“Kita kembali ke kota, kau dan Bima akan tinggal di apartemen milikku. Aku akan menaruh dua orang kepercayaanku disana.” ujar Reynaldi malam itu
Reynaldi tidak bisa membiarkan Lina dan Bima tinggal jauh diluar kota, karena pada kenyataannya itu bukan keputusan yang efektif.
“Tunggu disini ya, Bima bisa berenang sama Mamah kalau bosan di dalam ruangan. Papah harus ke kantor. Anak pintar. Jaga Mamah, ya. “ ujar Reynaldi sambil mengusap kepala anak laki-lakinya
Bima mengangguk tanda mengerti.
****
Dua hari kemudian surat panggilan dari pengadilan sampai ke tangan lina, lewat security apartemen.
Hak asuh Bima sudah resmi dipermasalahkan sampai ke pengadilan.
Lina menatap amplop itu dengan tangan gemetar. “ Dia benar-benar melakukan semuanya…”
Disaat yang sama, Renaldi masuk kedalam ruangan apartemen.
“Aku baru saja mendapat khabar. Fanny tidak hanya ingin hak asuh, Dia juga mengajukan permintaan untuk melarangmu bertemu dengan Bima.”
Lina terhuyung mundur, hampir saja tubuhnya hilang kendali.
“Tidak…tidak mungkin…”
Reynaldi mengepalkan tangannya, dan rahangnya mengeras.
“Dia memakai pengaruh keluarganya, untuk memperoleh hakim yang berpihak kepadanya, dasar curang! Dia bukan hanya ingin hak asuh Bima,Lina! Dia ingin menghancurkanmu!”
Lina merasa seluruh dunianya runtuh.
“Aku tidak akan membiarkan ini semua terjadi.”
Reynaldi menggenggam tangannya.
“Aku sudah menghubungi pengacara terbaik, Lina! Kita akan melawan semua ini bersama.”
Lina mengangkat wajahnya, ada air mata di matanya, tapi juga ada kemarahan yang membara.
“Kita lihat siapa yang menang, Fanny! Aku akan menghadapimu.” gumamnya.
****
Malam itu Lina baru saja menidurkan Bima. Ketika teleponnya berdering. Ada panggilan dari no tidak dikenal.
Dengan hati-hati, dia mengangkat nya.
“Hallo?”
Suara pelan dan dingin terdengar dari seberang sana. “ Bima dalam bahaya, Lina!”
Lina diam, seakan darahnya berhenti mengalir.
“Siapa ini?”
“Seseorang yang ingin kau tahu, bahwa Fanny tidak main-main. Kalau kau tidak menyerahkan Bima, maka sesuatu yang buruk akan terjadi.”
Lina meremas ponselnya, suaranya bergetar menahan marah dan takut.
“Jangan sentuh anakku.”
Tidak ada suara lagi dari seberang. Panggilan itu terputus.
Dengan tangan dan kaki yang lemas dan gemetar, Lina berlari ke kamar Bima.
Bocah itu masih tidur nyenyak. Sama sekali tidak menyadari ancaman yang sedang mengintainya.
Terburu-buru Lina mengambil ponselnya dan menghubungi Reynaldi.
Pria itu mengangkatnya dalam satu menit.
“Ada apa?”
Lina mencoba untuk tenang. Dia berusaha mengatur nafasnya.
“Bima dalam bahaya. Seseorang baru saja menelponku dan dia mengancamku.”
Suara Reynaldi berubah berat dan serak. Seperti nya dia menahan emosinya.
“Aku akan pulang sekarang juga, jangan biarkan siapapun masuk. Aku juga akan telpon orang ku di sana. Agar mereka memperketat penjagaan. Tenang Lina. Semuanya aman.”
Lina menutup telpon dan duduk ditepi ranjang Bima. Menggenggam tangan mungil putranya lalu menciumnya.
“Bima sayang, mamah tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu.” ujarnya pelan.
“ Mamah akan berjuang sekuat tenaga melawan semua orang jahat itu.”
Bima bangun sebentar dari tidurnya. Tangan mungilnya menarik tangan Lina. Lalu mengengamnya seolah-olah tahu kalau mamanya sedang gelisah.
Tak lama, suara ketukan keras dari pintu apartemen nya membuatnya tersentak dan bangun.
Dia langsung berdiri, waspada.
“Lina, ini aku!” suara Reynaldi
“Apa yang mereka katakan?” tanyanya langsung setelah masuk kedalam apartemen itu.
Lina menghela nafas, suaranya masih gemetar. “ Mereka bilang, kalau aku tidak menyerahkan Bima, sesuatu yang buruk akan terjadi.”
Wajah Reynaldi berubah menjadi tegang.
Sialan…!” Dia mengusap wajahnya mencoba berpikir jernih. “Kita harus memperketat keamanan. Aku akan menyewa pengawal untuk kalian..”
Lina mendongak mengangkat wajahnya. “Reynaldi, ini bukan hanya soal keamanan. Ini soal Fanny yang benar-benar ingin menghancurkanku, dia ingin mengambil Bima.”
Reynaldi menatap Lina tajam, “ Dia tidak akan mendapatkannya.”
Lina tersenyum tipis.” Tapi dia punya pengaruh, uang, keberanian untuk melakukan apapun.”
Reynaldi mengepalkan tangannya marah. “Aku juga punya semuanya, dan aku tidak akan tinggal diam.”
Mereka belum selesai bicara, tiba-tiba ada suara Bima memanggil mereka.
“ Mama? Papa?”
Mereka menoleh ke arah sumber suara.
Bima berdiri didepan pintu kamarnya. Matanya yang kecil berkedip-kedip masih mengantuk.” Kenapa kalian ribut.”
Lina langsung menghampiri nya dan berjongkok di hadapan putranya.
“Tidak ada apa-apa, sayang. Kembali tidur, ya!”
Bukannya masuk kedalam kamarnya kembali, Bima malah menatap Reynaldi.
“Papa marah?”
Reynaldi menghela nafas, lalu berjongkok di depan putranya, agar mereka sejajar. “ Papa memang marah, tapi bukan padamu, ataupun mama.”
Bima tampak berpikir sebentar, sebelum akhirnya tersenyum kecil dan menarik tangan Reynaldi.
“Kalau begitu Papa jangan marah-marah. Aku senang liat Papa dan Mama ada disini bersama-sama.
Lina merasa hatinya jatuh mencelos. mendengar perkataan anaknya. Lina terharu, anak sekecil itu sudah bisa merasakan ketegangan yang terjadi antara ayah dan ibunya
Reynaldi diam melihat tingkah anaknya. Lalu tersenyum, “ Papa janji, Papa akan selalu jaga kamu dan Mamamu.”
Bima tersenyum puas, lalu berbalik menuju kamarnya. Setelah itu dia menutup pintu kamarnya.
Reynaldi dan Lina hanya bisa bertatap-tatapan melihat tingkah anaknya.
“Kita harus berpikir, kita harus mengambil langkah yang benar, sebelum semuanya terlambat.” bisik Lina.
“Iya, aku akan berpikir dan aku akan mengurus semua ini, tenang saja.” Reynaldi mengangguk.
Sekarang Lina benar- benar bergantung pada pria ini. Dia berusaha percaya penuh pada Reynaldi.
****
Fanny tetap saja meneruskan proses hak asuh anak. Surat panggilan jadwal persidangan juga sudah diterima Lina.
Tidak ada yang bisa diperbuat, proses itu akan tetap berjalan.
Dua minggu kemudian, jadwal sidang pertama hak asuh Bima pun dimulai.
Didalam ruang sidang, Lina duduk berdampingan dengan pengacara yang sudah dipilih oleh Reynaldi.
Dan Reynaldi ada disebelahnya memberikan dukungan penuh.
Sementara di sisi lain Fanny duduk dengan sombong dan percaya diri. Sesekali Fanny tersenyum licik. Mencerminkan kelicikan hatinya.
Tidak lama kemudian, Hakim membuka sidang. Mengetuk palu tanda sidang dimulai. Pengacara Fanny bicara terlebih dahulu.
“Selamat siang Yang Mulia, Klien saya yang bernama Fanny adalah istri syah dari lelaki yang bernama Tuan Reynaldi.
Dan memiliki hak sebagai seorang ibu atas anak yang bernama Bima.
Mengingat klien saya ini kondisi nya sangat bagus, baik secara ekonomi, keuangan, dari segi apapun jelas Nyonya Fanny sangat layak dan pantas untuk mengasuh Bima.
Lina benar-benar terbawa emosi mendengar ucapan pengacara Fanny.
Pengacara Lina berdiri dan berkata, “ Yang Mulia, Bima hidup dengan ibu kandungnya sejak lahir, tanpa ada yang turun tangan membantunya. Jadi tidak ada alasan hukum atau emosional, yang memindahkan hak asuh anak pada Nyonya Fanny. Apalagi tidak ada sama sekali hubungan darah dengan anak tersebut. “
Fanny tersenyum licik, lalu berdiri dan berkata, “ Yang Mulia saya hanya ingin memberikan sesuatu yang terbaik buat Bima.
.