Hanna larut dalam lamunannya akan cerita masa sekolah dulu. Ia kembali mengingat sebuah peristiwa yang tak pernah diketahui oleh siapa pun kecuali sahabatnya, Sarah.
Waktu itu, Hanna menyukai seseorang. Rasa sukanya itu membuat Hanna tergila-gila pada sosok kakak kelasnya tersebut. Hampir setiap hari, Hanna mengirim surat misterius pada gebetannya itu. Namun hingga kini, sang pria tak mengetahui perihal surat misterius yang pernah ia terima semasa sekolah dulu.
Kala itu …
Setelah upacara bendera di hari Senin berakhir, Hanna bersama dengan Sarah menyusur lorong sekolah. Hanna yang terkenal sebagai seorang kutu buku masih sempat berdiri di depan mading untuk membacakan beberapa karya siswa yang terpajang di sana.
Seketika, matanya mengarah pada tulisan yang sangat ia kenal. Sebuah kertas yang ditulis rapi dengan kata-kata romantis tertuju pada satu nama siswa di kelas dua belas IPA.
“OMG!” ucapnya sedikit keras.
Sarah yang sempat melampaui langkah Hanna langsung menoleh ke belakang, “Loh, masih sempat baca elo?” Sarah geleng-geleng kepala menyikapi ulah sahabatnya itu.
“Sini!” Hanna melambaikan tangannya pada Sarah, “cepatan!” perintahnya lagi.
Sarah menggerutu sembari mendekati Hanna, “Ada apa sih?” tanya Sarah ketika sudah mendekat.
“Ini!” Hanna menunjuk pada isi mading yang membuat dirinya syok barusan.
“Tulisan elo?”
“Hm … mh,” hanna mengangguk menahan malu.
“Copot!”
“Sar … Sar! Sar. Jangan!” Hanna jadi panik karena Sarah berusaha membuka gembok mading.
“Hei!” suara seorang pria menghentikan gerakan Sarah, “ada apa ini?”
Karena hampir ketahuan, Sarah nyengir untuk menutupi kesalahannya. Gadis tomboy berkacamata itu sempat menggaruk kepalanya sambil melumat sisa permen tangkai yang sejak tadi ada di mulutnya.
“Anu, Kak … anu … amh,” Sarah terbata-bata.
“Anu apa? Kalian berusaha merusak mading, ya?” ucap siswa laki-laki tadi dengan nada tinggi.
“Nggak, Kak,” Hanna berusaha menutupi.
“Ayo ikut saya ke ruang OSIS!” perintah kakak kelas mereka tersebut.
“Kenapa, Kak?” tanya Hanna bingung.
“Lah, kalian berdua tidak sadar atas perbuatan kalian?” seketika Hanna dan Sarah saling pandang, “ini loh yang kalian rusakin!” Siswa tadi menunjukkan bagian mading yang rusak.
“Astaga!” Sarah menepuk jidat, “bukan salah gue, kak,” ucapnya membela diri.
“Kalian pikir saya nggak memperhatikan apa yang sudah kalian lakukan?”
“Kak, tunggu! Kita nggak salah, Kak. Kita hanya …”
“Hanya apa? Mau merusak fasilitas sekolah?” ujar Siswa itu lagi memotong ucapan Hanna.
“Nggak Kak, Piss … Sarah nyengir di hadapan siswa yang merupakan salah satu pengurus OSIS tersebut.
“Ayo!” ucap siswa itu lagi pada Hanna dan Sarah.
Hana dan Sarah saling sikut. Karena sudah tidak ada pilihan lagi, keduanya berjalan mengikuti langkah siswa tadi. Mereka masuk ke dalam ruang OSIS. Seketika, Hanna tercengang. Ia memandang satu wajah yang selama ini tersemat dalam pikirannya.
Emerald Baskara Putra.
Ya, ketua OSIS yang terkenal tampan, pintar dan memiliki segudang prestasi. Dengan semua talenta yang ia miliki, siswi mana di sekolah tersebut yang tidak menaruh hati pada Emerald. Demikian pun dengan Hanna. Ia turut serta mengadu hati dengan siswi lainnya untuk mendapatkan pujaan hati mereka itu.
“Ada apa ini?” tanya Emerald dengan wajah serius.
“Mereka berusaha merusak mading,” ucap siswa tadi tanpa basa-basi.
“Merusak mading?” Emerald mencoba menerka apa yang terjadi, “kronologisnya?”
“Introgasi saja, Me!” ucap salah satu siswi yang merupakan sekretaris OSIS.
Emerald memutar pulpen di depan wajahnya. Matanya yang bulat bening menatap pada wajah Hanna dan Sarah. Sarah masih santuy dengaan permen batangan yang masih melekat di mulutnya. Sementara Hanna yang memiliki sifat lembut, menunduk menahan rasa malu dan takut.
“Kalian ngapain?” tanya Emerald tanpa mengintimidasi.
“Maaf, saya …”
“Tadi karya-karya di mading itu ngegemesin. Gue mencak-mencak karena suka sampai nggak sadar malah hampir merusak gembok mading,” Sarah membela Hanna.
“Serius? Sejak kapan lo paham karya?” seketika Hanna sedikit berbisik pada Sarah.
“Sssttt, diam! Gue lagi cari cara belain, elo,” balas Sarah dengan nada perlahan.
“Kalau kalian suka ya nggak harus merusak fasilitas. Kan, bisa mengekspresikan rasa suka kalian dengan cara yang lebih baik,” Emerald menasehati keduanya dengan nada santai, “kalau sudah rusak mau gantiin?” tanya ia lagi.
“Nggak!” Sarah menjawab tegas sambil melumat sisa permennya, “kan, nggak sengaja, kak,” ucapnya lagi.
“Bukan persoala tidak sengajanya. Tapi kebiasaan buruk yang berakibat fatal. Kalau kejadian ini dianggap biasa, nanti bisa jadi kesengajaan juga untuk siswa yang lainnya.”
Hanna semakin terkesima pada kebijakan Emerald. Pria itu sangat cocok mengemban tugas sebagai Ketua OSIS. Dalam menangani persoalan seperti ini saja, Emerald mampu menunjukkan kewibawaannya.
“Bagian mana yang kalian suka dari hasil karya siswa di mading itu?” tanya Emerald lagi.
“Surat cinta untuk Emerald Baskara Putra,” Sarah menimpali.
“Oh, ya?” Emerald seketika terkekeh, “tulisannya bagus kan?” katanya memuji, “makanya saya tempel di mading. Lagian nggak tahu dari siapa. Saya bosen nerima surat begituan setiap hari. Ya sekalian tempelin aja di mading. Kali aja sang pemilik surat itu bisa sadar diri,” jelas Emerald.
Sarah menjeling pada Hanna, ia sempat melihat sahabatnya itu mengepal tangan menahan geram.
“Kamu nggak apa-apa, Han?” bisik Sarah.
Hanna menggeleng. Hampir saja ia menitikkan air mata di hadapan seluruh pengurus OSIS yang hadir di ruangan tersebut. Namun karena ingat pada misinya, Hanna berusaha menutup perasaannya yang hampir saja terpancing emosi karena Emerald sama sekali tidak menghargai isi surat yang ia tulis setiap hari.
Singkatnya, Hanna setiap hari datang lebih awal ke sekolah untuk menyisipkan surat itu di ruang OSIS. Beruntung belum terpasang CCTV di sana. Klau saja ada CCTV, bisa jadi Hanna akan ketahuan dalam menyelesaikan misinya tersebut.
Hingga kini, Emerald mungkin tidak menyadari siapa penulis surat misterius yang setiap hari ia terima pada masa ia menjadi Ketua OSIS dulunya.
*
“Han … Han … Hanna!” Emerald menepuk pundak Hanna yang terlalu asyik menikmati lamunannya, “are you okey?” tanya Emerald.
“Ah … am … aku … aku okey, Me.”
“Kamu melamun?”
“Sedikit,” ucap Hanna. Ia lantas menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
“Maaf, aku tadi ketiduran,” ucap Emerald lebih santai sambil mengucek mata.
“Nggak apa-apa, Mas. aku tahu kamu lelah.” Hanna tersenyum pada Emerald, “mau aku ambilkan minum?”
“Boleh, Emerald mengangguk sembari menahan ngantuk. Ia menguap panjang.
Hanna beranjak meninggalkan Emerald. Ia masuk ke ruang pertemuan keluarga dan mengambil sebotol air mineral untuk Emerald. Bu Sri sempat bicara pada Hanna sebelum anak asuhnya itu kembali menyusul Emerald di area kolam renang.
“Ini!” Hanna menyodorkan sebotol air meineral di tangannya pada Emerald, “minum dulu!” perintahnya.
“Terima kasih.”
“Apa yang kamu ingat pada masa sekolah dulu?” Hanna memberanikan diri untuk bertanya pada Emerald.
“Banyak,” sahut Eme setelah membuka tutup botol air mineral di tangannya.
“Ceritakan beberapa,” Hanna berharap Emerald menguak tentang surat misterius yang pernah ia tulis untuk pria tersebut.”
“Pernah jadi salah satu anggota tim basket yang ikut tournament, bawa piala pulang sampai ngalamin cidera berkali-kali,” urai Emerald pada hobinya dulu.
“Hmmm … yakin hanya itu?” Hanna mencoba mengulik lagi.
“Banyak, sih,” Emerald mencoba mengingat-ingat pengalaman yang berkesan baginya.
Jika diceritakan, pengalaman semasa mereka sekolah dulu sangat banyak. Tapi, Eme tak mungkin mengingat secara detail. Lagi pula yang akan ia ceritakan tentu tidak ada kaitanya dengan Hanna. Emerald sama sekali tidak merasa ada hubungan dalam bentuk apapun bersama Hanna selain sebagai siswa dalam satu sekolah yang sama.
“Yakin nggak ada cerita yang berkesan?” tanya Hanna lagi dengan wajah sedikit kesal.
“Iya,” Emerald menggelengkan kepalanya, “seingat gue emang nggak ada, Han,” Emerald berusaha mengingat-ingat lagi.
“Waktu kamu menghukum aku sama Sarah nyapu halaman basket,” Hanna menghentikan ucapannya sebentar, “kamu masih ingat, nggak?”
“Ooohhh … iya. Iya. Waktu itu,” Emerald menepuk tangannya karena berhasil mengingat kenangan tersebut, “ternyata ada juga kenangan aku sama kamu, ya.”
Surat itu, ucap Hanna dalam hati. Hampir saja ia mengutarakan perihal surat misterius itu juga.
“Hahaha, aku ingat! Kamu jadi pingsan karena kepanasan, kan? Aku jadi repot dan khawatir. Takut kamu nggak bangun lagi.”
“Oh, ya?” Hanna jadi sedikit senang karena Emerald ternyata menaruh perhatian juga dengannya.
“Iya. Khawatir karena aku yang menghukum kamu. Jadi semua persoalan itu menjadi tanggung jawabku secara penuh. Maaf kan aku,” ujar Eme di akhir ucapannya.
“Iya. Nggak apa-apa, Me.”
“Oh, ya. Sharing dong pengalaman kamu sebagai psikolog,” Eme jadi penasaran dengan karier Hanna.
“Nanti ada waktu aku ceritain,” ujar Hanna menutup diri.
“Sekarang, dong,” pinta Emerald tak sabar.
“Ibu sudah menunggu kamu di depan,” ucapnya memberi pesan Bu Sundari pada Emerald.
“Oh, ya. Astaga. Aku hampir lupa sama Mama.” Emerald bangkit berdiri, ia melihat jam tangan sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Emerald bergegas ke ruang keluarga.
Keadaan sudah menyepi. Anggota keluarga yang lain sudah pulang ke kediaman masing-masing. Emerald hanya menjumpai ibunya bersama Pak De Trisno dan Bu De Sri saja di ruang keluarga.