Sore hari di kediaman bu Endang, Novia mulai mempacking barang-barangnya. Tidak terlalu banyak hanya baju-baju dan buku-buku.
“Mbak Novia mau packing?” tanya Hanifah.
“Iya dek.”
“Ifah bantu ya mbak.” Raut wajahnya sedih.
“Boleh. Sini-sini.”
“Rumahmu dekat Nov?” tanya Yana yang tiba-tiba nyelonong.
“Lumayan mb.”
“Kapan-kapan aku main, boleh?”
“Boleh dong mbak, masak ga boleh.”
“Aku ikut, aku ikut.” Sambar Hanifah.
“Oohh, iya besok kita kesana bareng aja non, kalau pas non mau kesana.”
“Iya iya mbak.” Hanifah mengangguk antusias.
“Aku mau lanjut kerja dulu ya Nov, non.” Hanya diangguki oleh Novia dan diacungi jempol oleh Hanifah. Yana menuju dapur untuk memasak makan malam.
“Yan.”
“Geh bu.”
“Ini ibu baru belanja lauk kita masak, nanti buat makan malam bersama di samping rumah rame-rame, buat perpisahan Novia.”
“Geh bu.” Yana membongkar belanjaan yang diberikan bu Endang.
“Oh, iya Novia dimana?”
“Ada di kamar lagi packing sama non Ifah, bu.”
“Ya, sudah saya mau panggil dulu biar kita masak-masak bareng.”
“Nov.”
“Ya bu?”
“Kita jadi masak-masak, itu bahan-bahan sudah ibu taruh di dapur sama mbak Yana. Bantuin gih. Ga usah packing, kamu kaya mau pergi jauh aja. Ibu mau bersih-bersih dulu nanti ibu nyusul.”
“Siap bu boosss.” Sambar Hanifah. Bu Endang hanya geleng-geleng.
“Mbak mau ke dapur dulu ya.”
“Ifah boleh bantuin mbak?”
“Ayo kita cek ada apa di dapur.” Mereka berdua pun menuju dapur.
“Selamat sore nona Yana, adakah yang bisa saya bantu?” ucap Novia membuat Yana kaget.
“Astaghfirullah. Kaget.”
“Ups, maaf.”
“Ini bahan banyak banget yaa, mau dimasak apa?”
“Hhhmmm, ayam bakar + sambal, ada lalapan. Terus separo ayamnya digoreng. Kangkung bisa diplecing atau ditumis. Bakwan, tahu dan tempe goreng. Ada apalagi sih mbak?”
“Ini ada ikan nila juga.”
“Oohh, yuukk eksekusi.”
Mereka pun berkutat dengan kegiatan memasak di dapur disusul oleh bu Endang. Sedangkan para lelaki merapikan dan menyiapkan tempat di gazebo samping rumah.
Selepas sholat Isya mereka pun mulai menyiapkan hidangan dan membawanya ke gazebo hingga deru mobil pak Hadi dan beberapa motor terdengar riyuh di depan rumah.
“Kok kayanya banyak motornya Nov?” tanya Yana.
“Iya mbak kata ibu karyawan toko juga diajak.”
“Oalah pantes aja masaknya segini banyak yaa.” Novia tersenyum manggut-manggut.
“Assalamualaykum.” Ucap mbok Minah masuk dari pintu samping.
“Waalaykumussalam.” Jawab Novia dan Yana berbarengan.
“Ya Allah ibu. Ibu kalih sinten le mriki (ibu sama siapa kesini)?” Tanya Novia, kemudian mencium tangan bu Minah takzim.
“Di jemput pak Hadi, nduk.”
“Eh, mbok sudah sampai. Sini mbok duduk dulu ke ruang tengah.” Bu Endang menyapa dan mengajak bu Minah duduk bersama.
“Simbookkk.” Teriak Hamdan dan Hanifah bersamaan kemudian berlari kearah mbok Minah.
“Ati-ati nduk, le. Ojo peplayon (jangan lari-lari).”
Merekapun menyalami bu Minah dan menyeret bu Minah ke ruang tengah.
“Ayo, ayo mbok duduk dulu, Ifah kangen banget sama simbok.”
Novia tersenyum melihat kelakuan mereka. Kemudian melanjutakan pekerjaannya.
“Siapa itu Nov. Neneknya anak-anak?” tanya Yana.
Novia terkekeh kecil. “Beliau ibu aku mbak.”
“Oalah.”
“Mbok, saya mohon maaf, terlalu lama menahan Novia di sini.”
“Ndak papa bu Endang. Mohon maaf kalau selama ini Novia ngerepotin ibu dan keluarga.”
“Engga bu, malahan kami yang merepotkan Novia.”
“Ayo mbok, kita ke gazebo. Pasti mereka sudah kumpul.”
“Yana, sudah selesai semua?” tanya bu Endang ketika melawati dapur menuju Gazebo.
“Sudah bu.”
“Ayo kita kumpul di gazebo, kenapa malah di sini?”
“Saya juga?” tanya Yana polos.
“Ya iya lah Yan. Kamu kan juga karyawan ibu.”
Semua sudah berkumpul dan acara pun dimulai. Semua menikmati hidangan yang sudah tersedia sembari mengobrol.
“Mana yang namanya Novia to mas? Pembantu wae sampe digawekne perpisahan.” Tanya Dimas karyawan baru pak Hadi yang baru 3 bulan bekerja kepada pak Sholeh.
“Itu lho cewek cantik yang pake kerudung pink.” Mata Dimas pun berselancar mencari cewek yang dimaksud pak Sholeh.
“Serius itu pembantunya? Tak kira dia anak pak Hadi. Lha ayu ngono, ga ketok kaya pembantu, malahan koyo tuan rumah.”
“Huuusss, ojo sero-sero (jangan keras-keras).”
“Walah ayune, sayang pembantu.” Celetuk Dimas.
“Ojok sembarangan nek ngomong, kwe bakal kesemsem nek ngerti asline Novia.” Bela pak Sholeh. Dia sudah sangat paham dengan Novia karena sedari kecil sudah berinteraksi.
“Ora pak, ora.” Sombong Dimas.
“Ya kali aku seneng karo pembantu.” Gumam Dimas masih didengar pak Sholeh.
Karena penasaran dengan ucapan pak Sholeh Dimas pun mencoba mendekati Novi.
“Hai, jadi kamu yang namanya Novia. Boleh kenalan? Aku Dimas, Manager toko pak Hadi.” Dimas mengulurkan tangan.
Novia menyeringit heran sembari menangkup tangan di d**a.
‘Alah pembantu wae sok-sokan.’ Batin Dimas.
Novia pun pergi tanpa kata. Dan hanya senyuman yang ia sampaikan ke Dimas.
Dari kejauhan pak Sholeh terkekeh melihat Dimas yang dikacangi oleh Novia.
“Rasain kwe, sok-sokan. Kalah telak to.” Gumam pak Sholeh.
Novia pun berbaur dengan karyawan-karyawan yang lain, bertegur sapa, bahkan ada yang memberinya kenang-kenangan.
“Novia ini buat kamu, jangan dilihat barangnya, tapi mbak tulus ngasihnya.” Ucap mbak Mayang.
“Ya Allah mbak, makasih banyak. Kita kaya mau pisahan jauh aja. Padahal mah kalau ke toko juga sering ketemu.”
“Hahaha, mbak ga akan seperti sekarang kalau bukan karena kamu Novia.”
“Itu memang rezeki mbak Mayang, Novia hanya perantara.
Flashback Mayang
Pertemuan pertama Mayang dan Novia saat Novia SMP. Kala itu Novia tertabrak motor yang dikendarai oleh Mayang.
Cciiittt cciiittt… Brruuugghh…
“Astaghfirullah.” Ucap Novia.
“Aadduuhhh.” Lanjut Novia. Novia sadar ia telah tertabrak motor, tapi tidak ada tanda-tanda si penabrak yang beritikat baik. Ia pun menoleh kearah si penabrak. Orang-orang pun sudah berbondong-bondong menolong mereka.
Si penabrak ternyata malah menangis meraung-raung tidak memperdulikan apapun bahkan setelah dibawa ketepi di tempat yang teduh pun ia seperti tidak sadar dan terus menangis sesenggukan, membuat orang-orang yang menolong kebingungan.
“Mbak, mbak mana yang sakit?” tanya mas-mas yang menolong.
“Disini mas disini.” Si penabrak itu memukul-mukul dadanya.
“Wah kayane perlu digowo neng rumah sakit iki, jare dadane sek lara (kayanya perlu dibawa kerumah sakit, katanya dadanya yang sakit).” Ucap mas-mas yang tadi pada beberapa orang yang masih berdiri.
“Ya wis yoo gowo neng RS wae mesakne. Tak golekne mobil.” Sambung pria oaruh baya.
“Ini mbak minum dulu. Biar tenang.” Mbak-mbak meberikan minum pada si penabrak.
“Nduk kamu ga papa? Ada yang sakit?” tanya seorang ibu yang kemudian memberi Novia minum hangat. Seperti si ibu ini pemilik warung disebrang jalan.
“Alhamdulillah, sepertinya ga papa bu. Matur nuwun minumnya.” Jawab Novia.
“Istirahat dulu nduk, tunggu si embak sadar.”
“Geh bu.”
Setelah meminum minumannya, si penabrak mulai tenang.
“Ayo mbak, ke Rumah sakit, katanya dadanya sakit.” Kata mas yang tadi.
“Rumah sakit?” si penabrak akhirnya memahami situasi bahwa dia baru saja mengalami kecelakaan, menabrak seseorang lebih tepatnya.
“Astaga. Ya ampun. Aku nabrak orang.” Ia pun menepok jidat. Kemudian berdiri menghampiri Novia.
“Dek maaf aku ga sengaja, ada yang sakit?” tanyanya.
Novia pun berdiri dan berkacak pinggang. “Mbak kalau naik motor yang bener dong, konsentrasi, kalau emang mau nangis jangan sambil nyetir. Begini kan akibatnya. Kalau ga kuat bawa masalah ke jalanan, mending tidur aja di kamar. Untung aku ga kenapa-kenapa.” Omel Novia. Membuat orang disekitaran tercengang dengan kelakuan Novia.
Orang-orang pun berbisik-bisik kemudian pergi satu persatu, termasuk mas yang tadi hendak membawa ke rumah sakit.
“Ealah mbak nek patah hati ki mbok ga sah golek korban, tiwas kene wis panik.” Ucap si mas.
“Maaf ya mas, terima kasih sudah nolongin saya semuanya.” Ucap si mbak sedikit berteriak agar terdengar oleh orang-orang yang sudah menjauh.
“Sekarang mbak anterin aku pulang. Sudah banyak waktuku yang terbuang, gara-gara nunggu mbak waras.” Ketus Novia.
“Hah? Eh, ah, iya aku anter pulang. Asal aku ga dituntut apa-apa.”
“Aiisshh. Ayo buruan. Aku harus ambil pesanan di toko juraganku ini.”
‘Juragan, ini bocah sambil kerja? Bukannya dia masih SMP ya? Tau ah, anterin aja.’ Batin si penabrak.
“Eh ya, ayo.” Novia pun akhirnya ngebonceng si embak penabrak.
“Nama?” tanya Novia.
“Eh apa? Nama?”
“Iya, nama mbak siapa? Ya kali aku panggil embak, si penabrak.” Lanjut Novia.
“Ooh, namaku Mayang.”
“Ya mbak Mayang. Gitu kan enak.”
Keheningan terjadi dalam perjalanan, hanya sesekali Novia memberi tahu arah toko yang dimaksud. Mereka pun akhirnya sampai di toko.
“Makasih mbak. Sampai sini aja mbak nganter aku. Lain kali hati-hati.” Novia langsung masuk ke dalam toko tanpa basa-basi.
‘Eh ni bocah main mlengos aja.’ Batin Mayang.
Pandangan Mayang tertuju pada pamflet warna biru di kaca toko. Ia pun turun dari motor kemudian memotret pamflet tersebut. Ya pamflet lowongan pekerjaan. Ia sedang sangat membutuhkan pekerjaan. Siapa tau rezeki.
Hari itu Mayang sangat kacau, karena melihat pacarnya berselingkuh dengan wanita lain, yang membuat wawancaranya berantakan karena kurang konsentrasi.
Tapi ada hikmah disetiap kejadian. Akhirnya ia pun bekerja di toko pak Hadi.
Flashback off
Acarapun akhirnya selesai tinggal menyisakan penghuni rumah yang sibuk beberes dan juga mbok Minah yang bercengkrama dengan pak Hadi dan bu Endang di ruang tengah. Sedangkan Hamdan dan Hanifah telah tidur di kamar masing-masing.
“Mbok nginep sini saja, pulangnya besok bareng Novia, katanya Amir mau jemput.” Pinta bu Endang.
“Iya bu, malah ngerepoti.”
“Enggah mbok, simbok ni kaya sama siapa.”
***
Keesok harinya pukul 09.00 Novia sudah siap tinggal menunggu mas Amir dan keluarga datang menjemput. Bu Endang dan keluarga pun berkumpul diruang tengah bersama Novia dan mbok Minah.
Tok tok tok. Suara pintu ruang tamu di ketok.
“Mungkin itu mas Amir, Novia lihat dulu.”
Yana tergopoh-gopoh segera menuju ruang tamu, meski pintu sudah terbuka, disusul oleh Novia.
Yana pun terkejut melihat Amir yang datang berkunjung ke rumah majikannya.
“Lho pak Amir. Silahkan masuk. Ada mbak Lisa juga dan anak-anak, ya Allah. Mari-mari masuk silahkan duduk. Ada apa gerangan?” Novia yang berada dibelakang Yana pun manujukkan ekpresi bingung karena Yana mengenal kakaknya.
“Saya mau jemput adik saya, tu.” Sambil menujuk kearah Novia.
Yana pun menoleh dan bingung dengan situasi ini.
“Jadi Novia adik pak Amir?” Amir mengangguk.
“Ooh ya ya. Sebentar saya panggil bapak dan ibu dulu. Permisi.”
“Jadi apa ini maksudnya mas? Mas hutang penjelasan.” Sakras Novia.
“Iya, nanti mas jelaskan di rumah.”
“Ya Allah Amir, Lisa, ada anak-anak juga. Apa kabar? Safa Marwah udah pada gedhe-gedhe ya sekarang.” Mereka pun menyalami bu Endang, pak Hadi dan juga mbok Minah.
“Novia bantu mbak Yana dulu.” Pamit Novia.
“Mbak kenal sama mas Amir dimana?” tanya Novia setelah sampai di dapur.
“Itu, dulu aku kan OG di kantor pak Amir, tapi aku resign ketika ibu sakit. Kenal mbak Lisa karena diajak pak Amir nengokin ibu di rumah sakit.” Yana menjelaskan sembari membuat teh.
“Pak Amir juga yang merekomendasikan aku untuk kerja disini. Aku ga tau kalau kamu adik pak Amir, hahahaha. Untung aku ga jahatin kamu yaa, bisa kualat aku.” Lanjut Yana.
“Mbak Yana ni ada-ada aja.”
‘Mas Amir, kamu hutang penjelasan.’ Batin Novia.
Yana keluar dengan membawa minuman dan Novia mebawa beberapa cemilan.
“Yan, tolong panggil Hamdan dan Ifah. Bilang ada Safa Marwah.”
“Nggeh bu.”
Setelah berbincang-bincang cukup lama, akhirnya Novia pun pamit, barang-barang pun sudah masuk semua ke mobil.
“Yan, yan.” Bu Endang memanggil Yana.
“Tolong Rantang yang tadi bawa sini. Sekalian yang di plastik merah.”
“Geh bu.” Yana pun membawa keluar barang-barang yang dimaksud bu Endang.
“Mbok, ini dibawa lauk sedikit. Nanti bisa buat makan siang rame-rame di rumah. Maaf kami ga bisa nganter Novia sampai rumah.” Terang bu Endang.
“Terima kasih bu. Ngerepoti. Kami pamit dulu.”
Akhirnya Novia pulang bersama keluarganya. Hanifah bersembunyi di kamar sambil menangis, ia tak mampu melepas kepergian Novia.
Padahal mah rumahnya cuma deket, kalau pengen ketemu tinggal naik sepeda ontel aja g sampai 15 menit, kaya mau ditinggal pergi jauh aja. Hanifah, Hanifah.