Prolog
#
Hujan turun deras di langit kelam Jakarta.
Kilat menyambar di kejauhan, menerangi jalan raya sepi yang dibelah oleh satu mobil ringsek dan sebuah truk besar yang berhenti beberapa meter di belakangnya, seolah sepasang mata besi itu sedang menunggu detak jantung korbannya berhenti.
Seorang pria merangkak keluar dari sela-sela logam mobil yang hampir terlipat dua.
Ringsek parah.
Darah hangat menetes dari pelipisnya.
Dokter Leonardo Kurniawan Jie tidak bisa lagi merasakan sebagian tubuhnya. Namun, pikirannya bekerja dengan kesadaran penuh yang menyiksa. Tabrakan yang menimpanya ini bukanlah kecelakaan biasa.
"Ugh." Leo merintih, sebuah suara serak yang tertelan gemuruh guntur. Rasa sakit luar biasa mulai menggerogoti sarafnya, seperti ribuan jarum panas yang ditusukkan sekaligus ke sekujur tubuh.
Leo sadar sesuatu yang lebih mengerikan tengah mengancamnya. Truk itu masih di sana. Mesinnya masih menderu halus, menunggu waktu yang tepat untuk menuntaskan pekerjaan mereka.
Leo menggertakkan giginya hingga rahangnya terasa kaku, menahan rasa sakit yang seperti sayatan pisau tumpul dari dalam.
Tangannya meraih tanah basah yang dingin, menarik tubuhnya keluar dari pecahan kaca mobil yang tajam.
Setiap inci gerakan terasa seperti menarik urat yang hampir putus.
“Tidak… belum,” gumam Leo parau, entah pada siapa.
Di jalanan sesepi ini, ia tahu tidak ada yang bisa menolongnya kecuali Tuhan. Tapi mungkinkah Tuhan akan mengulurkan tangan pada pria yang sudah berkali-kali mengabaikan permintaan tolong orang lain?
Leo mengutuk dirinya sendiri dalam diam. Saat ini, dia sedang mengalami kengerian yang sama dengan apa yang telah dilalui oleh Nayaka.
Kilatan lampu truk menyala tiba-tiba, memotong kegelapan malam seperti sepasang mata iblis yang akhirnya terbangun dan siap menerkam mangsa.
Mesin itu meraung lebih keras.
Napas Leo terputus-putus, sesak oleh cairan yang memenuhi paru-parunya. Darah menyembur dari mulutnya saat ia terbatuk lagi.
"Jadi ini akhirnya?" Batinnya bertanya di tengah kesadaran yang kian menipis.
Dia mencoba berdiri, mengerahkan sisa tenaga terakhirnya, tetapi lututnya langsung menyerah dan menghantam aspal.
Dalam pandangan yang kian kabur, Dokter Leo melihat sesuatu di tanah. Sebuah flashdisk hitam kecil, kini terciprat lumpur dan bercampur dengan darahnya sendiri.
Benda itu adalah alasan mengapa nyawanya harus berakhir di jalanan basah ini.
Flashdisk itu berisi bukti bahwa kematian Nayaka Prawitasari beberapa bulan lalu bukanlah sekadar kecelakaan yang malang.
Leo lagi-lagi terbatuk keras. Darah merembes deras dari sudut bibirnya. Mungkin paru-parunya sudah robek tertembus patahan tulang rusuk. Mungkin jantungnya sudah mulai retak.
Dia tidak tahu.
Namun, rasa sakit fisik bukanlah hal yang paling menyiksanya. Sama seperti hari esok bukanlah hal yang paling membuatnya merasa bersalah.
Nama itu kembali menggema, menghantam dinding kesadarannya dengan lebih keras daripada benturan truk tadi.
"Nayaka, ugh.. Nayaka," ucapnya samar. Air matanya menyatu dengan hujan deras yang terus membasahi wajahnya yang pucat.
Nayaka Prawitasari, wanita yang pernah menjadi seluruh dunianya.
“Kenapa kau tidak memintaku untuk berjuang waktu itu?” tanyanya dalam hati yang hancur, meski tahu jawabannya sudah tidak berguna.
Ketika Nayaka akhirnya menikah dengan pria pilihan keluarganya, Leo merasa dikhianati dan ditinggalkan dengan cara yang paling hina.
Tahun-tahun berlalu, namun luka itu tetap menganga. Dan saat Nayaka suatu malam tiba-tiba meneleponnya, memohon bantuan dengan suara yang gemetar, Leo justru menolaknya.
Dia masih terlalu marah.
Terlalu patah hati.
Hanya beberapa hari setelah penolakan itu, Nayaka meninggal. Penyesalan itu menjadi lubang hitam yang menyiksanya hingga detik ini.
Leo menutup matanya sejenak, merasakan sesak yang jauh lebih tajam daripada luka di dadanya. Penyesalan itu sudah lama menggerogoti jiwanya, mendorongnya untuk menggali kebenaran hingga akhirnya ia menemukan apa yang tidak seharusnya ia temukan.
Dan sekarang, mereka hendak membungkamnya selamanya, sama seperti cara mereka membungkam Nayaka.
Truk itu mulai melaju maju. Roda besarnya menggilas genangan air yang memercik ke udara seperti simbahan darah. Dokter Leo meraih tanah lagi, mencoba menyeret dirinya lebih jauh meski usahanya nyaris nihil.
Napasnya terdengar berat, seperti gesekan logam rusak yang dipaksa bergerak. Sesuatu di dalam dadanya terasa pecah. Gelap semakin menguasai tepian pandangannya.
Dalam kabut kesakitan itu, sosok Nayaka muncul kembali. Matanya yang dulu berkilau lembut. Senyum kecil yang selalu menenangkannya. Cara wanita itu mengucapkan nama "Leo", seolah itu adalah melodi paling indah di dunia.
Dan terakhir, suara ketakutan Nayaka di telepon malam itu.
“Tolong aku. Leo, hanya kamu yang bisa aku percaya sekarang. Kumohon. Aku takut.”
Lalu, truk itu menghantam tubuh Leo kembali.
Dia bisa mendengar suara tulang-tulangnya yang remuk. Dengan bukti di tangannya, dia tetap gagal memberikan Nayaka keadilan.
“Maaf…” suara Leo gemetar, nyaris lenyap ditelan kebisingan hujan.
“Nayaka, maafkan aku…”
Lampu truk kini berada tepat di depan wajahnya. Sorotnya begitu menyilaukan, menyapu tubuh Dokter Leo yang sudah tergeletak lunglai tak berdaya di jalanan. Ia mengulurkan tangan, mencoba sekali lagi untuk menggapai flashdisk tersebut.
Namun, sebelum jarinya berhasil menyentuh benda itu, suara mesin kembali meraung dengan ganas.
Leo tahu, semuanya sudah terlambat. Air hujan menetes dari rambutnya, menelusuri wajah yang hancur, menyatu dengan air mata terakhirnya yang jatuh.
“Seandainya… aku tidak menolakmu malam itu…” gumamnya, sebuah doa yang terputus di tengah jalan.
“Seandainya kau masih hidup. Ah tidak, seandainya waktu bisa diulang kembali...”
Dokter Leo menutup mata sepenuhnya. Dia tidak bisa lagi merasakan keberadaan tubuh bagian bawahnya. Kini, truk itu kembali mundur, mengambil ancang-ancang untuk mengincar kepalanya.
“Maafkan aku, Naya…”
Dunia seketika dipenuhi oleh cahaya putih yang membutakan dari lampu truk. Dan dalam sekejap, semuanya menjadi gelap gulita.
Hening.
Hanya ada suara hujan yang kian menderu. Seolah langit sedang ikut menangis meratapi kematian yang sia-sia.
Seolah dunia sedang ikut berduka atas rahasia yang terkubur.
Penyesalan yang terlambat.
Penebusan yang tidak pernah selesai.
Dan jejak cinta yang di kehidupan ini, memang tidak pernah ditakdirkan untuk menyatu.