Kubersihkan noda darah di sudut bibir Fano dengan tisu basah. Tidak banyak memang, tapi tetap saja agak ngeri bila dilihat terlalu lama. Apalagi tulang pipinya yang terkena bogeman dari Brian sudah mulai berubah warna hingga menjadi memar yang tampak jelas di sana. Ya, Brian lah yang memberi pukulan kuat itu kepada Fano. Aku hanya menjalankan tugas, katanya saat kutanya kenapa dia melakukan hal itu. Menyebalkan sekali, bukan? Dan yang bisa kuperbuat hanyalah mengusir paksa dirinya. "Memar kamu harus dikompres, No," terangku, memberi sentuhan terakhir di bibirnya sebelum menarik tanganku dari wajahnya. "Apa kamu baik-baik saja, Auryn?" Pergerakanku yang hendak meletakkan kembali sebungkus tisu basah di atas dashboard harus terhenti manakala Fano menyuarakan sebuah pertanyaan yang tidak

