Cyrine gemetar, ia benar-benar takut. Ia tak menyangka akan bertemu King disini. Terlebih orang-orang disini bertemu King dan bersikap jika King seperti orang biasa. Cyrine tak tau, masih terngiang dengan jelas, jika ia ingin hidup king menyuruhnya hidup layaknya orang mati. Dan jangan sampai bertemu dengannya kembali.
Tapi, semalam ia bertemu dengan laki-laki itu. Dan laki-laki yang memiliki nama King itu disini bernama Libra. Adik dari Darrell.
Cyrine bingung sekarang. Jika ia keluar dari sini maka King akan membunuhnya. Tapi tetap berdiri disini sama saja dengan menunggu King menghampirinya lalu membunuhnya. Ah, tapi tidak mungkin jika King akan membunuhnya. Tidak akan mungkin. Iya ... Dia akan aman disini. Ada Aril kakaknya yang akan melindunginya.
Tok... tok.. tokk..
Cyrine terlonjak. Ia lalu bangun dan mengintip dari celah pintu. Bukan King. Cyrine lalu membuka kan pintu tersebut. Ada Lucas yang membawa bingkisan.
Cyrine mempersilahkan Lucas masuk ke kamarnya. Lalu ia berjalan dan duduk di tepi tempat tidurnya. Tapi melihat Lucas berhenti dan menatap sebuah lukisan yang terletak di pojokan. Cyrine baru sadar, jika ia melukis Lucas dan masih menyimpannya disana. Cyrine langsung menghampiri Lucas menyuruh laki-laki itu duduk di sebuah kursi.
"Kamu ... Melukisku?" tanya Lucas.
Cyrine menganguk. "Apa tidak boleh?" tanya Cyrine.
Lucas menggeleng. " Lukisanmu bagus." jawab Lucas dengan tersenyum lembut.
"Ah ya, ini. Aril bilang kamu suka Stowberry." kata Lucas dengan memberikan bingkisan tersebut. Cyrine tertawa kecil lalu menerima bingkisan itu.
"Aku suka Melon. Bukan Stowberry." kata Cyrine.
Lucas sedikit terkejut. Dalam hati ia merutuki perkataan Aril.
"Aril emang suka gitu. Kemaren juga ia pernah bilang jika usiaku 23. Padahal umurku baru 22."
"Aril emang bodoh." kata Lucas kini.
Cyrine tersenyum lalu menganguk.
"Makasih Stowberrynya." ucap Cyrine dengan tersenyum tulus. Ia mulai menggigit buah itu memakannya. Tak lupa Cyrine juga menawarkan buah tersebut kepada Lucas. Lucas menerimanya dan memakan buah itu.
"Apa yang kamu sukai?" tanya Cyrine kepada Lucas.
"Aku suka Nasi Pecel." jawab Lucas pelan.
"Pecel?"
Lucas menganguk.
"Aku nggak tau pecel itu apa."
"Mau mencobanya?" tawar Lucas.
"Kamu bisa masak?" tanya Cyrine antusias.
Lucas menggeleng.
"Kamu bisa masak?" tanya Lucas balik. Cyrine tersenyum lebar lalu menggeleng.
"Kamu ... Udah baik-baik aja?"
"Tentu saja. Kamu khawatir sama aku semalam?"
"Sedikit, kamu gemetar hebat lalu pingsan. Aku khawatir."
Cup...
Lucas menatap Cyrine yang tiba-tiba mencium bibirnya cepat. Cyrine di depannya sudah tersenyum lebar. Lucas tidak tau ia harus bersikap apa, Lucas ingin memakinya, tapi mengingat jika ia pernah melakukan hubungan lebih, lalu tubuhnya juga menyukai sentuhan Cyrine.
"Makasih udah khawatirin aku." balas Cyrine.
Lucas tidak tau, tapi ia akhirnya tersenyum membalas Cyrine dengan lembut. Jantung Cyrine berdebar hebat melihat hal itu.
"Kamu udah makan?" tanya Lucas kini.
Cyrine menggeleng.
"Ah, kamu mau ngajak aku makan pecel?" tanya Cyrine.
Sebenarnya Lucas tak ada niatan seperti itu. Ia hanya merasa sedikit canggung. Tapi melihat wajah antusias Cyrine, Lucas akhirnya menganguk.
"Aku mau!" jawab Cyrine seolah lupa dengan pikirannya jika ia tidak akan keluar karna takut King akan menculiknya.
"Kamu ... Nggak masalah makan makanan pinggir jalan?" tanya Lucas lagi.
Cyrine menganguk mantap.
"Its oke." jawabnya yang langsung menyuruh Lucas keluar sementara ia akan berganti baju.
"Tapi .. Kalau mau disini ngelihatin juga gapapa," goda Cyrine.l.
"Aku keluar aja." jawab Lucas cepat. Ia langsung bangkit keluar. Cyrine tertawa melihatnya.
Selesai mandi dan berganti baju, Cyrine memakai riasan dan lalu berjalan turun menemui Lucas yang sedang berbicara dengan Rasya. Melihat Cyrine menghampirinya, Lucas berdiri. Ia lalu mengajak Cyrine ke tempat langganannya naik motor. Cyrine memeluk Lucas erat lalu menyuruh Lucas melajukan kencang motornya. Lucas menurut, tapi baru beberapa menit.. Mereka terkena tilang karna kebut-kebutan.
Lucas malu karna hal itu, Tapi Cyrine tak memperdulikannya. Ia tersenyum melihat Lucas.
"Maaf," ucapnya.
Lucas menganguk. Setelah itu ia mengemudikan motornya menuju tempat langganannya. Tapi ketika sampai disana, Lucas bertemu dengan Mentari. Mentari sempat akan menyapa Lucas, tapi Lucas tak menghiraukan Mentari dan langsung menyuruh Cyrine mendekatinya. Entah kenapa perasaan Mentari sakit melihat Lucas jalan berdua dengan perempuan.
Mentari tak kenal siapa perempuan bule itu. Tapi melihat Lucas dan perempuan itu berbicara menggunakan bahasa Inggris dan sesekali Lucas mengajarinya bahasa Indonesia. Mentari tau jika perempuan itu bukan rekan kerja Lucas. Mentari yang semula akan makan disana langsung mengubah keputusannya, ia meminta membungkus makanannya. Sepeninggalnya Mentari, Lucas menatapnya. Cyrine juga demikian. Sepertinya Lucas dan perempuan itu punya hubungan.
"You'r ex girlfriend?" tanya Cyrine ke Lucas.
Lucas menggeleng. Ia lalu menjawab jika ia tak mempunyai hubungan apapun dengan Mentari kecuali teman sekolah dulu.
"Dasar pembohong! Kalau kalian teman sekolah dulu. Harusnya kalian saling sapa. Kenapa malah saling diam? Apa dia perempuan yang kamu cintai?" tanya Cyrine lagi dengan menyikut perut Lucas.
Lucas menganguk. "Aku mencintainya."
Cyrine menganguk mengerti. Dia perempuan yang dicintai Lucas selama sebelas tahun lamanya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Lucas kepada Cyrine.
"Tentu aja. Aku baik-baik aja."
"Kamu bilang kamu menyukaiku sejak pertama kali bertemu. Apa hatimu nggak sakit waktu tau aku mencintai perempuan lain?" tanya Lucas hati-hati.
"Jika perempuan tadi bilang dia mencintai laki-laki lain apa hatimu nggak sakit?" tanya Cyrine balik.
Lucas diam. Jawabannya jelas. Tentu saja, hatinya pasti sakit. Cyrine menyentuh pipi Lucas lalu tersenyum.
"Aku tau dari awal kalau kamu mencintai perempuan lain. Jadi, jangan merasa tak enak. Sejak awal aku nggak nuntut balasan dari kamu."
"Tapi ... Tetap saja, aku- kita pernah tidur bersama." kata Lucas pelan.
Cyrine menggeleng.
"Jangan merasa bersalah karena hal itu Lucas. Aku yang menggodamu duluan. Jadi jangan bersikap baik karna rasa bersalah."
"Itu-"
"Jangan mendekatiku seolah kamu punya tanggung jawab. Aku nggak suka."
"Tapi, bisa saja kamu nantinya, kamu hamil."
Cyrine tertawa pelan. Ia lalu menepuk bahu Lucas. Ucapan Lucas sendiri terhenti.
"Tenang saja, aku nggak akan membuatmu repot dengan anak. Sejujurnya aku kurang suka dengan anak kecil."
"Kenapa?? Apa mereka merepotkan?" Tanya Lucas ke Cyrine. Meskipun dengan nada tenang, tapi sejujurnya Lucas tak menyukai perkataan Cyrine tadi. Cyrine berbeda dengan Mentari yang lemah lembut, pandai memasak, dan sangat menyukai anak-anak.
"Maybe, soalnya aku aja nggak bisa ngurusin diri sendiri. Masa mau ngurusin anak kecil, yang ada mereka nanti menderita denganku." jelas Cyrine yang kini meminum kopi dinginnya.
Mendengar jawaban itu, Lucas menatap Cyrine lalu tersenyum.