Sore harinya Devon sedang sibuk memeriksa laporan pekerjaan yang dikirimkan asistennya, ketika tiba-tiba Davina terdengar merintih dari tempat ranjang pasien. Devon segera meninggalkan pekerjaannya dan bergegas mendekati Davina. “Davina, kamu sudah bangun?” Devon mengusap kepala Davina. “Sakit, Dev,” kata Davina. “Apa yang sakit? Di mana?” tanya Devon cemas. “Perut aku,” kata Davina. Tangannya yang semula berada di perutnya, kini beralih mencengkeram lengan Devon. Devon segera menekan tombol bantuan di kepala ranjang untuk memanggil perawat. “Sebentar lagi perawat akan segera datang,” ujar Devon berusaha tenang, meski kini ia bisa melihat bahwa Davina tampak benar-benar kesakitan. “Sakit banget,” kata Davina lagi. Cengkeramannya di lengan Devon semakin kuat, sementara sudut matanya

