Malam itu kamar rawat inap Davina tidak terdengar ramai seperti kemarin. Semua yang ada di sana sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Tadi sore Devon sudah meminta asistennya untuk membawa jus yang diberikan Erisa ke laboratorium untuk diperiksa. Kini masing-masing dari mereka, Devon, kedua orangtuanya, dan kedua orangtua Davina menunggu hasil dari laboratorium tersebut dengan cemas. “Kamu harus makan, Ma.” Suara Irwan Danajaya memecah keheningan kamar. Ia mengusap pundak istrinya yang sejak tadi duduk di sisi tempat tidur Davina. Ia pun mengulurkan makan malam ke istrinya. “Makasih, Pa,” ujar Yulia seraya menerima makan malamnya. Sementara itu, di hadapan Yulia, di sisi lain tempat tidur Davina, duduk Devon yang sejak tadi terus menggenggam tangan Davina. “Kamu juga harus makan,

