Chapter 10

1876 Kata
Sesungguhnya, Aliana sudah bisa merasakan bahwa hari Senin ini akan menjadi hari tersial dalam hidupnya. Kejadian malam laknat itu memang sudah benar - benar mengusik hidupnya. Percaya atau tidak, sejak kejadian di malam itu, Aliana selalu sulit tertidur dan kalaupun ia tertidur, pasti Gadis  itu akan bermimpi peristiwa s****n itu.             “Lana? Lo nangis?” bisik Stella dengan nada khawatirnya.             Aliana menggeleng lemah, kejadian beberapa saat lalu cukup membuat dirinya dilanda syok. Jadi, ia tidak ingin mengangkat wajahnya lalu seluruh kelas akan menatapnya nanar karena kondisi wajahnya yang sudah dipenuhi air mata. Itu adalah keinginan terakhirnya dan tolong, jangan sampai s**l lagi. “Lan… tadi penanggung jawab matkul, sms Pak Suparno, katanya beliau gak bisa hadir. Gimana kalau kita cari tempat sepi supaya lo bisa curhat?”             “Bentar,” sahut Aliana dengan suara gemetar. Ia adalah tipe orang yang tidak bisa menyembunyikan tangisan. Aliana akan cenderung sesegukan parah dan hal itu tentu akan menarik perhatian.             “Lo pake topi aja ya.” Stella memasang topi biru dongker yang sedari tadi tergeletak di meja Aliana. “Kita ke belakang fakultas?”             Mendengar kata belakang fakultas, Gadis  itu langsung menggeleng kuat. “Sumpah, tempat lain aja asalkan jangan di sana.”             Stella memutar otaknya, Gadis  itu belum terlalu tahu tentang tempat nongkrong yang sepi di kampus selain di area fakultasnya. “Di samping gedung deh,” ajak Stella pada Aliana yang menatapnya dalam diam tampak berpikir. Stella menduga, Aliana pasti akan menolak opsi tunggalnya mengingat bahwa samping gedung dan belakang gedung adalah tempat yang sama, hanya saja beda posisi.             Aliana menganggukkan kepalanya, membuat Stella mengerjap dan tersenyum geli. Sahabatnya ini memang rada b**o, pikirnya. Ia lalu berdiri dari duduknya, membenarkan topi Aliana, dan mengajak Gadis  itu pergi sembari menahan tawa.             Mereka lalu sampai di samping Fakultas. Dengan sabar Stella mendengarkan curhatan Aliana mengenai kejadian yang menimpanya beberapa saat lalu. “Jadi, lo nangis karena dicium sama Adam?” tanya Stella pelan, berusaha menahan diri untuk tidak berteriak kesetanan. Sungguh berbanding terbalik dengan sikap tenangnya saat ini, sebenarnya hatinya sudah memekik histeris.             Aliana mengangguk kecil, ia sungguh malu mengakui dan menceritakan kronologi pelecehan di pagi harinya pada Stella. “Gue udah kotor Stell,” rengek Aliana seraya mengusap hidungnya dengan tisu.             Stella memutar bola matanya, temannya yang satu ini memang terlambat dewasa. “Stop drama, okay? Gak usah anggep diri lo kotor, please. Kalo lo kotor, gue apaan coba?” ucap Stella pedas. Ia hanya tidak ingin Aliana terlarut dalam duka kehilangan ciuman pertama.             “Tapi kan kalau lo ciumannya berlandasan suka sama suka, lah gue? Korban pelecehannya Adam, dua kali lagi! Dua kali!!!” balas Aliana tidak terima. Ia bahkan melemparkan tisu setengah basah itu ke arah Stella yang kali ini menjadi korban kegalauannya.             Stella menyipitkan mata, menatap sahabatnya itu dengan pandangan curiga yang dibuat - buat. “Lo kan juga karena suka sama suka, Lan.”             “Ih, suka? Sama Adam? Nunggu lebaran monyet, baru gue suka sama dia!” balas Aliana terlampau cepat, seolah kata - kata itu memang meluncur secara otomatis dari bibis mungilnya. “Lagian, dia juga cuma mainin gue.”             Dari sorot mata Gadis  itu, Stella tahu bahwa Aliana tengah menyimpan kekecewaannya pada Adam. “Kata siapa dia cuma mainin lo?”             “Dia berani cium gue yang statusnya cuma kenalan, udah cukup jelas buat nunjukin kalau dia pengin mainin gue, Stell,” jelas Aliana yang menurut Stella ada benarnya. “Dia pasti mikir gue cewek murahan…”             Stella menelan ludahnya, otaknya bingung memikirkan cara untuk menjawab ucapan Aliana. Jika ia berada di posisi Gadis  itu, ia pasti akan berpikiran hal yang sama. “Jangan negative thinking dulu, Lan. Gimana kalo semisal Adam beneran serius suka sama lo?”             Aliana menghela napas berat, dan entah sudah kali keberapa Gadis  itu menggelengkan kepalanya. “Gue gak mau kepedean kaya gitu Stell, ntar malah guenya yang sakit.”             Benar yang dikatakan Aliana, berpikir positif hanya akan membuat para cewek jadi kebawa perasaan alias baper. “Terus rencana lo apa, Lan?” tanya Stella yang membuat bola mata Aliana berbinar seketika. Gadis  itu seolah mendapatkan kembali semangatnya yang runtuh.             Tangan Aliana terkepal. “Gue bakal ngindarin dia sekuat tenaga. Adam adalah makhluk yang sangat berbahaya, makhluk pembawa s**l! Masa depan perkuliahan gue bakal ancur kalo dia terus ngikutin gue!” seru Aliana dengan mengacung - acungkan tangannya seperti seorang pejuang. Ia lalu menoleh ke Stella yang hampir bertepuk tangan karena melihat semangatnya. “Dan tugas lo adalah menjauhkan Adam dari gue.” lanjutnya dengan nada bossy. Stella mengangkat alisnya, kenapa gue jadi ikut - ikutan? “Gue bakalan traktir lo seminggu sekali kalo semua kesialan gue ini udah kelar. Janji, deh.” Aliana memandang Stella dengan tatapan memelas. Berbanding terbalik dengan sikap bossy - nya yang tadi. Aliana sadar ia tidak akan bisa menang jika adu bossy dengan Stella.             Membayangkan makanan mahal tiap akhir pekan cukup membuat Stella menjatuhkan egonya. Sebagai anak perantauan dengan kiriman pas - pasan, tentu saja ia tidak akan melewatkan hal ini. “Oke!” jawabnya dengan mata berbinar. - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -             Seharusnya Aliana tahu, bahwa sebuah rencana pasti akan lebih mudah dan indah apabila berada dalam pikiran. Dan akan berubah menjadi hancur total jika sudah masuk ke penerapan. Itu pun terjadi pada rencananya yang hancur total. Bisa dipastikan bahwa Stella gagal mendapatkan traktiran di akhir pekan seperti yang ia janjikan. Entah sudah berapa kali Gadis  itu menatap wajah memohon Adam yang selalu bisa menemukannya. Seharian ini ia dan Adam bermain kucing - kucingan. Aliana akan langsung kabur saat melihat Adam yang dicegat Stella dengan tingkah sok kenalnya. Entah ini benar atau hanya perasaanya saja, Adam seakan - akan tahu semua jadwal kuliahnya. Seperti saat ini, lelaki itu bahkan dengan beraninya menjadi penghuni gelap offering - nya hanya untuk mengganggunya dengan tatapan memelas itu. Berniat kuliah untuk menjadi pintar, Aliana yakin jika Adam terus mengekorinya hal itu tidak akan terjadi. Bukan menjadi pintar, ia bahkan bisa bodohh mendadak. Aliana mencondongkan tubuhnya ke samping kanan. “Stell, gimana nih?” bisiknya penuh dengan keputusasaan. Stella meringis, sedari tadi ia sudah berusaha mencari cara agar Adam tidak mendekati Aliana. Dan lumayan berhasil menurutnya, hingga pada pelajaran terakhir siapa yang menyangka jika tiba - tiba Adam dengan seenak jidatnya memasuki kelas dan menyeret kursi agar bisa duduk di samping kiri Aliana. Stella sendiri tidak mungkin mengusir Adam secara gamblang di depan teman - teman sekelasnya, bukan? “Gak tau deh Lan, kepala gue ikutan pusing mikirin Adam. Mending tanggepin aja deh sepulang kuliah. Ngobrol santai sambil nyelesaiin masalah.” “Masalah bukannya selesai, malah makin nambah kalo gue ngomong sama Adam,” balas Aliana semakin frustrasi. “Lan, dipanggil Bu Martutik tuh…” ucap suara bass dari samping kiri yang membuat Aliana langsung menegakkan tubuhnya. Gadis  itu mengamati dosennya yang tengah menerangkan dengan was - was. Kening Aliana langsung mengernyit saat merasa sang dosen tidak ada tanda - tanda menegurnya. Dengan cepat, Gadis  itu langsung melemparkan deathglare ke arah Adam yang malah cengengesan. “Lo boongin gue?” Aliana berbisik sambil sesekali mencuri pandang ke arah dosennya yang cukup cuek itu. “Lagian lo nyuekin gue, sih,” rajuk Adam dengan senyum kecil di bibirnya. Lelaki itu merasa senang saat ia bisa berbicara dengan Aliana setelah seharian main kucing - kucingan. Gadis  itu langsung kabur secepat kilat saat melihat dirinya. Terlebih dengan adanya Stella yang membuat ia tidak bisa mengejar wanitanya itu. Dan pilihan terakhir Adam adalah menjadi penghuni gelap seperti ini. “Enyah!” jawab Aliana dengan nada yang terlampau s***s. Membuat Adam harus nelangsa karena ditolak dengan blak - blakan seperti itu.             Adam menghela napas pelan, melihat Aliana yang mencoba fokus untuk bisa menghindarinya. “Maaf,” bisik Adam dengan suara yang sangat pelan. “Sedetik pun gue gak pernah ada niatan buat mainin lo, apalagi mikir lo murahan.”             Aliana tercekat, Gadis  itu menahan diri untuk tidak menoleh. Namun tidak berhasil karena entah mengapa ia ingin sekali melihat kesungguhan dari mata cowok tampan itu. Dan ia menemukannya, di dalam manik mata hitam Adam, yang menatapnya penuh dengan kelembutan dan syarat akan permohonan. “Gue beneran sayang sama kamu,” ucap Adam yang membuat jantung Aliana seakan ingin melompat. Astaga, yang benar saja? Adam baru saja mengutarakan perasaanya, di dalam kelas saat dosen sendang menerangkan materinya. Sungguh, lelaki itu tidak ada romantis - romantisnya. Aliana membutuhkan beberapa detik untuk bisa mengendalikan dirinya lagi. Suara Bu Martutik yang tengah menerangkan materi kini hanya terdengar samar - samar di telinganya. Tersaingi oleh suara debaran jantungnya dan suara Adam yang seolah - seolah menggema. “Adam…” panggil Aliana lirih, sangat lirih, hingga Adam sendiri tidak yakin apakah benar Gadis  itu memanggil namanya. “Kalo sayang itu menjaga, bukan merusak,” lanjut Aliana dengan kegetiran yang tersampaikan melalui sorot matanya. Membuat Adam terdiam seketika saat jawaban Aliana seakan menohok ulu hatinya.             “Kita harus bicara setelah mata kuliah ini berakhir.” Adam melengos, mengalihkan pandangan dari Aliana untuk sekadar meredam hatinya yang berdenyut tidak menyenangkan. Ia butuh tempat yang lebih nyaman untuk membahas masalah yang serius. Ini menyangkut masa depannya, dan saat menyadari kenyataan itu, Adam langsung menelungkupkan wajah. Astaga, kenapa dia begitu bodohh! Apa yang baru saja ia lakukan? Menembak seorang Aliana Niakansavy di tengah - tengah mata kuliah Bu Martutik? Oh Tuhan, cabut saja nyawanya sekarang.             “Gak mau!” Jantung Adam semakin berdenyut nyeri, seakan ada satu busur panah yang memanah tepat di jantungnya.  Dengan cepat Adam mengangkat wajah dan melotot ke arah Aliana yang menatapnya kesal. “Jangan bersikap seakan - akan lo nolak gue, Lan” Lelaki itu bodohh apa? Bukankah sudah jelas dari ucapan sebelumnya, jika Aliana memang menolak Adam, bukannya berpura - pura menolaknya. “Gue emang nolak pernyataan cinta lo yang konyol itu, Dam.” Adam merasa otaknya langsung kosong saat mendengar jawaban blak - blakan dari Aliana. Ingin sekali ia menyeret Aliana keluar kelas dan menunjukkan betapa seriusnya pernyataan cintanya. “Kita harus berbicara setelah ini.” “Gu - e gak ma - u!” eja Aliana dengan kesal. “Lo milih gue seret sekarang, atau bicara setelah ini selesai?” tandas Adam dengan serius. Menunjukkan kepada Aliana bahwa ia tidak main - main dengan kata - katanya kali ini. Aliana mendengus, mengalihkan pandangannya ke depan dengan mulut yang mendumel kesal. - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN