Melawan

2151 Kata
*Novia : Mas, bu Endang sudah dapat penggantiku. Wa Novia kepada mas Amir. Cukup lama tidak ada respon dari mas Amir. Akhirnya Novia memutuskan untuk belajar, karena pekerjaannya sudah dihandle oleh Yana. Setelah beberapa lama dalam keheningan terdengar suara notif di hpnya. *Mas Amir : Alhamdulillah akhirnya dapet juga dek, lega mas. *Novia : Iya mas. Weekend ini tunda dulu deh ke rumah mas, Novia mau pindahan dulu. *Mas Amir : Okey, ga papa dek. Nanti mas bantuin pindahan. Sekalian nanti mas ajak mbak Lisa, Safa dan Marwah, kita nginap di tempat ibu. *Novia : Wwaaahh ide yang brilian mas, udah lama kita ga kumpul. Tok tok tok. Pintu kamar diketok, tidak lain adalah Yana yang sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. “Masuk.” Yana membuka pintu. “Belum tidur Nov?” Novia melihat jam di dinding menunjukkan pukul 9 malam. “Belum mbak, biasa aku juga lagi beres kerjaan, terus masih belajar. Alhamdulillah ini aku udah selesai belajar dan ngerjain PR jam segini.” Novia pun merapikan buku-bukunya yang berserak. “Oohh gitu, ga usah dirapikan dulu kalau masih mau belajar, aku mau bebersih dulu.” “Iya mbak, sudah selesai kok ini. Yang terpenting PR udah beres.” Sebuah notif wa terdengar dari gaway Novia *Nona untuk kali ini saya berharap ketegasan nona terhadap Elsa kalau perlu tekan dia. Saya hanya mengingatkan.* Hhuuff. Novia menghela nafas panjang, saat bersamaan Yana datang ke kamar sehabis bersih-bersih. “Kenapa Nov?” “Ga papa mbak. Kaget aku mbak.” Jawab Novia. “Eh maaf Nov, aku pikir kamu kenapa, kaya punya beban berat, sampai segitunya menghela nafas.” Ungkap Yana sambil terkikik. “Aahh mbak ini ada-ada saja.” Jawab Novia sibuk dengan gawaynya. “Mbak asli mana?” tanya Novia. “Aku asli sini, omahku neng mBantul.” Jawab Yana mantap. “Medok ngono mbak.” Mereka pun tertawa bersama. *** Beni membuka pintu pintu kamar anaknya, Elsa. “Elsa ikut papi ke ruang tengah.” Pinta Beni penuh penekanan. “Iya pi.” Elsa pun mengekor. Setelah sampai di ruang tengah merekapu duduk di sofa masing-masing. “Sudah papi bilang berkali-kali, jangan buat masalah, jangan buat masalah. Tapi malah bikin masalah.” Beni menjeda. “Urusan papi tu bukan cuma ngurusin kamu. Dan ingat ya Elsa jangan pernah membawa-bawa kekuasaan dimanapun kamu berada. Jangan mentang-mentang papi adalah salah satu penyumbang dana di sekolahmu, kamu bisa seenak wudelmu.” “Berkali-kali papi bilang, jangan buat masalah, apalagi dengan Novia, tapi malah ndadi koyo wong dikon (tapi malah semakin menjadi kaya orang disuruh), sakjane utekmu ki nendi? (Sebenarnya otakmu dimana?).” “Pi…” “Cukup Elsa tidak ada lagi pembelaan darimu yang bisa papi terima. Mulai sekarang renungi semua kesalahanmu. Dan jangan pernah mengulangi kesalahaan yang sama, apalagi mengusik Novia, karena kamu tidak tau siapa yang berada dibelakangnya.” “Besok kamu harus meminta maaf kepada Novia dan menandatangi surat perjanjian, setelah itu papi tidak mau tau, jangan sampai kamu berbuat kesalahan lagi. Atau mau tidak mau kamu harus ikut mamimu di Surabaya.” “Papi menyesal terlalu memanjakanmu.” Setelah itu Beni meninggalkan Elsa begitu saja dan menuju kamarnya. Elsa masih duduk di ruang tengah dengan perasaan jengkel penuh amarah. *** Keesokan harinya seperti biasa Novia sudah bangun kemudian melakukan aktifitas dengan laptopnya. Pukul setengah 4 Yana terbangun mendapati Novia yang tengah sibuk dengan gawaynya. “Lho wis tangi to Nov?” (udah bangun) “Sepurone mbak aku ganggu yo?” (Mohon maaf mbak aku ganggu ya) “Ora Nov aku biasane ancen tangi yahmene.” (Tidak Nov, aku biasanya memang bangun jam segini) “Aku mau cuci muka dulu terus kerja.” Lanjut Yana yang mulai melipat selimut ditaruhnya diatas bantal, ia melihat Novia membuntutinya. “Lho mau kemana Nov?” tanya Yana. “Mau ke dapur mbak, bantu-bantu mbak.” Jawab Novia dengan tersenyum mringis. “Eaallaah dasar pembantu, wis mendarah daging yo.” Lanjut Yana sambil bercanda. “Wkwkwkwk, iya mbak. Biar ga makan gaji buta.” Timpal Novia Mereka pun akhirnya keluar kamar dan melakukan pekerjaan masing-masing hingga adzan subuh berkumandang. Seisi rumah pun pergi ke mushola yang ada di samping rumah dan sholat berjamaah yang diimami oleh pak Hadi. Selesai sholat Novia mengerjakan pekerjaannya, kemudian mandi, sarapan lalu berangkat ke sekolah. “Mbak Yana ayo sarapan bareng, biasanya aku Cuma makan sendiri, yuk.” Ajak Novia sembari membungkus makan siangnya. “Ayok lah, aku nungguin kamu lho, hihihihi. Biasanya aku suka nyemil kalau pagi, tapi karena ini tempat baru aku ga berani. Jadi sekarang aku udah laper.” Jujur Yana. “Ngapain nunggu mbak duluan juga ga papa.” Mereka makan bersama, setelah selesai makan dan mencuci piring yang ia pakai, Novia pamitan. “Mbak aku duluan ya, berangkat sekolah dulu.” “Iya hati-hati ya Nov.” “Assalamualaykum.” Novia kemudian menuju ruqng makan. “Waalaykumussalam.” Jawab Yana “Bapak, Ibu, mas, adek Novia berangkat sekolah dulu yaa. Assalamualaykum.” “Waalaykumussalam.” Jawab mereka berempat kompak. “Hati-hati ya mbak Novia.” Ucap Hanifah, yang dibalas OK dengan isyarat jari telunjuk dan ibu jari membentuk huruf O. *** Sampailah Novia di sekolah, ia berjalan menuju ke kelas, tumben hari ini Indah belum kelihatan mungkin belum sampai. Saat menuju ke kelas Elsa tiba-tiba mencekal tangannya dan membawanya ke toilet. Novia hanya pasrah dan sedikit meronta. Dia penasaran apa yang bakal Esla lakuin, mengingat hari ini adalah hari eksekusinya. Novia di dorong ke dalam toilet kemudian Elsa masuk dan menutup pintu utama toilet. “Aauu.” Novia hampir terjatuh. “Nona Elsa, ada apa gerangan yang mulia nona Elsa membawa saya ke sini?” Tanya Novia lembut khas seperti pembantu. “Ga usah sok manis.” Ketus Elsa. “Aku mau kamu nanti bilang ke semua yang hadir bahwa aku tidak perlu tanda tangan perjanjian dan juga kamu bilang kalau aku sudah minta maaf, jadi tidak perlu minta maaf di depan mereka semua.” Lanjut Elsa. Ekspresi Novia terbengong, ‘What, bocah sedeng kali ya’ batin Novia. Novia pun kemudian tersenyum manis, berjalan maju dan itu membuat Elsa otomatis bergerak kebelakang sampai mentok ke pintu. Novia mencondongkan kepalanya ke arah Elsa dan berkata “Hari ini kamu tamat Elsa, sekali lagi kamu berulah, yang tamat bukan hanya kamu, tapi juga papimu. Hhhhmmmm.” Novia kembali membenarkan posisinya ke depan tubuh Elsa dengan jari telunjuk mengetuk-ketuk bibir atasnya dengan sedikit seringaian. “Mmmmmm, bisa jadi sampai ke karir papimu.” Lanjut Novia, sembari menendang pintu dibelakang Elsa kemudian menarik pelan Elsa agar menjauh dari pintu. Novia keluar dari toilet, sembari sedikit menoleh kearah Elsa dan menyeringai. Novia menuju ke kelas dengan mengelus-elus dadanya. ‘Oalah ngene to rasane dadi antagonis, nderedeg, lemes kabeh awake. (Oalah gini to rasanya jadi antagonis, gemeteran, lemas semua badan.)’ gumam Novia sembari mengelus-elus tanganya yang terasa lemas. “Novia.” Teriak Indah dari belakang. “Kamu dari mana kok dari arah sana? Toilet?” tanya Indah. “Iya, biasa panggilan alam.” Bohong Novia. Sedangkan Elsa masih tercengan di dalam toilet, iya tidak menyangka Novia bisa melakukan hal seperti itu padanya. Hingga ia berfikir selama ini Novia hanya pura-pura kalem, santai, dan teraniaya kalau di depan umum. Ternyata sekarang dia menunjukkan sifat aslinya ketika hanya berdua. “Sialan.” Umpat Elsa. Ia pun keluar dari toilet dan menuju ke kelasnya. Tteeettt teeettt. Bel jam istirahat kedua berbunyi. “Panggilan kepada Elsa Mayuri dan Novia Indriani untuk datang ke ruang kepala sekolah.” Panggilan pak Bambang melalui microfon sekolah. “Gaes, aku ke ruang kepsek dulu ya, doain aku, selamat, sehat sentausa.” Pamit Novia sembari bergurau. “Bismillah.” Lanjut Novia. “Allah selalu ada buat kamu Nov.” kata Indah, temen-teman yang lainpun memberikan isyarat kepalan tangan tanda memberi semangat, tak terkecuali Leo dan teman-temannya yang lain. Novia dan Elsa sampai di depan ruang kelas secara bersamaan. “Eh nona Elsa, mau masuk bareng?” ajak Novia kemudian menyeringai. Hanya dibalas wajah masam oleh Elsa. Tok tok tok. Novia mengetuk pintu. “Masuk.” Kata pemilik ruangan. Novia membuka pintu terlihat semua sudah berkumpul. Pak Suroyo kepala sekolah, pak Bambang, pak Beni papi Elsa, Mas Amir kakak Novia, bu Mutia wali kelas Novia, dan pak Ridho wali kelas Elsa. Novia dan Elsa masuk dan duduk di sofa yang sudah ditunjuk oleh pak Bambang. Dengan sedikit basa-basi pak Bambang memulai acara eksekusi siang ini. (Syahdis eeiii eksekusi kata author) Kemudian diisi nasehat dari kepala sekolah. “Anak-anakku yang bapak kasihi, bapak harap setelah ini tidak ada lagi yang namanya perundungan atau apalah itu. Elsa bisa berbesar hati untuk menurunkan egonya dan meminta maaf, begitu pula Novia juga bisa berbesar hati memaafkan Elsa. Kita itu hidup Cuma sekali, mung mampir ngombe kata orang jawa, jangan sampai ada kebencian ataupun permusuhan, seyogyanya kita semua hidup rukun. Karena kita tidak pernah akan tahu 5 tahun kedepan, 10 tahun kedepan, 20 tahun kedepan, itu seperti apa, jadi tanamlah kebaikan mulai dari sekarang.” Pak Suroyo menjeda ucapannya. “Sekiranya ini saja sedikit nasehat buat kalian berdua, semoga bermanfaat.” Pungkas pak Suroyo. “Baiklah, Elsa silahkan minta maaf ke Novia.” Ucap pak Bambang. “Tidak, saya tidak mau. Novia ini hanya pura-pura baik kalau didepan umum, tadi pagi …” “Elsa.” Bentak pak Beni. “Papi tidak ingin mendengar pembelaan apapun dari kamu, cepat lakukan saja.” Lanjut pak Beni. “Sabar pak, kita dengar dulu pendapat Elsa, tadi pagi apa Elsa?” pak Bambang menengahi. “Tadi pagi Novia berlaku kasar terhadap saya di toilet dan mengancam saya.” Lanjut Elsa. “Benar itu Novia?” Tanya pak Bambang. “Mohon maaf pak, saya khilaf tadi, karena saya hanya membela diri. Tadi Elsa tiba-tiba menyeret saya ke toilet.” Jawab Novia santai. “Ck.” Kemarahan pak Beni hampir memuncak ia hampir berdiri untuk menghampiri Elsa, namun ditahan oleh Amir. “Sabar pak.” Suara Amir pelan menenangkan pak Beni. “Elsa apakah benar itu? Kamu menyeret Novia ke toilet!” Elsa diam, tidak ada jawaban hingga pak Bambang melanjutkan. “Diammu berarti iya Elsa.” “Mohon maaf semuanya, Novia ingin mengucapkan terima kasih kepada bapak dan ibu semua atas kepeduliannya terhadap kasus saya. Sejujurnya Novia sudah memaafkan perbuatan Elsa selama ini, tak ada kebencian atau pun dendam sedikitpun di hati Novia.” Novia memandang kearah Elsa dan menyentuh pergelangan tangan kanan Elsa, “Apalagi kami sudah berteman sejak masih kecil, ia kan Elsa?” Elsa yang diperlakukan seperti itu hanya diam dan mengepalkan tangan kirinya. Dalam hati ia bersumpah serapah. “Iya kan Elsa, kita berteman?” Novia mengulang. Pegangan tangan Novia berubah menjadi cengkraman, sontak membuat Elsa kaget. “I-i-iya.” Jawab Elsa terbata. Novia melepas cengkramannya. “Nah, tanpa Elsa meminta maafpun in syaa Allah Novia sudah memaafkan Elsa.” “Tapi…” Novia menjeda ucapannya. “Tapi jika Elsa ingin meminta maaf secara langsung, karena merasa bersalah atas perbuatannya dan tak akan mengulanginya lagi, Novia juga akan menerima dengan senang hati.” Lanjut Novia, yang melihat ke arah Elsa dan tersenyum manis. “Elsa.” Panggil Novia halus. Elsa hanya memandang Novia penuh kebencian. Novia menepuk pundak kanan Elsa, “Elsa aku sungguh sudah memaafkanmu.” Kemudian menyeringai dan melepas tangannya dari pundak Elsa. Novia tidak tahu, apa yang telah merasukinya sampai ia bisa bersikap seperti itu, sok elegan, sok bijak, dan sok kuat, padahal ia sudah serasa tidak punya tulang. Lemas. “Pak Beni tidak perlu khawatir, saya benar-benar sudah memaafkan Elsa.” Ucap Novia pada pak Beni. “Tapi Elsa.” Novia kembali ke Elsa. “Aku ingin kamu berjanji tidak akan mengulangi lagi semua perbuatan yang telah kamu lakukan padaku. Lebih baik kita berteman seperti waktu kita kecil dulu.” Lanjut Novia. Elsa masih terdiam membisu. “Soal perjanjian itu, apakah kamu berkenan untuk tanda tangan?” tanya Novia. Elsa memandang papinya dengan penuh harap agar bisa membantu namun hanya wajah amarah yang ia dapat. “Baiklah aku akan tanda tangan.” Jawab Elsa enteng. Novia tersenyum. “Elsa apakah kamu mau berjanji tidak akan mengulangi semua perbuatanmu pada Novia?” kini mas Amir turut ikut dalam percakapan. “Baiklah, baiklah, aku berjanji. Novia aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatan burukku padamu, merundung/pembulian dalam bentuk apapun baik fisik maupun verbal. Puas kamu?” ucap Elsa. ‘Sialan aku terpojok. Kurang ajar Novia sok-sokan bersikap sebagai korban.’ Batin Elsa. Pada akhirnya Elsapun menandatangi perjanjian itu tanpa banyak protes, karena sama sekali tidak ada dukungan bahkan dari papinya. “Terima kasih Elsa, semoga mulai sekarang kita bisa berteman baik.” Ucap Novia tulus. Novia menyalami Elsa kemudian memeluknya dan berbisik, “Good job Elsa. Ingat janjimu dan jangan banyak betingkah, atau karir papimu the end.” Elsa terperangah oleh ucapan Novia namun ia hanya bisa menahan. Akhirnya pertemuan berakhir dengan damai. Sesuai kesepakatan juga, tidak ada skorsing untuk Elsa. Semua keluar dari ruang kepala sekolah untuk melanjutkan aktifitas masing-masing. “Hhuuffttt sungguh melelahkan dan menguras tenaga.” Gumam Novia sembari menuju ke kelasnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN