BAB 2

1047 Kata
Lucas mempersiapkan tekadnya. Ia sudah mencintai Mentari selama sebelas tahun. Dan ini akan mencari lamaran ke sebelas-nya sekaligus lamaran terakhirnya. Yah, Lucas berniat melamar Mentari tepat di hari pernikahan Reyhan dan Bintang. Pesta pernikahan Reyhan bertemakan taman bunga outdoor dengan mengundang anak panti asuhan yang dirawat oleh Mentari. Rencananya selesai pesta pernikahan Reyhan, Lucas akan melamar Mentari di depan anak-anak dan temannya. Ia sangat yakin jika Mentari akan menerima lamarannya kali ini. "Mentari ... Will you marry me?" tanya Lucas dengan percaya diri. Mentari yang mendapat suprisse seperti ini sangat terkejut. Ia tak menyangka jika Lucas benar-benar akan melamarnya di depan banyak orang seperti ini. Lucas tersenyum menatap Mentarinya. Para tamu undangan berteriak terima. "Maaf Lucas ... Aku nggak bisa." jawab Mentari yang langsung berlari pergi. Cincin yang di pegang Lucas langsung terjatuh ke tanah. Teman-temannya dan tamu undangan menatapnya terkejut. Ia tak menyangka lamarannya akan berakhir di tolak. Lucas tersenyum mengejek. Ia lalu bangkit dan berjalan pergi. "Lucas kurang apa sih? Kenapa di tolak?" "Biarin aja dulu. Dia butuh waktu sendiri." Lucas tak dapat menahan kesediannya. Ia langsung melempar cincin yang ia pegang. Hatinya terasa sakit. Kenapa? Kenapa sampai sekarang Mentari masih menolaknya? Ia kurang apa sebenarnya. Kurang apa?? Lucas masuk kedalam mobilnya, ia mengemudikan mobilnya cepat. Sampai akhirnya ia berhenti tepat di sebuah bar kecil. Lucas memesan Margarita. Ia langsung menegaknya habis. Malam ini ia sangat sedih. Ia sudah berjanji akan menyerah jika lamarannya kali ini di tolak. Yah, ia akan menyerah. Ia akan menyerah terhadap cintanya. Lucas meminum Wine-nya kini. Ia tak tau itu sudah botol ke berapa. Ia hanya ingin segera melupakannya. Ia bukan orang yang gampang mabuk. Meskipun begitu, sekuat-kuatnya orang minum Lucas juga bisa mabuk. Ia mematikan telfonnya ketika sahabatnya bergantian menelfonnya. Ia ingin sendirian. "Hai Sexy," sapa seseorang dengan tersenyum yang kini duduk disampingnya. Lucas menoleh lalu menunjuk ke arah dirinya sendiri. Perempuan itu tersenyum lalu menganguk. "Hai." sapa Lucas. "Any problem??" tanya perempuan yang tak Lucas kenal itu. "You can tell me everthing. I swear i will keep my mouth shut!" Lucas diam. "I thik you have a problem. At least you will be okay after telling me." "Maybe?" tambah perempuan itu dan meminum whiskynya. "Aku cinta seorang perempuan. Sudah 11 tahun. Dan 11 kali aku ngelamar dia." "How old are you?" tanya Perempuan itu "26." Perempuan itu menganguk lalu meminum whiskynya. "11 kali aku juga di tolak. Aku berjanji kalau tadi akan jadi lamaran terakhirku untuknya. Tapi tetap saja. Aku ditolak." Lucas menghela nafas. "Semua teman-temanku sudah menikah, ada yang punya anak, ada yang lagi hamil. Tapi aku, dapetin satu perempuan aja susah." "I don't think like that." "Hmm?" tanya Lucas yang kini menatapnya. "I think i love you at first sigh." jawab perempuan itu dengan tersenyum lebar. Lucas menatapnya. Ia rasa ia mulai mabuk. Lucas menyentuh pipi perempuan itu. Menatapnya intens. Ini pertama kalinya ada perempuan yang mengatakan kata cinta padanya secara langsung. Hati Lucas semakin goyah. "Matamu cantik." puji Lucas dengan menatap mata biru perempuan itu. "I know that sexy." Lucas terkekeh. Siapa yang dipanggil Sexy dengan perempuan di sampingnya itu. Lucas tak tau, siapa yang mendekat lebih dulu diantara mereka. Tapi kini bibir mereka saling menempel, saling menyecap, saling masuk. "One night stand?" tanya Perempuan itu. "Siapa namamu?" tanya Lucas. "Cyrine." "Lucas." "Let's play baby." bisik Lucas. Yah setelah itu mereka pergi ke hotel terdekat dan melakukan ons. Lucas dengan rasa sedihnya. Perempuan itu dengan rasa yang tak diketahui Lucas. Tapi keesokan harinya ketika ia melihat perempuan tidur di sebelahnya dengan pemandangan yang bukan biasa yang ia lihat. Lucas panik. Ia kaget. Ia mengingat-ingat kejadian semalam. Dan ketika mengingatnya, Lucas menutup mulutnya. Ia langsung melihat dibalik selimut. Siapa tau ia mimpi. Dan ketika yang ia lihat benar, Lucas menarik rambutnya kuat. Bule dari mana yang ia tiduri?? Lucas memakai bajunya cepat. Tapi tiba-tiba ia teringat Gabriel dan Aril. Aneh, harusnya ia mengingat Irenee yang juga memiliki mata sebiru perempuan itu. Lucas duduk kini di sofa menunggu perempuan itu bangun. Lucas mendesah. Inilah sebabnya orang-orang bilang jangan suka mabuk sembarang, jangan bicara dengan orang yang tak ia kenal. Lucas mendesah. Bagaimana jika perempuan itu hamil seperti Rasya dulu?? Come on .... Lucas masih belum bisa menyerah. Ia masih ingin memperjuangkan Mentari. Tapi perempuan cantik di depannya ini, "Awh," Mendengar suara rintihan Lucas langsung tersadar. "Kamu sudah bangun?" tanya Lucas sembari menatap ke arah tempat tidur itu. Seketika wajah Lucas memerah melihatnya. Mata cantik itu mengerjap beberapa kali. Sebenarnya bukan itu yang membuat Lucas malu. Tapi, tubuh tanpa sehelai benang itu terpampang di depan matanya. Terlebih kissmark di leher dan di d**a perempuan itu, Lucas pun mengalihkan pandangannya lalu mengambil napas beberapa kali untuk menenangkan ritme jantungnya. Jantungnya berdebar keras. "What are you doing in here?" tanya Cyrine bingung. Lucas menatap perempuan itu. Ia lalu memberikan baju kepada Cyrine. "Wear your clothes first." "Please!" lanjutnya. Karna perempuan itu masih bengong. Perempuan itu menerima bajunya. Lucas baru menatapnya ketika perempuan itu menutupi tubuhnya dengan selimut. Perempuan itu bangkit hendak pergi ke kamar mandi. Tapi tak sengaja perempuan itu malah jatuh, Lucas langsung menariknya kedalam pelukannya. Hampir saja perempuan itu tersungkur. "Ceroboh banget sih." dumel Lucas. Lucas menghela nafas kasar sebelum menggendong perempuan itu ala Bridal style dan membawanya ke kamar mandi. Tak lupa Lucas menurunkannya secara hati-hati lalu menutup pintu tersebut. Lucas memegang jantungnya yang berdebar keras. Ketika mendengar suara pintu terbuka "Kita bisa lupain kejadian malam ini. Sorry!" kata perempuan itu yang kemudian mengambil tasnya di samping Lucas. Lucas menatap perempuan itu. "Ngelupain semua??" tanya Lucas memastikannya. Perempuan itu menganguk. "Serius?" Dia menganguk kembali. "Anggap aja ONS." jawabnya remeh. Lucas tersenyum mengejek menatap perempuan di depannya. Kenapa perempuan itu bisa sangat tenang. Padahal kegiatan yang mereka lakukan adalah kegiatan pertama mereka. "Namamu?" "Cyrine." "Aku Lucas. Ini kartu namaku. Kalau butuh sesuatu. Kamu bisa langsung menghubungiku!" kata Lucas dengan memberikan kartu namanya. Cyrine menerimanya dan langsung berjalan keluar meninggalkan Lucas. Sekeluarnya, Lucas mengacak rambutnya kasar. Oke, mari lakukan apa yang di katakan perempuan itu lagi. Jika perempuan itu menyuruhnya melupakannya, ia akan melupakannya. Jika perempuan itu tak menghubunginya kembali maka ia akan menganggap sebagai kenangan yang indah. Yah, Indah. Karna Lucas mengingat setiap kejadiannya. "Arrgh ...," Lucas mengacak rambutnya kesal. Ia merasa b******k kini. Mana mungkin sekarang ia berani mengejar perempuan sesuci Mentari. Rasanya Lucas ingin menangis keras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN