Lucas duduk bersama dengan teman-temannya yang baru saja datang. Sebenarnya mereka tak ingin datang, tapi karna ini temannya Lucas yang sangat menyedihkan sedang sedih. Akhirnya mereka datang ke club malam langganan Sean dan Lucas dulu.
Reyhan dan Aril melihat pemandangan di bawahnya tanpa kedip. Mereka berdua tak pernah datang ke tempat seperti ini. Lain halnya dengan Darrell yang menontonnya tanpa ekspresi. Sean sendiri memuji penari di depannya.
"Lo serius ngajakin gue ke tempat kayak gini?" tanya Reyhan kepada Lucas.
Lucas menganguk.
"Rasya beneran bakal bunuh gue kalo tau gue disini!" keluh Aril pasrah. Ia ingin pulang sekarang dan memarahi Cyrine daripada menemani Lucas disini.
Tapi bagaimanapun Lucas ini kawan sejiwanya waktu kuliah. Ia selalu berdua dengan Lucas. Ya kali Lucas susah gini ia akan membiarkannya.
Sampai akhirnya acara nyanyian dan tarian di depannya selesai. Kini masuk penyanyi dan penari baru. Aril dan Reyhan tidak memperhatikannya. Kecuali Sean, Lucas, dan Darrell. Melihatnya minat, Melihatnya kosong, dan Melihatnya datar.
"Cyrine?"
Mendengar kata itu Lucas, Aril langsung menatap Sean. Suara Sean mampu terdengar di telinga mereka berdua meskipun suara musik sangat keras.
"CYRINE!! DISANA!!" Teriak Sean karna suara penonton yang menari di lantai bawah dan atas berteriak heboh. Sean menunjuk penyanyi sekaligus penari yang memakai baju seksi itu.
Aril dan Lucas mampu mengenali perempuan itu. Aril menatapnya syok. Sepupunya sedang menyanyi dan menari seksi di bawah sana. Bahkan goyangan dan gerakan yang di lakukan Cyrine. Mengandung unsur erostis.
Lucas mengamati perempuan itu. Gerakan tubuhnya sangat anggun dan lihai.
My Sexy Man
Lucas segera meminum whiskynya. Ketika mengingat panggilan Cyrine untuknya. Kenapa tiba-tiba ia mengingat panggilan itu.
*****
Cyrine berjalan menuju mobilnya untuk pulang. Tapi, ketika hendak membuka pintunya ia merasakan seseorang di belakangnya. Jantung Cyrine berdetak keras. Entah kenapa perasaannnya sangat tak enak.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya laki-laki itu.
Jantung Cyrine semakin berdetak keras. Badannya berkeringat dingin. Mana mungkin ia lupa dengan suara ini. Cyrine familiar dengan suara ini. Ia lalu berbalik untuk memastikannya.
Melihat wajah itu, tubuh Cyrine ambruk.
"King." sebut Cyrine susah payah.
"A- apa yang kau lakukan disini?" Tanya Cyrine takut.
Ia pun mengingat kejadian 3 tahun lalu yang membuatnya mual dan pusing. Badannya gemetar hebat. Ia memeluk dirinya erat.
Laki-laki itu menatap Cyrine yang terduduk dibawahnya senang. Mainannya kembali lagi padanya. Padahal 3 tahun lalu ia sengaja melepaskan perempuan ini agar bisa kabur darinya. Malah sekarang, perempuan ini berada di depannya.
"Itu yang harusnya aku tanyakan. Kenapa Serangga sepertimu ada disini? Kau lupa dengan peringatanku?" tanya laki-laki itu mengintimidasi.
Cyrine menggeleng cepat. Ia tak lupa.
"Hiduplah seolah kau sudah mati. Itu satu-satunya cara agar kau bertahan di dunia yang menjijikan sepertimu ini."
Mana mungkin ia melupakan kata-kata yang ia syukuri sebagai penyambung hidupnya. Tapi, laki-laki ini .... Apa yang dikakukannya disini?? Dari banyak negara kenapa harus Amerika dan Indonesia tempat mereka bertemu.
"Libra ... Cyrine."
Cyrine yang mendengar namanya langsung menoleh ke sumber suara itu. Lalu Libra?? Apa King adalah Libra orang yang dikenal Lucas?
"Kak Lucas." panggil Libra dengan tersenyum lebar tak seperti tadi. Ekspresinya berubah total.
Lucas menatap Cyrine yang duduk di bawah. Ia mengulurkan tangannya, berniat membantu Cyrine. Cyrine menerima bantuannya. Ia lalu berdiri dengan rasa takut yang sedikit menyelumitinya. Ada perasaan aman tenang ketika melihat Lucas datang. Cyrine menatap King intens. Kenapa pemilik tempat perjudian itu mengenal Lucas. Dan mereka terlihat akrab.
"Kamu ngapain disini?" tanya Lucas ke Libra.
Lucas menatap Cyrine yang kini memeluk lengannya kuat.
"Mainlah. Terus tadi aku lihat perempuan ini jatuh. Kayaknya dia terlalu mabuk. Dia siapa?" tanya Libra kini.
"Sepupunya Aril." jawab Lucas.
"Kamu kenal sama dia?" tanya Cyrine berbisik.
"Dia adiknya Darrell. Sepupunya Sean." jawab Lucas.
Cyrine tercengang. King adik dari Darrell?? Lain halnya dengan Libra. Ia tersenyum lebar. Dunia terasa sangat sempit sekarang. Ia tak tau jika Cyrine adalah adik sepupu Aril.
"Kalau begitu, aku duluan." kata Libra yang langsung berjalan pergi.
Lain halnya dengan Cyrine, melihat kepergian Libra perasaan takutnya semakin besar.
"Hai. Cyrine." panggil Lucas lembut.
"Hah ..." respon Cyrine terkejut.
Lucas menatap Cyrine bingung. Kenapa perempuan ini sangat terkejut dan raut wajahnya terlihat takut. Lucas memegang bahu Cyrine.
"Baik-baik aja?"
Cyrine menggeleng. Ia benar-benar takut. Sangat takut. Bahkan nafasnya terdengar sangat berat di telinga Lucas.
"A- Aku ..."
"Hai," panggil Lucas khawatir. Kini ia menyentuh wajah Cyrine. "Nggak ada apa-apa. Kamu takut apa?" tanya Lucas.
Cyrine menggeleng dan bernapas cepat. Lucas melihat jelas wajah ketakutan Cyrine. Lucas bingung. Ia tak tau bagaimana caranya menenangkan orang ketakutan. Tak lama Cyrine terjatuh pingsan. Beruntung Lucas menangkapnya cepat.
"Cyrine ... Cyrine ...,"
Lucas panik. Ia lalu mengambil kunci mobil Aril yang terjatuh. Ia memasukan Cyrine kedalam mobil tersebut dan mengendarainya pulang ke rumah Aril.
Aril dan Rasya melihat mereka berdua terkejut. Rasya memberikan minyak kepada Cyrine. Tak lama Cyrine tersadar dengan keringat yang memenuhi bajunya. Cyrine menangis tersedu-sedu. Mereka bertiga menatap Cyrine bingung. Yah, mereka bingung karna Cyrine tiba-tiba pingsan dan sadar lalu menangis keras.
Aril bertanya kepada Cyrine apa yang terjadi padanya. Tapi Cyrine menggeleng dan menangis. Aril paham kini. Trauma Cyrine kembali. Nanti ia akan menanyakan penjelasan Libra, apa yang dilihat Cyrine atau apa yang di alami Cyrine hingga badan adiknya gemetar hebat seperti ini.
"A- Aku ma- mau pulang." isak Cyrine.
Aril menarik Cyrine kedalam pelukannya. Memeluk Cyrine erat agar adiknya tenang. Aril mengusap rambut Cyrine sayang.
"Semuanya bakal baik-baik aja. Nggak ada yang perlu di takutin. Kamu aman disini."
Cyrine masih terisak.
"Its oke ... Kamu bisa tenang. Disini baik-baik aja. Nggak ada yang perlu kamu takutin." bisik Aril lembut.
Cyrine menganguk. Merasakan Cyrine yang sudah tenang kembali. Aril menghapus airmata di wajah Cyrine. Lucas menatap Cyrine aneh. Ia tak tau kenapa perempuan itu menangis hebat seperti itu.
Rasya akhirnya membawa Cyrine naik ke atas kamarnya. Aril menatap Lucas meminta penjelasan lebih lanjut. Tapi tetap saja penjelasan yang di berikan Lucas tak berarti apa-apa. Ia hanya bisa mendapat penjelasan dari Libra.
Aril mengambil telfonnya lalu menelfon Libra. Tapi Libra sama sekali tak menjawab panggilannya.
Disisi lain Libra menatap telfonnya dengan tertawa kecil. Pasti Serangga itu sedang gemetar hebat. Ia mendengarkan musik sembari meminum winenya santai.
Libra memangku dagunya lalu tersenyum menakutkan. Peliharaan seharga 2 Miliarnya kembali padanya. Mungkin ini yang namanya jodoh. Padahal sudah ia lepaskan sampai Brazil kini ia malah bertemu kembali dengan peliharaannya di Indonesia. Ini sih sia-sia namanya, mengubah peliharaan menjadi Serangga, dan mengembalikan status serangga ke peliharaan.
"Natali,"
*****
3 tahun lalu....
Libra keluar untuk menghirup udara segar di Las Vegas dari balkon kamarnya. Sebenarnya ini hanya satu-satunya kamar yang memiliki balkon di Casino ini. Semua kamar disini tak memiliki balkon guna mencegah orang yang kabur ketika kalah berjudi atau ketika tak sengaja menciptakan sebuah masalah. Maka Casino ini bak dinding penjara hidup yang memiliki mata, telinga, dan mulut. Ketika Libra mengizinkannya maka semua berita disini akan tersebar. Jika ia tak ingin mengizinkannya, berita didalam sini hanya miLik orang-orang ini.
Krek...
Libra menatap ke atas. Ia melihat seorang perempuan berdiri di atas AC dengan memeluk tiang panjang. Libra tersentak melihatnya. Siapa perempuan gila yang sedang menantang maut disana?
"Tolong tangkap aku!" katanya yang langsung melompat ke bawah. Libra jelas langsung menangkap perempuan itu. Jantung Libra berdebar keras. Bau ini. Meskipun samar. Tapi Libra mampu mengingatnya. Gardenia. Bau yang sama seperti milik Safir.
Libra menatap wajah perempuan itu terkejut. Safir?? Ia lalu menatap ke atas kembali. Itu adalah penjara untuk perdagangan manusia. Safir kabur dari sana? Bagaimana caranya? Tunggu ... Safir sudah mati. Jadi tidak mungkin perempuan itu hidup kembali. Terlebih Safir buta. Dan perempuan di depannya ini tidak buta.
"Makasih udah nolongin aku." katanya. Libra menatap perempuan itu lagi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Libra akhirnya.
"Tolong aku ... Aku nggak tau kenapa aku bisa jadi kayak gini." kata Cyrine yang kemudian menjelaskan kejadian yang baru saja menimpanya dengan menangis.
Libra menatap perempuan itu dengan ekspresi yang sangat bingung. Dulu ia pernah melakukan kesalahan dengan menolong seorang perempuan. Akibatnya perempuan itu mati. Apa kini ia juga akan melakukan hal bodoh itu. Libra menggeleng. Hanya orang bodoh yang masuk ke lubang yang sama. Tapi perempuan ini ... Membuat Libra penasaran. Kenapa wajahnya mirip sekali dengan Safir? Apa ini ulah musuhnya?? Jika iya, dia harus membunuh perempuan itu. Tapi, mendengar cerita yang baru saja disampaikan agak terasa,
Libra menghela napas. Ia lalu membuat coklat panas dan memasukan obat tidur. Perempuan ini harus kembali ke asalnya. Libra memberikan coklat panas itu. Perempuan itu sempat ragu-ragu sebelum akhirnya meminum coklat panas itu.
"Makasih." ucapnya lega.
Tak lama Cyrine merasa pusing. Ia lalu jatuh pingsan. Libra menatap perempuan itu. Ia mengambil topeng tanpa ekspresi itu dan memakainya. Tak lupa soflen warna merahnya. Libra menelfon Sam. Pengelola tempat perlelangan. Ia menyuruh membawa Cyrine kembali ke penjara.
Cyrine yang tersadar sudah berada di penjara sangat syok. Kenapa ia bisa berada disini kembali. Ia ingat tadi ia sudah keluar dan tadi ada laki-laki yang menolongnya.
"Aku tak menyangka kau sungguh luar biasa bodoh!" ejek seorang laki-laki berbadan kekar yang gundul.
Cyrine memegangi kepalanya lalu menatap laki-laki di depannya.
"Keluar dari mulut Buaya kau malah masuk ke kandang Serigala. Kamar yang baru saja kau loncati itu milik King! Pemilik tempat ini."
Cyrine melotot mendengarnya. Laki-laki tampan tadi, Bos dari Casino setan ini.
"Beruntung sekali, King tidak membunuhmu!" kata laki-laki itu sebelum pergi.
Disisi lain Libra termenung didalam kegelapan. Safir... Wajah perempuan itu kenapa bisa sangat mirip dengan Safir?? Dan juga baunya, bau itu seperti milik Safir. Libra tidak pernah mencium aroma itu pada siapa pun kecuali Safir. Sekalipun menemukannya bau itu sama sekali bukan wangi murni dari bunga itu.Tapi, Safir dan perempuan tadi memiliki bau yang sama. Tapi Safir, sudah mati. Dan perempuan tadi, wajah dan aromanya sangat mirip dengan Safir, kecuali satu hal, perempuan itu tidak buta.
Libra lalu menyuruh salah satu anak buahnya untuk menyelidiki perempuan itu. Dan dari hasil yang ia dapat, apa yang dikatakan perempuan itu benar. Ia dikobarkan temannya yang membunyai hutang sebesar 70 juta Dollar di Casino.
Libra menatap perempuan di depannya santai. Padahal perempuan itu sedang menatapnya penuh kebencian dan mengutuknya.
Perempuan di depannya tidak tau jika ia adalah pemilik tempat ini. Libra mengembalikannya di tempatnya semula. Karna salah satu penjaga disana sangat takut dengannya, penjaga itu mengatakan akan menjual perempuan yang kabur tadi sekarang.
Libra sebenarnya tidak peduli karna ia yakin perempuan tadi bukan Safir. Perempuan yang ia kenal. Tapi, mencium bau yang sangat familiar membuat adrenalinnya terpacu. Ia penasaran dengan perempuan itu. Kenapa wajah dan baunya mirip dengan Safir? Ia sangat penasaran. Tapi mendapat identitas gadis tadi, tebakannya benar. Perempuan itu hanya mirip saja. Tapi tetap saja. Kenapa mereka memiliki wajah yang sama? Libra semakin ingin tau. Ah bukan ... Bukan ingin tau. Libra hanya butuh mainan baru untuk menggantikan Safir yang telah mati. Oleh karna itu Libra berdiri dan memakai topengnya untuk menghadiri acara pelelangan.
Libra menunggu sampai akhirnya perempuan itu di keluarkan. Ia dirantai bak anjing dengan tangan terborgol ke atas.
Banyak orang yang ingin membelinya. Tapi Libra langsung mengangkat papannya.
"2Miliar!"
Semua orang disana tercengang.
"Terjual!! 2miliar!"
Libra lalu berdiri kembali ke kamarnya dan menyuruh para pelayan membawa perempuan itu. Libra sendiri sudah menelusuri latar belakang perempuan yang menatapnya penuh kebencian. Natalia cyrine Arley. Sama sekali tak memiliki hubungan dengan safir.
"Apa aku perlu menyuruhmu menari?" tanya Libra menggoda Cyrine. Bagaimanapun pose Cyrine saat ini adalah pose yang sangat erotis. Pose untuk menggoda laki-laki.
"Bastard gila!!" maki Cyrine.
Libra tertawa.
"Sudah pasti aku gila, mengingat aku melepaskan uangku sebesar 2 miliar. Hah ... Padahal aku sangat menyukai uang daripada perempuan."
"Apa?? Dasar iblis!"
"Apa ini cara berterimakasih kepada penyelamatmu?"
"Penyelamat?? Kau menjualku b******k!!"
"Hah? Aku menjualmu?? Aku hanya mengembalikanmu ke tempat asalmu!! Lalu membelimu dan membawamu kesini!" kekeh Libra.
Libra menatap perempuan yang berusaha melepaskan borgol besi di tangannya. Libra tau, pasti perempuan itu sangat kesakitan. Tapi Libra tak peduli. Biarkan saja perempuan itu disana sampai lelah menghampirinya. Libra berdiri lalu mengambil Earl Grey untuk perempuan di depannya. Mengingat tangan yang masih terbogol Libra tertawa kecil. Bagaimana cara perempuan itu minum kalau tangannya terantai di atas seperti itu?
Ah sudahlah, Libra tak ingin peduli. Ia hanya perlu menatap peliharaan di depannya. Selama apa perempuan itu bisa bertahan tanpa makan dan minuman.
Tak lama terdengar suara pintu terketok dan meminta izin masuk. Libra pun mengizinkannya masuk. Melihat Arthur melangkahkan kakinya cepat. Tangan kanannya itu pasti sangat panik mendengar berita yang telah tersebar. Maklum ia selalu pergi menggunakan topeng, dan hanya melepaskannya jika bersama Alison, orang kepercayaan Alison dan Arthur. Tapi tadi, ada perempuan yang melihat wajahnya. Sudah pasti Arthur tak akan tenang sampai bisa memutuskan kepala perempuan itu.
Tapi ketika melihat seorang perempuan terantai didalam jeruji besi. Ah, Lebih tepatnya kandang manusia ini, mata Arthur hampir terlepas.
"Safir?" tanya Arthur memastikan. Tapi perempuan itu hanya diam dan menatap Libra dengannya penuh kebencian.
"Dia bukan Safir." jawab Libra cepat.