Sebenarnya Saling Kenal

1307 Kata
Jessi baru saja menyelesaikan presentasinya dalam meeting dengan empat perusahaan yang akan mejalin kerjasama dengan Litus Property. Emerald pun tak menyangka jika sekretaris barunya itu ternyata piawai berbicara di depan klien perusahaannya. “Terima kasih, Mas. Presentasi dari sekretaris Anda hari ini sangat berkesan. Semoga kerja sama kita selanjutnya dapat berjalan dengan lancar,” ujar salah satu kolega bisnis Emerald. “Sama-sama, Bung Niko,” Emerald menjabat erat tangan rekan bisnisnya tersebut. “Izin pamit, Mas,” kolega bisnis Emerald yang lainnya turut menyalami Emerald dan Jessi, lalu satu per satu mereka meninggalkan ruang pertemuan. Emerald menarik napas lega, karena satu tugasnya hari itu telah selesai. Seketika, Emerald terpaku melihat gerakan gesit Jessi menyusun berkas yang ada di atas meja lalu merapikan seisi ruangan pada keadaan semula. Dalam hatinya, ia kembali memuji Jessi karena sekretarisnya itu dapat memenuhi tugas dengan sempurna. Seharusnya, yang bertugas memberikan presentasi dalam rapat tadi adalah Emerald. Namun, pria itu melimpahkan tugas tersebut kepada Jessi dengan maksud mengukur kemampuan sekretarisnya itu juga. Emerald tak ingin menggampangkan segala hal. Ia khawatir, jika tidak dibiasakan mandiri, Jessi ke depannya akan menjadi manja karena tidak memiliki pengalaman dalam bekerja. “Terima kasih, ya untuk kamu yang sudah melakukan presentasi dengan baik hari ini,” ucapan Eme membuat gerakan Jessi terhenti, ia tersenyum pada bosnya itu. “Sama-sama, Pak,” jawab Jessi sambil memasukkan beberapa berkas ke dalam goodie bag. “Mau saya traktir makan siang?” Eme menawarkan. Jessi tak menjawab, ia melirik jam di pergelangan tangannya, sudah hampir pukul dua belas siang. “Gimana?” tanya Eme lagi saat melihat pertimbangan Jessi. “Boleh,” Jessi mengangguk, ia kembali mengurai sedikit senyum. Tak berselang lama, mereka keluar dari kantor menuju restoran pilihan Emerald untuk makan siang bersama. Saat tiba di lobi kantor, Emerald dikagetan dengan kehadiran seorang wanita yang sudah ia kenal. Wanita itu tampak sedang berbincang dengan Mega di meja resepsionis. “Hanna!” Emerald menyapa wanita tersebut. Seketika, Hanna menoleh pada sumber suara yang menyapanya. Ia mendapati Emerald tengah berjalan berdampingan dengan Jessi. Emerald mendekati Hanna untuk memastikan tujuan kedatangan wanita tersebut ke kantornya. “Kamu kenapa di sini?” tanya Emerald. “Mau ketemu kamu, Mas,” ucap Hanna lembut. Emerald kembali melempar pertanyaan, “Kenapa nggak ngabarin dulu?” “Aku hanya ingin ngajak kamu makan siang,” jelas Hanna akan kedatangannya. “Hmm … gitu,” Emerald mencoba memaklumi tujuan Hanna mendatanginya, “kebetulan aku sama Jessi juga mau makan siang. Yuk, kita berangkat!” Tanpa berlama-lama, Emerald lebih dulu melangkah disusul oleh Jessi dan Hanna yang sempat saling pandang satu sama lain. Hanna yang merasa risih dengan kehadiran Jessi. Sementara Jessi, ia sempat bertanya-tanya dalam hati akan sosok wanita yang ada di hadapannya saat itu. “Lain kali kalau mau ketemu kabari dulu biar nggak bentrok sama jadwal kerja saya,” ucap emerald saat mereka sudah duduk di meja makan. “Iya, maafkan aku,” jawab Hanna dengan wajah tak enak. “Kamu datang sendiri?” Hanna mengangguk. Karena sedari tadi menahan haus, ia segera menyeruput es timun serut yang telah disajikan oleh seorang pramusaji di hadapan mereka. Jessi sendiri merasa boring time dengan kehadiran Hanna jadi lebih banyak diam. Tidak sepertinya ia lebih banyak mencairkan suasana saat ngobrol santai dengan Emerald. Jessi mematung dalam lamunan. Tangannya mengaduk-aduk minuman yang ada di hadapannya dengan sedotan. Hanna sedikit menjeling pada Jessi. Ia baru menyadari kalau wanita yang ada di sampingnya itu adalah sekretaris pilihan Om Baskara, ayahnya Emerald untuk mendampingi putra semata wayangnya tersebut. Diam-diam, Hanna memperhatikan komunikasi Jessi dan Emerald. Ia hanya ingin memastikan kalau hubungan keduanya hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih dari pada itu. “Jes! Ayo dimakan!” Emerald terpaksa membuyarkan lamunan sekretarisnya itu. “Am … ah, iya. Iya. Terima kasih,” ucapnya gelagapan, Jessi sempat beradu mata dengan Hanna, namun ia segera membuang wajah. “Hai! Kita belum kenalan,” sapa Hanna. Menyadari sejak tadi mereka saling bisu, Jessi mengulurkan tangan pada Hanna, “Jessi,” ucapnya dengan senyum terpaksa. “Hanna,” katanya dengan senyum sumringah dan tetap santai. “Oh, ya Me,” Hanna memandang pada Emerald, “di perusahaan kamu masih ada lowongan?” tanyanya blak-blakkan. “Iya. Kalau diperbolehkan,” hanna sedikit mengurai senyum, sebenarnya ia sungkan untuk menanyakan perihal itu. Tapi, kala ingat pada misinya untuk mendekati pria tampan yang telah mencuri hatinya sejak SMA, Hanna terpaksa bicara. “Hmm … aku nggak enak kalau kasi kamu kerjaan di bawah.” “Sekretaris dua,” ucap Hanna menegaskan, “Ya, kali aja kamu butuh dua sekretaris,” katanya lagi dengan wajah sedikit kecut menatap Jessi. Jessi hanya menunduk. Mencoba menghabiskan sisa makanan di piringnya, sial. Kenapa saya harus bertemu perempuan ini, umpat Jessi dalam hati. Melihat wajah tak enak Jessi, Emerald menyadari jika Hanna punya niat untuk menggeser posisi Jessi. Sejak awal, Emerald memang tidak sepenuhnya mendambakan kehadiran Jessi. Namun, kala melihat Jessi menyelesaikan presentasi di hadapan koleganya tadi, Emerald benar-benar terpukau pada cara kerja sekretarisnya itu. “Sementara ini, saya hanya perlu satu sekretaris saja,” tegas Eme, pria itu menatap pada wajah Jessi yang masih menunduk sambil melumat makanan dalam mulutnya. Hanna dengan sikap lembutnya menatap tajam pada Jessi. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu. Sepertinya, ia mulai menyimpan rasa tidak suka pada sekretaris baru Emerald tersebut. “Rencananya, aku mau resign dari tempat kerja yang lama,” ujar Hanna menimpali ucapan Emerald. “Oh, ya?” tanya Emerald sembari memotong daging di piringnya. “Pingin kerja di perusahaan kamu.” “Hm … mh,” Emerald menatap wajah Hanna, “kamu nggak ingin cari tempat kerja yang sesuai dengan basic kamu?” sambungnya memberi pertanyaan. “Psikologi?” “Iya.” Emerald menyuap seiris daging yang baru saja ia potong tadi. “Agak sulit untuk mencari tempat kerja yang cocok di sini,” ujar Hanna. “Ketimbang kamu masuk di perusahaan saya,” Emerald kembali menatap Hanna. Ia tak enak hati sebenarnya untuk melanjutkan ucapannya, “maaf, ya. Saya bukannya mau mematahkan semangat kamu, loh,” emerald meluruskan ucapannya. Jessi yang sejak tadi berdiam diri mulai risih. Ia beberapa kali melirik jam di tangannya, “Swaktu istirahat kita sudah selesai, Pak,” Jessi mengingatkan. “Hmmm …” untuk meyakinkan ucapan Jessi, Emerald ikut melirik jam tangannya. Benar saja, waktu sudah menunjukkan hampir pukul satu siang, “kamu mau balik duluan ke kantor?” tanya Eme pada Jessi. Beruntung restoran tempat makan siang mereka tidak jauh dari kantor. Hanya berjarak kurang lebih tujuh ratus meter saja. Ketika menuju ke restoran tadi, mereka bertiga pun jalan kaki. Lagi-lagi Jessi menerima tatapan sinis dari Hanna. Atas perintah bosnya tersebut, Jessi lebih dulu beranjak. Lagi pula, ia tak ingin berlama-lama berhadapan dengan Hanna. Sebelum melangkah dari hadapan Hanna dan Emerald, giliran Jessi yang memberi senyum sinis pada wanita yang masih duduk anggun di hadapan Emerald. “Saya pamit!” ucapnya sambil berlalu. “Jangan lupa siapkan presentasi untuk besok!” perintah Emerald kala mengiring langkah Jessi. “Siap,” sahut Jessi tanpa menoleh lagi ke belakang. Sementara, suasana menjadi hening. Emerald melanjutkan makan siangnya. “Kamu serius mau memperkerjakan Jessi?” seketika Hanna bertanya soal itu. “Maksud kamu?” “Kamu nggak tahu siapa Jessi?” tanya Hanna lagi. “Jessi?” Emerald menggeleng. “Hati-hati,” hanya itu yang terucap dari bibir manis Hanna yang masih merona dengan polesan lipstik warna pink, “saya tahu betul siapa dia,” sabung Hanna lagi. “Maksud kamu?” Emerald menghentikan suapannya. “Jessi itu …” Hanna mulai bercerita. Entah siapa yang benar dan siapa yang salah. Emerald hanya menimak saja. Ia mamaklumi cerita Hanna. Lagi pula memang benar, ia belum mengenal Jessi sepenuhnya. Tapi sejauh beberapa hari mereka bersama, Jessi selalu memberi kesan positif di hadapan Emerald. Dalam bekerja, Jessi juga fokus. Terkait cerita Hanna tentang Jessi, Emerald tak ingin ambil pusing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN