Keluarga

1879 Kata
Setelah sampai di rumah dan membereskan barang-barang. Mbok Minah dan anak-anaknya berkumpul sembari menyantap makan siang, setelah tadi mbak Lisa memasak nasi. Masih seperti dulu, mereka lebih suka menyantap makanan dengan berkumpul duduk lesehan di lantai beralaskan karpet. “Sudah lama ya kita ga kumpul lengkap kaya gini.” Seru Lisa. “Iya ya mbak.” “Kalau kami ngumpul kamu jarang ada Vi.” “Wkwkwkwk.” Novia tertawa. “Ma, Marwah boleh nambah lauknya?” “Boleh nduk makan aja, habisin.” Ucap mbok Minah. Marwah pun mengambil lauk yang dia inginkan. “Berarti tante Vi sekarang udah di rumah ini terus ya?” Tanya Safa. “Iya Saf.” “Tante bisa dong buka les di rumah, nanti Safa rekomendasiin ke teman-teman Safa yang mau pada les.” “Ide bagus, tapi lihat sikon dulu ya.” “Kamu jangan sibuk-sibuk nduk. Bentar lagi ujian.” Ucap mbok Minah. “Nggeh bu.” Balas Novia. Keheningan tercipta mereka menikmati makanan masing-masing, hingga Novia bersuara. “Hhhmmm, sepertinya mas masih punya hutang penjelasan sama Novia deh.” Ucap Novia disela-sela makan, mengingatkan kakanya. “Astaghfirullah, dasar cewek. Ok ok. Mas akan jelaskan.” Mbok Minah dan Lisa terkekeh. “Bu Endang minta dicarikan penggantimu. Ya udah mas carikan. Dulu Yana resign karena ibunya sakit. Dan beberapa waktu lalu sempat tanya ada lowongan atau tidak, tapi di kantor belum ada lowongan OG lagi. Untungnya mas masih ingat Yana pernah menghubungi perihal kerjaan, ya udah mas coba hubungi, alhamdulillah setelah dihubungi ternyata dia belum kerja lagi. Dan tidak masalah kerja jadi pembantu.” “Yakin cuma itu?” tanya Novia menyelidik. “Maksudnya?” “Ga ada campur tangannya, misal.” Amir hanya tersenyum. “Sudah kuduga.” “Sebenarnya mas udah minta bu Endang cari pengganti sih dari lama. Tapi kok ga gerak-gerak.” “Atau mungkin beliau menghubungi bu Endang.” Lanjut mas Amir. Novia manggut-manggut Mereka akhirnya selesai makan, Lisa dan Novia membereskan dan mencuci piring, setelah itu mereka menyusul mbok Minah dan mas Amir kedepan TV. “Kalian nginep kan?” tanya mbok Minah. “Iya bu, kami nginep, udah lama juga kami ga nginep.” Jawab Lisa, Safa yang sedang asik nonton TV menoleh. “Kita nginep mah?” “Iya kak.” “Asik. Ye ye ye… Nginep.” “Nginep kak?” tanya Marwah memastikan “Hhhmmm.” Jawab Safa. “Assikk.” *** “Persiapan studionya gimana dek?” “Hhhmmm baru dapet tempat sih mas, belum sempat aku apa-apain belum DP juga, nanti kalau rezeki in syaa Allah g kemana, aku juga baru bikin konsep studionya.” “Ooh ya? Daerah mana?” Tanya Amir antusias. “Daerah Jl. Monjali mas deket-deket kampus.” “Wah, lumayan kalau jadi di daerah situ.” Seru Lisa. “Iya mbak tapi ga jalan utama, nanti tinggal bikin promosi aja yang gencar.” “Terus, apa kabar desain-desain kamu sekarang?” tanya Amir. “Alhamdulillah mas, ada beberapa yang laku. Mungkin dalam waktu dekat ini uangnya bisa aku cairkan.” “Alhamdulillah.” Seru mbok Minah dan mas Amir. “Oh iya, Vi mau ikut kontes lagi, mudah-mudahan berhasil, mohon doanya.” Lanjut Novia. “Iya, semoga dimudahkan ya nduk.” Doa tulus mbok Minah. “Aamiin.” Balas Novia. “Vi ga akan seperti ini kalau bukan karena dukungan dari kalian semua.” Ucap Novia tulus. Lisa memeluk Novia haru. “Nanti kalau ada proyek lagi mas coba tawarin jasa Vi deh.” Sambung Amir. “Amir, adiknya ini mau ujian lho. Jangan ditambah-tambah. Biar Fokus dulu.” Sela mbok Minah. “Kamu fokus dulu ke Sekolah ya nduk. Nanti kalau sudah ujian, wis monggo mau ngapain aja.” Lanjut mbok Minah. “Nggih ibuku sayang.” *** “Tante Vi.” Panggil Marwah. “Hhmm, iya dek.” “Kita main ke Embung yuk.” Novia melihat jam di dinding, menunjukkan sebentar lagi waktu ashar. “Tanggung setengah jam lagi ashar, habis ashar sekalian ya.” “Ok.” Ucap Safa Marwah kompak. Selepas Ashar Novia dan kedua keponakanya bersiap untuk ke Embung. Mereka ingin sekalian jogging disore mengelilingi Embung. “Mas kunci mobil dimana?” tanya Novia. “Dicantelan biasanya dek.” Jawab Amir setengah berteriak karena ia berada di belakang rumah sedang memberi makan bebek peliharaan ibunya. Setelah berhenti bekerja mbok Minah berinisiatif memelihara bebek dan ayam kampung, telurnya bisa di jual. Dulu Novia yang mencarikan pelanggan untuk telur-telur tersebut. Sekarang akan ada pelanggan yang datang mengambil setiap hari. “Ok mas, kami berangkat dulu ya. Assalamualaykum.” “Ibu, mbak Lis, kami berangkat dulu yaa. Yakin mbak ga mau ikut?” Novia, Safa, dan Marwah menyalami mereka. “Engga ah, biar para ABG aja.” Lisa terkikik. “Ati-ati yo nduk bawa mobilnya, alon-alon wae. Le bali ojo mepet magrib (pulangnya jangan mepet magrib).” Mbok Minah mewejangi. “Nggeh bu.” “Duo sholehah, yuk lets go. Kita berangkat.” *** Mereka bertiga akhirnya memasuki kawasan Embung. Kemudian memarkirkan mobil di tempat yang telah disediakan oleh pengelola. “Yuhuu, kita sampai gaes.” Mereka bertiga bergegas turun. “Kita mau lari kearah mana ni?” “Melu uwong-uwong wae tan, mosok lawan arus (ikut orang-orang saja tan, masa lawan arus).” “Yo gapapa, banyak juga tu yang ngelawan arus. Lagian ga ada petunjuk arah harus kemana.” Ucap Novia sambil meledek Safa. “Tau ah tan.” Safa manyun. “Manyun dianya, yyuuhh ah sudah siap?” “Pelan-pelan aja ya tan, sambil kita lihat pemandangan.” Usul Marwah. Dijawab acungan jempol oleh Novia dan Safa tanda setuju. Setelah setengah perjalanan Novia menangkap sosok yang ia kenal duduk termenung sendirian. “Kak, adek, kalian bisa jalan-jalan dulu, atau mau nunggu deket sini? Tante ada temen tante itu, sepertinya lagi ada masalah. Mau tante samperin bentar.” “Kita nunggu disana aja ya tan, takut juga kalau keliling berdua.” Jawab Safa. “Ok sholehah. Tunggu ya.” Novia mendekati sosok yang ia kenal, lalu duduk disampingnya. “Hai, kenapa melamun?” tanya Novia. “Apa pedulimu?” jawabnya ketus. “Kenapa hari jumat kamu ga masuk sekolah? Jenny dan yang lain nyariin kamu.” Tidak ada jawaban. “Kamu sedang ada masalah?” tanya Novia lagi. “Sudahlah, kamu berisik sekali. Aku sedang tidak ingin sok akrab dengan mu.” Jawabnya ketus. “Ok baiklah Elsa. Aku mau keliling dulu sama keponakanku. Kamu mau ikut?” tawar Novia, Elsa hanya diam. Novia pergi menuju kearah kedua keponakannya. “Sudah tan?” “Iya, sepertinya teman tante sedang tidak ingin diganggu.” Mereka bertiga melanjutkan jogging dengan sesekali berfoto ria dan melihat pemandangan sore. Ada sepasang mata yang mengamati dari arah yang berlawanan. “Kamu lihatin apa Mas?” tanya teman Dimas. “Itu lihat cewek itu.” “Yang sama dua bocah?” “Iyaa.” “Sialan kamu, tahu aja yang bening-bening.” “Apaan, dia itu pembantu di rumah juraganku. Mantan pembantu sih sekarang. Mungkin dua bocah itu majikannya yang baru. Udah yuk lanjut.” Sedangkan teman Dimas hanya melongo seperti tidak percaya apa yang dikatakan oleh Dimas. Novia dan duo bocah akhirnya sampai dititik semula. Mereka beristirahat terlebih dahulu untuk menghilangkan keringat. Dan si duo bocah pun jajan makanan yang mereka pengen. Dalam benak Novia, ia masih kepikiran tentang Elsa. Ia bergegas ke tukang parkir yang ia kenal hendak meminjam motor. “Kang.” Panggil Novia kepada salah satu tukang parkir. “Eh Vi.” “Aku njileh motore diluk ya (aku pinjam motoe sebentat ya). Jemput kancaku, kae neng tengah-tengah.” “Yo yo, iki kuncine.” “Nitip bocahku sek ya.” “Yo.” “Kakak, adek, tante mau ketempat teman tante tadi ya. Kalian disini dulu. Ada Kang Doni yang jaga.” Novia kemudian melajukan motornya. “Udah lama ga kesini non.” Sapa kang Doni. “Iya jarang ketempat eyang kang.” “Oalah, sering-sering dijenguk eyangnya non, mumpung masih ada.” "Hus, kang Doni jangan ngomong gitu." Kesal Safa, yang dibalas kekehan oleh Doni. “Eh Mas itu bukannya cewek yang tadi?” Dimas dan temanya melihat ke arah Novia yang berpamitan pada dua bocah. “Iya Ki.” “Elsa.” Novia memanggil Elsa sembari menuju kearahnya. “Apalagi sih?” “Yuk aku anter pulang.” Novia memegang tangan Elsa dan sedikit menariknya mengajak beranjak dari tempat duduknya. “Apaan sih.” Kibas Elsa. “Aku tahu kamu pasti kabur dari rumah. Ayo aku antar.” Novia kembali menarik tangan Elsa. Kali ini Elsa hanya pasrah dan diam saja. Novia mengendarai motor menuju ke parkiran. “Ok. Sampai, anak-anak kenalin ini kak Elsa temen tante. Elsa Ini Safa, yang kecil ini Marwah.” Safa Marwah menyalami Elsa. “Kalian tunggu disini dulu ya. Aku balikin motor dulu.” “Ok.” Jawab Safa. “Kang ini motornya. Makasih ya.” Novia merogoh sakunya berniat ingin memberi uang bensin, namun ditolak oleh kan Doni. “Matur nuwun sanget ya kang. Ngrepoti. Ya wis aku tak siap-siap pulang dulu.” Pamit Novia. “Yuk, ke parkiran.” Elsa pun hanya mengikuti tanpa banyak bertanya. Mereka bergegas menuju parkiran mobil, kemudian melaju keluar parkiran. Dua pasang mata masih memperhatikan Novia, yang bahkan Novia pun tak sadar ada yang memperhatikan. “Iku, iku iso numpak mobil lho. Mrenene nganggo mobil (itu, itu, bisa naik mobil, kesininya pakai mobil).” Ucap teman Dimas heboh. “Alah paling mobil majikane mau.” Sangkal Dimas. “Yo, bali.” Lanjut Dimas. *** “Kita ke rumah ku dulu ya El, pulangin anak-anak, tadi udah janji ga sampai magrib.” Kata Novia sembari menyetir. Dan Elsa hanya diam memandangi jendala samping. “Tante Elsa kok diam aja sih dari tadi?” ujar Marwah polos. “Eem ehh iya dek.” Jawab Elsa canggung. “Tante satu sekolah sama Tante Vi?” lanjut Marwah. “Iya dek.” Obrolan ketiga anak perempuan itu terus berlanjut bahkan sampai menimbulkan tawa. Novia hanya menjadi penonton dan pendengar yang baik, jika ia ikut nimbrung kwatir merusak suasana, akhirnya mereka pun akhirnya sampai di rumah Novia. “Yuhuu kita sudah sampai. Anak-anak ayo turun dulu. El, mau turun dulu atau langsung?” Elsa hanya diam. "Tante Elsa ayo turun dulu, mampir." Ajak Marwah polos. "Lain kali ya dek, tante mau langsung pulang saja." Jawab Elsa. “Sebentar ya aku turun dulu, pamit sama ibu dan kakakku.” Tanpa menunggu jawaban Elsa, Novia bergegas turun. “Assalamualaykum.” Teriak Marwah kemudian menyalami sang ayah. “Waalaykumussalam.” Jawab Amir yang duduk santai di Teras. “Mas, aku mau antar Elsa sebentar ya. Kasihan kaya anak hilang.” Ucap Novia diiringi kekehan. “Ibu mana? Mau pamit.” “Mau kemana Nduk?” mbok Minah keluar dari dalam rumah. “Aku mau anterin teman dulu ya bu. Elsa. Teman SD Novia yang sampai sekarang masih saja satu sekolah.” Terang Novia. “Elsanya bu Bintari?” “Huum.” “Ajak masuk dulu nduk. Sebentar lagi kan magrib.” Pinta mbok Minah. “Katanya lain kali bu, dia pengen segera pulang. Udah ya bu, kayanya dia lagi ada masalah. Kasihan nunggu lama. Assalamualaykum.” Novia menyalami mbok Minah dan amir. “Waalaykumussalam.” jawab mbok Minah dan Amir. “Sudah akur mereka, Mir?” Amir menggedikkan bahu tanda tidak tahu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN