SIAPAKAH WANITA ITU

1649 Kata
ALIZA POV Aku memiliki anak di usia yang sangat muda. Terlalu mudah bahkan. Di saat Para gadis menghabiskan waktu mereka untuk kuliah di semester pertama mereka, aku malah mengandung dan sibuk bekerja . Sangat indah bila memiliki sosok suami. Akan sangat beda jadinya jika kepala keluarga berada disisi untuk menemani. Ahh~ tapi apa yang ku katakan hanyalah sebuah angan yg tak terelisasikan. Ketika cinta membutakan mata dan bayangan rumah tangga seindah cerita Cinderella. Terus terang saja, itu hanya ada dalam dongeng-dongeng atau drama yg tayang di TV sana. Pada kenyataannya kehidupan itu pahit rasanya. Satu hal yg ku dapatkan dari sekelebat musibah yang menimpaku. Kehadiran marchel yang membuatku bahagia. Ya, karenanya aku memiliki mimpi. Hidupku yg dulunya tak memiliki sesuatu hal yang ingin dicapai yg dimana orang-orang menyebutnya sebagai cita-cita. Aku tak memiliki itu. Aku tak memiliki sesuatu yg ingin diraih. Sebagai mana orang di luar sana yang ingin menjadi Desainer, Dokter, Artis, pekerja kantoran dan yg lainnya. Ah aku tak seperti mereka yang memiliki cita-cita. Hidupku tak lebih dari goresan abu-abu. Makan, tidur, bekerja. Itu saja, intinya aku hanya bekerja untuk hidup tanpa sesuatu tujuan yg lebih berharga. Jangankan untuk cita-cita, bermimpi sekalipun tak terbayangkan olehku. Apalagi menjadi seorang ibu, tak pernah terpikir sekalipun dibenakku. Namun diantara sejuta hal yg di impikan manusia, Aku di gariskan untuk kemudian menjadi seorang ibu tanpa pendamping. Menyedihkan ? Itu kata mereka. Tapi aku tak peduli. Mereka hanya tidak tahu bahwa dengan adanya marchel, akhirnya Wanita yang tak memiliki arah sepertiku pada akhirnya memiliki mimpi. Ya, aku ingin membahagiakan putraku. Putra yang paling kucintai. marchel, anak yang ku kandung dari seorang pemuda yang bernama arka. Aku tak tahu nama keluarganya. Karenanya, marchel memiliki beberapa hal yang menurun darinya kecerdasan, Ketampanan, dan rasa percaya diri yang begitu tinggi. Bahkan terkadang putraku sering bersikap arogan yah dan aku yakin itu turunan ayahnya. Jangan salahkan aku. Itu bukan hasil didikanku. Yang menurun dariku mungkin hanya tingkah hiperaktifnya itu. Karena ia terlalu mudah menangkap berbagai hal sungguh membuat kami harus extra hati-hati dalam berbicara. Kecerdasan kognisi & verbalnya yang tinggi membuatnya sangat mudah meniru kata-kata atau sikap yang kurang baik. Jadi aku dan ibu berusaha menciptakan lingkungan yg sehat untuknya. ALIZA POV END Saat ini aliza sedang berbelanja bersama putranya. Ia berniat mengisi kulkasnya dengan berbagai Sayuran dan kebutuhan lainnya. Salah satunya buah kesayangan putranya itu. kinan tadinya meminta aliza untuk menitipkan marchel padanya, karena kinan tahu jika aliza akan membeli segala kebutuhannya setidaknya untuk menutupi satu bulan kedepan. Dengan membawa marchel, beban marchel akan semakin banyak. Tapi aliza tetap bersi kukuh membawa marchel dengan alasan ia ingin menbawa marchel jalan-jalan. Mengingat sahabatnya itu, aliza jadi teringat akan raka yg meminta beberapa file padanya. Entah itu copyan Ijazahnya ataupun keterangan mengenai dimana saja ia bekerja. raka memberitahunya jika ada perusahaan yang membuka lowongan untuk mencari Seorang 'OG' dan gajinya sangat tinggi untuk ukuran seorang 'OG'. aliza senang bukan main. Ia tak masalah meski ia harus jadi 'OG' sekalipun. Itu jauh lebih baik ketimbang pekerjaan-pekerjaannya yang dulu. "mom.. aku mau naik di tloli" ucap marchel yang kini menarik-narik rok aliza. Suara sang putra membuat aliza tersadar dari lamunannya. "Umhhh Ok kapten!" Ucap aliza riang. Ia lalu mengangkat marchel lalu mendudukkannya diatas troli. "Yeyyyyy!" marchel berteriak dengan riang "Caatnya belangkat !" Teriak marchel lalu mengepalkan tangannya kedepan dengan penuh semangat. Seluruh pengunjung menatap keduanya seraya tersenyum. "Woahhh kakak adik yang rukun yah ?" Ucap Seorang Ibu-ibu yg tak jauh dari aliza. "Iya.. andai saja anak-anakku bisa serukun mereka " ucap ibu yang lain aliza meringis dalam hati mendengar pengakuan wanita itu. Dalam hati ia terus menggerutu. Mengapa di saat ia berjalan dengan putranya kebanyakan orang menganggapnya kakak dan adik ? "Ayo.. putra mama mau beli apa dulu ?" Tanya aliza yang dengan sengaja menaikkan volume suaranya. Lama-lama mendengar komentar ibu-ibu ditempat itu membuat ia kesal saja. " Cabun dan Champo aku udah mau habic mom..! Beli Champo dan cabun caja duyu " ucap marchel sambil tersenyum Para ibu-ibu yg tadinya berkomentar tiba-tiba membekap mulut mereka masing-masing "M-mom ? Astaga.. apa dia seorang mama muda ?" Ucap ibu yang tadinya berkomentar. "Dia sudah memiliki anak diumurnya yang sangat muda ? Astaga, anak muda jaman sekarang memang berbeda yah ?" Ucap ibu lainnya aliza menundukkan wajahnya untuk menahan rasa sakit yg terasa menohoknya. Lalu dengan sedikit cepat ia mendorong trolinya. "Astaga .. apa dia hamil diluar nikah ? Suaminya juga tidak ada.. " ucap Ibu-ibu yang berada di dekat stan Sayur. aliza yg tadinya berniat menghindari ibu yang berkomentar ternyata mendapatkan gunjingan di stan manapun ia berada. Ia menggigit bibir bawahnya. Tidak terasa ia sudah melewati beberapa stan tanpa mengambil bahan makanan apapun. Karena di setiap stan ada-ada saja ibu yg membicarakannya. "Dimana suaminya ? Mengapa suaminya tak menemaninya ke supermarket ? " ujar ibu-ibu yang berada di tempat mainan anak-anak berada. 'Lalu anda sendiri bagaimana ? Apa anda berbelanja dengan suami anda ?' Batin aliza kesal. Kenapa ia justru merasa jika tempat berbelanja ini menjadi pusat berkumpulnya 'IIKM'. 'Ibu-ibu kelebihan Micin' "Astaga apa suaminya meninggalkannya demi wanita lain ? Kasihan sekali, padahal ia masih muda" ucap Ibu lainnya yg masih saja melanjutkan gosipnya 'Hei, aku mendengarnya loh' batin aliza yang ingin sekali mengatakannya. Tapi ia tak ingin membuang tenaga untuk meladeni ibu-ibu kelebihan saliva itu. Salah seorang wanita berambut coklat terang diam-diam memperhatikan aliza yang nampak memperlihatkan raut wajah tak suka. Lagipula siapa sih yang suka hidupnya direcokin oleh mulut-mulut yg kelebihan busa ? aliza melihat anaknya yg terlihat menahan kantuk. aliza meringis dalam hati. Seharusnya ia tak membawa putranya. Lihatlah, putranya kini menguap dengan mata yg mulai berair. "aku ngantuk.." gerutu marchel sambil mengucek matanya aliza tersenyum lalu menyerahkan mainan berwarnah orange kearah marchel. Mainan itu adalah mainan yang marchel titipkan pada aliza saat berangkat dari rumah tadi. Katanya jaga-jaga disaat ia bosan. "Putra mom yg tampan, bisa menunggu sebentar ? Mama akan memilih makanan dengan cepat lalu kita pulang" ucap aliza seraya mengelus surai hitam putranya. "Umhh ok'" marchel mengangguk lemah. "Anaknya lucu yah ? Tapi sayang dia tak memiliki suami" aliza meremas troli yang di dorongnya. Astaga, apa ibu-ibu itu tidak bosan menggunjingnya. "Hei ! " seseorang tiba-tiba menepuk punggung aliza sehingga membuat aliza kaget. aliza menatap orang dihadapannya dengan sorot mata bingung. Ia tak mengenal wanita yang kini berdiri dihadapannya. Surai yang memiliki warna yang sama dengan warna pohon, kulit putihnya dan juga bibir tipisnya , tak lupa dengan pakaiannya yang modis . Satu kata untuk menggambarkannya. 'Cantik' batin aliza. aliza mengenyahkan pemikirannya. Ia berfikir mengapa wanita ini menyapanya ? Ah terlebih dari itu aliza tidak mengenalnya. "S-siap-" "Astaga ! Aku melihat suamimu dikantor. Dia begitu sibuk, eehh tapi kau tahu ? Saat aku memberitahunya bahwa aku ingin menemuimu, dia bilang jika dia merindukanmu ! Ohh tuhann ! Kalian ini benar-benar pasangan yang sangat romantis ! Aku sampai cemburu kau tahu ?!" Ucap wanita itu sambil memukul bahu aliza dengan keras, tak lupa dengan tawa dibibirnya. Ia memutus ucapan aliza seenaknya. aliza menatap wanita berambut coklat tua itu dengan mulut yg membuka tutup. "A-apa ?" Beo aliza Seluruh mata menatap interaksi antara aliza dan wanita itu. Mereka kembali berbisik-bisik. "Ohh ternyata dia memiliki suami" ucap salah satu ibu-ibu yang tadinya bergosip. Mereka saling berbisik satu sama lain. Mereka bahkan saling menyalahkan. Diantara mereka ada yang dengan segera menjauh dari aliza dengan wajah merah karena malu. "Aahh ! Kau pasti terkejutkan ?! Aishh oh ya kudengar kau hamil anak keduamu ? Dari berita yang ku dengar dikantorku ia ingin merayakannya dengan mengajakmu ke Paris. Oh my god!! Suamimu benar-benar kyaaaaaa!! Ah ayo kita ngobrol di kafe seberang ! Kita bisa belanja lainkali " ucap bella lalu membantu aliza untuk mendoronfg troli itu menuju pintu keluar. Sedang aliza terdiam dengan mulutnya yg terkatup rapat. Di otak aliza terus terputar kata 'Suami' dan 'hamil anak kedua '. He hei !! Yang benar saja batin aliza . Ia tak tahu apa yang dipikirkan wanita itu. aliza terlalu syok mendengar penuturan wanita itu hingga ia tanpa sadar ikut saja kemana wanita itu menuntunnya. "Fyuuuhhhhhhh ! Syukurlah kita sudah bebas " ucap Wanita itu seraya merenggangkan otot-ototnya. aliza masih dengan posisi yang sama. Ia masih memegang troli dalam diam. Ia menatap marchel yg tertidur di troli miliknya. Astaga, karena terlalu sibuk menyeret troli sana-sini, putranya jadi tertidur. "Hei, apa kau melihatku ?" Ucap wanita yang tadinya seenak udelnya menyeret aliza keluar. Wanita itu menggoyang-goyangkan tangan didepan wajah aliza "Ahh m-maaf" ucap aliza salah tingkah "Oh ya perkenalkan namaku bella " ucap Wanita itu lalu menyodorkan tangannya. "aliza" ucap aliza lalu memyambut tangan bella yang kini tersenyum kearahnya. "Ahh mengenai apa yang ku katakan tadi aku minta maaf. Aku hanya tak suka mendengar ucapan mereka " ucap bella seraya menggaruk pipinya "Ahh " aliza terperenjat. Jadi wanita ini sebenarnya berniat menolongnya dari ucapan pedas ibu-ibu tadi ? "terima kasih bella.. berkatmu aku jadi bisa lepas dari mereka " ucap aliza tulus. aliza tersenyum lembut kearah bella lalu menggendong marchel sambil berusaha mengelus punggung putranya agar tidurnya tidak terganggu. 'Sepertinya belanja hari ini harus ditunda' batin aliza "Ahhh aku melakukannya hanya karena kupingku teras panas. Maklum saja, mereka adalah ibu-ibu yang tak pandai berkaca. Apa mereka tak bisa untuk tak membicarakan hidup orang lain ? Memangnya kenapa jika suami kita tak menemani kita belanja ? Bercerailah, hamil diluar nikahlah. Menyebalkan" ucap bella kesal. Terlihat jelas ada cahaya amarah dimatanya. "Umhh mungkin mereka memang tipe orang yg seperti itu" canda aliza "Ya mungkin" ucap bella yang ikut tertawa. "Oh ya, ayo kita ngobrol di kafe sana" ucap bella . . . . aliza mulai menyeruput jus melon miliknya. Beberapa menit yang lalu, ia dan bella tiba di kafe ini. Karena marchel tertidur, ia jadi menggabungkan dua kursi untuk putranya berbaring. aliza terus saja berbincang dengan bella. Ternyata wanita itu sangat mudah diajak berkomunikasi. bella mungkin tipe orang yang mudah bergaul dengan siapa saja. "Kau tinggal dimana aliza ?" Tanya bella seraya menyeruput jus mangganya. Tak lupa sesekali mencomot kue kering pesanannya. "Aku tinggal di kompleks pondok indah " " oh " bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN