Tidurku merasa terusik ketika suara berisik dari lagu yang tidak kutahu berbahasa apa mengalun melewati telingaku, dicerna oleh otakku yang akhirnya mengirimkan sinyal-sinyal kekesalan pada diriku. Beberapa kali kedua kakiku bergerak menendang sesuatu untuk meluapkan rasa jengkel ini. Tanganku juga sudah meraih bantal yang tidak kugunakan untuk menutupi kedua telingaku agar suara-suara bising itu dapat teredam. Tetapi sialnya telingaku masih dapat mendengarnya dengan jelas. Menyerah pada keadaan, aku pun meninggalkan tidurku lantas bangun dalam kondisi dongkol setengah mati. Jam masih menunjukkan pukul enam pagi, dan ini hari minggu. Seharusnya aku masih bisa melanjutkan tidurku selama beberapa jam ke depan. "Selamat pagi, Auryn! Bagaimana tidurmu?" Sambutan secerah matahari pagi itu k

