saingan arka

2375 Kata
Matahari terlihat begitu terang. Sinarnya menembus kaca perusahaan tempat wanita cantik itu bekerja. Wanita berambut hitam itu mendesah lelah. Pada akhirnya ia dengan terpaksa kembali mengingkari janjinya pada si kecil yang saat ini dijemput oleh kinan . Ini sudah kali kedua baginya melanggar janji dengan sikecil. Mau bagaimana lagi, Mengingat arka ia jadi tak ingin mengambil resiko untuk membolos. arka akan mencari tahu tentang penyebab ia membolos kerja. Benarkah ? batinnya mulai bertanya-tanya. Apakah benar arka akan mencari tahu tentangnya ? Bahkan setelah apa yang ia katakan pada lelaki itu sebelumnya ? aliza menggeleng dengan cepat. Ragu, itulah yang dirasakannya. Entah mengapa dadanya terasa sesak saat membayangkan arka mengabaikannya. aliza merutuk dalam hati. Untuk apa ia memikirkan itu. Ia mungkin hanya sedikit merasa bersalah karena telah berlaku kasar pada pria itu. Ya , aliza berusaha meyakinkan diri. Tak ingin berpikir jauh tentang pikiran bodohnya. Apa pedulinya jika arka mengabaikannya ? Batinnya acuh. "Aku tahu kau adalah atasanku. Bersikaplah sama , perlakukan aku sama seperti mereka. Lupakan apa yang pernah terjadi diantara kita !" Ucap aliza yang membuat mata arka berubah kosong. "Itu yang kau inginkan ?" tanya arka dengan wajah datarnya. aliza mendesah. Kenapa juga ia harus teringat akan percakapan itu saat ini ? Sedikit menyesal atas apa yang diucapkannya ? Oh tentu saja tidak. aliza tersenyum bangga dalam hati. Syukur baginya jika arka tak memperdulikannya dan melupakan masalalu mereka. Ia tak pernah menginginkan posisi arka untuk berada disisinya sebagai lelaki yang bertanggung jawab. Tak pernah sekalipun. aliza siap menjaga dan merawat marchel meski hanya bekerja seorang diri tanpa seorang suami. Toh ia merasa sanggup. Ia juga tak berfikir untuk menikah. Ragu. Itulah yang dirasakannya. Siapa juga yang berniat menikahi wanita yang tak utuh sepertinya ? Ia cukup tahu diri. Apalagi ia hamil tanpa seorang suami. Ah aliza menggeleng dengan cepat. Kenapa ia jadi memikirkan hal itu lagi ? Dengan langkah mantap aliza mulai melangkah menuju Lift. aliza tersenyum manis lalu memperbaiki letak tas mini yg digandengnya. Saat ini ia akan pulang. Namun ia berniat untuk singgah di super market terlebih dahulu. Mengingat ia harus membuat masakan yang disukai anaknya untuk mencuri hati sang buah hati yang mungkin saat ini sedang cemberut karena aliza lagi-lagi tak menepati janjinya. Mau bagaimana lagi, Ia harus memprioritaskan pekerjaannya terlebih dahulu. "Kau lihat ? pak arka kelihatannya sudah memiliki kekasih" Ucap Seorang wanita yang berada tepat disebelah kanan aliza . Wanita sepertinya sedang menggosipkan atasan mereka bersama dengan pegawai yang lain yang memenuhi lift. aliza mendesah lirih. Kekasih ? Oh jika begitu mengapa arka bersikap seakan mengejarnya kemarin ? Mungkinkah arka dari awal memang berniat mepermainkan perasaannya ? aliza berfikir jika arka hanya berniat menyakitinya. Cukup sudah dengan dirinya yang telah cacat. Sebisa mungkin aliza tak ingin berinteraksi banyak dengan pria itu. "Kau yakin ? Bukankah selama ini pak arka itu seorang jeruk makan jeruk ?" Ucap wanita lainnya menanggapi. "Cih, Informasi comberan. Dari mana kau mendengarnya ?" tanya Wanita dengan ikat rambut nampak memamerkan leher putihnya. 'jeruk makan jeruk ? ' pikir aliza dengan raut wajah tak percaya. Bagaimana mungkin arka adalah seorang jeruk makan jeruk jika pria itu telah membuatnya melahirkan sosok seorang putra ? 'Yang benar saja' dengus aliza dlaam hati. "Jangan salah paham. Coba kalian pikir, apakah pak arka pernah menggadeng wanita sebelumnya ? Aku tidak sekedar berkata tanpa bukti Ok ! " jawab sang wanita sebelumnya terlihat sewot. "Ya ada benarnya juga sih. Tapi tetap saja saat ini ia sudah memiliki kekasih dan yang terpenting kekasihnya itu seorang 'Wanita' " Ucap wanita itu menekan kata wanita dalam ucapannya. "Kita sudah kalah.." keluh wanita yang lain yang membuat aliza tanpa sadar memutar kedua bolamatanya bosan. "Benar.. Apalagi kekasih pak arka benar-benar can-" Ucapan wanita itu tergantung saat lift tiba-tiba terbuka. Seorang gadis yang berada disamping kiri aliza keluar dari lift menyusul dua orang berjalan memasuki Lift. Keduanya adalah Seorang gadis berambut kuning bersama dengan seorang pria yang tadi menjadi bahan perbincangan. "Selamat Sore pak arka .." Ucap wanita-wanita penggosip sebelumnya berbarengan. Sedang arka menanggapinya dengan anggukan. aliza menggeser tubuhnya kebelakang, menyingkirkan tubuhnya jauh dari arka. Sejenak mata keduanya bertemu, akan tetapi arka menjadi tersangka utama yang memutus kontak mata diantara keduanya untuk pertama kalinya. aliza hanya diam. Toh inilah yang diinginkannya. Meminta arka untuk memperlakukannya sama dengan bawahannya yang lain. Suasana "arka, kau janji mengantarku kesanakan ?" Ucap gadis berambut kuning yang tak asing bagi aliza . "hm" aliza menjerit dalam hati, bagaimana mungkin ia baru sadar jika sedari tadi sosok lelaki dibencinya itu sedang dirangkul mesrah oleh seorang wanita yang entah mengapa tidak asing baginya. "arka! Kau mengacuhkanku !" Teriak wanita berambut kuning itu kesal. "hm" "Ck, Kau ingin aku melaporkanmu pada ibu ? Sikapmu itu menyebalkan sekali " Gerutu wanita itu dengan wajah kesal. arka tersenyum lirih lalu merangkul pinggang wanita disampingnya dengan mesrah. "Aku akan menebusnya dengan kencan kita kali ini.." Ucap arka yang membuat para karyawan penggosip tadi melotot tak elit. Sedang aliza ? Ia hanya terdiam. Sedikit kacau, namun ia berusaha meyakinkan diri jika itu tak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Entah itu kencan arka, atau apapun itu. aliza tak ambil pusing. "Kencan .." Ucap wanita berambut kuning itu dengan nada mencibir. Ting Pintu terbuka, arka dengan segera menuntun wanita cantik itu keluar dari lift, aliza mengikut dibelakangnya.Bukan karena berniat mengikuti loh. Dia bukan penguntit ok ?. Cuman kebetulan, Ini adalah lantai satu. Dan tujuan aliza dari awal memang untuk kelantai dasar. Ini sudah jam pulang. "arka ! " teriak Seorang wanita paru bayah yang membuat alis aliza melengkung. Sedikit risih juga karena suara melengking itu sedikit mengganggu baginya. "Ibu.. apa yang ibu lakukan ditempat ini ? Bukankah ibu sakit ?" Tanya arka dengan wajah khawatir yang jarang diperlihatkannya.Ia memang hanya bisa berekspresi banyak hanya dihadapan orang-orang yang disayanginya atau kerabatnya. "Membawakanmu bekal tentu saja " Ucap wanita itu yang tentu saja saja adalah rani . Ibu dari arka. Seketika pandangan wanita paru bayah itu terjatuh pada sosok wanita berambut kuning disamping arka "Oh Astaga sayang.. Apa yang kau lakukan ? istirahatlah! Ayo pulang.. kau sedang mengandung cucuku perempuanku " Ucap rani histeris. Terlalu parno jika terjadi hal-hal yang buruk pada wanita berambut kuning disamping arka . Deg Jantung aliza seakan berhenti berdetak. Entah karena apa. Apa karena ucapan Ibu arka ? aliza sendiri tak mengerti. arka mendengus, mengambil tiga bungkusan yang dibawah oleh ibunya dengan wajah malas. Ibunya pasti kesulitan karena harus membawa tiga bekal ditangannya. Sepertinya ia, Ayah dan juga kakaknya sudah membuat Ibu kerepotan. Meski ia sendiri tak pernah meminta agar ibunya itu membawa bekal. Toh ia tak ingin menyusahkan ibunya. "Aku akan menjaganya bu.." Ucap arka yang kini memutar kedua bola matanya bosan. Ibunya itu benar-benar berlebihan pikirnya. "Ibu tak percaya sepenuhnya padamu" Ucap rani yang kini memeluk lengan menantunya. Ya , memeluk lengan wanita berambut kuning disamping arka . "arka akan menjagaku bu.. Takkan terjadi apapun padaku" ucap wanita itu dengan wajah memelas. "Kalian pikir aku akan langsung percaya ? Kau harus ikut pulang bersama Ibu !" Ucap rani dengan nada bossy. "T-tapi a-" "Tak ada penolakan !" Ucap rani memotong ucapan wanita berambut kuning dengan tampang yang tak ingin dibantah. "Ck, bantu aku arka" Bisik Wanita itu yang kini berusaha mengirim kode pada pemuda disampingnya. "Ibu benar.. kau harus beristirahat" Ucap arka dengan wajah datar miliknya. Mata wanita itu melotot ngeri.Berharap ucapan arka hanya kentut belaka. Sekedar angin tapi nggak ada mamfaatnya. Kalau bau sih iya. Dengan kesal wanita itu menatap kearah arka dengan bibir mengerucut. aliza yang sedari tadi berniat melewati keluarga besar marhesa itu hanya mematung ditempat. Jarak antara arka dan aliza memang bisa dibilang tidak begitu jauh. Ada perih yang dirasakannya. Dan aliza tak tahu bagaimana mengartikan perasaannya itu. Tak ingi berpikir jauh, apalagi berpikir jika ia cemburu. Mungkin cemburu. Ya, dan cemburu itu karena menurutnya arka sudah berkeluarga dan sangat menyayangi istrinya. Lalu untuk apa arka mengejarnya beberapa hari yang lalu ? sepertinya arka memang berniat mempermainkannya. ~nyutttt Sial. Rasa sesak itu kembali lagi. Demi tuhan, Ia bisa dengan cepat berenjak dari tempatnya dan bersikap seolah tidak ada yang terjadi apa-apa antara dirinya dengan keluarga itu. Tapi tak bisa. Ya ia tak bisa. Ada ketakutan dalam dirinya. Bagaimana jika rani tanpa sengaja menyadari kehadirannya ? Wanita paruh bayah itu akan menanyakan perihal ketidaksopanannya dulu. Dan sangat tidak mungkin bagi aliza menjelaskan perihal marchel pada keluarga marhesa . Ah sangat tidak mungkin. Bukan tak mungkin. Ia hanya takut kehilangan marchel . Takut kehilangan putra yang sangat dicintainya. "aliza !" panggil seseorang yang kini menepuk bahu kiri aliza yang saat ini terperenjat. Sang empu menoleh lalu menatap kesal kearah sang pelaku yang nyaris membuatnya jantungan. "Sstttt.. kecilkan suaramu" Pinta aliza yang dipandang bingung oleh seorang gadis yang ternyata adalah tasya . "Ada apa ? bukankah kau sudah pulang lebih dulu ? kenapa kau masih berada diperusahaan ?" tanya tasya bingung. Ia tentu saja ia bingung. Kemarin-kemarin aliza mengeluh karena selalu telat pulang. Tiba giliran cepat pulang dikarenakan gedung OG sempat direnovasi, aliza malah berdiam diri . Padahal pintu perusahaan sudah sangat dekat dari tempat ia berdiri. Apa maunya sih ? batin tasya tak mengerti. "Ah. kau harus membawaku keluar dari tempat ini .. kau bisa membantukukan ? " Rengek aliza kekanakan. Ia memilih mengacuhkan pertanyaan tasya . Urusan dengan keluarga arka masih jauh merepotkan dari menjawab pertanyaan tasya . "Kumohon tasya..bantu aku please!" Mohon aliza lagi dengan menyatukan keduatangannya didepan d**a. Tak lupa dengan wajah penuh harap. "Ada apa denganmu ? Bukankah kau bisa keluar sendiri ? kau bukan lagi anak kecil ingat ? " Ucap tasya tak mengerti sekaligus kesal karena pertanyaannya tak digubris. "Aku akan menjelaskannya nanti.. untuk sekarang , kumohon bantu aku " ucap aliza putus asa. "iya aku mengerti " Ucap tasya dengan dengusan kesal. "Oh makasih tasya ... kau yang terbaik !" Pekik aliza senang. "Ya ya katakan itu setelah aku berhasil membawamu pergi dari tempat ini" Ucap tasya dengan wajah malas. "Hehehe.. kau benar" aliza tertawa lirih "Nah ayo !" tanpa babibu tasya segera menyeret aliza paksa. "Apa yang kau lakukan bodoh ? jangan terlalu mencolok" bisik aliza kesal. Sedang tasya tak menanggapi perkataan aliza . "Ck, diam dan lihat saja.. bukankah kau hanya ingin pergi dari tempat ini ?" ucap tasya yang kini sudah tak lagi memyeret aliza . "Ya, dan yang terpenting kau harus menjamin jika keluarga marhesa tak menyadari keberadaanku" Ucap aliza dengan wajah lesu "Apa hubungan mereka denganmu ? Apa mereka merangkap menjadi Mafia ? polisi atau apalah sampai kau harus bersembunyi dari mereka ? apa kau seorang penjahat ?" tanya tasya beruntun. "Berhentilah mengoceh tasya.. akan lebih baik jika kau diam. Telingaku terasa panas" Ucap aliza yang kini memeluk lengan tasya dan merapatkan diri mencari persembunyian yang tak terlalu mencolok. Keduanya berjalan beriringan sambil mengobrol kecil. "Dasar tak tahu terima kasih.." gerutu tasya kesal. "Aku akan menjelaskannya nanti nona yang terhormat" balas aliza dengan wajah malas. "terserah kamu lah.." ucap tasya ogah-ogahan . . . "Nah sekarang kau sudah bebas.. Boleh kau jelaskan ada masalah apa sampai kau harus bersembunyi dari keluarga direktur ? " Ucap tasya yang kini menatap aliza yang tengah membuang nafas legah. "Oh apa jangan-jangan Pak direktur tahu jika kau membolos kerja karena meladeni sahabatmu itu ?" Tebak tasya yang kini memakai helm miliknya. Ya, Saat ini tasya dan aliza memang berada diparkiran perusahaan. "Bukan" ucap aliza lemah. "Hah ? lalu ?" tasya kembali bertanya seraya melirik job belakangnya meminta aliza naik keatas motornya. "Aku tak memakai helm.. Bagaimana jika polisi menilangmu ?" tanya aliza yang mengacuhkan pertanyaan tasya yang kini menatapnya kesal. Padahal baru beberapa minggu ia dan tasya saling kenal. Mereka berdua malah sudah sangat akrab layaknya sahabat yang sudah saling mengenal selama bertahun-tahun lamanya. "Memangnya siapa yang ingin mengantarmu pulang ? Aku hanya akan mengantarmu hingga ke gerbang bodoh ! Dan cepat jawab pertanyaanku , sebelum aku berubah pikiran dan memilih meninggalkanmu sekarang juga !" ancam tasya "Pergi ! pergi sana! Dasar pelit !" Gerutu aliza "Baiklah aku pergi" Ucap tasya lalu mulai menjalankan motornya "TUNGGU ! " Teriak aliza horor. tasya menoleh lalu menaikkan alisnya pura-pura bingung. "Apa lagi ?" tanya tasya pura-pura kesal. Padahal dia sebenarnya cuman mengerjai aliza . Mana tega dia meninggalkan aliza dan membuat temannya itu berakhir dengan berjalan sampai ke gerbang perusahaan yang jaraknya sangat luas itu. "Kau tidak serius untuk meninggalkanku kan ?" Ucap aliza seraya tersenyum sangat manis yang sukses membuat tasya ingin muntah pelangi. "Cepat naik sebelum aku berubah pikiran" "Iya iya ! ck, itulah mengapa tak ada satupun pria yang menyukaimu. Kau tahu ? sikapmu ini benar-benar menyebalkan" Ucap aliza lalu mulai mendudukkan diri dijob bagian belakang. "Penumpang tak tahu diri.." Gumam tasya yang masih dapat didengar oleh aliza . tasya bahkan tahu jika temannya itu sedang menertawakan dirinya sekarang. Sungguh menyebalkan. Trrrrttttt trrrrrrttt trrrrrrrrrr Handphone aliza berbunyi. Membuat tasya yang sebelumnya ingin melajukan motor miliknya jadi mengurungkan niatnya. "Siapa ?" tanya tasya penasaran "Orang rumah" jawab aliza dengan wajah tak enak. "Angkat saja, mungkin ada hal penting " Ucap tasya tersenyum maklum. aliza mengangguk dengan wajah tak enak. "Ya halo.." aliza menyahut setelah menggeser layar hanphonenya. "Iya sayang.. Maaf.. umm aku akan segera pulang" aliza kembali mejawab setelah sekian lama. "Iya.. iya .. janji.. Love you " Ucap aliza lalu mengakhiri obrolannya. "Love you " ucap tasya dengan menaik turunkan alisnya. "Apa?!" Ucap aliza kesal "Apakah dia seorang pria ?" tanya tasya dengan senyum usilnya. "Kalau iya kenapa ?" Tanya aliza balas tersenyum usil. Ah mengerjai temannya seperti seru juga. "Benarkah ?! Apa dia tampan ?!" Tanya tasya mengebu-gebu. aliza tersenyum lalu memegang kedua pipinya dengan ekspresi kelewat bahagia. "Tentu saja! marchelku tampan! Ah sangat-sangat tampan! " Ucap aliza "Tenang saja tasya .. Aku bukan bujangan lapuk sepertimu" canda aliza "Entah mengapa aku merasa menyesal telah bertanya" Gerutu tasya lalu melahukan motornya tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Dan hal itu sukses membuat aliza yang tak siap malah nyaris terjungkal kebelakang. "s****n kau !" maki aliza lalu menepuk punggung tasya kesal. " Tidak dengar tidak dengar~" ucap tasya lalu tertawa terbahak-bahak. Tanpa keduanya tahu, sosok arka telah mendengar percakapan keduanya dengan ekspresi yang tak terbaca. 'marchel..' Batin arka dengan tangal mengepal bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN