“Loh, sudah pada pulang, Pak De?” Eme menatap sekeliling. Memang sudah tidak ada siapa-siapa di sana.
“Iya, mereka sudah pada pulang,” ujar Pak De trisno.
“Maaf, tadi Eme ketiduran di kursi yang ada di kolam renang,” jelas Eme.
“Wualah, tak kirain kamu ngobrol sama Hanna, Le,” timpal Bu Sri.
“Hanna baik kok sudah mau nungguin Eme tidur, Bu De,” seloroh Emerald.
“Mas Eme kecapean, Bu,” Sahut Hanna dari pojok ruangan.
“Nak Hanna ini rajin, Le. Lihat tuh, nggak pandai diam. Senang sekali dia beresin rumah,” Bu Sri memuji sifat Hanna.
“Namanya anak prempuan Sri, yo harus rajin. Ini loh anak lanangku yo begini. Hanya bisa ngurusin perusahaan, ngebet mbakmu ini punya mantu. Tapi belum ada juga sampai sekarang,” Bu Sundari memandang pada putranya, “Entah kapan tiba masanya,” lanjutnya kemudian.
“Ma … apaan sih!” Emerald memandang malu pada ibunya.
“Tak jodohin sama Hanna, mau?” Bu Sri langsung menawar kesempatan kepada Emerald.
“Ibu …” Hanna menjawab dari jauh, “Apaan sih, main jodoh segala. Hanna kan udah jadi saudara Mas eme, ya kan?” tanya Hanna pada Emerald.
“Bener banget Bu De.” Emerald menyetujui pernyataan Hanna.
“Akh, kan bukan saudara kandung. Ya, kan Mbak?” Bu Sri bertanya pada ibu Eme.
“Kalau jodoh yo nggak kemana-mana toh, Sri. Serahkan saja kepada anak-anak.”
“Wong anak-anak ini juga udah semakin tua, Mbak! Sri juga ngebet dapat mantu,” ujar Bu Sri menimpali ucapan kakak iparnya.
Hahaha, seketika riuh tawa terdengar mengisi ruangan.
Usai bergurau soal jodoh, Emerald dan ibunya pamit pulang. Hanna turut melambaikan tangan kala melepas kepergian Emerald. Masih tersimpan rapat rasa yang ia miliki pada pria itu. Namun, Hanna tak ingin gegabah. Ia sanggup menyembunyikan perasaannya tanpa seorang pun yang tahu selain sahabatnya, Sarah.
Saat menyusur jalan raya, Bu Sundari mengajak putranya bicara.
“Gimana, Le tawaran Bu De kamu?”
“Tawaran apa, Ma?”
“Itu loh, soal Hanna.”
“Hanna?”
“Iya, perjodohan kamu dengan Hanna.”
“What?” Emerald mendadak menginjak rem karena ada seekor kucing melintas di jalan. Hampir saja ia menabrak tubuh kucing tersebut. Beruntung jarak pandang Eme dapat melihat dari jauh sehingga ia bisa menghidar.
“Allaahu akbar,” ucap Bu Sundari menahan kaget.
“Maaf, Ma. Ada binatang lewat,” jelas Emerald pada ibunya.
“Pelan-pelan toh, Le.”
“Iya, Bu Bos!” ucap Emerald dengan nada bercanda agar kembali menenangkan hati ibunya.
“Piye toh. Hampir copot jantung Ibu,” Bu Sundari menggerutu pada putranya.
Hahaha, Emerald terkekeh melihat wajah tegang sang ibu, “santai, Ma. Aman, kok,” ucapnya lagi.
“Gimana, Hanna?”
“Hanna lagi, Hanna lagi!” Emerald membantah ucapan ibunya, “Mama sama aja dengan Bu De.”
“Ya kan saudari ipar,” tegas Bu Sundari.
“Bukan soal saudarinya, Ma. Tapi soal pemikirannya.”
“Yo sama toh. Dari pada kalian semakin menua.”
“Tapi Eme punya pilihan sendiri nantinya, Ma.”
“Kapan le?” Bu Sundari menatap wajah putranya, “Mama udah nggak sabar pengen nimang cucu. Rumah papamu terlalu besar untuk menampung Mama di sana.”
“Mama seperti di panti jompo aja pakai daya tampung,” gurau Emerald menanggapi ucapan ibunya.
“Ya, iya toh. Setiap hari Mama nggak ada teman di rumah. Coba kalau ada cucu. Kan ada tambahan kerjaan Mama selain nyiram tanaman.”
“Ngasuh Raffa aja, Ma!” pinta Emerald pada ibunya.
“Lah, Raffa siapanya keluarga kita, toh?”
“Anggap aja cucu Mama,” lagi-lagi Emerald terkekeh.
“Ketemu sama Raffa aja Mama belum pernah.”
“Iya, ntar deh Eme bawa pulang ke rumah.”
Tak ada yang mampu mengubah isi hati Eme. Ia masih mengenang Gina dalam hidupnya. Sekali pun wanita cantik datang menghampiri, Eme akan mempertimbangkan dengan matang pada pilihan hatinya. Ia masih belum menemukan sosok Gina pada siapa pun.
*
Malam itu, setelah keadaan rumah menyepi dan usai membantu membereskan rumah, Hanna merebahkan tubunya di atas kasur. Rasa capai karena seharian membantu acara keluarga di rumah orang tua asuhnya membuat Hanna hampir terlelap begitu saja.
Bayang-bayang Emerald di masa SMA masih menghantui seisi pikiran Hanna. Padahal, baru saja tadi ia berjumpa laki-laki itu. Hebatnya, di tengah pergumulan isi hati tentang Emerald, Hanna masih dapat menyembunyikan semua perasaannya.
Kamu harus jadi milikku, Hanna bicara pada dirinya sendiri.
Saat itu juga, Hanna mempertimbangkan tawaran Bu Sri padanya. Setelah bertahun-tahun memendam rasa pada CEO Perusahaan Litus Property itu, kini saatnya bagi Hanna untuk memperjuangkan isi hatinya. Ia harus berani menerobos pergumulan hatinya sendiri.
Hanna tak ingin peduli, sekalipun ia telah menjadi bagian dari keluarga besar Emerald, Hanna tetap kekeh pada keputusannya untuk mendapatkan hati Emerald. Tak peduli jika pria itu masih mengabaikannya. Hanna akan berjuang untuk hati dan cintanya di kemudian hari.
“Han … Hanna!”
Terdengar seseorang memanggilnya dari luar kamar.
Tok … tok … tok … suara ketukan pintu mengulang panggilan namanya.
“Ibu?” tanya Hanna saat membuka ganggang pintu.
“Iya,” suara Bu Sri dari luar.
“Ada apa, Bu?” katanya saat pintu telah terbuka.
“Sudah mau istirahat?”
“Sebentar lagi, Bu. Hanna masih rebahan. Ibu mau masuk?”
Bu Sri celingak-celinguk melihat sekeliling. Setelah memastikan tudak ada seorang pun yang melihat mereka, Bu Sri sedikit mendorong tubuh Hanna lalu menutup rapat pintu.
“Ibu kenapa, sih?” tanya Hanna penasaran melihat tingkah aneh ibu angkatnya itu.
“Khawatir bapakmu lihat,” ujar Bu Sri menjelaskan.
“Kenapa dengan Bapak?”
“Ada hal yang mau Ibu diskusikan empat mata sama kamu,” Bu Sri bicara perlahan, “Ibu berencana mau menjodohkan kamu sama Emerald,” lanjut Bu Sri dengan nada masih sedikit berbisik.
“Ibu …” sebenarnya Hanna tak menampik perasannya. Ia juga ingin dijodohkan dengan Emerald. Hanya saja, ia masih menimbang perasaan pria itu, mungkinkah Emerald juga memiliki rasa yang sama terhadapnya? “jangan buru-buru, Ibu,” Hanna mengingatkan.
“Kapan lagi, Hanna? Ibu sudah tidak sabar ingin menimang cucu.”
“Hanna sungkan sama Mas Eme,” wanita itu menarik napas panjang, “apa mungkin dia juga mau nerima Hanna?”
“Akh, bisa diatur lah itu, Han. Eme sangat menurut dengan Mbak Sundari,” ujar Bu Sri menyebut nama kakak iparnya itu.
“Bu,” Hanna mulai mengutarakan perasaannya, “sebenarnya Hanna memiliki perasaan sama Emerald sejak masa sekolah dulu.”
“Nah, bagus itu,” Bu Sri bertambah girang karena sudah mengetahui isi hati Hanna.
“Tapi, Hanna khawatir nggak bisa dekatin Mas Eme lagi.”
“Nggak ada yang sulit, kamu belum mencoba,” Bu Sri dengan penuh kasih mengelus pundak putri angkatnya itu.
“Khawatir kalau Eme sekarang sudah bahagia dengan pilihannya.”
Seketika Bu Sri menjadi diam. Apa yang diutarakan oleh Hanna kemungkinan besar terjadi pada Emerald. Keponakan dari pihak suaminya itu memang terkenal cool. Sepengetahuan Bu Sri, Emerald memang tak pernah mengenalkan wanita mana pun dalam keluarga mereka.
“Eme tidak ada menjalin hubungan dengan siapa pun, Han. Percaya sama Ibu.”
Hanna menatap wajah Bu Sri dengan senyum lebar. Ia merasa sangat beruntung barada di tengah-tengah sepasang suami istri yang sangat sayang padanya.
“Ibu … terimakasih sudah menganggap Hanna sebagai anak. Hanna terharu dengan kasih sayang Bapak dan Ibu selama ini. Maaf, Hanna belum bisa memberikan yang terbaik untuk Bapak dan Ibu,” Hanna memeluk Bu Sri dengan erat.
“Sssttt …” Bu Sri menghibur Hanna, “Ibu dan Bapak juga beruntung memiliki kamu, Han. Tanpa kamu, keluarga kami kesepian. Kamu, kan tahu tidak ada siapa-siapa di rumah ini.”
“Iya, Bu. Tapi maaf. Seharusnya Hanna sudah menikah agar tidak lagi menjadi beban Bapak dan Ibu.”
“Sudahlah. Abaikan itu. Ibu tidak bermaksud memaksamu menikah. Ibu hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu, Han!”
“Hanna paham, Bu. Tapi, tolong,” Hanna menghentikan ucapannya sesaat, “beri Hanna waktu untuk memikirkan lebih lanjut tawaran dari ibu tentang mas Eme.”
“Iya, iya. Ibu paham,” Bu Sri mengusap wajah Hanna, “kalau begitu kamu istirahat, ya! Ibu juga mau istirahat.”
Usai bicara empat mata dengan Hanna, Bu Sri melangkah ke luar. Wanita paruh baya itu sempat berdiri mematung sebentar di depan kamar Hanna. Ingatannya pada satu hal sedikit mengganggu pikirannya. Setelah menarik napas lega, ia segera beranjak menuju kamar dan merebahkan tubuh di samping suaminya yang ternyata sudah terlelap lebih dulu.