“Mamah…” Naira berlari menghambur ke dalam pelukan Aina, tepat ketika pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan senyuman kecil di wajah Aina saat menatap Naira. Aina balas memeluk putrinya tak kalah erat. Pelupuk matanya sudah dipenuhi genangan air mata yang siap untuk tumpah. Benar saja. Sedetik kemudian, mereka berdua menangis bersama. Menyalurkan segala kerinduan yang tertahan selama ini, tanpa kata. Hanya air mata dan tubuh yang sedikit berguncang karena isak tangis mereka. Selang beberapa saat, Naira segera tersadar dan melepaskan pelukannya. Membawa Aina mendekati Zaki yang sejak tadi terdiam menyaksikan bagaimana istri dan anaknya itu menangis dan saling berpelukan erat. Kedua bola mata lelaki itu pun berkaca-kaca. Aina berjalan mendekati suaminya, memandang tubuh yang terbaring

