tasya menulikan pendengarannya. Seklai lagi tangannya menggeser layar Hanphone aliza .
"Lihat! Lihat ! Dia berdandan seperti barbie.. Kyaaaaaaaaa lucu !" pekik tasya kembali hebo
"Hei siapa yang mengizinkanmu melihat lebih jauh ?!" Teriak
aliza kesal.
"Huwaaaaa aliza , aku ingin memeluknya. dia begitu tampan" tasya semakin histeris saat melihat marchel kecil yang terlihat begitu tampan.
arka yang kebetulan berjalan tak jauh dari mereka, kini menatap keduanya dengan tatapan dinginnya. Lagi dipagi hari ia harus mendengar nama marchel . Kontan membuat paginya terasa begitu suram. tasya yang menyadari keberadaan Bossnyapun berusaha tersenyum seraya memberi salam hormat.
"Selamat pagi direktur" Sapa tasya dengan senyum manisnya.
arka hanya menjawab dengan anggukan. Namun anehnya ia sama sekali tak menatap aliza membuat tasya dengan cepat menoleh kearah sang sahabat.
Ia dapat melihat wajah tegang aliza lalu tanpa basa-basi ia menekan bibir aliza untuk ikut memberi hormat sama sepertinya.
"Maafkan dia, dia adalah karyawan baru" Ucap tasya tak enak. Namun arka tak menanggapinya dan berlalu begitu saja. Tingkah arka setidaknya memberi efek pada diri aliza . Jika boleh jujur, aliza merasa perih dihatinya. Bukankah dia yang telah meminta arka untuk menjauhinya dan memperlakukannya sama dengan karyawannya yang lain ? Ya, aliza mengiyakan dalam hati. Tapi menurutnya arka sudah tak berlaku adil sesuai apa yang aliza inginkan pada awalnya. Ia meminta agar arka mau memperlakukannya sama dengan karyawan pada umumnya, tapi pada faktanya arka malah terkesan sengaja menjauhinya. Dikala arka masih menatap para karyawannya guna memberi respon, arka malah tak menggubrisnya. Bahkan untuk sekedar menatapnya.
"Ini salahmu bodoh!" bisik tasya
"Hah ? kenapa itu harus jadi salahku ?" sewot aliza .
"Kau tak lihat jika pak arka terlihat begitu dingin ?! Bagaimana jika beliau kesal lalu memecatmu ?" Ucap tasya seraya menatap aliza dengan tatapan ngeri
"Bukan karenaku, enak saja asal menuduh. Dia memang selalu bersikap dingin dari dulu" jawab aliza tanpa sadar
"Kau berkata seakan kau sudah mengenalnya dari dulu. Apa kau benar memiliki sesuatu dengan keluarga marhesa ? atau mungkin tentangnya ? Oh aliza kau membuatku semakin penasaran" Ucap tasya gemas. Tak menyadari wajah syok aliza saat mendengar ucapannya.
"B-bodoh.. Tentu saja aku tahu ! Bukankah wanita-wanita disini gemar membicarakannya ?" Sangkal aliza mencoba lari dari fakta yang sebenarnya.
Untunglah tasya percaya begitu daja apa yang dikatakannya. Hal itu terbukti dari reaksi tasya yang saat ini sedang mangguk-mangguk sok mengerti.
"Kau benar, Oh ya ngomong-ngomong kau menjatuhkan pel milikku " Ucap tasya tak tahu diri.
"Sembarangan ! Dasar mak lampir mata unta! Memangnya tampangku tampang kriminal hah ?" Teriak aliza kesal
"Membuang pel bukan tindakan kriminal aliza . Kecuali jika kau mencurinya " tasya berkoar-koar tak jelas.
"Ya, apa perlu kuingatkan jika pelakunya adalah dirimu sendiri ? Kau membuangnya karena terpesona dengan wajah tampan marchelku " aliza berujar malas.
"Hehehe benar juga ya ?" tasya cengengesan tak jelas.
"Cih" aliza berdecak kesal lalu memilih merebut Handphone miliknya dari tangan tasya .
"Hei! Hei ! Itu tidak sopan " tegur tasya sambil melayangkan tatapan tak terimanya.
"Ya katakan itu pada orang yang mengotak ngatik Hanphoneku tanpa izin" Dengus aliza lalu mengibaskan rambut hitam panjangnya kebelakang.
"Kau tak pantas melakukannya ! Tidak cocok sama sekali" tegur tasya saat melihat pose aliza .
"Apa maksudmu ?" Tanya aliza bloon
"Rambutmu terlihat urakan. Aku sangsi kau memakai shampo dalam sebulan ini atau tidak " Ucap tasya pura-pura memasang pose jijik yang dibuat-buat.
"Kurang ajar kau !" pekik aliza lalu memukul berniat memukul betis tasya dengan gagang pelnya, namun dengan lincahnya tasya menghindar dengan cara melompat.
"Asal kau tahu aliza , rambutmu terlihat seperti sapu ijuk " Ucap tasya geli.
"Apa kau pernah melihat sapu terbang ?" aliza bertanya fengan wajah datar.
"Belum, bersediakah kau memperlihatkannya ?" Tanya tasya dan didetik berikutnya sebuah sendal sepatu berhasil mendarat di wajah raka. Ya tidak ada yang salah, orang itu memang raka. tasya berhasil menghindar dan nas, raka yang memang sudah berada tak jauh dari mereka malah terkena imbasnya. Salahkanlah tasya yang telah membuat ibu beranak satu itu mengamuk.
"aduh " Ucap raka seraya mengusap keningnya yang memerah.
"Hoh ! Astaga! Maafkan aku kak raka " Pekik aliza horor. Dengan segera ia berlari lalu berniat menyentuh kening dari suami sahabatnya itu. Tapi ia mengurungkannya mengingat perlakuan yang niatnya ingin dia lakukan itu terlalu intim.
"Kau baik-baik saja ?" Tanya aliza penasaran.
"Apa kau terlihat baik-baik saja ?" Balas aliza yang membuat bagas dan juga wanita berambut kuning disamping bagas tersenyum geli.Oh sungguh pemandangan yang indah. Ey tunggu ! aliza baru sadar, sejak kapan bagas dan wanita berambut kuning itu ada ? Mereka datang begitu saja. Apa pertempurannya dengan tasya begitu luar biasa sehingga ia sampai tak menyadari kedatangan raka , bagas dan wanita berambut kuning itu. Lagi, bukankah wanita berambut kuning itu adalah Istri arka ? Kenapa mereka tak datang bersamaan ?
"Ah pak bagas!" aliza segera tersenyum menghadap bagas dan wanita yang entah namanya siapa. Sudah sewajarnya bukan jika ia sopan pada atasannya ?
'Mari lupakan masalalu' batin aliza demgan senyum ramahnya. Melupakan permintaan maafnya pada raka yang kini menatapnya disertai dengusan.
tasya ? jangan tanya. Sahabat yang biasanya sangat sopan pada keluarga marhesa itu bahkan belum berbalik sama sekali. Membelakangi sosok raka dan bagas.
"Tak perlu seformal itu aliza .. Oh ya, bagaimana kabar putramu. Ah lebih tepatnya Po-"
"Dia baik-baik saja!" Ucap aliza memotong ucapan bagas yang kini tersenyum maklum. Terlalu berat baginya mengakui jika marchel adalah bagian dari keluarga marhesa . Terlebih ia tak ingin mengganggu hubungan orang lain. Merusak rumah tangga seseorang ? aliza tak tertarik sama sekali.
"Aku pergi dulu aliza " izin tasya lalu berjalan dengan tergesa-gesa. Saking tergesah-gesahnya, aliza bahkan dibuat diam.
"Ada apa dengannya.." Gumam aliza bingung. aliza mulai berfikir kemungkinan yang membuat sahabatnya sibuk.
'Kebelet ?'
" Kau ada waktu ?" Tanya raka pada aliza yang kini baru tersadar dari lamunannya.
"Memangnya kenapa ?" Tanyanya balik.
"Kau tak berniat mengajakku kencankan ?" Tanya aliza dengan alis naik turun.
"Kupikir obatmu habis aliza " Ucap raka seraya menatap miris kearah aliza yang kini memanyunkan bibirnya kesal.
"Kau tak bisa diajak bercanda kak raka " gerutunya.
"Aku bisa dibunuh kinan jika melakukannya . Lagi pula aku tidak tertarik pada ibu beranak satu sepertimu" Dengus raka jahat.
"Mulut kurang ajar" Bukan aliza yang mengatakan itu. Tapi wanita berambut kuning itulah pelakunya. Ia bahkan menggeplak kepala raka .
"Ck.. Kau pikir itu tidak sakit ?" gerutu raka lalu menatap tajam wanita disampingnya.
"arka ! arka dimana kau ! Lihat , dia memarahiku .. " Teriak Wanita itu seraya mengelus perutnya yang entah mengapa mengundang perhatian aliza . Disatu sisi ia merasa senang karena wanita itu secara tidak langsung membalas dendamnya pada raka. Namun disisi lain, entah mengapa ia merasa ada perasaan tak rela yang dirasakannya.
"Bukan aku yang menginginkannya ! Tapi anakku! Kau jahat raka " ucap wanita itu lagi.
"Sudahlah! Ayo kedalam. Ayah sudah menunggu kita diruangannya" Ucap bagas lalu menarik tangan wanita berambut kuning tersebut. Meminta agar wanita itu segera melanjutkan perjalanan.
Namun sebelum wanita itu melewati aliza , aliza dapat melihat wanita itu menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya. Seakan mengatakan Ok, semuanya akan baik-baik saja. Oh apa maksudnya. Apa wanita itu baru saja memperlihatkan persetujuannya bahwa wanita itu berada dipihaknya ?
aliza baru mengerti. Dengan segera ia menoleh kearah sang wanita yang telah berjalan jauh. Tersenyum, itu lah yang aliza lakukan.
"Hei!" aliza berbalik segera kearah sang empunya suara
"Apa ?" tanya aliza .
"Jam berapa kau pulang ?" tanya raka seraya melirik jam tangannya.
"Entah, mungkin jam lima sore. ada apa ?" Tanya aliza bingung.
"Aku ada janji dengan kinan untuk makan siang bersama siang ini. Tapi sepertinya aku tidak akan sempat" Ucap raka yang terlihat menyesal.
"Kenapa ? Hei kau harus memenuhi janjimu!" Ucap aliza dengan penekanan disetiap katanya.
"Aku tidak bisa aliza , sekarang saja adalah jadwalku bertemu dengan direktur mu Crop.. Aku sudah telat 10 menit. Kalau sempat, aku akan menyusul" janji raka
"Menyusul ? jadi maksudmu pekerjaanmu ini lebih penting dari keluargamu sendiri ?" tanya aliza tak percaya
"Bukan begitu !"
"Lalu apa ?"
"Masih ada lain waktu, aku akan menggantinya. Sedangkan rapat ini tidak datang berulang kali.. Aku tidak mungkin membuat kecewa relasi ku aliza . Apa kau mengerti ?" Ucap raka lalu melirik kembali jam tangan yang bertengger ditangan kirinya.
"Ya. Lalu apa yang kau tunggu ? Kenapa kau masih disini ?" Tanya aliza
"Aku barus saja rapat dengan marhesa Crop. Kebetulan kau ada disini, jadi aku menyamperimu..
Ah aku pergi dulu. Untuk urusan tempat, kinan akan menghubungimu.. " ucap raka lalu melambai tangannya kearah aliza lalu berlari menuju pintu utama.
"Aku benar-benar tidak mengerti.." Ucap aliza lalu melanjutkan acara mengepelnya. Ah ngomong-ngomong kok sepi ya ? batinnya.
"Astaga! tasya kenapa belum balik juga ?" Ucapnya setelah sadar akan ketidakadaan sahabatnya itu.
.
.
.
Istirahat telah tiba, tasya tersenyum melihat tampilannya dibalik cermin. Meskipun lelah, ia masih tetap bersemangat. Karena lelahnya ini anaknya dan juga mamanya bisa bertahan hidup. Ia menoleh kearah kiri dimana tasya juga melakukan hal yang sama. Ya sama-sama menatap cermin. Hanya saja tasya tidak terlihat cerewet seperti biasanya.
Merasa diperhatikan, Akhirnya membuat tasya menoleh kearah empunya.
"Apa ?" tanya tasya dengan satu alis terangkat.
"Apa kau kerasukan jin tomang ? tumben kau tak berisik " Ucap aliza dengan senyum manisnya. Ya saking manisnya tasya sampai ingin merobek mulut sahabatnya itu.
' tidak mungkin aku mengatakan pada aliza jika raka adalah mantan suamiku yang meninggalkan ku demi wanita yang membuat mantan suamiku itu jatuh cinta bahkan saat ini aku sedang hamil anak raka dan istrinya,ingat ini bukan bayinya bersama mantan suaminya tapi bayi raka dan kinan.jika bukan demi pengobatan adikku tak mungkin aku melakukan ini semua ' batin tasya teringat saat ia melakukan operasi untuk menampung benih raka yang dicampur dengan benih kinan yang disuntik kedalam rahim tasya.
"Tobatlah kau nak" Ucap tasya laalu menepuk-nepuk wajahnya. tasya tiba-tiba saja teringat sesuatu.
"Oh ya aliza !" pekik aliza tiba-tiba yang membuat aliza mengelus dadanya karena kaget. Oh sepertinya sahabatnya itu sudah kembali semula.
"Apa ?!" Tanya aliza ketus
"Santai bu' .. santai.." Ucap tasya
"Hm.. lalu apa yang ingin kau tanyakan nona tasya ?" ucap aliza dengan nada genit diakhir kalimatnya.
Sontak membuat tasya memeluk tubuhnya sendiri.
"Anu itu.. Kau tahu ? Seperti yang kutangkap dari percakapanmu dengan pak bagas.. Kau memiliki seorang putra ? benarkah ?" Tanya tasya penasaran.
aliza mengalihkan wajahnya lalu tersenyum pasrah.
"Umm.." aliza mengangguk disertai gumaman
"J-jadi marchel itu ? Jangan bilang ?" tasya menerka
"Ya.. marchel itu putraku" Ucap aliza lalu menggaruk pipinya.
"Astaga aliza ! Kau ! Oh Tuhan ! Putramu tampan sekali. Bagaimana bisa kau sampai setega itu menyembunyikan semuanya dariku !" Pekik tasya yang membuat aliza menengok kekakan kiri.Takut-takut jika ada orang yang mendengar percakapan mereka.
"Aku belum siap mengatakannya" Aku aliza jujur.
"Kau belum percaya padakukan ? Itulah mengapa kau memilih diam dan tak memberitahuku ?" Ucap tasya
"Tidak ! Tidak begitu, sungguh" Teriak aliza kaget.
"Lalu ?" tasya bertanya
"Aku hamil diluar nikah tasya .. Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan hal memalukan itu padamu ?" ucap aliza lirih.
tasya ? jangan tanya. Ia membekap mulutnya lalu memeluk aliza erat.
"Maaf.."
.
.
.
"Hei tasya ! Ayo bawa minuman milik pak bagas keruangannya!" perintah ella dengan tampang pongah. Ia baru saja masuk keruang ganti, lalu dengan tampang menyebalkannya itu, ia meminta tasya seenaknya.
"tasya baru saja ketoilet" sahut aliza
"Kalau begitu kau saja yamg bawa!" ucap ella
"Heh ? aku ? kenapa harus aku ?" aliza bertanya dengan ekspresi horor.
"Ya kau ! Kau pikir siapa lagi ? aku ? enak saja. Ayo bawa ini cepat !"
aliza dengan cepat mengambil kopi ditangan ella . Takut jika si rambut pink mengamuk. Hingga tanpa sadar ia sudah sampai ketempat tujuan.
's**l kenapa aku harus keruangan ini lagi ?' batin aliza yang merasa trauma dengan ruangan dihadapannya. Sedikit kesal, kenapa juga bagas malah pindah ruangan dan memilih seruangan dengan arka ? menyebalkan sekali. Ya semoga saja arka tak berada didalam.
aliza mulai membuka pintu dihadapannya sedikit. Tidak sopan ya ? Harusnya ia mengetuk pintu lalu memberi salam bukan ? Sayang seribu sayang. Sungguh alizapun tahu jika yamg dilakukannya ini tidak sopan. Tapi apa mau dikata. ella sepertinya berniat balas dendam padanya. Lihatlah, ella memberinya nampan besi yang berasa banget panasnya. Jadi jadilah ia membuka pintu sedikit karena alasan itu. Baru saja ia ingin memberi salam, namun matanya dibuat membola melihat pemandangan dihadapannya.
Astaga !
"A-apa yg mereka lakukan! " bisik aliza dengan tangan bergetar.
Demi Tuhan, aliza bisa melihat jika wanita berambut kuning yang menolongnya tadi kini berciuman dengan bagas. Oh Tuhan! ini gila ! bukankah wanita itu istri bagas ? Jahatnya bagas ,pikirnya.
Bagaimana mungkin bagas malah menghianati adiknya sendiri ?
Apa yang akan dikatakan arka jika lelaki itu tahu perbuatan bekat istri dan kakaknya itu ?
"Apa yang kau lakukan ?" tanya seseorang dibelakangnya
bersambung