Aliana tidak pernah merasa sesial ini. Hatinya bertanya - tanya, apakah ia pernah melakukan kesalahan yang membuat seseorang sangat dendam padanya? Atau ia membuat dosa besar yang membuat Dewi Fortuna enggan mendekatinya? Ah, kesalahanannya cuma satu, yaitu mengikuti malam penyambutan mahasiswa baru di fakultasnya. Ia sangat menyesal. Andai saja jarum jam bisa diputar, maka Aliana akan memilih terjebak dalam kamar mandi karena diare atau terpeleset lalu pingsan tapi tidak sampai mati dari pada ikut menghadiri acara dan mendapatkan pelecehan dari kakak tingkatnya.
Bertemu dengan Adam Saputra ternyata sanggup membuatnya ingin pindah universitas. Kalau saja di kampusnya ada ruang bimbingan konseling yang bisa melaporkan perilaku mahasiswanya, Aliana pasti tidak akan berpikir dua kali untuk menyeret cowok berotak gesrek itu ke sana. Setelah insiden lo hamil? yang diucapkan Adam tepat di depan pintu kelasnya tadi, membuat Aliana terpaksa harus berakhir di tempat ini. Belakang gedung Fakultas Sastra, tempat yang cukup sepi menurut Aliana untuk berbicara empat mata dengan Adam.
“Nakal banget, ya.. Padahal baru semester awal, tapi udah berani bolos.” Adam menyeringai untuk kesekiankalinya. Ini benar - benar keberuntungan untuk lelaki itu. Bayangkan saja, tadinya ia hanya ingin temu kangen dengan calon istri, eh malah diajak mojok. Beruntung banget, kan?
Aliana mengembuskan napas lelah, menahan diri untuk tidak memaki lelaki yang sudah merusak masa kuliahnya itu. “Mau lo apa, sih?”
“Mau gue? Gue mau lo.”
Sepertinya, Adam tidak merasa puas jika hanya menjawab dengan ucapan, terbukti gerakan lelaki itu yang kini melangkahkan kakinya untuk semakin dekat dengan cewek incarannya. Alhasil, sikap Adam langsung membuat pandangan garang Aliana mengendur.
“Jangan dekat - dekat!”
Bukannya mematuhi perintah Aliana dan segera menjauh, Adam justru semakin melangkah untuk memojokkan Aliana pada tembok di belakang Gadis itu. Ah, lihat wajah yang kini memerah itu, manis sekali!
“Kenapa gak boleh dekat - dekat?”
Kepanikan langsung menyergap Aliana saat tubuhnya benar - benar terhimpit oleh tubuh tegap Adam. Ia tidak mengira bahwa cowok yang memang ia cap sebagai penjahat kelamin itu nekat melakukan hal yang berani pagi - pagi begini. Gadis itu langsung menyesali keputusannya mengajak Adam ke belakang fakultas, tempat yang jarang dilewati mahasiswa.
“Ka — kalau ada yang liat, dikira lagi m***m,” jawab Aliana gugup. Bagaimana tidak, seorang Aliana Niakansavy tidak pernah seintim ini dengan cowok manapun. Ditambah lagi, kini hidungnya dapat menghirup aroma parfum manly yang digunakan Adam sehingga membuat Aliana merinding di tempat.
Adam semakin mendekatkan tubuhnya lalu menundukkan kepala agar bisa menatap wajah Aliana yang entah mengapa terlihat sayu di matanya. Cewek ini memang selalu membuat dirinya ingin melakukan hal yang tidak - tidak. “Kita kan emang lagi m***m,” jawab Adam seenak jidatnya. Ia bahkan dengan berani mengembuskan napas berat tepat di samping telinga kanan Aliana, membuat Gadis itu semakin kehilangan fokus.
“Adam…” rengek Aliana sembari mencoba mendorong seniornya itu untuk menjauh. Ia mendesah lega karena Adam memilih untuk mengalah dan membiarkannya mengambil napas, sekaligus meredam detak jantungnya yang tak terkendali.
“Adam?” Lelaki itu memegangi kedua pergelangan tangan Aliana yang masih menempel di d**a bidangnya. “Harusnya Kak Adam,” titah Adam sedikit tidak terima.
“Gak mau!” Jawab Aliana ketika arogansinya kembali muncul. Akhirnya, otaknya telah terlepas dari keterpampatan sejak keintiman yang Adam ciptakan tadi.
“Lepasin tangan gue!” perintahnya saat merasa nyalinya yang sempat hilang itu telah kembali ke tempatnya.
“Kenapa gak mau?” Adam masih mempertahankan tangan Aliana di dadanya. Keningnya ia kerutkan sebagai tanda protes.
“Panggilan Kak itu untuk orang yang dihormati. Mana mungkin gue ngehormati cowok m***m kayak lo!”
“m***m sih, tapi suka kan?” goda Adam yang kini dengan seenaknya menyampirkan tangan Aliana ke lehernya. Senyuman menggoda yang Adam tampilkan justru hampir membuat Aliana memuji lelaki itu dalam hati. Hampir.
“Kita ngobrol dengan cara normal gak bisa, ya?” Aliana mencoba melakukan negosiasi yang sempat terlupakan tadi. Ia masih mencoba menarik tangannya yang ditahan oleh Adam. Posisinya saat ini sama sekali tidak menguntungkan baginya.
“Begini aja deh, biar enak,” jawab Adam dengan dengan ambigu.
Sontak saja pikiran Aliana kembali ke kejadian pada malam penyambutan tempo hari. Inget Lan, cowok yang ada di hadapan lo ini udah ngelecehin lo. Jangan tergoda! Aliana mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat terpencar. Kemudian, ia mendongak dan memantapkan hatinya agar tidak kalah oleh cowok di depannya ini.
“Kalau sekarang kita gak bisa bicara dengan normal, gue gak akan mau bicara sama lo lagi!” ancam Aliana yang mulai menyusun beberapa rencana dengan cepat di otaknya.
Aliana mencoba menyelisik wajah berpikir Adam, dan hatinya langsung bersorak dalam hati saat lelaki itu melepaskan tangannya. “Oke, sekarang kita bicara dengan normal seperti yang lo maksud,” ucap Adam dengan sedikit cemberut. “Yah, meskipun yang tadi juga termasuk normal menurut gue,” imbuhnya dengan senyum puas.
Sepertinya Adam memang tidak normal. “Gue mau tanya, maksudnya lo bilang kalo gue hamil itu apa?” tanya Aliana to the point. Kekesalannya seakan langsung datang mengingat kejadian yang membuat kelasnya heboh tadi.
“Oh itu, tadi gue liat lo kayak mau muntah gitu,” jawab Adam kalem.
“Mau muntah bukan berarti hamil, Adam! Lo sengaja mau buat gue gak punya temen, ya?”
“Kok mikir gitu?” tanya Adam bingung. Seriously, tadi ia hanya asal ceplos karena terlalu khawatir dengan kondisi kesehatan cewek manis itu. Otaknya yang dari awal sudah agak melenceng itu memang sudah tak bisa lagi menemukan opsi lain selain kata hamil.
Aliana menekuk wajahnya, ia cukup prihatin dengan keadaan dirinya sendiri sekarang. “Lo tau gak, gue udah jadi bahan gosip karena abis nonjok lo kemarin. Dan sekarang bakalan ada gosip baru kalo gue hamil. Dan coba tebak, itu salah siapa?”
“Salah gue, ya?” tanya Adam yang mulai merasa bersalah. Ia tidak menyangka bahwa niatan ingin mendekati Aliana justru berujung pada adanya gosip miring tentang Gadis itu.
“Ya! Itu semua salah lo! Yang kemarin cari gara - gara dengan ngelakuin hal kurang ajar kan elo! Kenapa malah gue yang dianggap salah? Gak adil banget, kan?” sembur Aliana pada Adam. Sedari tadi Gadis itu memang sudah memendam kekesalannya, dan sekarang Adam - lah yang menjadi sasaran empuk kemarahannya.
“Maaf ya, Sayang,” jawab Adam dengan nada kalemnya.
“Lo kira, maaf bisa ngembaliin reputasi gue? Bahkan tadi ada yang ngomong keras - keras kalo gue ini mahasiswa baru kurang ajar. Padahal yang kurang ajar, kan lo!”
“Iya, gue yang kurang ajar. Maaf ya,” sahut Adam masih dengan nada lemah lembutnya disertai senyuman manis.
Aliana mencebikkan bibirnya kesal. Setelah tadi menggodanya dan berlaku seenaknya, Adam sekarang dengan mudahnya minta maaf. Sialnya, Aliana justru kesal pada dirinya sendiri yang lumayan luluh dengan permintaan maaf Adam yang terdengar sangat pasrah itu.
“Terus sekarang gimana?” tanyanya.
Adam berpikir sejenak, dan hal itu membuat suasana di antara mereka mendadak hening. Aliana menatap Adam dengan wajah memelas campur frustrasi, berharap lelaki itu mau bertanggung jawab atas reputasinya dan melakukan sesuatu untuk membersihkan namanya.
“Gue akan bertanggung jawab!” ujar Adam dengan mantap, membuat Aliana bernapas lega dan berpikir bahwa Adam tidak sekurang ajar yang ia kira. Setidaknya, lelaki itu mau bertanggung jawab atas reputasinya yang rusak.
“Gue akan menikahimu,” imbuh Adam yang membuat Aliana melongo. Adam memang kurang ajar, seperti yang ia kira.
Sungguh, Adam tidak main - main saat mengatakan kalimat itu. Namun sepertinya wajah tampannya itu tidak cukup untuk meyakinkan Aliana sehingga ia justru mendapatkan tendangan tepat di bagian tulang keringnya. Sumpah, itu pasti sakit banget!
Adam mengaduh seraya mengangkat kaki kirinya dan mengelusnya dengan kasar. Ia bisa merasakan tulang keringnya berdenyut akibat tendangan maut yang dilancarkan oleh Aliana. “Lana! Ini sangat sakit!”
Aliana bersedekap, menatap wajah meringis Adam tanpa rasa bersalah. “Salah lo sendiri!” sahutnya dengan nada ketus. “Gue gak lagi bercanda!”
Lelaki itu masih melompat - lompat kecil, agak menjauh dari Aliana. “Lo pikir gue bercanda?”
“Emang iya, kan?” sahut Aliana cepat. Gadis itu tidak cukup bodohh untuk mempercayai gurauan Adam yang sudah kembali berdiri tegap.
“Gue gak bercanda.” Adam menatap Aliana dengan pandangan serius yang entah mengapa terasa mengancam. Aliana bahkan bisa mendegar suara detak jantung seseorang, dan ia menahan napas saat tersadar bahwa itu adalah suara detak jantungnya sendiri.
“Gue harus ngelakuin apa biar lo percaya?” Adam semakin mempersempit jarak di antara mereka.
Aliana dengan cepat memutar otaknya, ia tidak boleh berada dalam posisi yang merugikan seperti sebelumnya. “Mending kita duduk!” Dan tanpa menunggu persetujuan Adam, Gadis itu sudah mendudukkan dirinya di ubin bercorak kuning telur yang memang cukup bersih untuk dijadikan tempat nongkrong para mahasiswa.
“Bener,” setuju Adam saat merasakan kakinya berdenyut pelan. Ia bahkan memaki Aliana dengan kata - kata sayang dalam hati. Kingkong betina memang julukan yang pas untuk Gadis itu.
“Mau gue beliin minum?” tawar Adam saat melihat bibir Aliana yang agak kering. Dan kini ia benar - benar mengumpat pelan saat melihat Aliana m******t bibir bawahnya.
“Ada apa?” tanya Aliana saat mendengar u*****n pelan Adam. Keningnya mengerut, terlebih saat Adam mengalihkan pandangannya. Gadis itu tentu tidak akan senang jika u*****n itu benar ditujukan untuknya.
Adam tidak segera menjawab, lelaki itu sekarang sibuk menghilangkan keinginan untuk mencium dan melumat bibir bawah Aliana yang sekarang basah itu. “Gak apa - apa,” jawab Adam dengan suara serak dan berat.
Kening Aliana masih berkerut curiga. Kalau bukan untuknya, lantas buat apa lelaki itu mengumpat. “Boong. Lo ngumpat buat siapa? Jawab coba.”
“Buat gue sendiri,” jawab Adam masih tetap menghindari tatapan Aliana.
“Kenapa?”
“Gak apa - apa.”
“Kenapa?”
“Gak apa - apa.”
“Adam!” Aliana benar - benar geram karena Adam tidak mau mengaku padanya tentang u*****n itu. Dasar cowok aneh! Gak ada yang diumpat, tapi mengumpat. Dan lagi, Adam kan cowok, kenapa malah jawab gak apa - apa? Itukan kata mutiara para cewek.
Saat Aliana masih sibuk dengan pikirannya, lelaki itu tiba - tiba saja memegangi belakang kepalanya. Kemudian, ia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Aliana dengan cepat. Hampir seperti benturan jika saja hal tersebut tidak terjadi tepat di bibirnya. Aliana terlalu syok untuk segera menyadari hal itu. Yang ia lakukan hanyalah menatap Adam dengan bola mata bulatnya yang semakin melebar. Telingnya seakan - akan dipenuhi dengan suara detakan jantung yang berasal dari dirinya sendiri.
“Gue mengumpat karena lo,” ucap Adam dengan jarak yang terlalu dekat. Aliana bahkan bisa merasakan aroma rokok samar dari mulut Adam. “Karena lo ngejilat bibir lo, gue jadi gak tahan buat gak gigit bibir lo itu.”
Adam hampir saja melanjutkan ciumannya, kecupan itu tidak cukup bagi Adam. Dan tidak akan pernah cukup. “Berhenti!” Aliana berusaha mendorong wajah Adam agar menjauh darinya menggunakan kedua tangannya.
Melihat wajah Aliana yang sudah sangat panik, membuat Adam dengan cepat menutup matanya seraya memegang tangan Aliana yang masih melingkupi pipinya. Lelaki itu sekuat tenaga mengenyahkan pikiran - pikiran kotornya tentang cewek yang kini menatapnya dengan pandangan menunggu.
“Maaf,” ucap Adam saat merasa b****i itu sudah mulai menipis seiring ia membuka mata.
“Gue pengen banget nampar lo.” Raut marah benar - benar sudah mendominasi wajah cantik Aliana.
“Tau kok,” sahut Adam dengan binaran mata geli. Gadis itu pasti langsung menamparnya jika saja ia tidak memegang kedua tangannya.
“Cih!” Aliana bisa merasakan perutnya kembali bergejolak ingin mengeluarkan isinya karena senyuman Adam. “Ya udah, lepasin!”
“Kayak pernah denger perintah kayak gitu,” jawab Adam yang teringat kejadian saat ia memegang tangan Aliana yang berada di dadanya tadi.
“Adam…” geram Aliana yang menunjukkan bahwa ia tidak sedang dalam kondisi bisa diajak bercanda.
Adam meringis, ia menurunkan tangan Aliana dari pipinya, namun masih melingkupi tangan Gadis itu. Ia menggenggam erat kedua tangan yang seakan - akan terasa pas di kedua telapak tangannya.
“Gue minta maaf, untuk ciuman tadi dan tanda merah di leher lo,” ucap Adam pelan sembari melemparkan tatapan memelas yang hampir saja meluluhkan hati Aliana. “Tapi gue gak nyesel sama sekali.”
Emosi Aliana memuncak seketika. Dalam pikirannya, ia bisa membayangkan bagaimana Adam memperlakukan cewek lain sama seperti Adam memperlakukannya. Tidak, ia tidak sama dengan cewek - Gadis itu. Ia tidak mau Adam menganggapnya sebagai cewek murahan yang bisa ia cium dan cumbu seenaknya!
Dalam sekali sentakan, genggaman tangan Adam yang sebelumnya memang sudah melonggar itu terlepas. Aliana tanpa berikir dua kali langsung menampar pipi Adam, meluapkan kemarahan dan ketidakterimaannya. Napasnya memburu seiring detak jantungnya yang sangat cepat karena menahan emosi.
“Asal lo tau, gue bukan cewek murahan kayak apa yang ada di pikirin lo!”
Setelahnya, Aliana bergegas pergi dari tempat itu dengan berlari tanpa memedulikan kepalanya yang terasa sedikit pusing. Ia harus segera meninggalkan tempat itu karena sekarang air matanya sudah memenuhi kelopak matanya dan akan segera keluar. Aliana tidak ingin menangis di depan Adam karena itu pasti sangat membuatnya malu!