aliza menatap hasil kerjanya seraya menyeka keringat dikeningnya. Ya, seharian ini ia membersihkan rumah milik mamanya . Meski ia sangat ingin mendapatkan pekerjaan , tapi ia lebih memprioritaskan rumah milik mamanya itu terlebih dahulu. Karena ia tak ingin membebani sahabatnya lebih jauh. Untuk masalah pekerjaan ia meminta pada raka yang merupakan adalah seorang CEO dari perusahaan mahesa . Ya setidaknya raka yang bergelut dalam dunia perusahaan akan tahu tempat yg membutuhkan pekerja untuk tamatan SMA sepertinya.
Sebenarnya raka telah menawari aliza untuk bekerja di bawah perusahaannya. Tapi aliza menolak dengan alasan ia tak ingin menyusahkan kinan dan raka lagi. Mereka sempat berdebat yang tentu saja debat itu di menangkan oleh aliza yang bersi keras tak ingin menyusahkan keduanya. Sejenak aliza mendesah. Ia pun menoleh kearah kiri, ada lima orang wanita yang aliza kenal sebagai pelayan yang bekerja di rumah milik sahabatnya yakni kinan. Ia jadi teringat percakapan mereka pagi tadi.
Flashback
Suasana ruang makan yg dulunya selalu sepi kini nampak ramai. Ya tentu saja hal itu karena kehadiran aliza , marchel dan ratih.
aliza sesekali menyeruput teh hangat miliknya sambil menegur Putranya yg makan dengan cara belepotan.
"Kapan kau ingin bersih-bersih aliza ?" Tanya kinan
"Ahh~ aku akan mulai membersihkannya setelah ini. Aku tak ingin menyusahkan kalian lebih lama lagi" ucap aliza sambil menggaruk pipinya yg tak gatal sedikitpun
"Ck, apa yg kau katakan. Bukankah itu wajar ? Justru aku sangat senang karena aku bisa memberimu bantuan. Jika kau memang butuh sesuatu, kau tak perlu segan mengatakannya " ucap kinan yang berfikir untuk menoyor kepala aliza, tapi ia mengurunkannya karena melihat marchel ada disini.
" hahahaha ya aku mengerti. Tapi aku benar-benar tak perlu bantuan apapun lagi. Kalian sudah membantuku terlalu banyak" ucap aliza sambil tersenyum. Namun didetik berikutnya matanya membola karena melihat putranya yg nyaris menjatuhkan gelas dari meja karena terkena sikutan.
"Hati-hati sayang" tegur aliza. Sedang marchel menoleh kearahnya dengan mata bulat lucunya yang membuat aliza tak tega untuk menegur lagi.
" Sebenarnya aku dan mas raka tak bisa membantumu karena hari ini aku ingin mengunjungi ibuku dan mas raka harus harus mengurus perusahaan . maaf aliza.." sesal kinan
"Apa yg kau katakan ? Aku kan sudah bilang jika aku akan melakukannya sendiri dan tak ingin menyusahkan kalian lagi " ucap aliza bosan
raka yg sedari tadi terdiam kini menatap wajah Istrinya yg terlihat muram.
"Kau bisa membantunya sayang. Bukankah pembantu dirumah kita banyak ?" Ucap raka seraya menatap kinan penuh pengertian.
"Ah kau benar mas ! hm aliza, karena aku tak bisa membantumu. Sebagai gantinya aku akan mengirim lima orang pembantu yang bekerja dirumah ini untuk membantumu" putus kinan
"Haahhh~ apa aku harus menyusahkan kalian lagi ?" Ucap aliza lirih. Ia terlihat pasrah dengan apa yang dilakukan oleh kinan . Menolakpun kinan pasti takkan menyerah. Sahabatnya itu sangat keras kepala.
"Oh iya aku hampir lupa. Kemarin aku sudah mengirim beberapa barang kerumahmu aliza. Ah jika kau tak suka warnanya kau katakan saja padaku. Aku bisa menukarnya dengan warna yang kau inginkan" terang aliza lalu menyeruput jus miliknya.
"Berapa jumlah yg harus kubayar ?" Tanya aliza yang tafinya sangat terkejut.
"Kau tak perlu membayarnya. Anggap saja itu hadiah kecil dariku" ucap kinan lalu mengedipkan salah satu matanya.
Dan ya, aliza hanya bisa mendesah panjang saat itu.
Flashback off
"Syukurlah sudah selesai.. fyuhhhh" ucap aliza lalu mendudukkan bokongbya disebuah Sofa.
aliza terdiam lalu mengelus Sofa yang di dudukinya. kinan benar-benar membuatnya berutang banyak. Sahabatnya itu tak tanggung-tanggung. Sofa, beberapa lemari, Tv, Meja antik, seluruh yg dibutuhkannya di kamar dan dapur bahkan diberikannya. Dan semua itu diberikan padanya Cuma-cuma alias geratis.
"Apanya yang hadiah kecil ?" Gerutu aliza sambil geleng-geleng. aliza yakin jika kinan pasti menghabiskan puluhan juta untuk membeli semua ini. Mengingat hal itu aliza tidak tahu apa ia harus bersyukur atau apa.
" Semuanya sudah selesai nona . Kami juga sudah memangkas dan merapikan taman depan " ucap salah satu pembantu kinan yang menghampiri aliza.
"Ah ya, terima kasih. Kalian sungguh membantu" ucap aliza sambil tersenyum tulus. Ya berkat pembantu aliza, rumah itu bisa ditempati malam ini.
"I-itu sudah menjadi tugas kami" balas sang pembantu bergender pria yang kini tersipu karena senyum aliza yg terlewat manis.
"Umh.. kalian boleh beristirahat"
.
.
.
raka berjalan dengan santai di sebuah gedung besar yg berlebelkan 'marhesa crop' . Bukan urusan pribadi. Meski Sang sahabat adalah orang penting digedung tersebut. Ya, kali ini ia berkunjung untuk membicarakan proyek yg melibatkan kedua perusahaan.
raka berjalan tanpa menghiraukan beberapa tatapan memuja para karyawan yg entah mengapa bisikan mereka sangat muda di tangkap oleh indra pendengarannya. Dan jangan lupakan para karyawan yg memang suka bergosip. Salahkanlah pendengarannya yg terlalu tajam. Hingga suatu suara mencuri perhatiannya.
"Hei, ku dengar salah satu Office girl yang bekerja dibagian koridor meninggal"
"Benarkah ? tante yang rajin itukan ?"
"Iya. Ku dengar ia selalu pulang terlambat karena bekerja keras. Kepala kebersihan yang sok cantik itu selalu membebaninya dengan memberinya tugas yang tidak seharusnya ia kerjakan sendiri "
"Ya, dia seperti nenek sihir. Keterlaluan sekali bukan ?"
"Kau benar. Kita lihat saja bagaimana pak arka dan pak bagas murka karena perusahaan tak sekinclong biasanya"
"Ya, aku akan sangat bersyukur jika w*************a itu dipecat"
"Ya ya ! Mungkin saja karena terlalu lelah beliau tak sempat menghindar hingga ia tertabrak"
"Bisa jadi. Mau bagaimanapun tante itu dipekerjakan seperti mesin. tante itu mau saja bertahan dibawah kungkungan w*************a itu"
"Kasihan sekali.. beruntung kita di terima sebagai karyawan"
"Itu karena kita adalah seorang sarjana. Kau pikir dengan gelar sarjana kau akan dijadikan seorang OG ? "
"Hahahaha iya juga sih"
raka menarik sudut bibirnya untuk seperkian detik. Sepertinya ia mendapatkan berita yg menarik.
Tak berselang lama, Iapun memasuki sebuah ruangan dimana sang sahabat dan juga beberapa orang diantaranya yang raka kenal.
"halo arka" sapa raka lalu menduduki kursi yg memang diperuntukkan untuknya.
"oh" arka hanya memberikan gumaman andalannya.
Tak perlu waktu yg lama mereka memulai rapat. reza dan bagas tak terlalu banyak berbicara. Ya dengan sesekali Sosok raka yang juga memberi tanggapan.
"Bagaimana pemasaran produk kita selama sebulan masa percobaan ?" Tanya arka pada Manager pemasaran yang bernama ahmad. Mengenai kerja sama antara Perusahan mahesa dan marhesa kali ini memang tak jauh-jauh dari makanan instan. Ya karena perusahaan mahesa memang membawahi urusan makanan-makanan. Berbagai Mini market yg tersebar berada dalam naungannya. Dan kali ini perusahaan milik raka akan bekerjasama dengan Perusahaan marhesa yang bekerja dalam hal apa saja. Karena marhesa Crop merupakan perusahaan yang besar. Bahkan masuk dalam jajaran dunia dengan menempati urutan Pertama. Cabang mereka berada dibelahan negara manapun. Untuk mengenai persaingan, .marhesa Crop bersaing dengan ALIZA Crop yang juga sama terkenalnya. aliza Crop juga memiliki cabang. Kadang persentase keuangan mereka saling meloncati sama lain. Kadang marhesa yang teratas , kadang pula sebaliknya. Tapi untuk beberapa tahun terakhir aliza Crop terus menempati urutan kedua setelah marhesa Crop tentunya. Sedang tanjung Crop berada di urutan ketiga.
sebenarnya perusahan aliza merupakan perusahaan milik sahabat reza ayah dari arka dan bagas.perusahaan itu dibangun untuk menyambut kelahiran sang putri dari keluarga tanjung namun sayang sang putri tunggal keluarga tanjung hilang diumur 8 hari saat keluarga tanjung mengalami peristiwa yang membuat pasangan suami istri meninggal dalam insiden kebakaran.
"Satu bulan ini, permintaan pasar mencapai sebanyak 60% dari produksi, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan omset pasar.” jelas ahmad
"Apa?! Apa yang kalian katakan!?, Bagaimana bisa pencapaian yang kita dapat hanya 59% , padahal saya sudah memberi perintah untuk menambah bahan baku pada pihak produksi dan mengambil kas perusahaan untuk hal tersebut?!" ucap arka dengan wajah dinginnya. Ia menatap ahmad dengan mata kebiruannya yang tajam. Seakan tak peduli lelaki dihadapannya lebih tua darinya atau tidak. Jika hal itu berkaitan dengan pekerjaan arka tak akan pandang bulu.
"Sudahlah arka" ucap raka yang berusaha menurunkan amarah sahabatnya. Ya, Meski ia juga sama kecewanya. Tapi ia tak ingin tersulut emosi hanya karena ini. Setelah itu ia menoleh kearah ahmad.
"Apa yang menjadi penyebabnya?" tanya raka
"Kami telah meneliti dan terjun ke lapangan dan menemukan fakta bahwa ada sejenis produk seperti kita yang memiliki porsi yang lebih banyak dan memiliki aroma yang khas. Hal itu menjadikan para konsumen penasaran dan beralih ke produk tersebut.” terang ahmad lalu menundukkan wajahnya
Tangan arka mengepal. Ia memejamkan kedua mata kebiruannya yang terasa terbakar akan amarah. Sedang reza mendesah pelan lalu menatap ahmad dalam.
"Produk yang kau maksud, perusahaan apa yang menjadi pesaing kita ?" Tanya reza
"itu ano aliza Crop yang melakukan kerjasama dengan RN-Crop" jelas ahmad
"Ck, lagi-lagi mereka ?" Gerutu arka
"RN Crop ? Aku baru mendengarnya. Bekerjasama dengan perusahaan makanan yang tak terkenal seperti itu, aliza Crop cukup berani juga" ucap bagas yang sedari tadi terdiam berusaha mencairkan situasi yg menegangkan ini.
raka dan yang lainnya mengangguk membenarkan.
' kenapa nama perusahaan aliza corp mirip dengan nama aliza ya...apa mungkin aliza adalah...adikku yang hilang kalau begitu aku harus mencari siapa aliza sebenarnya' batin raka.raka sebenarnya mempunyai adik perempuan yang hilang bersamaan dengan tewasnya kedua orang tuanya.
"Tapi Setelah saya mencoba dan juga mencaritahu pendapat orang-orang sebelumnya, produk-produk milik RN Crop memang memiliki cita rasa yg luar biasa. Dalam bagian produksi, mereka memiliki Chef lokal dengan kemampuan yang luar biasa" ucap ahmad takut-takut
"Cih, Jadi aliza Crop sudah memperhitungkan semua itu ? Mereka memang tidak bisa diremehkan!" Ucap reza
"ah" dengus raka lalu menautkan kedua tangannya lalu menjadikan tangannya penyangga untuk menopang dagu miliknya. Ia terlihat berfikir keras.
"Kita harus mencari jalan keluar untuk mengatasi hal ini agar ekonomi pasar dapat kita kuasai kembali" ucap arka dengan wajah datarnya.
reyhan yang merupakan managemen dalam bidang keuangan kini angkat bicara.
"Apakah kita harus membuat produk baru dan menambah kualitas produk ?" Usul reyhan yang disambut oleh tatapan sinis arka.
"Jika menambah kualitas, dana yang dikeluarkan pasti bertambah dan membuat produk yang baru memiliki harga yang lebih tinggi, hal itu akan mempengaruhi daya beli konsumen" dengus arka
"Kau benar arka. Tapi kita tak punya pilihan lain" ucap raka
"Bagaimana jika kemasan produk kita ganti dengan desain baru yg lebih unik?" Saran reyhan
"Hentikan omong kosongmu ! Mereka hanya akan tertarik hanya dalam waktu kurun waktu yg singkat. Kau pikir apa yang spesial hanya dengan mengganti kemasan dengan rasa yg masih sama dengan produk lama ?" Ucap arka kesal. Kepalanya sudah cukup pusing karena memikirkan dana yang lenyap tanpa membuahkan hasil. Ia sudah lembur untuk memikirkan hal itu. Dan hasil yang didapatkannya adalah didalam perusahaan yg kakeknya bangun ternyata memiliki tikus-tikus got yg harus disingkirkannya dengan segera.
"Jelas itu pasti terjadi, dengan membuat produk baru kita akan membutuhkan dana yang besar, dan juga bahan baku yang berbeda. Sebaiknya kita tetap menjalankan produk yang lama tetapi dengan menambah inovasi pada produk tersebut " usul raka
"Kau benar. Bahan material tak akan berubah. Kita hanya perlu berinovasi untuk memunculkan rasa yg bisa menggait lidah tanpa pandang umur" ucap bagas
"Bagaimana bagian produksi ? Apa kalian siap ?" Tanya reza pada nathan yang merupakan manager produksi
"Siap, pihak produksi akan berusaha melakukan kerjasama dengan chef dari Itali , untuk kesuksesan produk ini" jelas nathan penuh semangat.
"Hoooh~ kali ini Itali huh ? Kemarin kita menjalin kerjasama dengan Chef Korea, Jerman dan juga belanda. Luar biasa sekali kau ! Apa kau ingin menambah pengeluaran perusahaan dengan menghadirkan Chef tak bermutumu ?" Dengus arka
nathan terdiam tak bersuara. Ia menundukkan wajahnya takut.
"Kali ini aku tak ingin menggunakan chef pilihanmu! Berhentikan mereka yang telah kau angkat! Untuk masalah Chef , aku dan raka yang akan mengurusnya! Dengan demikian rapat saya tutup" Putus arka
bagas dan reza menatap arka penuh minat. raka sendiri tak berkomentar, yang ia tahu untuk kedepan ia akan sibuk karena keputusan yang arka ambil.
'ah' batin raka. Tapi ia tidaklah komplen. Ia sadar jika kinerja chef marhesa crop patut dipertanyakan. Lagipuls ini demi hasil baik yg akan keduanya raih. Jika pruduksi mereka berhasil menarik perhatian konsumen, perusahaan miliknya dan arka akan mendapatkan hasil yang pantas.
.
.
.
Rapat telah berakhir beberapa menit yang lalu. Kini raka duduk di Sofa yang berada didalam ruangan arka.
"arka, ku dengar salah satu 'OG kesayangan' milik perusahaanmu meninggal" ucap raka seraya menguap
"iya"
Mendengar tanggapan arka, tak membuat ia kesal. Toh ia sudah biasa dengan sikap sahabatnya itu.
"Ibuku sudah mengurus itu raka. Kau tak perlu sejauh itu mengkhawatirkannya. Kau tak terlihat seperti dirimu. Sejak kapan kau peduli dengan urusan orang lain yg tak kau kenal ?" ucap bagas setengah bercanda.
"Kau benar. Aku hanya ingin mengusulkan seseorang jika posisi itu masih kosong" ucap raka yang teringat akan aliza
"Waw ! Aneh sekali. Seorang CEO sepertimu mengapa tak memilih untuk kau pekerjakan diperusahaanmu saja ? Apa kau berniat menjadikannya pengintai atau seorang informan? Kau berniat mengawasi kami ? "Ucap bagas diakhiri dengan tawa miliknya
"ah.. dia tak ingin bekerja dibawah perusahaanku dengan alasan tak ingin menyusahkan kami" ucap raka yang menatap Wajah arka dalam yang entah mengapa mengingatkan ia akan sosok marchel . Bocah cilik yang menggemaskan.
"Menarik. Siapa dia hingga kau terlihat begitu serius melakukannya ?" Ucap bagas
"Sahabat Istriku. Dia tak kuliah, itulah mengapa aku hanya bisa meminta padamu untuk mempekerjakannya sebagai 'OG'. Aku cukup tahu diri mengingat syarat standar untuk menjadi karyawan diperusahaan ini yg sangat luar biasa" ucap raka . Ya cukup ragu sendiri bagaimana jika aliza tersinggung dengan jenis pekerjaan yang ditawarkannya?
"Sahabat istrimu ? Wow bukankah istrimu menamatkan sekolahnya di belanda ?" Tanya bagas yg membuat Tubuh arka menegang.
"Ya. Mereka saling mengenal di Negara sana. Dia wanita yang baik dan penuh semangat kurasa" ucap raka.
"Wanita ? Kupikir dia gadis " ucap bagas
"Apa aku perlu melaporkanmu pada Istrimu jika kau berniat Selingkuh kak ?" Ucap arka yang sibuk dengan laptopnya.
"Aku tak berniat melakukannya arka. Aku sangat mencintai desy . Lagipula kau bukan tipe pengadu " ucap bagas santai
"Hoh benarkah ? Rasanya akan sangat menarik melihat singa nakalmu itu mengamuk" ucap arka sambil menyerigai.
bagas yang sebelumnya santai meneguk kopi hangatnya tiba-tiba terkejut.
"Brusshhhhhhh. Uhuk ! K-kau bercandakan ? Jangan menakutiku arka " ucap bagas kesal. Lagian bagaskan cuman kepo. Nggak ada niat selingkuh kok.
raka mendengus. Lalu menatap arka penuh tanya.
"Bagaimana ?" Tanya raka
"Hm. Kirimkan datanya padaku. Aku akan mempertimbangkannya!" Ucap arja tanpa menolehkan kepalanya dari kayar laptopnya
Sedang bagas menatap arka dengan alis berkerut. Tak biasanya adiknya mau mendengar ataupun mengurus bagian bawah.
bersambung