Welcome back

1727 Kata
“Mbak Yana.” Panggil Hanifah pada Yana yang berada di ruang laundry dekat dapur. Saat itu Yana sedang nyetrika. “Iya genduk, genduk cah ayu. Ada apa?” “Mbak Novia belum pulang?” tanya Hanifah sambil ucek-ucek mata khas bangun tidur. “Belum cah ayu. Mas Hamdan yang sudah pulang.” Seketika Hanifah menangis sesenggukan, membuat Yana panik. “Eehh lha kenapa cah ayu. Kok nangis?” tanya Yana sembari mencoba menenangkan Hanifah. “Hiks hiks hiks.” Tidak ada jawaban hanya tangisan yang terdengar. Yana terus mengelus punggung Hanifah. Hamdan yang mendengar adiknya menangis keluar dari kamarnya. “Kenapa dek?” tanya Hamdan. Kemudian Hanifah mengambur ke pelukan Hamdan sambil terus menangis. “Kenapa dek?” ulang Hamdan, sembari berkode dengan Yana seakan bertanya kenapa? “Saya kurang tau den, tadi nanyain mbak Novia udah pulang belum, saya jawab belum. Kok malah nangis.” “Saya ga ngapa-ngapain non Ifah lho den, tenan wis, swear.” Lanjut Yana jari tangannya membentuk huruf V. Hamdan mengangguk dan mengajak Hanifah ke ruang tengah dan duduk di sofa. Hamdan hanya mengelus-elus punggung Hanifah, menunggu Hanifah mau bercerita. Beberapa menit berlalu akhirnya Hanifah sudah lebih tenang dan mau bercerita. “Mas, mbak Novia bakal pulang ke tempat simbok, mau tinggal disana, ga tinggal disini lagi, hiks hiks.” “Nanti yang bantuin Ifah gambar siapa, yang ajarin Ifah belajar siapa? Hiks hiks.” Lanjut Hanifah. “Kan ada mas, dek.” Jawab Hamdan. “Assalamualaykum.” Ucap Novia. “Waalaykumussalam.” Jawab Yana. “Kenapa mbk?” “Tadi ditanyain Non Ifah, dia lagi nangis di ruang tengah kayanya.” Tutur mb Yana. “Oalah. Makasih mb. Aku ke ruang tengah dulu.” “Yuhuu, podo-podo.” “Hallo anak-anak yang sholeh dan sholehah, I’m coming.” Ucap Novia menuju ruang tengah. Hamdan dan Hanifah menoleh kearah Novia. Seketika Hanifah berlari memeluk Novia. Bbuugghhh. Novia terhuyung nyaris jatuh. “Eeehhh eeehhh.” “Pelan-pelan Ifah nanti kita jatuh.” “Bener embak mau, hiks hiks.” Suara Hanifah tercekat karena menangis. “Hayuh, hayuh duduk dulu. Kita bicara sambil duduk.” Ajak Novia sembari memegang pundak Hanifah dan mendorongnya untuk duduk di sofa. Yana yang ga ada kerjaan pun kepo dan ikut nimbrung dan duduk di karpet. Novia menuju ke dapur untuk mengambil segelas air putih kemudian diberikan ke Hanifah. “Ini dek minum dulu.” Hanifah menerima gelas tersebut kemudian meminumnya sampai tandas. “Haus dek? Sampai nangis segala.” Ledek Hamdan, membuat Hanifah cemberut. Mereka pun tertawa. “Ada apa dek?” tanya Novia. “Beneran mbak mau pulang ke rumah simbok?” “Iya.” Jawab Novia lembut. “Terus aku gimana mbak? Siapa yang ngajarin aku belajar? Siapa yang bantu aku kalau ada tugas gambar?” Hanifah memberondong pertanyaan. “Ifah, kan ada mas Hamdan, toh rumah kita kan cuma deket naik sepeda ontel aja ga sampai 15 menit.” “Kalau ada apa-apa bisa hubungi mbak atau Ifah bisa maen ke rumah mbak.” Lanjut Novia. Yana masih menyimak dan manggut-manggut. “Tapi mbak, kita udah ga bisa sering ketemu, bercandaan, curhatan. Mas Hamdan mah ga seru, kalau diajak ngobrol cuma ham hem ham hem.” “Maklum mas Hamdan kan laki-laki, kan ada bunda, ada mbak Yana juga.” “Hhhmmm, kenapa sih mbak pakai pulang segala? Mbak Novi capek ya tinggal disini? Kan sekarang sudah ada mbak Yana.” “Mbak kan sebentar lagi ujian Nasional, jadi mbak harus fokus belajar. Dan lagi simbok udah makin sepuh, harus ada yang nemenin dong.” Jelas Novia. “Tapi janji yaa mbak harus sering-sering main kesini.” “In syaa Allah Ifah.” Novia memeluk Hanifah. “Assalamualaykum.” “Eh kok sepi sih ga ada yang jawab.” Gumam bu Endang sembari masuk ke dalam rumah. “Eh ada apa ini kok rame-rame disini?” tanya bu Endang yang melihat anak-anak dan pembantunya berkumpul di ruang tengah. Seketika Yana bangun dari duduknya dan menunduk hormat. “Ini lho bun, Ifah drama. Pakai nangis-nangis segala.” Ucap Hamdan sambil meledek sang adik. “Iiihhh maass.” Protes Hanifah dan memonyongkan bibirnya. “Saya permisi dulu bu.” Pamit Yana yang merasa tidak enak terpergok ikut kumpul di ruang tengah. “Eh mb, ini bawa ke dapur, dipotong-potong terus bawa kesini ya. Sekalian minumnya es sirup 4 gelas.” Titah bu Endang. “Baik bu.” “Makasih mbak.” “Geh bu.” Yana berlalu ke dapur. “Coba bunda tebak, pasti karena mbak Novia mau pulang ke tempat simbok kan, makanya adek nangis?” tanya bu Endang. Yang dijawab anggukan oleh Hanifah. Bu Endang sangat paham bahwa anak-anaknya sangat menyayangi Novia seperti kakak sendiri. “Adek ga boleh gitu, jangan membebani mbak Novia. Nanti mbak Novia ga bisa tenang belajarnya. Ayo kita doakan saja mbak Novia nanti ujiannya lancar, biar bisa sering main ke sini.” Tutur bu Endang. “Aamiin.” Ucap Novia. “Aamiin. Iya ya bun? Ifah cuma sedih kok mbak Novi mau pulang, nanti kita jarang ketemu.” “Adek ga perlu sedih, kan bisa main ke sana, kan deket.” Jawab bu Endang. Yana masuk ke ruang tengah dengan sepiring roti bika ambon kesukaan Novia dan juga es sirup. “Monggo bu.” Yana meletakan di meja. “Matur nuwun, mb.” “Geh bu.” Yana kembali ke dapur menaruh nampan kemudian menuju kamar. ‘Enak tenan yo, dadi Novia babu wae disayang-sayang. Iri aku.’ Batin Yana. “Astaghfirullah, jauhkan hamba dari iri dengki ya Allah.” Gumam Yana. Bu Endang dan kedua anaknya serta Novia asik bercengkrama tak terasa hampir magrib, tersadar karena kepulangan pak Hadi. Mereka benar-bener seperti akan berpisah jauh. Novia berpamitan kembali ke kamar dan yang lainnya pun kembali dengan aktifitas bersih-bersih diri di sore hari. Malam hari setelah semua aktifitas dan pekerjaan selesai, Novia dan Yana kembali ke kamar. “Nov.” panggil Yana pelan. “Iya mbak?” “Aku iri sama kamu, keluarga bu Endang kelihatan sayang banget sama kamu.” “Astaghfirullah, jangan gitu mbak. Nanti setan nyusup jadi dengki lho.” Jawab Novia. “Ga gitu Nov, aku kan sudah ga punya ibu, lihat bu Endang sayang kamu jadi inget ibu.” “Oalah. Sabar ya mb. Doakan tempat terbaik untuk ibu.” “Iya Nov. Makasih. Duh aku jadi sedih.” “Mbak Yana istirahat dulu saja, aku mau belajar sebentar.” Novia menggelar tikar di lantai. “Eh diatas gapapa lho Nov.” “Ya kali mbak mau kelonin buku-buku aku.” Canda Novia, membuat Yana tepok jidat dan mereka terkekeh. *** Pagi harinya Novia masih melakukan pekerjaan seperti biasa, lalu pergi kesekolah. Huuuffftt. Novia menghela nafas disela-sela perjalanannya. ‘Besok udah weekend aja. Sedari kecil udah hidup di rumah itu rasanya rada berat juga mau pergi.’ Batin Novia. Tiba-tiba ada seseorang yang duduk disampingnya dengan arogan, membuat lamunan Novia buyar. “Ora ngalamun kesambet.” Ucap si pria. “Aaiisshh.” Ucap Novia kesal. Keheningan terjadi tanpa ada kata, hingga bus berhenti di halte depan sekolah. Mereka turun sama-sama. Mereka satu satu sekolah dan saling kenal, tapi entah mengapa tidak pernah terjalin komunikasi yang baik diantara mereka. Novia yang dingin dan si pria yang slengekan. Novia berjalan menuju ke kelasnya ada sedikit yang berbeda pagi ini. Ya, Elsa tidak lagi memperlihatkan batang hidungnya. Hingga sebuah panggilan memecah kesunyian. “Novia.” Novia berhenti dan menoleh kearah sumber suara, walau ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. “Kenapa pagi-pagi muka udah ditekuk aja? Si tuan putri masih gangguin?” “Eehh, mana ada. Aku senyum kok, nih.” Ucap Novia sambil tersenyum. Indah tertawa dan merangkul sahabatnya tersebut. “Bercanda bestie.” “Ngomong-ngomong si tuan putri ga kelihatan batang hidungnya!” Lanjut Indah, yang ditanggapi dengan senyuman oleh Novia. “Bagus deh. Akhirnya mingkem juga tu monkey queen.” Ucap Indah asal membuat Novia geleng-geleng. Mereka akhirnya sampai di kelas dan duduk di kursi masing-masing. “Ada satu kabar gembira lagi.” Ucap Novia. “Hhmmm?” “Mulai besok aku sudah ga kerja lagi di tempat majikanku. Aku bakal pulang ke rumah ibu, nemenin ibu dan fokus belajar.” Terang Novia. “Oohh yaaa? Seriusan?” Novia mengangguk gembira. “Alhamdulillah ya Allah.” Lanjut Indah sambil memeluk Novia. “Berarti aku boleh dong maen ke rumahmu? Belajar bareng kaya pelajar normal?” “Yeeeyyy, emang selama ini ga normal.” Novia mengerucutkan bibirnya. Dan Indah tertawa. “Nanti pulang sekolah bareng aku aja yaaa.” “Iyaa, Indah yang baik hati tiada tara.” Karena hari ini Novia tidak membawa bekal, Novia, Indah dan beberapa teman lainnya menuju ke kantin untuk sekedar jajan makanan ringan, ada juga yang pesan makanan berat. Mereka berkumpul dan bercengkrama sambil menikmati makanan masing-masing. “Heh, Novia.” Teriak Jenny, Novia hanya menoleh. “Kamu apakan Elsa?” “Maksudnya?” tanya Novia santai sembari meminum minumannya. “Ga usah pura-pura bodoh deh kamu. Kemaren kamu apakan dia? Sekarang dia ga masuk sekolah.” “Maaf ya aku bukan emaknya apa lagi pembantunya, jadi kenapa nanyanya ke aku? Bukannya kalian teman?” “Heh, malah nyolot.” Jenny hendak menarik kerudung Novia namun Novia berhasil menghindar. “Engga Elsa, engga kamu, sama aja. Suka cari ribut.” Cicit Indah. “Sudah lah Ndah, kita balik ke kelas aja yuk, ga enak sama yang lain biar makannya tenang.” Novia menarik Indah, dan mengabaikan Jenny dan teman-temannya. Seperti belum puas karena Novia mengabaikannya Jenny menendang kursi kantin yang hanya terbuat dari plastik ke arah Novia dan tepat mengenai Novia. Buugghh. Novia menoleh, Indah ingin mengumpat, namun dicegah oleh Novia dengan meremas tangan Indah. Novia tersenyum dan berjalan menuju ke arah Jenny, membuat Jenny waspada. Kemudian Novia berdiri disamping Jenny dan berbisik. “Jenny Natalia binti Suherman. Bukankah perusahaan transportasi milik ayahmu sedang diujung tanduk?” mendengar itu Jenny terkejut dan menoleh kearah Jenny. “Jika kamu ingin aman, tidak usah banyak tingkah, belajarlah yang benar, dan harusnya kamu bersyukur Elsa sama sekali tidak melibatkan kalian. Atau kamu mau tuan Suherman dipanggil juga ke sekolah?” Jenny pun terkejut hingga refleks menggeleng. "Jadilah anak yang manis, Jenny." Novia menepuk bahu Jenny kemudian berlalu bersama Indah. Jenny masih tidak habis pikir bagaimana Novia bisa tahu hal itu yang bahkan teman-temannya saja tidak tahu. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengamati kejadian di kantin kemudian menyeringai. 'Welcome back Sea.' Gumamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN