Jangan menyentuhku!!!!

3001 Kata
aliza menatap wajah wanita dihadapannya dalam diam. Sedikit bingung apa yang membuat wanita yang telah menjadikan teman barunya itu berada ditempat ini. bella terlihat sangat cantik dengan pakaian yang dikenakannya. Baju berlengan panjang merah sebatas paha. Mempertontonkan betis putih mulusnya . Tak lupa dengan sepatu hak berwarna putih miliknya. Wanita itu juga mengapit sebuah tas berwarnah putih dipinggangnya. Membuatnya semakin terlihat elegant dimata aliza. sepertinya bella bukan wanita biasa batinnya lalu tanpa disengaja pandangannya jatuh pada tasya. Membuatnya sadar akan sesuatu. "Ah kau bisa pergi lebih dulu tasya .." ucap aliza pada tasya yang sedari tadi menatap aliza dan bella bergantian. tasya tersenyum ramah kearah bella lalu menatap aliza yang kini tampak meringis kearahnya. Sepertinya aliza tak enak pada tasya karena ia menyuruhnya pergi terlebih dahulu. tasya tersenyum ramah kearah bella lalu menatap aliza yang kini tampak meringis kearahnya. Sepertinya aliza tak enak pada tasya karena ia menyuruhnya pergi terlebih dahulu. tasya tahu jika wanita berambut coklat tua dihadapannya ini pasti ingin bercerita panjang pada aliza . Jika hanya untuk sekedar say halo saja tak mungkin sampai membuat aliza menyuruhnya pergi. "Baiklah.. aku akan menunggumu dilantai 33 " ucap tasya dengan senyum maklumnya. Ya jadwal mereka memang untuk membersihkan lantai 33 setelah ini. aliza mengangguk mengerti , lalu menatap kepergian tasya dengan perasaan tak enak hati. Baru juga hari pertama ia kerja, ia sudah membuat rekan kerjanya seperti itu. Tapi ia juga tak bisa mengabaikan bella seperti ini. Ah dia jadi serbah salah. Dari Pada memikirkan itu, ada hal yang lebih penting yang membuatnya penasaran setengah mati. "Nah kak bella apa yang membuatmu datang kemari ?" tanya aliza bingung. bella tertawa kecil dengan meletakkan punggung tangannya pada bibir tipisnya, terlihat sangat anggun. Rambutnya yang bergelombang nampak sedikit bergerak karena bahu miliknya yang bergetar. " Apa ada yang lucu ? " tanya aliza semakin bingung. Ia malah mengira jika bella kehilangan kewarasannya karena tertawa tanpa sebab. Apa teman barunya itu ternyata seorang pasien RSJ yang kabur dan tanpa sengaja malah berteman dengannya ? aliza segera menggeleng dengan cepat, melenyapkan hayalannya yang tak masuk akalnya itu. "Ahaha.. bukan apa--apa , aku hanya merasa lucu dengan sikapmu " ucap bella yang tersenyum kearah aliza . Sejujurnya dia tertawa karena aliza yang tak bisa berbasa-basi. Bukannya bertanya kabar terlebih dahulu, ah sepertinya aliza tipikal orang yang selalu mengeluarkan segala sesuatu yang mengganjal dipikirannya dan tak suka hal yang berbelit-belit. Lihat saja, wanita itu malah langsung menanyakan perihal penyebab ia berada ditempat ini. Pikir bella yang merasa lucu dengan semua itu. "Hei hei kau masih saja tertawa.. Apa ada yang salah dari pakaianku ?" tanya aliza dengan kening berkerut. "Ffftttt Sudahlah.. Ayo kita mencari tempat untuk mengobrol biar lebih nyaman " Ucap bella lalu menarik tangan aliza menuju Kafe perusahaan yang tak jauh dari tempat keduanya berdiri. "T-tapi aku sedang bekerja . Bagimana jika Nenek sihir berambut pink itu marah padaku ?" cicit aliza merasa takut. "Nenek sihir berambut pink ?Maksudmu ella ? Hahahah apa-apaan itu ?" tawa bella yang masih kukuh menyeret aliza menuju Kafe. Ia kini telah berhasil membawa aliza masuk kedalam lalu memintanya duduk dengan tenang. "Nah duduklah.. beginikan lebih nyaman" ucap bella lalu bertepuk tangan meminta pelayan berjalan kearah mereka. "Kau mengenalnya ? Astaga bagaimana bisa kau mengenalnya ?!" pekik aliza heboh "Kau ingin memesan apa aliza ?" Tanya bella yang kini melihat menu ditangannya lalu memberikannya pada aliza. "Ah dari pada itu katakan padaku bagaimana bisa kau mengenal Nenek sihir bermake up 7 cm itu ?" Tanya aliza penasaran. "Ya ya sebutkan dulu pesananmu lalu aku akan menjawab semua pertanyaanmu " Ucap bella jengah. aliza mengangguk mengerti lalu menatap pelayan wanita disamping bella . Merasa tak enak karena telah membuat pelayan itu menunggu. "Ah air putih satu" ucap aliza . Pernyataannya itu sungguh sampai membuat bella menatapnya seakan aliza adalah mahluk astral yang entah datangnya dari planet mana. "Air putihnya bisa geratiskan ?" ucap aliza dengan tawa kaku. Ia bahkan sampai menggaruk pipinya yang sedikit merona karena malu. benar-benar mahluk ajaib pikir bella . Sepanjang sejarah hidup bella yang telah menjadi kaum duafa jaman penjajahan. Ah becanda, kalau hidup dijaman penjajahan entah sudah berapa umurnya saat ini. Ok sepertinya ia terlalu jauh berfikir. Lalu ditatapnya aliza dengan kesal. "Kau gila ? Cepat pesan yang benar !" Ucap bella dengan tatapan horornya. "Tapi aku tak punya uang kak bella .. Ah maksudku uang yang kubawa hanya bisa kupakai untuk ongkosku pulang" Bisik aliza malu setengah mati. Ah rasanya ia mengubur dirinya hidup-hidup. Lagipula kenapa juga bella malah membawanya ketempat ini ? batinnya kesal. "Ffttttt Hahahaha.." lagi bella tertawa yang membuat aliza menggerutu dalam hati. Melihat bella tertawa yang entah sudah keberapa kalinya lama-lama membuat aliza kesal juga. bella menyeka air mata yang menganak diujung matanya. Ah dia terlalu semangat tertawa hingga berakhir seperti ini. Setelah itu ia menatap pelayan disampingnya yang masih setia melayaninya. "Ah sudahlah , Kami pesan Jus alpukat oreo dan dua buah jelly dengan rasa yang sama" Ucap bella "Baik, Dua Jus alpukat oreo dan dua buah jelly dengan rasa yang sama" Ucap pelayan itu seraya mencatat pada note miliknya. "Hei hei ! Aku tak bilang jika aku ingin memesan itu ! " Ucap ali keberatan. bella hanya mengangkat bahu acuh lalu menyuruh pelayan itu pergi. Dengan senyum usilnya ia lalu menatap aliza . "Sudahlah aliza , jika kau tak membawa uang kau bisa meminjam uangku" Ucap bella dengan senyum yang dibuat manis. "Bukan itu kak bella, Aku tak ingin boros. Kau tahu ? dengan uang itu aku bisa membeli cemilan untuk putraku" Ucap aliza "Dan dengan begitu teganya kau membuatku tak memiliki pilihan. Bahkan untuk menolak" sambung aliza lesu. Dengan lemas ia lalu meletakkan wajahnya pada meja. "Segitu perhitungannya kau.." tawa bella seraya memegang perutnya. aliza mendongak lalu memperbaiki posisi duduknya. "Perhitungan itu perlu dan orang sepertimu takkan mengerti kak bella " Ucap aliza . Tak berselang lama, sang pelayan tiba dengan membawa pesanan yang telah bella sebutkan sebelumnya. bella nyaris terbahak melihat tingkah aliza yang sesekali mencuri pandang kearah jelly dihadapan mereka. Melihat hal itu timbul niat jail dibenak bella. Dia berdehem sebentar lalu mengmotong jelly bagiannya dengan garfu plastik . "Ummmhhh Enak sekali.." Ucap bella yang baru saja memasukkan jelly itu kedalam mulutnya "Apa kau yakin tak ingin meminjam uangku aliza ?" ucap bella yang kini mengangkat kue tersebut lalu memutar-mutarnya dihadapan aliza . aliza mendengus, Apa bella ingin menjadi pemeran antagonis dicerita ini ? Demi tuhan, aliza sangat menyukai makanan manis-manis. Syalan kau bella. "Berhentilah menggodaku hidung peset" gerutu aliza kesal. "astaga ! Demi apa aliza ? Perlukah mulutmu kuberi Shampo agar kau bisa berkata bersih ?" pekik bella heboh "Berhentilah mengoceh dan habiskan semua ini segera!" Ucap aliza dengan bibir Bimoli. Bibir monyong lima cm. Melihat itu tawa bellapun meledak. "Hahahahahahahahha!!" "Berhentilah tertawa kak bella . Orang-orang melihat kita!" Bisik aliza kesal. Ingatkanlah ia jika saat ini ia dan bella berada dikafe Perusahaan. "Habis kau lucu sekali aliza .. Nah habiskan semuanya.. Ini untukmu" Ucap bella lalu mendorong dua buah jelly rasa orea tersebut kearah aliza . "Kau juga bisa meminum ini.." Ucap bella sambil memindahkan sebuah jus alpukat oreo tepat disebelah jelly yang ia sodorkan tadi. "Semuanya geratis " Ucap bella lalu mengedipkan sebelah matanya. "K-kau yakin ?" Tanya aliza tak percaya. Jika ini benar, aliza siap menjadi teman bella selamanya , pikirnya lebay. "Ya tentu saja.. Ayo cepat habiskan" perintah bella lalu menyeruput jus alpukat oreo miliknya. "Kau tidak sedang mengerjaiku bukan ?" Selidik aliza dengan alis berkerut "bodoh ! jika kau tak mau aku akan menghabiskannya !" balas bella kesal. "Heheheheh.. thanks hidung peset.." Ucap aliza lalu melahap jelly tersebut setelah terlebih dahulu memotongnya. "Kau masih memanggilku seperti itu ?" Ucap bella dengan suara dibuat-buat. Sedang aliza mengangkat bahunya acuh. persetan , Ia dan juga dunianya. . . . arka menatap berkas dihadapannya dalam diam. Masih terbayang olehnya kejadian beberapa hari yang lalu . Dimana ia berniat menemui sang Ayah. Sebelumnya mereka membuat janji untuk bertemu diruang baca. Tapi meski bertemu, arka malah kehilangan kepercayaan dirinya untuk bercerita. Sehingga reza menepuk punggunggnya dan memintanya bercerita jika ia sudah siap. Tidak hanya itu, Ia juga kepikiran dengan aliza . marchel , sebenarnya siapa dia ? Benarkah orang itu suami aliza . Sebegitu cintanyakah sehingga setelah sadar aliza malah memaksakan diri untuk pulang ? arka tertawa dalam hati. Apa yang ia harapkan ? Ia bahkan telah meninggalkan aliza selama tiga tahun lamanya. Wajar jika wanita itu mencintai orang lain dikurung waktu itu. Tapi sekali lagi hati kecilnya berteriak. Apa ia ikhlas ? Apa ia rela semua itu terjadi ? Tidak, tentu saja tidak. aliza hanya miliknya. Hanya miliknya. Dari awal ia sudah menandai wanita itu. Dengan satu gerakan tangan , Handphone arka sudah tersampir ditelinga kananannya. "Perintahkan OG terbaru untuk menghadap padaku!" Pinta arka mutlak "ok" "Segera!" ucap arka lalu mematikan telfonnya sepihak. . . . "Kau boleh bercerita tentang tujuanmu ketempat ini kak bella " Ucap aliza yang kini sibuk memasukkan sebuah jelly oreo kedalam kotak yang diambilnya dari kasir. aliza berniat membawa jelly itu pulang dan diberikannya untuk sang putra. Sedang ia menghabiskan sebuah jelly yang satunya lagi bersama bella. Meskipun ia memaksa bella untuk membantunya. Toh dia cukup tahu diri. Meski pecinta geratisan, aliza juga masih punya harga diri loh. "Ku kira kau sudah kehilangan mood untuk mendengarnya" sindir bella "Ya tadi. Tapi moodku telah kembali baik berkat jelly ini heheheh. Jadi ayo cerita apa tujuanmu kemari" Ucap aliza dengan senyum manisnya yang membuat bella mendengus kesal karenanya. Ya meskipun ia tidak benar-benar kesal. "Aku kemari untuk menemui kenalanku" ucap bella lalu menyeruput jusnya ' aku ingin maaf pada arka karena telah menipunya ' batin bella. selama pernikahannya dengan adik sepupu kekasihnya arka yang berstatus suaminya tidak pernah menyentuhnya apalagi tidur bersama di satu ranjang bahkan kedua anaknya dihina anak haram oleh pamannya sendiri.pernikahan mereka hanya kontrak semata jika wanita yang arka cintai kembali dan kekasihnya sadar dari komanya maka dengan terpaksa bella harus meninggalkan keluarga marhesa lagipula semua orang pun tahu jika dia istri dari arka meski begitu dia tidak pernah diajak ke acara keluarga suaminya bahkan tahun lalu saat ulang tahun kakek arka arka dengan tegas melarangnya untuk menghadiri pesta ulang tahun kakek arka sehingga teman-temannya membully karena ia perempuan penggoda.tapi ia melakukan ini hanya untuk kedua anaknya wanita itu tak mau anaknya di cap sebagai anak haram tapi itu salah bahkan keluarga kekasihnya saja menghina anaknya anak haram dan akta kelahiran anaknya tidak tercantum nama arka karena arka menolak dengan keras . "Kau punya kenalan ? Siapa ?" tanya aliza penasaran "Ada beberapa , Tapi yang sejujurnya ingin kutemui adalah ella " Ucap bella yang membuat aliza tersedak dengan kunyahan kue yang hendak ditelannya. Dengan terburu-buru ia segera menyeruput jus dihadapannya. "Oh astaga! Apapun asal jangan Nenek sihir mengerikan itu " Ucap aliza ngeri "Siapa yang kau bilang nenek sihir hah ?!" bentak ella yang entah datang dari mana . aliza menoleh kebelakang dengan gerakan patah-patah. Tenggorokannya terasa kering. Jantungnya berdegub kencang. Demi apapun , bayangkan jika ia harus kepergok sedang menghina orang paling sangar ditempat ia bekerja. Tidakkah ia sudah mengalami hal sperti ini sebelumnya ? "Aku tak bilang jika nenek sihir berambut pink itu adalah anda mbak ella" Ucap aliza polos dengan wajah memelasnya. bella bahkan sampe dibuat tertawa terbahak-bahak. Bahkan sampai memukul-mukul meja. Bagimana bella tidak tertawa. aliza sendiri malah menambahkan berambut pink pada ejekannya yang membuat semua yakin jika yang aliza maksud adalah ella . Ah betapa lucunya aliza . " Aku akan mengulitimu setelah ini aliza !" desis ella kejam "Ampuni hamba putri" Ucap aliza seraya menyatukan kedua tangannya. "Kau pikir aku apa ?! Putri raja ?! Sudah sana pergi ! Direktur memanggilmu !" Teriak ella murka "Direktur ?" beo aliza bloon "Cepat pergi atau aku benar-benar akan mengulitimu lalu menggiling dagingmu !!!" Ucap ella berngos-ngosan ria, aliza mengambil jelly dimeja. medekapnya dengan tangan kanan. lalu tangan kirinya menyodorkan jus miliknya pada ella. Kasihan juga ia melihat atasannya itu kehausan karena memarahinya. "Ini minumlah.. Saya permisi dulu" Ucap aliza lalu pergi setelah memasitikan ella menerima jus miliknya. ella menatap punggung aliza yang telah lenyap dengan jus aliza yang tinggal setengah ditangannya bergantian. Seakan baru saja tersadar dari maksud bawahannya yang memberinya minuman bekas, ella mulai menarik nafas banyak-banyak. "ALIZA !!!!!!!! " teriaknya membahana. Sekali lagi bella dibuat tertawa karena tingkah teman barunya itu. . . . aliza mendengus pasrah. Pikirannya telah merambat kemana-mana . Apa ia telah melakukan kesalahan ? Seingatnya ia tak melakukan kesalahan apapun selain mengatai ella dan yah sedikit korupsi waktu karena bella yang menyeretnya tiba-tiba. Apa bossnya itu tahu ? aliza jadi merinding sendiri. Apa setelah ini ia akan diberhentikan ? Oh tuhan apapun asal jangan yang satu itu aliza mulai menaiki lift. Ia sudah tahu seluk beluk tempat ini, Karena sebelumnya ia pernah dibawa oleh raka untuk berkeliling. Sehabis lari ia lalu meletakkan kue miliknya diloker miliknya dan tanpa pikir panjang ia segera menemui sang Direktur. Setelah sampai dilantai 30 alizapun berjalan kesebuah pintu yang ia ketahui sebagai ruang Direktur. Sedikit berfikir jika Pasti reza atau bagas yang akan ditemuinya, berhubung ia yakin arka tak akan repot-repot mengurus orang kecil sepertinya. Tentu saja ia tahu hal itu dari para pegawai. Begini-begini telinga aliza cukup peka untuk mendengar informasi tentang keluarga marhesa. Sialnya ia jadi teringat dengan janjinya untuk menemui rani dan reza untuk menjelaskan kesalahpahamannya dulu yang sayangnya belum ia lakukan sampai sekarang karena terlalu sibuk. Double s**t. Tok tok tok aliza mulai mengetok pintu dengan sopan. Hingga suara seseorang mengintrupsinya untuk masuk. "Masuklah!" aliza mulai membuka pintu. Masuk kedalam lalu membungkuk sopan. Ia tak berani menatap wajah atasannya. "Ada apa anda memanggil saya ?" Tanya aliza yang kini mengaitkan kedua tangannya didepan pahanya. Ia berdiri dengan wajah tertunduk. Sepertinya ia belum sadar siapa lelaki dihadapannya. "Bagaimana kabarmu ? " tanya arka yang kini mengalihkan tatapannya dari laptopnya. aliza terdiam untuk seperkian detik. Apa ia salah dengar ? Dengan segera ia mendongak dan menatap terkejut kearah arka yang kini menatapnya dalam. "Bagaimana kabarmu aliza ?" Tanya arka sekali lagi. Saat ini arka sedang duduk santai di singgasananya. Tak lupa dengan laptop dan beberapa berkas yang berada diatas meja kerja miliknya. aliza mengepalkan kedua tangannya. Menatap arka dengan pandangan datar miliknya. Jadi yang memanggilnya arka ? Mengapa diantara begitu banyak orang diperusahaan ini arkalah yang memintanya untuk bertemu ? "Ada urusan apa anda memanggil saya kemari ?" Tanya aliza mengulangi pertanyaannya tadi. " Aku hanya ingin menyapamu aliza .. " ucap arka melembut namun tak membuat aliza luluh. "Menyapa ? Apa hal itu harus dilakukan oleh setiap direktur kepada bawahan barunya ?" Tanya aliza dengan nada mengejek. arka mendesah. Ia tak marah dengan sikap yang aliza tunjukkan. Toh iya tahu penyebab aliza bertindak demikian. Alasan apa yang bisa membuat aliza bersikap baik pada orang yang telah mengubah hidupnya ? Bahkan sekalipun ia adalah atasan. Tetap saja hal itu takkan merubah masalalu yang telah ia lakukan. "Apa salah jika aku menyapa pegawaiku sendiri ?" Tanya arka yang kini menatap mata coklat yang sangat dirindukannya itu. Suatu hal yang sangat disyukurinya, Melihat aliza berada dihadapannya sungguh membuatnya bahagia . Ya meski tak bisa menggapainya. Mungkin ini yang dinamakan dekat tapi terasa jauh, tawanya dalam hati. "Oh baik hati sekali dirimu marhesa! Aku baru tahu sikap lain dari dirimu. Selain berhati busuk kau juga gila wanita !" Ucap aliza yang kini meninggalkan norma kesopanannya. "Kau cemburu ?" Tanya arka dengan satu alis terangkat. Ya ia tahu jika aliza hanya mengatainya. Tapi nada yang digunakan aliza sungguh terdengar seperti keluhan istri yang cemburu pada kehidupan suaminya. "Dalam mimpimu s****n !" Ucap aliza kesal. "Mulutmu sayang.." Ucap arka yang kini tersenyum lalu berdiri dari kursinya. "Oh kupikir kau masih bermimpi berbicara dengan para pelacurmu" Dengus aliza yamg kesal karena mendengar ucapan sayang arka . "Aku mengatakannya untukmu" Ucap arka jujur. Kini ia relah berdiri dihadapan aliza meskipun terpaut jarak satu meter diantara keduanya. Ia masih tahu diri untuk sadar jika trauma aliza bisa kambuh kapan saja. "Sayang sekali aku bukan pelacurmu" Ucap aliza santai "Kau memang bukan pelacurku.. Kau adalah calon ibu untuk anak-anakku" Ucap arka yang dengan iseng menyentuh tangan aliza "Jangan menyentuhku ! Menjijikkan !" Ucap aliza dengan mata memerah karena amarah. Mendengar ucapan arka membuat hatinya terasa terbakar. Yang dikatakan arka mungkin saja membuat orang lain akan menganggapnya sebagai gombalan, tapi bagi aliza tidak demikian. Pada kenyataannya ia memang telah menjadi ibu dari anak arka. Ia tak ingin mendengar dan mengingat hal itu. Karena hal itu sama saja membuatnya teringat dengan luka yang sudah lama disimpannya. "Kau marah ?" tanya arka . Ia tahu jika ini pertanyaan bodoh. Tapi ia sungguh tak bisa mengatakan hal selain itu. "Jika kau memanggilku hanya karena ingin meminta maaf, Sebaiknya kau lupakan semuanya pak arka !Jikapun bisa aku takkan sudi mengingat tentangmu ! " bentak aliza yang membuat bagas yang baru saja masuk kedalam ruang arka terpaksa harus menghentikan langkahnya. bagas masuk kedalam lalu menutup pintu dibelakangnya dengan sangat pelan ah kenapa juga ia harus terperangkap dalam situasi kikuk ini batinnya. "Maafkan aku aliza .." Sesal arka. Ia tak peduli jika sang kakak melihat sisi rapuhnya. Ia sudah tak peduli semua itu. "Ya kau memang harus meminta maaf ! Tapi sayangnya maafmu takkan cukup membuat harga diriku kembali ! dan satu lagi-" Ucap aliza yang menggantung ucapannya. arka menatapnya dalam diam menunggu ucapan wanita yang dicintainya. "Aku tahu kau adalah atasanku. Bersikaplah sama , perlakukan aku sama seperti mereka. Lupakan apa yang pernah terjadi diantara kita !" Ucap aliza yang membuat mata arka berubah kosong. "Itu yang kau inginkan ?" tanya arka dengan wajah datarnya. "Ya dan aku akan sangat berterima kasih padamu jika kau melakukan semua itu " Ucap aliza aliza mendesah. Melirik kearah bagas sejenak lalu menatap arka yang kini terdiam. "Saya pamit.." Ucap aliza yang kembali dalam mode sopannya lalu keluar dari ruang tersebut setelah membungkuk hormat bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN