Elsa

1532 Kata
Novia mulai melajukan kendaraannya menuju rumah Elsa. “Rumahmu masih yang lama El?” “Aku udah pindah ke Jakal.” Elsa pun memberi tahu alamat lengkapnya. “Kamu sudah banyak berubah ya Vi.” Ucap Elsa memulai percakapan diantara keheningan. “Aku masih sama seperti dulu El. Sama seperti saat kita masih baik-baik saja.” Terang Novia. “Kamu yang terlalu banyak berubah El, bahkan aku sudah tak bisa mengenalimu lagi.” Lanjut Novia. Tidak ada lagi obrolan diantara mereka hingga sampai di rumah Elsa. “Ok, nona Elsa kita sudah sampai. Benar kan ini rumahmu?” tanya Novia antusias melihat rumah mewah berlantai dua. Wajar saja karena ini adalah kawasan elite. “Iya. Thanks Vi.” “Ok. Aku balik dulu ya keburu magrib. Ketika kamu butuh bahu ataupun telinga, aku masih sama seperti dulu.” Ucap Novia setelah Elsa turun dari mobil. Elsa hanya mengangguk kemudian melambai. Elsa memasuki pintu gerbang rumahnya yang di jaga oleh satpam, kemudian langsung menuju rumah dan membuka pintu utama, melewati ruang tengah. “Kemana saja kamu? Ngelayap? Anak perempuan kerjaannya ngelayap, main-main terus.” Elsa hanya diam, dan kembali melajukan langkah menuju lantai dua tempat kamarnya berada. “Elsa dimana sopan santunmu terhadap orang tua?” teriak papi Elsa, yang sama sekali tak digubris oleh Elsa. ‘Anak kurang ajar, makin ngenlunjak.’ Gumam papi Elsa. Sesampai di kamar Elsa menjatuhkan tubuhnya di kasur, ia meringkuk memeluk guling. Air matanya luruh tak terbendung. Ia merasa hidupnya seakan tak adil. Ia memiliki segalanya, harta yang bergelimang, apa saja yang ia inginkan pasti ia dapatkan, namun hatinya kosong. Ia tidak memiliki keluarga yang bahagia, keluarga yang harmonis. “Mami, Elsa kangen.” Gumam Elsa disela isakannya. Elsa sekarang tinggal berjauhan dengan maminya, maminya saat ini tinggal di Surabaya tempat asalnya. Sedangkan kedua kakaknya memilih untuk bekerja dan tinggal di Jakarta. Flashback on POV Elsa Dulu keluarga ini adalah keluarga yang harmonis, mami dan papi terlihat baik-baik saja, tidak pernah bertengkar. Hingga saat memasuki SMP papi dan mami mulai sering bertengkar. Tidak ada orang ketiga diantara mereka, hanya saja papi menjadi lebih sibuk karena perusahaan yang papi kelola semakin melejit semenjak dipegang oleh papi. Sama halnya dengan mami karirnya juga sedang menanjak. Mereka sama-sama sibuk. Sedangkan aku? Aku bak putri raja yang tak pernah kekurangan apapun, harta melimpah, apa yang aku inginkan pasti terpenuhi. Hambur-hambur uang? Maaf aku belum paham perihal itu. Aku 3 bersaudara, Kakak pertamaku yang bernama Satria sudah pergi ke Jakarta untuk melanjutkan kuliahnya. Kakak keduaku yang bernama Seno sudah memasuki masa SMA dan mulai sibuk dengan dunianya. Saat-saat itu, saat dimana hari-hari ku mulai kelam. Aku sudah jarang mendapat perhatian, makan bersama pun jarang, seringkali aku hanya sarapan berdua dangan kakakku, papi dan mami? Entalah sudah sibuk sendiri-sendiri. Saat makan malam, jangan tanya aku selalu sendirian. Kakakku? Dia lebih memilih main dan pulang malam, terkadang hal itu menjadi salah satu pemicu pertengkaran papi dan mami. “Nyonya sudah pulang, bi?” tanya papi Elsa ke bibi. “Sudah tuan baru saja.” “Seno?” lajut papi Elsa. “Den Seno tadi keluar belum pulang tuan.” Papi Elsa berlalu meninggalkan bibi. “Dasar anak tidak tahu diri, jam segini masih kelayapan.” Gumam papi Elsa. “Mami, mami.” suara keras papi Elsa memanggil istrinya. “Ada apa papi malam-malam teriak-teriak.” “Kamu ini bagaimana jadi ibu? Anaknya pergi main jam segini belum pulang dibiarin aja.” “Papi ga usah marah-marah, mami juga baru pulang.” “Kamu itu terlalu memanjakan Seno juga Elsa.” “Aku lagi, aku lagi. Mas ngapain aja?” “Kamu berani ya sama suami!” Ditengah pertengkaran mereka Seno pun pulang. “Papi, mami, kalau pulang hanya ingin bertengkar lebih baik kalian ga usah pulang sekalian.” Ucap Seno lantang. “Berani kamu ya sama orang tua. Begini cara mamimu mendidikmu.” Ucap papi Elsa penuh emosi. “Kok mami, papi tu, mana peran papi sebagai ayah? Bisanya nyalahin mami.” Ucap mami Elsa tak kalah sengit. “Sudahlah Seno capek dengar papi dan mami selalu bertengkar.” Seno pun melenggang menuju kamarnya. “Dasar anak kurang ajar, papi belum selesai bicara.” Ucap papi Elsa setengah berteriak. “Lihat itu anak-anak kamu, kaya kamu semua sifatnya, liar, tidak punya sopan santun.” Ucap papi Elsa menyalahkan sang istri. “Terserah papi.” Mami Elsa pun beranjak meninggalkan suaminya menuju ke kamar kemudian menutup pintu dengan membanting. Brraakk. Mendengar pertengkaran mereka aku hanya menangis dibalik pintu. Sedih, sakit, kecewa, kesepian, yah itu yang aku rasa. Di sekolah aku mulai menjadi anak yang pemurung tak pernah lagi ceria. Lambat laun aku menjadi anak yang kata-kata orang nakal. Aku mulai bolos sekolah, tidur di kelas, bahkan tidak mengerjakan tugas. “Pagi Elsa.” Sapa remaja berkerudung yang selalu anggun dimataku. Ya siapa lagi, Novia. Kami masih satu sekolah dan kebetulan kami satu kelas saat masih kelas satu. “Hhhmm.” Jawabku. “Sudah kerjakan tugas El?” Aku melengos malas, Novia pun pamit ketempat duduknya. Sebenarnya aku dan Novia masih seperti biasa, tidak ada malah. Dia selalu manjadi tempat curhatku, menjadi tempat pelarianku saat penat di rumah bahkan sampai orang tuaku hafal kalau aku kabur pasti ke tempat Novia. Ya, aku nyaman dengannya, dia tak pernah aneh-aneh. Aku mulai tak suka dengan bisik-bisik teman-temanku tentang kehidupanku, karena orangtuaku tak pernah lagi hadir disetiap acara yang diadakan di sekolah, termasuk dalam pengambilan rapot. Ada juga yang menyebar gosip bahwa orang tuaku tak lagi akur. Aku tak tahu siapa yang memulainya aku tak terlalu ambil pusing. Hingga saat diakhir kelas 8 aku tak sengaja mendengar percakapan beberapa siswi di taman belakang membicarakan tentangku, kulihat disana juga ada Novia. “Aahh yang benar kalau keluarganya si Elsa broken home?” ucap siswi bernama Neti. “Iya, kata pembantu tetangganya Elsa orang tuanya sering berantem.” Lanjut Ani “Astaghfirullah.”ucap Novia. Aku memilih pergi ketimbang mendengar ucapan mereka. Dari sinilah awal mula kenapa aku mulai membenci Novia. Aku berprasangka bahwa Novia juga ikut andil membicarakanku dibelakang. Kenyataannya? Ah, sampai sekarang aku tak pernah tahu. Karena aku tak pernah mencoba bertabayun atau bertanya padanya. Untuk apa aku repot-repot bertanya aku sudah terlalu malas dengannya yang bersikap sok baik didepanku, tapi ngomongin aku dibelakang, secara dia tahu semua tentangku, bisa saja kan dia juga yang menyebar gosip. Entahlah. Saat kelas 9 aku pindah ke Surabaya ikut dengan mami. Mami akhirnya memutuskan untuk berpisah dengan papi dan mutasi ke Surabaya. Flsaback Off *** “Assalamualaykum.” Ucap Novia sembari memasuki rumah. “Waalaykumussalam.” Jawab mbak Lisa. “Kok cepet dek?” “Iya mbak.” “Kirain mbak kalian mau ada yang diobrolin dulu.” “Mungkin lain waktu mbak.” “Ya udah sana mandi, udah magrib lho.” “Aassiiap nyonya Lisa.” Lisa pun hanya menggeleng kepala. Makan malam telah terhidang, memanjakan hidung dan mata ingin segera menyantapnya. Novia dan keluarga pun makan malam bersama. “Nduk, kamu sama Elsa sudah akur?” tanya mbok Minah. “Belum bu.” “Sebenarnya ada pa to nduk? Kalian itu dulu kenapa?” “Vi juga kurang tahu bu. Semenjak waktu itu Elsa berubah dan membuat dinding menjulang sama Vi.” “Ya sudah, semoga lekas ada titik terang ya.” “Aamiin.” *** “Bi, Elsa tidak turun?” “Belum tuan. Mau saya panggilkan?” “Ndak usah bi, biar saya saja yang panggil.” Papi Elsa menuju ķe kamar anaknya, tanpa mengetuk ia mencoba membuka pintu perlahan, didapatinya Elsa masih meringkuk dan terisak. Niatnya untuk mengajak Elsa makan pun ia urungkan. Ia kembali menutup pintu kamar Elsa dan kembali turun untuk menyantap makanan malamnya. Sendirian, ya sendirian. Sering kali seperti ini. ‘Mungkin seperti ini yang dirasakan Elsa saat makan hanya sendirian.’ Batin papi Elsa. “Lho pak, non Elsanya belum turun?” “Tadi dia kayanya tidur bi, bisa tolong bangunkan.” “Oh gitu, sebentar pak bibi bangunkan dulu.” Bibi pun pergi menuju kamar Elsa. Tok tok tok. “Non, dipanggil bapak untuk makan malam.” Tidak ada sahutan dari dalam kamar. Tok tok tok. Ketukan terdengar lagi, Elsa pun mengusap pipinya yang masih basah. “Non, makan malam non.” Ucap bibi lagi. “Hhmmm, iya bi, sebentar.” Jawab Elsa, suaranya parau. “Iya non, bibi turun dulu.” “Ya bi.” Elsa pun menuju kamar mandi untuk mencuci muka, kemudian turun menuju ruang makan. Dilihat papinya masih berada disana. Elsa duduk ditempat biasa tanpa kata. Hening, hanya denting sendok dan piring mengiringi kesunyian. “Elsa, kamu ingin kuliah dimana? Jurusan apa?” tanya papi Elsa mencoba mencairkan suasana. “Belum tau pi.” Jawab Elsa singkat. “Kamu harus segera putuskan. Mulai sekarang kamu harus semangat belajar. Papi akan dukung semua keputusan kamu, asal kamu serius.” “Iya pi.” Suasana kembali hening, sungguh. Papi Elsa benar-benar ingin merubah keadaan dan memperbaiki semuanya, walau mungkin sudah terlambat tapi ia akan berusaha. “Kamu, kalau ada apa-apa bisa cerita sama papi, mulai sekarang papi akan mencoba selalu ada untuk kalian.” Ucap papi Elsa sungguh-sungguh. “Dan kalau kamu ada masalah yang belum terselesaikan, coba bicarakan baik-baik.” Imbuh papi Elsa. “Iya pi, akan Elsa coba.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN