pertemuan arka dan aliza

2982 Kata
Lelaki tampan dengan pesona yg tak bisa ditampik oleh siapapun. Siapa yang tak mengenalnya. Dia adalah arka. Putra bungsu dari reza dan juga rani. Tingginya 180 cm, dia eksekutif muda yang sukses, dadanya bidang, sexy, lengannya berotot, tegas , sangat tampan, dan selalu berpakaian rapi. Setiap kali dia masuk ke suatu ru angan, seluruh wanita akan mendesah ‘Oh, my God.'” Lelaki itu suka mewarnai rambutnya. Entah dengan alasan apa. Tak ada satupun yang tahu. Seperti saat ini. arka baru saja berhasil memarkirkan mobilnya pada perusahaan yg kakeknya bangun. Jangan lupakan rambut merah yang mengkilap dan wajah putih porselennya yg begitu halus tanpa noda jerawat sedikitpun. arka berjalan kearah pintu pintu masuk perusahaannya dengan tangan yang sibuk menarik dasi miliknya karena saat ini tubuhnya entah mengapa terasa gerah. Sejenak Ia melihat sosok wanita yang diseret paksa oleh bagian keamanan milik perusahaannya didalam sana. Ya, meski belum masuk arka jelas dapat melihatnya karena pintu masuk itu terbuat dari kaca. arka mendengus mengapa disaat ia datang justru ada masalah seperti ini ? Siapa lagi yang berulah sekarang ? Stalkernya kah ? Mantan kakaknya kah ? Ah arka tak ingin memikirkannya. Saat ia memasuki perusahaannya wajah pertama yang dilihatnya adalah sosok wanita yg selalu menghantuinya selama ini. Ya, wanita yg telah ia renggut kesuciannya dengan paksa. Wanita yang dicintainya. "A-Aliza ?" Ucap arka tak percaya. Ia tak percaya dengan apa yg dilihatnya. Bukankah aliza menetap di belanda ? Bagaimana bisa aliza berada diindonesia ? Apa aliza mencarinya dan meminta pertanggung jawaban ? Kalau memang ia kenapa kedatangannya begitu terlambat ? Berbagai pertanyaan muncul silih berganti dalam pikiran arka. Tapi ia dengan cepat ia menguasai dirinya. "Lepaskan dia !" Perintah arka tegas. Bagian keamanan yang tadinya memegang aliza dengan cepat melepas tangan aliza lalu mengangguk kearah arka untuk undur diri. Melihat bawahannya menyentuh aliza, entah mengapa membuat ia meluncurkan tatapan tak sukanya. arkapun menatap aliza yang kini terdiam masih dengan tatapan syoknya yg tak dapat ia sembunyikan. "Bagaimana kabarmu ?" Tanya arka dengan tatapan melembut yang membuat para karyawan memekik dengan suara tertahan. "Bagaimana keadaanku itu tak ada hubungannya denganmu!" Ucap aliza tajam arka mengangguk mengerti. aliza masih marah padanya. Ia mendesah sejenak lalu menarik tangan aliza untuk memasuki lift. "H-hei ! Apa yg kau lakukan ?!" Teriak aliza kesal "Diamlah" ucap arka dingin lalu menekan tombol lift. Ia paling tidak suka dibantah. Entah karena apa. Kebiasaannya yang seperti ini terjadi saat ia terpaksa kembali ke indonesia karena dipaksa ayahnya. Melihat perubahan arka yang begitu menakutkan membuat aliza melepas tautan tangannya dengan arka lalu beringsut mundur hingga kedinding lift. Ia jadi teringat kejadian diwaktu itu. Ya prilaku seperti itu dapat memicu trauma miliknya. arka menoleh kebelakang melihat aliza yang menggigit bibir bawahnya dan menunduk menatap lantai lift tanpa berani menatap wajah arka. arka mendesah, ini entah sudah keberapa kalinya ia melakukannya. Dengan pelan ia mendekat kearah aliza. "Maafkan aku.." sesal arka lalu memeluk bahu aliza agar bersandar padanya. "L-lepas ! L-lepaskan a-aku " ucap aliza dengan tubuh bergetar. Entah mengapa bayangan masalalu disaat arka melakukan hal terlarang padanya seakan terputar ulang hingga telinga aliza berdenging karena mendengar suaranya sendiri. "L-lepas ! Lepaskan aku ! Lepaskan aku s****n !" Teriak aliza berusaha memberontak. Ia takut. Melihat wajah arka, trauma aliza seakan kambuh. Bayangan bagaimana arka yang menyakitinya. Ahhh aliza tak sanggup mengingatnya. Ia tak mau melihat sekelebat bayangan yg menyiksanya itu. "K-kau baik-baik saja ? Hei ada apa aliza?!" Ucap arka panik. Ia mengguncang bahu aliza agar aliza tenang. "Lepaskan aku ! A-aku tidak mau ! Lepaskan aku ! Hiks.. jangan hiks.. j-jangan lakukan itu" isak aliza seraya menjambak rambutnya frustasi. Ia benar-benar bisa dibuat gila hanya karena mengingat semua kejadian saat itu. Perlahan tangan arka yang tadinya berada dibahu aliza terjatuh dengan gerakan yg teramat pelan. Ia sedikitnya tahu apa yang terjadi pada aliza. Apa yabg dilakukannya dimasalalu tentu saja menjadi trauma bagi aliza. "Maafkan aku aliza.." ucap arka lirih arka berniat menjauh dari aliza namun diurungkannya disaat tiba-tiba ia melihat tubuh aliza yang tiba-tiba oleng begitu saja. Grebbb "aliza ? Hei aliza ?!" Panggil arka seraya menepuk pipi aliza bergantian. Tapi aliza tak menanggapinya. "Dia pingsan.." ucap arka khawatir . . . arka menatap wajah aliza yang terlelap di kamarnya. Saat aliza pingsan, arka dengan segera menghubungi Dokter pribadi keluarganya untuk segera bersiap di rumah orang tuanya . Flashback arka baru saja turun dari Mobil miliknya, digendongannya terdapat aliza yang sedang tak sadarkan diri. Tanpa peduli dengan keadaan sekitarnya ark segera masuk kedalam mansion keluarganya. "Perintahkan nathan agar segera ke kamarku !" Perintah arka pada pembantu yang entah mengapa terlah berkumpul karena penasaran dengan sosok yg tuannya bawa rani yang sedari tadi sibuk melihat-lihat majalahpun sama kagetnya. Tanpa bertanya, ia mengikuti sosok arka yang menaiki tangga dengan sangat tergesah-gesah. Setelah berjalan cukup jauh, arkapun merebahkan aliza diranjang miliknya. "Tunggu sebentar.. nathan akan memeriksamu.." ucap aliza dengan wajah teduhnya. Meski ia yakin jika aliza tak mendengarnya. Tapi ia tetap mengatakannya . Untuk seperkian detik, rani terpaku menatap putranya. Ini pertama kalinya ia melihat tatapan seperti itu dari putranya. Ia semakin penasaran dengan sosok wanita itu. Tapi rani tak kunjung bersuara sedikitpun. Begitupun dengan arka. Sepertinya arka tak menyadari kehadiran ibunya karena terlalu fokus dengan aliza. Krieeett Pintu terbuka menampilkan nathan dengan segara alat kedokterannya. "Periksa dia !" Pinta arka lalu menggeser tubuhnya agar nathan bisa memeriksa aliza dengan leluasa Untuk sejenak , arka menoleh menatap wajah aliza yang terlihat pucat. Ia mengelus kening aliza dalam diam. Dan semua itu tak luput dari pandangan sang nyonya marhesa. arka mendesah, lalu memijat keningnya yang entah mengapa mendadak sakit. Pertemuannya dengan aliza setelah sekian lama tak pernah dibayangkannya. Bahkan ia mengira jika ia dan aliza takkan pernah bertemu lagi. Tapi takdir mempertemukan mereka. "Dia hanya butuh istirahat.. mungkin ada sesuatu yg memicu traumanya hingga ia seperti ini" ucap nathan seraya menatap arka yang terdiam dengan tangan saling meremas. "Apa anda baik-baik saja pak arka ?" Tanya nathan khawatir. Ya ia karena wajah arka terlihat pucat. "Aku baik-baik saja . Lalu apa yang harus aku lakukan padanya ?" Tanya arka seraya melirik aliza dnegan ekor matanya. "Biarkan dia beristirahat. Mungkin akan memakan banyak waktu. Tapi semakin lama ia terbangun itu semakin baik untuknya. Dia pasti syok karena teringat sesuatu yang tak ingin diingatnya kembali" ucap nathan dengan wajah prihatin "Begitu ?" Ucap arka lemah. Ia merutuki dirinya sendiri. Ini semua karena ulahnya. "Saya sudah menyuntikkan obat tidur agar nyonya ini bisa beristirahat lebih lama.. jadi tak ada yg perlu anda khawatirkan. Terlebih dari itu, tak ada masalah serius yg menimpanya" ucap nathan yang membuat arka mengangguk. "Baiklah.. kau boleh pergi !" Ucap arka. nathan mengangguk lalu pamit undur diri. rani yang sedari terdiam mulai mendekat kearah arka yang kini berdiri guna melepas satu persatu pakaiannya. Ya, ia sudah menghubungi bagas. Ia tak bisa meninggalkan aliza dan kembali ke perusahaan. Namun Saat arka berniat membuka dasinya ia terkejut dengan kehadiran ibunya yg baru disadarinya. "Ibu ?" Ucap arka heran. arka berusaha menampilkan senyumnya lalu menyuruh sang ibu duduk dengan sopan. "Duduklah bu" pinta arka lembut "Bisa kau jelaskan siapa dia ?" Tanya rani dengan tatapan tajamnya "Dia aliza.. kami pernah bertemu dibelanda saat aku sekolah dulu" ucap arka jujur "Lalu mengapa kau perlu repot-repot membawanya kemari ? Bahkan sampai membawanya kedalam kamarmu yang bahkan tidak pernah dimasuki oleh seorang gadis sekalipun bahkan kau melarang istrimu masuk kedalam kamarmu ? Kau sungguh mencurigakan arka" ucap rani dengan nada tak sukanya. "Dia dalam perlindunganku Bu" Ucap arka dengan mata sendu "Perlindungan apa ?! Bagaimana bisa kau dengan mudah mengatakan itu disaat kau aahhhh astaga ! Apa kau tak sadar dengan statusmu saat ini ?!" Bentak rani yang membuat kepala arka terasa berdengung " cih,ibu pasti mau mengatakan jika aku status suami begitu maksud ibu " ucap arka " bukan begitu tapi- " cih,maaf bu sampai sekarang aku tidak menganggap bella istriku apalagi anak haramnya itu " ucap arka dingin "aliza harus beristirahat bu.. tolong jangan ganggu kami" ucap arka dengan tatapan memohon. rani menggeleng tidak percaya melihat sikap putranya. "Apa yang terjadi padamu ? Sebenaranya apa yang terjadi huh ?" Tanya rani dirundung kesal. "Tak terjadi apapun.. tenangkan dirimu Bu!" Ucap arka. "Kau mulai menyembunyikan sesuatu dariku ? Ohh kau sudah berani menentang ibumu arka ?!" Ucap rani dengan nada sedikit keras. Ok, arka mulai jengah. Apa ibunya tak mengerti juga ? Ia lelah. Pertemuannya dengan aliza yang begitu tiba-tiba , ditambah dengan reaksi aliza yang tak ia duga sungguh membuatnya down. "Aku tidak menentangmu Bu!" Ucap arka masih berusaha mempertahankan nada lembutnya "Lalu apa ?! Kau membawa anak 'gadis' orang kedalam rumah terlebih itu dikamarmu sendiri. Bagaimana kau akan mengatakannya ?" Tanya rani "Kau tahu arka bahwa ini tak terlihat biasa-biasa saja" ucap rani "Dia bukan seorang gadis" ucap arka dengan menundukkan wajahnya. "A-apa ?" Beo rani "B-bagaimana bisa kau tahu ?!" Tanya rani syok . Ia memegang jantungnya yg terasa ingin copot. "Aku akan menjelaskannya nanti Bu ! Aku butuh wantu untuk beristirahat" ucap arka "Tidak ! Kau tidak boleh beristirahat dikamarmu jika dia masih dikamarmu ! " ucap rani "Apa kau masih tidak mengerti batasan antara wanita dan pria huh ?" Ucap rani "Aku mengerti Bu! Ibu selalu mengajarkannya padaku sejak kecil" ucap arka jujur 'Tapi aku melanggarnya' batin a sendu "Aku takkan melakukan apa-apa padanya.. aku janji" ucap arka "Bagaimana ibu bisa percaya ? Kau lelaki normal ! Berdua didalam kamar hanya ak-" "Kumohon Bu !" Pinta arka dengan wajah lelahnya. "Aku benar-benar lelah.. " ucap arka "Hum baiklah ! Tapi setelah kau beristirahat, turunlah kebawah. Aku akan meminta kakak dan ayahmu untuk segera pulang. Dan jelaskan semuanya pada kami" pesan rani "Aku mengerti.. akan kulakukan!" Ucap arka yang berusaha menahan rasa lelahnya. . . raka baru saja mengantarkan marchel kerumah miliknya. Istrinya sangat senang melihat kehadiran marchel . Bahkan saking senangnya, istrinya itu bahkan sampai menyediakan kamar khusus untuk marchel yang telah terisi dengan berbagai macam mainan yang raka sendiri tidak tahu kapan kinan membelinya. "Bagaimana marchel ?" Tanya raka yang kini berdiri disisi kanan mobilnya. Ia hendak kembali keperusahaannya seperti yg tadi dikatakannya pada aliza. "Dia tertidur dengan lelapnya.. umhh kau sudah mau berangkat ?" Tanya kinan sambil tersenyum "Ya, begitulah.. apa kau ingin sesuatu ?" Tanya raka "Tidak" jawab kinan lalu menggeleng "Dengan kehadiranmu saja sudah cukup bagiku" ucap kinan sambil memeluk lengan kanan raka yang kini terkekeh pelan kearahnya. raka tersenyum lalu memegang kedua bahu kinan dan mengecup kening istrinya lembut. "Aku tahu apa yang kau pikirkan.. kau tak perlu memikirkannya sayang.. mungkin kita harus lebih berusaha lagi" ucap raka seraya menatap wajah istrinya yang kini memasang ekpresi sedih. Suaminya itu selalu tahu apa yang disembunyikannya. "Hum.. " kinan mengangguk lemah. "Kenapa dengan wajahmu ?! Hei ! Hei ! Kau terlihat semakin jelek jika memasang wajah seperti itu " canda raka lalu menarik pipi istrinya "Ck kau menyebalkan ! " gerutu kinan lalu mengelus pipinya "Setidaknya kita masih hisa berusaha dan berharap bukan ? Lagipula, denganmu saja aku sudah sangat senang.." ucap raka lalu mengecup bibir kinan singkat. "Ahhh! Sudah-sudah pergi sana ! Kau selalu saja menggodaku ! Ayo pergi !" Usir kinan dengan wajah memerahnya "Hahahah.. baiklah-baiklah.. " ucap raka menyerah. Ia memilih untuk masuk kedalam mobilnya lalu menatap sang istri setelah menurunkan kaca mobilnya. "Aku pergi dulu.. jaga dirimu baik-baik.." ucap raka "Ck, kau berkata seakan ingin pergi selama bertahun-tahun saja" ucap kinan kesal. "Kau tahu, sehari saja tak bertemu denganmu itu sama saj-" "Sudah-sudah hentikan rayuanmu ! Ayo cepat berangkat !" Potong kinan. Ahh suaminya ini benar-benar pandai membuatnya malu. "ya ya.. kalau begitu aku pergi dulu.. " ucap raka lalu melajukan mobil miliknya. Ia menatap jalan dihadapannya dengan fokus. Saat ia melirik ke kiri tanpa sengaja ia melihat kartu miliknya yang tadi ia beriakan pada aliza. "Astaga kenapa dia begitu ceroboh ?" Gerutu raka yang tak habis pikir dengan sikap sahabat istrinya itu. Dengan cepat raka melirik kedepan guna memantau jalan. Berhubung karena tidak terlalu banyak kendaraan, raka dengan cepat meraih ponselnya lalu mencari nama orang yg ingin dihubunginya. Tanpa menunggu banyak waktu ia dengan cepat menekan layar hijau. "Ahh halo bagas !" Sapa raka 'Hm ? Ada apa ? 'Balas bagas diseberang sana "aliza meninggalkan kartu milikku.. dia sudah datang kekantormu sedari tadi.. tapi aku yakin dia mengalami masalah disana. Apa kau bisa menjemputnya?" Tanya raka "aliza ? Jadi nama 'wanita' itu aliza ? Ini sungguh menarik" ucap bagas yang entah mengapa membuat kening raka berkerut "Ada apa ? " tanya raka "Ahhh bukan apa-apa.. saat ini aliza baik-baik saja.. aku mendengarnya dari mulut ibuku sendiri jadi tak ada yg perlu kau khawatirkan " ucap bagas yang semakin menambah kerutan diwajah raka "Ibumu ?" Beo raka bingung . Dan entah mengapa perasaan raka menjadi tak enak. Yah semoga saja tidak terjadi hal buruk pada aliza. Wanita yang sudah dianggapnya sebagai sahabatnya sendiri. "Adikku bertindak diluar kebiasaannya.. dia membawa aliza kerumah. Aku tak tahu jika orang yang kau rekomendasikan adalah aliza. Dan yah, itu cukup membuat Keluargaku terkejut. arka bukan tipe orang yang akan membawa seorang wanita kedalam rumah. Terlebih dikamarnya sendiri . Sebagai sahabatnya kau tahu itu dengan baik bukan ? " Ucap bagas "Huh ? Apa kau yakin?! "Tanya raka tak percaya. Ia tahu betul arka orang yang seperti apa sama istrinya saja arka sangat dingin apalagi dengan orang lain. "Sudahlah..aku sedang dalam perjalanan. sebentar lagi aku akan sampai kerumah bersama ayah. Aku akan menghubungimu nanti ok" janji bagas "Baiklah" ucap raka lalu mengakhiri telepon itu terlebih dahulu. Ia tak habis pikir bagaimana bisa arka bertindak seperti itu. Apa aliza dan arka sudah saling kenal ? Itu sudah pasti. Karena arka tidak pernah membawa satu wanitapun kekamarmya biar istrinya pun tidak pernah "Ada hubungan apa dengan mereka berdua ?" Gumam raka lalu merem mobilnya karena lampu merah sedang aktif raka memutar otakknya untuk berfikir . Ia mengetuk-ngetuk setir dengan jari telunjuknya. Yang dipikirkannya adalah sebuah kemungkinan. Apa raka adalah mantan kekasih aliza ? Lalu ahhh raka menggeleng dengan keras. Jika seperti itu, orang yg menghamili aliza pasti arka. Apa iya seorang arka bisa melakukan hal seperti itu ? Didikan keluarga marhesa terutama dalam hal kehormatan itu benar-benar dijunjung tinggi. Apa lagi itu arka. raka mendesah. Ia menoleh kearah kiri, ia jadi teringat akan marchel yang baru saja diantarnya. marchel yah ? Jantung raka berdetak dengan cepat. Kenapa ia baru memikirkannya sekarang ? Pantas saja ia tak merasa asing dengan wajah marchel. Karena marchel begitu mirip dengan arka. Astaga. Jadi ayah biologis marchel itu... ahhh raka tak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia akan membicarakan ini dengan aliza secepatnya. . . . ratih menatap sekitarnya dalam diam. Ia pikir mengapa aliza belum pulang ? Bukankah ini sudah malam ? Lihat? Langit mulai gelap. Apa yang sebenarnya anaknya itu pikirkan disaat anaknya itu membawa marchel ? "Aku harus kerumah kinan untuk memastikannya" gumam ratih lalu berenjak dari tempat ia duduk. ratih mulai memperbaiki letak syal miliknya lalu melangkah menuju pintu rumah miliknya. Tak lupa mengunci pintu sebelumnya. Meski rumah kinan dekat, tapi ia tetap harus berhati-hati. Terlebih 'keluarganya' berada dengan jarak yang terlalu jauh dari tempat ia tinggal. "mama ?" Ucap kinab heran saat melihat ratih berjalan tergesa-gesah kearahnya yang saat ini sedang menyambut kedatangan sang suami yang baru saja melepas jas kerja miliknya didepan pintu rumahnya. Dia memang sudah terbiasa memanggil mama aliza sebagai mamanya juga . "Kau masuklah duluan mas.." ucap kinan pada raka yang terlihat lelah raka tak banyak tingkah, ia hanya mengangguk menyetujui permintaan istrinya. Lagipula ia perlu duduk untuk beristirahat. raka pun memasuki ruang keluarga lalu duduk disalah satu sofa . "Ayo masuk mah.. udara terasa begitu dingin diluar.." ucap kinan pada ratih yang kini mengekor padanya untuk masuk kedalam rumah mewah miliknya. "mama duduk dulu.. mama mau minum apa ? Akan kubuatkan" ucap kinan sopan. "Tidak usah nak. Aku hanya mencari aliza. Apa ia ada dirumahmu ?" Tanya ratih yang sejenak menatap kearah raka yang terlihat lelah. raka yang tadinya menyandarkan punggungnya disofa kini menegakkan tubuhnya dengan mata terbuka. "Dia belum pulang ?" Tanya raka heran "Y-ya.. dia bahkan tidak menghubungiku .. apa dia baik-baik saja mas ?" Tanya kinan khawatir raka mendesah . Satu-satunya orang yang bisa dia hubungi saat ini adalah bagas. Ia juga khawatir jika aliza belum pulang bahkan sampai selarut ini. "mom..~ " rengek anak kecil yang baru saja keluar dari sebuah kamar yg penuh dengan mainan. "Ah marchel.. kau sudah bangun sayang ?" Tanya kinan lalu meraih marchel kedalam gendongannya "Hiks.. aku mau mom~.. mom mana hiks.." isaknya "Cup.. cup ..cup.. marchel sayang.. mommymu lagi dijalan.. dia sebentar lagi pulang Ok ?" Ucap kinan menenangkan. Tapi marchel tak juga berhenti menangis. "Dudukkan dia disini sayang.." ucap raka lalu menepuk sofa kosong disisinya. kinan mengangguk lalu mendudukkan marchel didekat sang suami. "marchel sayang mom kan ? " tanya raka "Umhh" angguknya dengan air mata yang ditahannya dan bibirnya yang mewek "Kalau begitu jangan perlihatkan wajah seperti ini pada mom ok ? Sebentar lagi mommymu akan datang" ucap raka seraya menepuk pelan punggung marchel yang sudah dianggapnya putranya sendiri marchel mengangguk ragu lalu menoleh kearah ratih yang tertegun. "oma ada dicini ?" Ucapnya dengan mata memerah. Ia mengelus matanya dengan menggunakan punggung tangannya. Menatap sang nenek dengan mata birunya. "Iya sayang.. ahh kupikir aliza membawa marchel. Syukurlah jika tidak" syukur ratih "Ekhem.. ma.. apa aku bisa bertanya sesuatu ?" Tanya raka sopan "Ya ? Tentu saja. Katakan saja, jika aku tahu aku takkan segan untuk menjawabnya " ucap ratih "Apa Ibu mengenal arka ?" Tanya raka dengan suara yang rendahkan untuk melihat ekspresi ratih ratih menatap raka sejenak, lalu menatap meja dihadapannya. "Ya, aku mengenalnya.. meski aku belum pernah melihat wajahnya.. aku tahu namanya saja.." aku ratih jujur kinan menatap suaminya dengan alis berkerut. Tapi ia memutuskan untuk tidak bertanya. "Apa ini ada sangkut pautnya dengan aliza ?" Tanya raka Untuk sejenak, arka dapat melihat tatapan sendu yang terpancar dimata ibu yang sudah berumur itu. "Ya, dialah yang membuat aliza harus mengandung marchel" ucap ratih yang membuat raka menundukkan wajahnya dengan tangan terkepal. "O-oh tuhan ! J-jangan bilang ?!" Pekik kinan kaget. "raka ! Bagaimana ini ? Ahh i-ini akan menjadi sulit. K-kau tahu bukan jika arka dan keluarganya-" "Tenanglah sayang.." ucap rak menenangkan sang istri. Meski sejujurnya hatinya juga gelisah. "mom kenapa ? mom baik-baik caja kan? " tanya marchel dengan raut khawatir. Ketiga orang dewasa disana dengan cepat merutuki diri mereka masing-masing. Bisa-bisanya mereka membahas itu disaat marchel sedang bersama mereka. "mommymu baik-baik saja ok ?" Ucap kinan tersenyum meyakinkan. bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN