aliza menatap tidak percaya apa yang berada didepannya. Beberapa menit yang lalu ia berenjak dari Bandara untuk kemudian menaiki Taxi.
Hingga disinilah ketiganya berdiri, menatap Sebuah rumah dengan taman dan cukup luas.
Jika diperhatikan, sepertinya rumah ini telah ditinggal oleh pemiliknya kurang lebih setahun.
Entah, hanya itu yg ada dalam pikiran aliza. Mengapa ia beranggapan demikian ? Hal itu karena ia dapat dengan jelas melihat bahwa rumah itu telah dibingkai dengan sarang laba-laba dan juga rumput tamannya yg terlihat liar.
"Apa mama yakin jika sahabat mama benar-benar tinggal dirumah ini ?" Tanya aliza yg mencolek pagar dihadapannya. Yah, mereka belum memasuki gerbang sama sekali.
"Debunya begitu tebal" gumam aliza lalu meniup debu yg berada dijarinya. Ia melirik ratih menunggu jawaban.
Namun, ratih tak menjawab sama sekali. aliza mendesah, ia dapat melihat dengan jelas tampang terkejut diwajah berkeriput mamanya. Ah sepertinya mamanya juga sama terkejutnya dengannya.
aliza lalu mengambil Handphone di Sakunya . Sepertinya ia sibuk mencari hotel terdekat dari tempat itu. Sangat tak masuk akal jika ia bisa membersihakan rumah itu dalam sehari. Apa lagi ia hanya sendiri. Tak mungkin ia meminta mamanya yang sudah tua ataupun putranya yang masih belia guna membantunya. Jadi jalan satu-satunya ya, ia harus menginap dihotel sekarang. Apa lagi mereka baru saja tiba.
"mommy.." panggil marchel yg kini menarik-narik rok aliza meminta perhatian.
Merasakan pergerakan sang putra dan juga suaranya yang menggemaskan membuat aliza memalingkan wajahnya dari menatap layar Handphone ditangannya.
"Ya sayang ?" Jawab aliza yg kini berjongkok guna mensejajarkan tubuhnya dengan sang putra.
"Ada apa hum ?" Tanya aliza lalu mengelus surai putranya.
"aku ngantuk~ " ucap marchel sambil mengucek kedua matanya yg kini memerah dan terlihat berair karena menahan kantuknya.
"Ahh! " aliza tidak tahu harus mengatakan apa sekarang. Ia ingin meminta anaknya untuk menunggu sebentar sampai mereka menemukan hotel, tapi ia jadi kasihan pada putranya karena mau bagaimanapun putranya sudah mengantuk saat tiba dibandara tadi. aliza mendesah. Ia harus mencari taxi dengan segera agar ia dan keluarga kecilnya bisa beristirahat sekarang.
"marchel tidur di gendongan mommy saja ya ?" Ucap aliza sambil tersenyum.
"Umm..." marchel bergumam sambil menganggukkan kepalanya. Saat sang ibu memeluknya lalu menggendongnya, marchel dengan segera membaringkan wajahnya dibahu sang ibu tak lupa dengan kedua lengan mungilnya yg memeluk dengan erat leher aliza.
"Nah sekarang marchel bisa tidur ya " ucap aliza lalu mengelus punggung putranya dengan penuh kasih sayang. Karena memang marchel sudah menahan kantuknya sedari tadi, mata kebiruannya kini mulai meredup lalu tak berselang lama, mata miliknya tertutup sempurnah disertai dengan dengkuran halus dari sang pemilik menandakan sang empunya telah terbang kedunia lain.
"Apa cucuku sudah tidur,aliza?" Tanya ratih setelah terdiam beberapa waktu lamanya.
Mendengar suara mamanya yang baru saja bersuara setelah beberapa waktu terdiam membuat aliza tersenyum.
"Ia mama. Sepertinya ia sangat lelah hingga dalam keadaan sepertipun ini ia bisa tertidur" jawab aliza yg kini masih setia mengelus punggung putranya.
Meski sempat heran juga karena putranya biasanya tidak bisa tidur ditempat sembarangan.
Mungkin karena lelah pikir aliza .
"mama... bukakah ini perumahan elit ?" Tanya aliza dengan hati-hati. Ia memang bukan warga Indonesia sebelumnya. Tapi saat ia mencari hotel setelah menuliskan alamat tempat ini, ia jadi mendapatkan hal yang mengejutkan. Kalau kawasan ini adalah tempat tinggal para keluarga pengusaha. Dan itu berarti jika keluarga ibunya adalah keluarga yang tidak biasa.
"Apa yang kau katakan ? Apa kau tidak melihat jika rumah milik mama itu terlihat biasa-biasa saja begitu ?" Tanya ratih terlihat menyembunyikan sesuatu.
aliza tak berkomentar, mamanya memang benar. Dibandingkan dengan rumah-rumah lainnya dari perumahan ini, bisa di bilang rumah mamanya lah yang paling kecil dan juga sederhana. Apa lagi letaknya sampai berada di tempat paling ujung. Kalau dipikir-pikir, aliza bahkan sempat melihat beberapa rumah ah aliza bahkan ragu untuk menyebutnya rumah. Karena baginya rumah-rumah besar itu terlihat seperti istana seperti dalam dongeng.
Meski rumah mamanya kecil, bukan berarti rumah milik mamanya terlihat biasa. Desainnya bagus. Dan tak kalah bagus dengan rumah-rumah orang diluar dari perumahan ini tentunya. Yah maksud aliza kalangan orang biasa. Karena meski tumah mamanya bagus, rumah dari perumahan ini tak bisa menandingi rumah mamanya .
"mama .. aku akan memanggil Taxi . Sebaiknya kita beristirahat saja . Aku akan membersihkan rumah mama mulai besok " ucap aliza
"Ya, mau bagaimana lagi. Ini juga sudah sore sepertinya. Kita tidak punya banyak waktu. Lagipula marchel sudah tidur" ucap ratih sambil tersenyum .
"mama tunggu di sini sa-"
"aliza ?!" Panggil seseorang yang berada tepat dibelakang tubuhnya. Yah karena saat ini aliza telah memunggungi seorang wanita dan pria yang baru saja keluar dari gerbang rumahnya yang berada tepat dihadapan rumah ratih .
"Kau benar aliza kan ?" Tanya wanita itu yang kini tersenyum penuh harap.
aliza berbalik lalu melihat seorang wanita yang teramat dikenalnya yang kini sedang menggandeng tangan seorang lelaki tampan.
"kinan ?!!" Pekik aliza kaget bercampur rasa kaget dan rindu secara bersamaan.
"Astaga !! Ini benar-benar kau ?! Oh tuhan aliza. Aku merindukanmu kau tahu ?!!" Pekik kinan tak kalah hebohnya dengan aliza. Keduanya sangat berisik sampai-sampai raka menggeleng melihat tingkah mereka.
Tapi raka tak mengatakan apapun. Ia tahu jika kinan dan aliza adalah sahabat saat smp dan sma dulu. kinan sudah memberitahunya. Istri cantiknya itu selalu saja mengungkit tentang aliza sepanjang waktu. Bahkan kinan sempat merengek padanya agar mereka bulan madu di belanda saja . Dan tentu saja ia tahu apa alasan sebenarnya dari istrinya itu. dimas jelas menolak. Bukan karena ia tak mengijinkan aliza berteman dengan istrinya. Tapi ia hanya tak ingin waktu selama berbulan madunya jadi terganggu karena hal kecil sekalipun.
" Aku juga merindukanmu kinan ! Kau jahat sekali tak memberiku Informasi tentang kepulanganmu waktu itu !" Ngambek aliza yang merasa tak terima dengan sikap kinan. Ya, saat kelulusan dulu kinan tiba-tiba menghilang tanpa memberinya kabar sedikitpun. Sampai-sampai membuat aliza mencari kabar darinya dari waktu ke waktu. Dan lihatlah, ia tak mendapatkam berita apapun sampai ia mengetahui kebenarannya sekarang jika sahabatnya itu berada diindonesia .
Suara kinan dan aliza membuat pria yang merupakan suami kinan khawatir jika anak kecil yang digendong aliza jadi terbangun.
''apa mereka tidak sadar jika Ada anak kesini "? batin raka
"Maafkan aku aliza. ayahku membawaku dengan paksa saat itu . Aku tak bisa kemana-mana. Lalu kau !! Kau tak memiliki Hp. Bagaimana bisa aku menghubungimu huh ?!" Ucap kinan menyalahkan.
aliza menatap kinan dengan senyum kikuk miliknya yang sama sekali tak membuat kemarahan kinan reda.
"Maaf kinan. Kupikir saat itu aku tak terlalu membutuhkannya " ucap aliza .
"Ya ya ya ! Ku anggap itu sebagai alasan " ucap kinan sambil memutar bola matanya bosan.
"Lalu sekarang bagaimana ? Apa kau sudah memilikinya ?" Tanya kinan
"Memiliki apa maksudmu ?" Tanya aliza bingung
BLETAK
Sebuah jitakan berhasil mendarat dikepala aliza membuat aliza meringis karenanya.
"aduh.. itu Sakit kinan ! Apa sih yang kau pikirkan ?!" Gerutu aliza sambil memanyunkan bibirnya.
'Dia tidak berubah sedikitpun' batin kinan
"Tentu saja Hp bodoh. Memangnya apa yang kau pikirkan ?!" Ucap kinan sambil bersedekap
"Ah aku sudah memilikinya. Sini berikan Hpmu , aku akan mengetik nomerku" ucap aliza lalu meraih handphone yg di julurkan kinan kearahnya dengan tangan kirinya. Karena tangan kanannya sibuk mendekap marchel dalam gendongannya. Ah yah sepertinya kinan belum menyadari putra dari sahabatnya itu.
" Apa yang kau lakukan disini ?kau baru saja pindah ?" Tanya kinan sambil melirik dua koper besar yg berada disisi aliza
"Hum.. aku baru tiba beberapa jam yang lalu. Kau tahu, itu rumah mamaku " ucap aliza sambil menunjuk rumah ratih yang terletak ditempat rumah kinan dan dimas.
"Ah kau akan tinggal disana ?! Rumah itu sudah ditinggalkan 1 tahun yang lalu, ah lebih baik kita masuk kerumahku aliza. Bagaimana kalau untuk sementara kau menginap Dirumahku sampai rumahmu siap untuk ditinggali ?" Tawar kinan sambil tersenyum penuh harap. Sedang aliza terlihat menimbang-nimbang.
"Ayolah ! Anggap saja ini adalah reuni sahabat setelah sekian lama !" Bujuk kinan
"Tapi.. aku tak ingin menyusahkanmu kinan " ucap aliza
"Apa yang kau katakan bodoh ?!! Memangnya aku siapamu ?" Ucap kinan terlihat marah
"istriku benar. Kami tak keberatan sama sekali. Jika kau tak keberatan, kami bisa menyediakan beberapa kamar untuk kalian pakai beberapa hari kedepan" ucap raka sambil tersenyum ramah.
"k-kinan dia siapa ?" Tanya aliza yang tampaknya baru menyadari keberadaan raka .
Dalam hati raka mendumel. Apa sedari tadi wanita itu tak menyadari kehadirannya.
"Dia Suamiku" ucap kinan lalu tanpa sengaja pandangannya terjatuh pada ratih yang sedari tadi terdiam sambil menyaksikan percakapan mereka .
"Ahh tante. Maaf aku sampai lupa! Astaga aku benar-benar tidak sopan! Mari masuk, anggap saja rumah sendiri" ucap kinan merasa bersalah karena telah membiarkan mama aliza berlama-lama berdiri dijalan. kinan lalu memberi isyarat agar satpamnya membuka gerbang.
kinan menatap anak lelaki dalam gendongan aliza . Tapi ia memilih bungkam dan tak menanyakan apapun.
"Biar mas raka saja yg membawa kopermu aliza.. ayo masuk!" Ajak kinan sambil tersenyum ceria.
???????????????
Setelah aliza menata barangnya dikamar yang telah aliza tempati. Kini aliza menaiki ranjang dimana marchel tertidur dengan pulasnya ditemani dengan selimut tebal yg sangat hangat.
"Putra mommy terlihat sangat lelap.." ucap aliza seraya mengelus rambut abu-abu milik putranya marchel sejak lahir memiliki rambut ungu berbeda dengan dirinya memiliki warna rambut hitam ia berpikir itu pasti warna rambut keturunan pria yang menjadi ayah putranya
"Selamat tidur sayang.." ucap aliza lalu mengecup kening putranya yang kini terlelap
kinan yang sedari tadi berniat membuka pintu sepertinya mengurungkan niatnya. Ya, pelayannya telah menyiapkan makananan karena ia yakin jika aliza belum makan. Tapi ia tadinya berhasil membuka sedikit pintu akhirnya berhenti saat mendengar ucapan demi ucapan aliza .
'aliza meniliki seorang putra ?' Batinnya bertanya-tanya.
aliza belum melihat wajah putra sahabatnya itu . Karena putra sahabatnya itu tertidur dan wajahnya tak terlihat karena tenggelam dalam perpitongan leher mamanya .
Tapi Ini heran. Karena ia tak melihat sosok suami aliza dan aliza juga tak membahas masalah pernikahan padanya. Apakah suami aliza meninggal ? Atau mereka bercerai ?atau suaminya selingkuh?
"Apa anak mommy merindukan daddy ? Maafkan mommy.. mommy belum bisa memberitahukan kehadiranmu padanya.. marchel bisa menunggukan sayang?" Ucap aliza yang kini terduduk dipinggir ranjang sambil menatap putranya sendu.
'aliza..' batin kinan sedih. Ia sedikitnya paham masalah aliza .
"Masuklah kinan .. apa kebiasaan menguntitmu belum juga hilang huh ?" Ucap aliza dengan suara yang sedikit ditinggikan karena takut membangunkan sang putranya. aliza terkikik seraya menatap pintu kamarnya kini perlahan terbuka.
"S-sejak kapan kapan kau sadar a-aku ada di sana ?" Tanya kinan salah tingkah
"Umh.. sejak kau menyentuh kenop pintu kurasa " ucap aliza sambil tersenyum.
"Kemarilah...!" Panggil aliza lalu menepuk sisi ranjang meminta agar kinan mendekat.
kinan berjalan kearah ranjang lalu duduk disisi aliza dalam diam. Ia tak berani menatap wajah putra aliza . Takut-takut pergerakannya bisa membangunkan putra dari sahabatnya itu.
"Kau tak bertanya siapa dia ?" Tanya aliza sambil tersenyum
"Aku tak memaksamu untuk mengatakannya. Jika kau belum siap aku akan menunggumu sampai kau benar-benar bisa mengatakannya" ucap kinan dengan wajah bersahabat. Ia bahkan menatap aliza prihatin karena dari apa yg di dengarnya dari aliza tadi, ia menangkap sesuatu jika aliza mengalami kecelakaan dan Hamil diluar nikah. Yah menurutnya seperti itu.
"Kau tak perlu menatapku seperti itu kinan " ucap aliza sambil menepuk bahu kinan yg kini semakin menampilkan wajah prihatinnya.
"Apa kau yakin kau baik-baik saja ?" Tanya kinan . Ia tahu jika aliza tipe wanita yang seperti apa dulunya. Bahkan aliza pernah menampar keras seorang lelaki ditempat umum karena memainkan rambut aliza . Sahabatnya itu sangat menjunjung tinggi kehormatannya.
"Itu cerita lama .. Aku sudah tidak terlalu memikirkannya" ucap aliza lalu menundukkan wajahnya untuk melihat kedua tangannya yang saling bertaut.
kinan tak mengatakan apapun. Ia hanya diam dan mendengarkan. Karena ia tahu jika aliza mungkin akan menceritakan kisah pilunya yang tak kinan ketahui sebagai seorang sahabat yg sangat dekat.
"Kau tahu bukan jika sejak awal aku bukanlah orang yg berada ?" Tanya aliza yg mendapat anggukan oleh kinan
"mamaku tiba-tiba Sakit.. aku membutuhkan biaya.. jadi setelah tamat aku langsung bekerja"
"Aku melakukan segala jenis pekerjaan.. menjadi kasir, menjadi pelayan disebuah rumah makan, bahkan aku sempat bekerja disebuah bar"
"B-Bar ?" Beo kinan yang yerlihat terkejut. Ia memutuskan untuk tak berkomentar. Karena ia tahu aliza akan menjelaskannya tanpa ia bertanya sekalipun.
"Aku bekerja sebagai kuli angkut kinan.. memang apa yang kau pikirkan ? Ahahahahh" ucap aliza lalu tertawa. Ia jadi lupa jika putranya sedang tertidur. Tawanya lepas saat melihat wajah kinan yang meneteskan bulir keringat saat ia mengatakan jika ia bekerja di Bar.
"Aku bekerja dibagian gudang.. itupun aku melakukannya karena itulah satu-satunya pekerjaan tersisa dengan gajinya yang cukup untuk menghidupi kehidupan aku dan mama " ucap aliza yang membuat kinan mendesah lega. Ia sempat berfikir yg tidak-tidak tadinya.
"Lalu lelaki itu datang..." ucap aliza dengan wajah sendu yg membuat kinan terlihat memperbaiki posisinya.
'Apa lelaki yg dimaksud adalah ayah marchel ?' Batin kinan
"Dia mabuk berat.. lalu mendatangi tempat aku bekerja dan kau tahu apa yang dilakukannnya padaku " ucap aliza lalu meremas roknya dengan erat.
kinan dengan cepat merangkul punggung aliza untuk menenangkan.
"Aku baik-baik saja kinan .. " ucap aliza lalu menatap kinan dengan senyum sendunya. Sangat terlihat jelas bagaimana aliza menahan tangisnya.
"Lalu dimana lelaki itu sekarang ? Kau tak meminta lelaki itu untuk bertanggung jawab ?" Tanya kinan
"Setelah kejadian itu ia terus datang setiap harinya untuk meminta maaf padaku .." ucap aliza
"Gila ! Apa dia pikir dengan meminta maaf semuanya akan kembali seperti dulu ?!" Ucap kinan tak terima
"Yah kau benar. Asal kau tahu kinan . Dia bahkan memberiku uang sebagai bayaran dari apa yang dilakukannya padaku" ucap aliza
"b******k !! Apa dia berniat menyamakanmu dengan seorang perempuan murahan diluar sana ?!!!" Teriak kinan murka. aliza menggigit bibirnya.
"Eehh maaf . Aku tak bermaksud mengataimu " sesal kinan
"Aku tahu.. " ucap aliza lirih
"Lalu dimana pria itu sekarang ?! Rasanya aku ingin memotong tubuhnya !!" Ucap kinan
"Suatu hari ia menghilang tanpa kabar dan aku tak mendengar berita tentangnya sampai kini" ucap aliza
"aliza .." ucap kinan merasa sedih. Ia memeluk aliza dengan erat.
"Kau masih memiliki kami.. kau tak sendiri.." ucap kinan yg dibalas aliza dengan anggukan.
"Jika kau butuh sesuatu, katakan padaku" ucap kinan
"Ya"
"Maaf karena aku tak ada disaat kau benar-benat butuh sandaran.. aku bukan sahabat yang baik hiks..." tangis kinan pecah.
"Maaf.. maafkan aku.."
"Apa yang kau katakan?! Kau adalah sahabatku satu-satunya. Kau sahabatku yang terbaik kinan . Lupakan saja. Lagipula aku sudah tak memikirkannya lagi" ucap aliza yang kini menguraikan pelukannya lalu menyeka air mata kinan
"mommy~" ucap marchel dengan suara seraknya.
"Ah putranya mommy sudah bangun?" aliza dengan segera menghampiri putranya begitupula dengan kinan yang ingin melihat wajah marchel . Ia penasaran setengah mati.
Bibir merah, mata sayu dan suara serak anak kecil yang baru bangun. Ukhhh rasanya kinan ingin memeluk marchel sekarang juga.
"Ahhh.. tante sampai membangunkanmu" sesal kinan dengan wajah yang terlihat sedih.
"Sudahlah kinan Lagipula marchel sudah cukup lama tertidur" ucap aliza
"mommy ~ .. tante cantik itu ciapa ?" Tanya marchel yang kini baru saja duduk dari acara berbaringnya.
"Kyaaaaa! Dia memanggilku cantik !! Kau mendengarnya aliza ? Ahh anakmu lucu sekali " pekik kinan yang melompat girang tak sadar dengan umurnya.
"Dia sahabat mommy ..Ah mommy sudah menganggapnya sebagai saudara mommy sayang.." ucap aliza dengan tatapan lembut khas seorang ibu.
"Caudala ?" Beo marchel lalu mata bulat lucunya itu menatap kinan dengan mata berkedip lucu yg membuat kinan tak tahan untuk menggendongnya sekarang juga.
"Ayo kemari sama bunda kinan. kau bisa memanggilku seperti itu" ucap kinan lalu menggendong marchel yang pada awalnya terlihat enggan, tapi melihat anggukan mommynya akhirnya ia tersenyum.
"Nah sekarang. Coba panggil aku " perintah kinan penuh harap pada marchel yang telah ada dalam gendongannya.
" B-bunda kinan ?" Ucap marchel ragu
"Kyaaaaaaa !! Benar sekali !! Ayo kita kedapur aliza , kalian pasti lapar" ajak kinan yg yeringat akan niatnya sebelum kemari.
aliza hanya mampu menggeleng melihat tingkah sahabatnya itu. Ya, setidaknya ia tahu jika kinan belum memiliki anak. Sahabatnya itu terlihat seperti ibu yang sangat bahagia.
.
.
.
" mas raka.. lihat putra kita.. dia tampan bukan ?" Tanya kinan yang kini baru saja tiba di meja makan lalu mendudukkan marchel disalah satu kursi yg memang secara Khusus ia siapkan untuk anak sahabatnya itu.
raka lalu menatap marchel yg rasanya mengingatkan dia akan seseorang.
"Kau harus mendengarnya mas raka ! Ayo sayang, coba panggil aku !" Ucap kinan girang yang membuat aliza sweatdrop dengan sikap kinan
"bunda kinan ! bunda kinan cantikk hehehe" ucap marched sambil tersenyum ceria
raka yang tadinya terdiam kini tertawa mendengar ucapan marchel .
"Nah marchel .. yang disana itu Suami bunda.. kau bisa memanggilnya ayah raka " ucap Ino
"A-ayah ?" Beonya dengan suara bergetar yang membuat aliza dan ratih terdiam dengan wajah sendu mereka.
"Ya.. ayah raka.. marchel bisa memanggilnya begitu" ucap kinan
" ayah laka !" Ucap marchel yang membuat kinan dan yang lainnya terbahak. Karena panggilan marchel yang cadel malah membuat nama raka terdengar lucu.
raka sendiri tidak keberatan. Ia hanya tersenyum ia bahkan merasa jika hatinya senang . Berharap jika kelak ia dan istrinya akan mendapatkan keturunan. Ya, meski itu mustahil. Karena ia tahu jika istrinya sulit memiliki anak.
.
.
.
arka menatap berkas dihadapannya dalam diam. Namun lalu tatapannya beralih kearah Laptop dihadapannya. Jemarinya tak henti-hentinya bergerak. Ya, saaat ini ia berada di Perusahaan ayahnya.
"Kau belum pulang arka ?" Tanya bagas yang baru saja masuk kedalam ruangannya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Sudah berapa kali ku katakan jika kau harus mengetuk sebelum kau masuk !" Ucap arka kesal tapi tatapannya tak beralih sedikitpun dari layar laptopnya.
" Apa pekerjaanmu masih banyak ?" Tanya bagas yang tak berniat menanggapi ucapan adiknya.
"hm "
"cih, apa tak ada kata lain yang bisa kau ucapkan adikku sayang ?" Goda bagas yang tak ditanggapi oleh arka.
"Kau tidak seru arka ! " gerutu bagas lalu merebahkan tubuhnya disofa yg berada di ruangan adiknya.
"Apa kau tak berniat mengunjungi 'istri dan anakmu' ?" Tanya bagas
"Aku sibuk !"mereka bukan anakku !" ucap arka dingin.
"Kau bisa memgambil cuti. Ku rasa papa takkan keberatan " ucap bagas
"Aku tidak tertarik!"
bagas hanya mendesah. Lalu melirik sang adik yang masih sibuk mengetik.
"Lalu bagaimana dengan 'dia' ? Kapan kau akan mengunjunginya ?" Tanya bagas
arka menghentikan pekerjaannya untuk pertama kalinya.
" Akan kulakukan segera " ucap arka dengan suara datarnya.
" Dan satu lagi aku bukan ayah mereka " arka menatap tajam terhadap bagas
" tapi,arka bagaimanapun kau suami dari ibu mereka jadi-
" dia bukan istriku "! w***********g itu telah menjebakku dan membuat papa memaksa aku menikahinya"?
" hm,kau Benar tapi sekarang lihatlah sekarang papa dan mama sangat membencinya setelah bukti keturunan naila yang kau tunjukkan pada papa!"
" hm "
bagas lalu berdiri dan merapikan penampilannya. Mau bagaimanapun ia tak ingin tampil buruk saat pulang kerumah. Istrinya bisa-bisa tak berselerah padanya.
Ia menatap kearah arka sejenak. Ia jadi teringat akan marchel. Tapi ia mengurungkan niatnya untuk mengatakannya pada arka tentang apa yang dilihatnya tadi.
"Aku menunggumu dirumah.. " ucap bagas lalu meninggalkan ruangan arka. Yah meninggalkan sesosok Pria yang kini mendesah.
"Aku merindukanmu... " ucap Lelaki bermata kebiruan tersebut yang kini memejamkan kedua matanya.
"Sepertinya aku akan lembur lagi" ucap arka lalu kembali melanjutkan kesibukannya.
bersambung