Bab : 12 Hak Asuh Anak

1117 Kata
Lina masih memegang ponselnya, berdiri mematung mendengar suara gebrakan meja diseberang sana. Tiba-tiba suara mobil menderu memasuki halaman villa, tidak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar dengan nyaring. Tok tok tok Lina diam membeku, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Tok tok tok Suara ketukan pintu kembali terdengar. “Mamah ada tamu. Biar aku yang buka pintunya.” ujar Bima keluar dari kamarnya. “Bima! Jangan!” cepat Lina menarik tangan Bima “Masuk ke dalam sayang, biar nanti mamah yang buka pintunya.” pelan-pelan Lina menuntun Bima kembali ke kamarnya Lina menarik nafas berat, suara ketukan pintu masih saja terdengar jelas. “Mau apa kau kesini, Fanny?” dengan seluruh keberaniannya Lina membuka pintu, seperti melihat hantu siang bolong betapa kagetnya Lina melihat siapa yang datang “Boleh aku masuk, oh ya, aku lupa ini rumah suamiku berarti rumahku juga.” Fanny masuk kedalam rumah, menutup pintu di belakangnya. “ Aku datang kesini hanya ingin memperjelas sesuatu.” Tatapan matanya berubah menjadi tajam, “ Kau pikir, kau bisa menang melawanku.” Lina berusaha mengangkat dagunya, dan mengendalikan perasaan nya.” Aku tidak pernah takut dengan permainanmu, Fanny.” Fanny tertawa sinis.” Okeh. Permainan ini baru saja aku mulai, Lina.” katanya sambil menaruh kasar berkas di atas meja Lina mengambilnya dengan curiga, lalu membuka nya karena penasaran. Wajah Lina mendadak pucat membaca isi dari dokumen itu. “Surat permohonan hak asuh.” baca Lina pelan “Apa maksudmu, Fanny?” tanya Lina emosi Fanny tersenyum puas. “ Apa kau pikir aku akan diam saja melihatmu dan anak itu kembali ke kehidupan Reynaldi? Tidak Lina. Asal kau tahu, aku punya banyak pengaruh untuk memastikan pengadilan berpihak padaku. Lagi pula, Bima itu anak dari suami sah ku. Berarti anakku juga bukan.” Lina merasa kepalanya menjadi pusing, hidupnya semakin kacau. “ Kau gila….Fanny!” Fanny mendekat, kemudian berbisik pada Lina dengan suara dingin dan kejam. “Aku tidak akan tinggal diam, sampai kau benar-benar kehilangan segalanya, Lina.” Lina diam tidak berkutik. Tidak tahu harus bicara apa. Tiba-tiba… “Mamah ada siapa, apa ada tamu, aku mau s**u, Mah!” teriak Bima keluar dari kamarnya Belum sempat Lina menarik tangan anaknya, Fanny sudah lebih dulu merangkul Bima dengan sandiwara nya. “Hai sayang, ini pasti Bima anak Papah Reynaldi yang ganteng. Kenalin aku Mamih kamu, sayang. Panggil aku Mamih Fanny, ya!” Bima diam kebingungan. Melihat kearah Lina. Lina diam tidak bisa berkata-kata. “Bima tunggu didalam ya. Nanti mamah buatin susunya.” cepat Lina meraih bahu Bima lalu mendorongnya masuk kedalam kamar “Anak yang ganteng, anak yang sehat. Anakku juga kan.” ujar Fanny pelan “Cukup Fanny sekarang keluar dari rumah ini!” Lina cepat sadar dan tidak ingin terbawa dalam permainan Fanny Fanny tersenyum tipis. “ Kau tidak akan bisa menghalangi keinginanku.” “Kalau kau ingin perang silahkan, tapi aku tak akan mundur, aku ibunya, aku yang melahirkan dan membesarkannya.” ujar Lina geram “Kita lihat saja, siapa yang akan jadi pemenangnya.” kata Fanny dengan santainya “Aku pulang, tapi tunggu kabar dariku.” Fanny melangkah keluar rumah. Dia pergi meninggalkan villa itu dengan mengendarai mobilnya. Lina menutup pintu, lalu menguncinya dengan rapat. “Hak asuh Bima, Tidak. Aku tidak akan membiarkan ini terjadi.” geritu Lina sendiri Badan Lina mendadak lemas semuanya, dia merosot dari posisinya. Tangan dan kakinya bergetar hebat. “Dia tidak bisa mengambil Bima dariku…ini tidak bisa…!” katanya lirih Lina menangis pelan, berusaha menahan dirinya, tidak ingin Bima melihat keadaannya yang benar- benar kacau. Saat dia mulai bisa mengendalikan dirinya. Cepat Lina mengambil ponselnya. Lalu mengambil dokumen fotocopy an yang tadi di bawa oleh Fanny. Cekrek.. kertas itu sudah terfoto sempurna.Dengan cepat Lina mengirim gambar dokumen itu pada Reynaldi. Tidak sampai lima menit Reynaldi langsung menghubungi Lina. “Kapan dia kesana, gila! Dasar perempuan gila! Kenapa kau bisa sembarang membuka pintu untuk tamu? “ ujar Reynaldi emosi “Aku tidak tahu, lagi pula seharusnya kau tidak menaruh kami di rumah yang juga rumahnya.” ujar Lina berbalik marah “Hai tunggu! Bahkan Fanny tidak tahu alamat rumah itu. Itu rumah pribadiku. b******k kamu Fanny!. Sudah kamu nggak usah takut. Anak buahku akan segera mengurus ini semua. “Lina! Lina! Apa kau masih disana? Dengar Lina. Dengar kan aku! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku berjanji!” ujar Reynaldi dengan suara yang tegas berusaha meyakinkan Lina Lina diam tidak bersuara, air matanya kembali membasahi pipinya. Untuk pertama kalinya dia berusaha mempercayai Reynaldi. “Lina! Lina!Kau masih disana. Hem… “ terdengar Reynaldi mengambil nafas berat “Tunggu aku pulang!” ujar Reynaldi menutup panggilan teleponnya Reynaldi keluar dari ruangannya. Mengabaikan siapapun yang menyapanya memberi salam. Dia langsung masuk ke dalam mobilnya. Yang sudah terparkir di depan lobby kantor bersama supirnya. “Jalan.” katanya dingin *** Lina bangkit menatap Reynaldi yang baru saja sampai dengan mata berapi-api. “ Aku harus melakukan sesuatu.” Reynaldi langsung berdiri menahan bahu Lina. “ Dengar aku tahu kau marah, tapi kita tetap harus berpikir jernih.” “ Jernih?” Lina tertawa mengejek. “ Fanny berencana mengambil anakku Reynaldi, aku tidak bisa diam saja dan membiarkan semuanya terjadi.” Reynaldi mengepalkan tangannya. “ Kau pikir aku akan diam saja, membiarkan semuanya terjadi.” Lina menatap pria itu tajam. “ Kau pikir hanya karena kau CEO dan punya kekuasaan, kau bisa mengatasi semuanya? Aku tidak bisa bergantung padamu saja, Reynaldi. Kau pernah berbuat jahat padaku dulu, kau mengusirku. Bagaimana kalau itu terjadi. Bagaimana kalau kau berubah pikiran lagi.” Reynaldi diam tidak percaya dengan apa yang dikatakan Lina. Kemudian pelan-pelan dia berkata,” Aku bukan orang yang sama seperti dulu, Lina.” Lina membuang muka sambil mendengus kasar.” Tapi Fanny masih istrimu. Aku tidak bisa percaya begitu saja kalau kau akan melawan dia.” Tatapan Reynaldi berubah, ekspresi wajahnya menjadi datar,” Fanny bukan istriku lagi.” “Apa?” tanya Lina tidak percaya Reynaldi menarik nafas dalam lalu .berkata,” Aku sudah mengajukan perceraian beberapa bulan lalu. Aku sudah muak dengan semua kelakuannya.” Lina diam tidak berkata apapun. Dia tidak tahu harus bagaimana meresponnya. Selama ini yang dia tahu, Pria itu masih terikat dengan Fanny, dia tidak bisa lepas dari wanita itu, tapi ternyata…. “Tapi Fanny tidak akan tinggal diam.” lanjut Reynaldi “Dia akan menggunakan segala cara untuk menghancurkan hidupku dan tentu saja dengan hidup mu juga. “ Kalau begitu kita harus berani melawannya.” ujar Lina dengan dengan keberanian barunya Reynaldi mengangguk setuju. “ Dan aku akan selalu berada disisi mu.” Ada kekuatan baru dan ada kepercayaan baru yang timbul. Saat mendengar kalau Reynaldi sudah menggugat cerai Fanny. Meskipun Fanny dan Reynaldi belum resmi bercerai, tapi itu sudah cukup membuktikan kalau Reynaldi benar-benar sudah berubah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN